
Yudha sudah rapi dengan setelan baju casual yang membuatnya terlihat seperti pemuda hijrah, oh maksudnya seperti pemuda ABG. Sungguh tidak sesuai dengan usianya yang sudah menginjak 26 tahun. Dia mengenakan jaket hoodie berwarna hitam serta celana jeans dengan warna senada. Tak lupa ia mengenakan face mask yang juga berwarna hitam untuk melindungi dirinya dari virus berbahaya yang mungkin bisa saja menular.
(Stay safe)
"Astaga, hampir saja terlupa." decak Yudha saat melihat sapu tangan dan botol spray di atas nakas. Ia pun segera meraih dan memasukkannya ke dalam saku hoodie-nya.
Pemuda itu keluar dari rumah dan memilih mobil untuk menemani dan mengantarnya ke tempat yang ia inginkan. Senandung kecil sering kali ia lantunkan seiring dengan lagu yang ia putar. Rasanya ia sudah tidak sabar menantikan pertemuannya dengan seorang wanita yang sudah bersuami.
Ya, hari ini dia akan menemui wanita idamannya yang tak lain dan tak bukan adalah Raina. Bukan di sengaja, tapi karena hari ini dia mendapat informasi dari orang suruhannya bahwa Raina saat ini sedang ada di sebuah mall untuk berbelanja, dan hanya di temani adik ipar, alias tanpa Divta di sampingnya.
Rasa ketidaksabarannya itu membuat Yudha melajukan mobilnya dengan begitu cepat hingga ia menerobos traffic light yang jelas-jelas mulai berwarna merah.
"Haha untung saja tidak ada polisi." Yudha tertawa puas untuk mengapresiasikan kegilaannya yang melanggar lalu lintas.
Waktu menunjukkan pukul 14.05 itu menunjukkan bahwa, sudah tiga puluh menit Raina berada di mall. Yudha pun menambah laju kecepatannya untuk memburu waktu. Dia takut Raina akan pulang dan menyebabkan dia tidak bisa bertemu.
...***...
"Kak, aku ingin bercerita." Daisya yang menggandeng lengan Raina mencoba untuk mulai terbuka dengan kakak iparnya. Biar bagaimanapun Raina sekarang adalah istri dari Divta, yang artinya Raina juga kakaknya.
"Silahkan saja, Day. Aku akan mendengarkan mu." jawab Raina menoleh sesaat menatap Daisya diiringi senyuman tulus. Lalu ia kembali mengedarkan matanya mencari baju yang sekiranya bagus dan cocok untuk ia pakai, seraya mulutnya menyesap jus kemasan yang tadi ia beli.
"Sebenarnya aku pernah menyukai Raihan, asisten kak Divta."
Uhuk uhuk
Raina tersedak dan terbatuk-batuk mendengar pengakuan Daisya yang sempat menyukai dirinya.
"Kakak ! pelan pelan dong minumnya. Aku tidak akan meminta jus mu." Daisya memijat leher Raina. Merasa khawatir dengan keadaan kakak iparnya itu.
Aku tidak apa kalau kamu meminta jus ku. Tapi masalahnya, Raihan yang kamu maksud itu adalah aku. Raina membatin.
"Sudah aku baik-baik saja." jawabnya lalu meminum lagi jusnya.
"Baiklah, aku lanjutkan. Terus dia pernah mencium pipi ku loh."
Uhuk uhuk uhuk
Lagi lagi Raina tersedak mendengar ucapan Daisya. Kapan aku pernah mencium pipi mu, hei! sembarang. Aku tidak akan mencium orang lain selain keluargaku.
"Sudah jangan minum jus ini lagi !" Daisya merebut jus dari tangan Raina dan membuangnya ke tempat sampah. Dia khawatir Raina akan sakit tenggorokan karena terus batuk batuk seperti itu.
"Jus jambu, kuuu." Raina membelalakkan matanya terkejut atas tindakan Daisya yang dengan mudahnya membuang jus kesukaannya bahkan tanpa izin.
"Minum air putih saja." Daisya membuka tasnya dan mengeluarkan air mineral dalam kemasan botol, kemudian ia berikan kepada Raina. "Cepat minum." perintahnya dengan tegas.
Apa-apaan sih ini ? apa aku sedang di marahi adik ipar ku sendiri ?
Raina menggelengkan kepalanya, merasa tak habis pikir dengan sifat Daisya yang menurutnya bar bar dan seenaknya. Walau begitu, Raina tetap menuruti Daisya untuk meminum air mineral tersebut.
"Aku lanjut lagi ya kak. Beberapa hari setelah itu, aku bertemu lagi dengan cowok yang namanya Raihan juga, yang ternyata adalah adik kak Raina. Saat itu aku tidak sengaja menabraknya sehingga aku harus merawatnya. Dan sejak saat itu, aku mulai menyu- "
"Sebentar, Raihan adik ku ? kecelakaan ? kapan ? kok aku tidak tau soal itu !" sentak Raina terkejut. Seingatnya, Raihan tak pernah mengalami kecelakaan dan selalu baik-baik saja. Sejak ia kerja dengan Divta, setiap hari dia selalu menelpon untuk memastikan keadaan. Tapi kenapa ia tidak tau perihal Raihan yang di tabrak oleh Daisya ?
