
Suasana kantor nampak berjalan sebagaimana mestinya, semua karyawan pun terlihat sedang sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing, hingga mereka tak menyadari kehadiran Divta yang sebentar lagi akan menggantikan posisi sang CEO untuk memimpin perusahaan.
Divta berkeliling ke setiap divisi guna memastikan apakah para karyawannya bekerja dengan baik atau tidak.
"Eh pak Divta, selamat pagi pak." sapa salah satu karyawan yang menyadari kehadirannya.
Divta menganggukkan kepala seraya menorehkan senyum di bibirnya, dia memberikan apresiasi kepada semua karyawan yang nampak fokus pada pekerjaannya, dia pun berjanji akan menambahkan bonus tahunan. Dan tentu hal itu membuat para karyawan bersorak kegirangan bahkan ada yang bergoyang ala toktik.
Divta sedikit terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, dia ikut senang jika melihat para pekerjanya begitu semangat.
"Rai, ruang post production ada di lantai berapa ?" tanyanya pada Raina.
"Lantai 15 tuan." jawab Raina dengan gagah.
Ya, sedari tadi Raina membuntuti Divta di belakang, dia terlihat begitu cool dengan penampilannya yang serba hitam, di tambah lagi kumis palsu dan wig yang membuatnya terlihat begitu manis dan tampan, membuat para karyawan wanita terpesona padanya.
"Baiklah ayo kita ke sana." Divta berjalan mendahului.
"Lihatlah, bos dan asistennya sama-sama tampan dan keren." bisik salah satu teman Raina bernama Ani.
"Iya, cobalah untuk mencari tau nomor kontak asistennya pak Divta and bla bla bla."
Raina tersenyum menyeringai, baru ini dia merasa bangga pada dirinya sendiri karena berhasil mengelabuhi orang-orang. Meskipun dari awal dia merasa gugup karena harus berpura-pura tidak mengenal orang yang jelas-jelas adalah temannya sendiri, tapi nyatanya dia berhasil melakukan itu.
Sesampainya di lantai 15, Divta dan Raina segera masuk ke dalam post production. Mereka pun di sambut dengan hangat oleh para divisi yang bekerja di ruangan itu.
"Pagi pak Divta." sapa Dion ramah sambil sedikit membungkukkan setengah tubuhnya., di ikuti oleh karyawan yang lainnya.
"Ya, ini asisten pribadi ku namanya Raihan." ucap Divta memperkenal Raina pada Dion dan yang lainnya.
"Pagi pak Raihan." Dion mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Raina, dan dengan tegas Raina menjabat tangan Dion.
"Baiklah kalau begitu, aku kesini hanya ingin memperkenalkan asisten ku. Kerja yang baik ya." setelah mengucapkan kalimat itu, Divta dan Raina undur diri.
Sore hari
Divta mengantar Raina pulang sekalian mengajak asistennya itu untuk pindah ke apartemennya. Selama di perjalanan lelaki itu tak henti-hentinya mengoceh pada Raina yang tidak bisa menyetir mobil. Rasanya dia sangat dongkol sekali, setiap kali melihat Raina duduk manis sambil menatap jalanan yang padat kendaraan.
"Aku tidak mau tau, pokoknya mulai besok kau harus belajar menyetir mobil sehabis pulang kerja. Enak saja kau, aku yang menggaji mu, tapi malah aku yang jadi supir mu." ucap Divta ketus.
Lah ? kan Anda sendiri yang kekeuh ingin mengantar saya sekalian memindahkan barang-barang saya ke apartemen Anda. Lalu kenapa sekarang anda menyalahkan saya yang tidak bisa menyetir ?
Raina hanya diam saja sambil menganggukkan kepalanya paham. Sebenarnya dia paling tidak suka menyetir, tapi demi 5x lipat gaji dia rela untuk kursus stir mobil nanti.
"Rumah mu yang mana ?" tanya Divta ketika Raina menyuruhnya berhenti.
"Yang itu tuan." jawab Raina sambil membuka pintu mobil kemudian turun dari kendaraan roda empat uang nampak mewah berwarna hitam Metalik itu.
Divta mengerutkan dahinya bingung, pasalnya dia hanya melihat sebuah kandang ayam yang lumayan besar, tidak melihat adanya rumah. Kemudian dia turun dari mobilnya dan mengikuti kemana kaki Raina melangkah.
"Raihan." panggil Divta, langkahnya seketika terhenti tatkala Raina memasuki kandang ayam itu.
"Kau tinggal bersama ayam ?" tanyanya sedikit terkejut tak percaya, raut wajah pemuda itu nampak risih jika di lihat dari sebelah sudut bibirnya yang terangkat.
"Iya tuan, rumah saya memang seperti ini. Ini adalah ayam ayam milik tetangga saya." sahut Raina tanpa menoleh karena dia sedang membuka pintu rumahnya.
