
Warning !!
Mengandung tema dan muatan dewasa. Bagi pembaca yang belum cukup umur dan tidak nyaman dengan konten tersebut dianjurkan untuk tidak membacanya.
...SELAMAT MEMBACA !...
...❤️❤️❤️...
Niat hati ingin memberi kejutan, tapi malah Arumi yang terkejut. Nafasnya memburu dengan begitu cepat. Jantungnya pun berdetak 3x lebih kencang. Kedua tangannya mengepal kuat serta mimik wajahnya menyiratkan adanya kobaran api emosi yang membara.
Sementara Divta yang pura-pura terlelap, pun menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. Dia tersenyum puas karena telah berhasil membuat Arumi melihatnya tidur dengan sang kekasih. Dengan begitu, gadis itu tidak lagi mengejarnya.
Jangan tanyakan Raina. Sejak Divta mendapat pesan dari Thomas akan kedatangan Arumi, pemuda itu langsung menyerang Raina dengan ciuman sehingga gadis polos itu terkena gangguan panik dan berakhir tak sadarkan diri. Maafkan aku sayang, begitu ucapnya setelah Raina pingsan.
Divta menggerakkan tubuhnya dan mengerjapkan mata. Dia melihat Arumi telah mendekat hendak menarik rambut Raina. Beruntung dia melihatnya dan segera menepis tangan Arumi.
"Apa yang kau lakukan disini ?!" pekik Divta setengah berbisik. Sebenarnya dia malu dengan penampilannya yang hampir telanjjang. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia harus menelan rasa malunya agar terlihat lebih meyakinkan bahwa dia dan Raina sudah melakukan itu.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu !" seru Arumi tidak peduli dengan peringatan dari Divta yang menyuruhnya merendahkan suara.
Divta meraih piyama tidurnya yang berwarna putih dan segera mengenakannya. Jujur dia risih jika tubuhnya di lihat oleh wanita (kecuali Raina). Kemudian dia beranjak dari tempat tidur setelah sebelumnya mengecup dahi Raina agar Arumi lebih kesal lagi.
"Keluar !" dia menarik pundak baju Arumi dan membawanya keluar serta tak lupa menutup pintu agar Raina tidak terganggu.
"Pergi !!" ucap Divta seraya menunjuk ke arah pintu keluar dengan aura yang dingin membekukan. Dia benar-benar muak melihat wajah Arumi yang pura-pura polos itu.
"Sayang kenapa kamu seperti ini ? apa salahku padamu ?" Arumi memohon pada Divta. Gadis itu menampakkan wajah memelas untuk menarik perhatian Divta.
"Aku bilang, PERGI !!" sentak Divta memelototi Arumi.
"Apa kurangnya aku, Div ? lihat aku ! aku cantik dan lebih menarik dari jlang yang kau sewa itu !!" Arumi mencondongkan tubuhnya pada Divta.
"Bahkan ada banyak lelaki yang ingin menjadi kekasih ku !" seru Arumi sejenak menghentikan ucapannya. Dia pun memegang kancing baju dan perlahan membukanya.
"Apa karena aku belum pernah memuaskan mu, iya ?" imbuh Arumi lanjut membuka kancing bajunya untuk menggoda Divta. Dia tidak peduli jika harus menurunkan harga dirinya. Yang terpenting adalah, dia bisa mendapatkan pemuda itu kembali.
Divta tersenyum menyeringai. Dia merapatkan tubuhnya pada Arumi dan memeluk pinggang gadis yang baru saja menanggalkan hampir seluruh kancing bajunya hingga menampakkan sesuatu yang belum pernah Divta lihat.
"Apa kau rela memberikan tubuhmu pada ku ?" tanyanya balas menggoda, dan di angguki dengan semangat oleh Arumi. Gadis itu pun melingkarkan tangannya di leher Divta.
"Aku mencintaimu. Aku rela memberikan segalanya untukmu, termasuk tubuhku ini." jawabnya sambil meraba dada kekar Divta.
Divta menahan nafasnya. Perlahan dia menuntun Arumi menuju pintu.
"Benarkah ?" tanyanya lagi.
"Iya sayang. Usir jlang itu keluar agar kita bisa melakukannya di dalam." desah Arumi menempelkan wajahnya di dada Divta.
Lagi lagi Divta menahan nafasnya. Hatinya memang setia pada Raina. Tapi tidak dengan tubuhnya. Dia juga bereaksi dengan apa yang Arumi lakukan padanya. Dan untuk mencegah itu, tanpa sepengetahuan Arumi dia membuka pintu tersebut kemudian mendorong Arumi keluar.
"Aah apa yang kau lakukan ?!" sentak Arumi merasa malu karena tubuhnya terekspos dan dilihat oleh beberapa karyawan laki-laki yang bekerja di luar ruangan Divta.
"Bermimpi lah sampai kau tua. Aku paling benci dengan wanita yang suka menggoda lelaki dengan tubuhnya. Sekarang juga kau pergi dari sini dan jangan pernah datang ke kantor ku lagi !!" tukasnya dengan nada ketus serta menunjukkan ekskresi wajahnya yang sangat mengerikan. Membuat siapa pun yang melihatnya bergidik ngeri.
Kemudian Divta kembali masuk ke ruangannya dan menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga.
"Divtaaaa !!" teriak Arumi mencengkram baju untuk menutupi tubuhnya.
"Lihat saja Divta, cepat atau lambat kau pasti akan berlutut di hadapan ku dan mengemis untuk kembali bersama ku !" imbuhnya lalu beranjak berdiri ingin pergi dari sana.
"Berhenti menatap ku !!" Arumi memelototi para karyawan dengan kedua matanya yang tajam nan mematikan.
"Cih sok cantik sekali dia." sungut salah karyawan yang langsung di setujui oleh rekannya yang lain.
Arumi berjalan menuju ke toilet. Penampilannya yang berantakan membuatnya malu meninggalkan area kantor. Untuk itu dia ingin membenahi riasannya terlebih dulu.
Setelah selesai, Arumi merogoh ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi nomor seseorang.
"Selidiki siapa wanita yang bersama Divta sekarang." ucapnya memerintah.
"Apa yang akan ku dapatkan jika aku membantu mu." sahut seseorang di seberang sana.
"Kau akan mendapatkan yang kau inginkan." tutur Arumi.
"Hahaha baiklah, aku tunggu janji mu." terdengar nada telepon terputus.
"Sialan ! berani sekali dia memutus sambungan telepon." umpat Arumi kesal sambil menatap layar ponselnya yang sudah tak menampilkan layar panggilan.
Sementara itu, Divta buru-buru kembali masuk ke kamarnya untuk melihat Raina.
Sial ! gairahnya malah semakin memuncak melihat Raina yang seperti itu.
Beberapa saat yang lalu setelah Divta mendapat pesan dari Thomas.
"Sayaang.." desah Divta mengeratkan pelukannya pada Raina. Ide jahil untuk mengerjai Arumi tiba-tiba terlintas dalam otaknya yang mesum. Dia pun menyerang Raina dengan ciuman. Membuat Raina menegang dan sangat panik. Kemudian gadis itu tak sadarkan diri.
"Sayang, maafkan aku. Tolong bantu aku untuk mengusir Arumi dari hidup ku." dia kecup dahi Raina. Dengan perasaan bersalah, dia melepas kancing kemeja Raina dan membukanya.
"Sekali lagi, tolong maafkan aku." bisiknya. Dia meraih remote kontrol yang terletak di atas nakas kemudian menekan tombol buka kunci dan langsung meletakkan benda hitam kecil tersebut ke tempat semula.
Dia yang mulai tergoda, pun sejenak menikmati apa yang ada di hadapan matanya. Namun, ketika dia mendengar suara pintu terbuka, dia bergegas ambil posisi seolah dia dan Raina habis melakukan sesuatu yang intim.
Kembali ke waktu sekarang.
Sekuat tenaga Divta menahan hasratnya. Dia meraih kemeja Raina yang tadi dia hempasan ke lantai dan segera memakaikannya ke tubuh si empunya.
"Sungguh aku tidak berniat me lecehkan mu, sayang. Nanti kalau kita sudah menikah, aku janji akan memberitahukan semua yang pernah ku lakukan padamu." dia mengecup singkat bibir Raina dan bergegas pergi ke kamar mandi.
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