"Ayo tuan silahkan masuk." imbuh Raina mempersilahkan Divta untuk masuk terlebih dahulu.
Divta pun di buat terperangah melihat dalam rumah Raina, jika dari luar dia mengira bahwa itu adalah kandang ayam, tapi setelah pintu kandang itu di buka malah terlihat seperti kandang sapi.
Ahaha tidak tidak, bukan kandang sapi. Setelah pintu itu terbuka, terlihat lah rumah Raina yang minimalis namun di design sangat unik dan modern, juga banyak tanaman-tanaman yang hijau.
"Siapa yang berfikir begitu ?" bantah Divta. Kini dia mulai memasuki halaman rumah Raina yang terdapat banyak sekali tanaman hias yang indah dan menyejukkan mata.
"Rei, kakak pulang." seru Raina memanggil Raihan dengan nama yang berbeda. Ya, Sebelumnya dia sudah lebih dulu menghubungi sang adik jika Divta akan berkunjung ke rumah mereka.
"Iya kak." sahut Raihan dari dalam kamar, dan beberapa detik kemudian pemuda itu keluar dari ruangannya untuk menghampiri Raina dan Divta.
"Tuan, perkenalkan ini adik saya." ucap Raina pada Divta yang terlihat sedang asik mengamati interior ruang tamu yang unik itu.
Divta pun membalikkan tubuhnya dan seketika Raihan terkejut,
"Ya Tuhan, d-dia kan orang yang memberiku tip 1jt di hari pertama aku bekerja. Mati aku kalau sampai dia mengenali ku dan memberitahu kakak kalau aku bekerja di bar." pekik hati Raihan takut. Dia pun menundukkan wajahnya berharap Divta tidak mengenalinya.
"Oh jadi kau yang namanya Reihan ? kenapa nama kalian mirip sekali, orang akan sulit membedakan." jawab Divta kemudian dia duduk di sofa tanpa di persilahkan oleh si empunya rumah.
Raihan pun bernafas lega karena sepertinya Divta tak mengenali wajahnya.
"Ada apa kak ?" bisiknya ketika Raina menarik tangannya dan masuk ke dalam kamar.
"Mulai malam ini kakak akan tinggal di apartemen tuan Divta." ucap Raina to the point setelah dia menutup pintu kamar Raihan rapat-rapat.
"Apa ? tidak, aku tidak akan .... mmmph"
"Sssst jangan keras-keras atau tuan Divta akan mendengar suara cempreng mu nanti." Raina membekap mulut Raihan yang spontan berteriak karena terkejut. Dia lalu membawa Raihan untuk duduk di tepi tempat tidur agar adiknya itu lebih tenang.
"Kakak harus tinggal di sana karena tuan Divta yang memintanya." imbuh Raina.
"Kak, kau ini seorang gadis perawan. Kau tidak boleh tinggal satu atap dengan pria asing yang tidak ada hubungan apapun dengan mu." jawab Raihan tidak membenarkan keinginan sang kakak untuk tinggal bersama lelaki yang bahkan baru di kenalnya dua hari.
Raina menghela nafas panjang, tangannya pun terulur memegang kedua bahu Raihan yang tegap,
"Dek, dengarkan kakak. Kakak melakukan ini demi dirimu dan masa depan kita. Kakak tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini. Lagipula tuan Divta mengenal kakak sebagai seorang pria, jadi tidak akan terjadi apa-apa antara kakak dan dia."
Raihan menggelengkan kepalanya kuat dan melepaskan pegangan Raina di bahunya,
"Aku tetap tidak setuju kak, kau tidak boleh tinggal bersama lelaki asing." dia membuang muka.
Raina mengerucutkan bibirnya, kemudian dia memeluk Raihan untuk meluluhkan hati adiknya yang keras itu,
"Adeknya kakak yang ganteng, percaya ya sama kakak. Setiap satu Minggu sekali kakak akan pulang kok, ya." ucapnya merayu manja.
Raihan mendengus kasar, sebenarnya dia sangat tidak setuju jika kakaknya harus pergi dari rumah dan tinggal bersama pria asing. Tapi harus bagaimana lagi ? Raina sangat bersikukuh ingin tetap mempertahankan pekerjaannya itu.
"Janji tidak berbuat hal macam-macam?"
"Iya sayang, kakak janji."
Dengan ragu pun Raihan menganggukkan kepalanya,
"Ku pegang janji mu." ucapnya membuat Raina terkekeh geli.
"Kau ini seorang adik, bukan pacar. Tapi kenapa kau posesifnya melebihi pacar ?" goda Raina mencubit kedua pipi Raihan.
"Aku bukan anak kecil lagi jadi jangan mencubit pipi ku." decak Raihan kesal.
"Uluh uluh ngambek, sini cium dulu." Raina meraup kedua sisi wajah Raihan dan mengecup wajah pemuda yang paling berharga dalam hidupnya itu.
__
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