Daisya yang sebelumnya ceria, seketika murung. Nada bicara Raina yang kasar membuatnya merasa sangat bersalah sekaligus takut.
"Emmm maafkan aku kak. Aku tidak sengaja." jawabnya pelan.
Raina yang merasa sangat penasaran, pun menarik tangan Daisya dan mengajaknya duduk di sebuah food court yang kebetulan jaraknya tak jauh dari mereka. "Jelaskan pada kakak. Kapan dan dimana kamu menabrak Raihan ? parah atau tidak ? luka di bagian mana saja ?" cecar Raina menghujani Daisya dengan beberapa pertanyaan yang membuat adik iparnya itu semakin merasa bersalah.
Raina mendengus keras. Bukan karena marah terhadap Daisya, tapi pada Raihan yang menyembunyikan hal semacam ini darinya. Kenapa harus seperti itu? bukankah mereka sudah berjanji untuk saling menceritakan segala sesuatu yang terjadi ?
"Kenapa dia tidak bilang pada ku." gumamnya sambil memijat pelipisnya.
"Maafkan aku kak. Aku mohon jangan marah." Daisya memeluk Raina, berusaha merayu agar tidak di marahi. Karena sejatinya, hati Daisya sangatlah lemah lembut dan mudah rapuh. Sekali saja di bentak, maka ia akan menangis.
"Aku tidak marah padamu. Aku hanya kecewa saja para Raihan, kenapa dia tidak menceritakan hal sebesar itu pada kakak. Selama ini dia selalu berkata baik-baik saja. Tapi ternyata dia pernah mengalami kecelakaan parah seperti itu.
"Sudah jangan menangis. Jadilah wanita yang kuat dan tahan banting, Ok." Raina mengusap rambut Daisya dengan penuh kasih sayang.
Di sisi lain, Yudha yang baru saja memarkirkan mobilnya di basement bergegas turun dan langsung masuk ke dalam mall untuk mencari keberadaan Raina. Matanya begitu awas memperhatikan setiap perempuan yang memiliki postur tubuh seperti Raina.
Satu, dua lantai sudah ia jelajahi. Kini saatnya ke lantai terakhir yakni lantai tiga. Yudha membenahi face mask ketika melewati dinding kaca. Dan dari pantulan kaca tersebut, Yudha mendapati 2 orang wanita sedang duduk di food court sambil menyantap makanan. Serta merta Yudha menarik sudut bibirnya, menyunggingkan senyum seringai serigala yang seakan hendak menerkam mangsanya.
Yudha memilih meja yang letaknya tak jauh dari meja Raina dan Daisya agar memudahkan dirinya untuk mengawasi sekaligus bisa mendengar percakapan dua wanita itu.
"Day, kakak ke toilet dulu ya." pamit Raina beranjak dari kursi dan mendapat anggukan dari Daisya yang terlihat sedang mengunyah makanan.
"Sepertinya kamu memang di takdir kan untuk ku sayang." gumam Yudha dalam hati. Ia lantas mengangkat bokongnya dan berjalan mengikuti Raina dari belakang. Melihat punggung Raina mungil, benar benar membuat Yudha tidak sabar ingin membawanya pulang.
Sesampainya di toilet, Raina segera masuk ke dalam salah satu bilik. Sementara Yudha, ia menyiapkan sapu tangan yang kemudian ia semprotkan cairan dari botol spray ke sapu tangan tersebut. Kondisi toilet yang begitu sepi, menandakan bahwa Dewi Fortuna sedang berada di pihaknya.
Beberapa saat kemudian, Raina keluar. Sejenak ia merapikan penampilannya di cermin yang menempel di dinding, setelah itu ia berjalan meninggalkan toilet. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendapati seorang laki-laki tengah berdiri di depan area toilet wanita.
"Maaf tuan, ini toilet wanita. Toilet pria ada di -
Belum sempat Raina menuntaskan kalimatnya, laki-laki yang tak lain adalah Yudha, menempelkan sapu tangan yang sebelumnya sudah diberi obat bius, sehingga dalam hitungan detik Raina tak sadarkan diri.
"Aku sangat merindukan mu sayang." Yudha menyeringai licik.
"Raina ! sayang bangun sayang, kau kenapa ?" Yudha mengundang tubuh Raina ketika ada seseorang datang.
"Dia kenapa tuan ?" tanya seseorang itu.
"Aku tidak tau. Tiba tiba saja dia pingsan setelah keluar dari kamar mandi." jawab Yudha menunjukkan wajah panik. Ia menepuk pelan pipi Raina berpura-pura membangunkan agar tidak di curigai.
"Sebaiknya anda bawa kekasih anda ke rumah sakit."
"Baiklah terima kasih untuk sarannya nona. Saya permisi." Yudha bergegas mengangkat tubuh Raina dan membopongnya. Letak toilet yang berada dekat dengan lift benar benar memudahkan Yudha untuk segera membawa Raina pergi.
...***...
"Kenapa kak Raina lama sekali." Daisya menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir setengah jam dari sejak Raina pamit pergi ke toilet, tapi bahkan hingga saat ini wanita itu belum juga kembali.
"Apa aku susul saja ya ? ah kenapa juga sih kak Rain tidak membawa ponselnya." gerutu Daisya bangun dari kursi. Ia membawakan tas milik Raina dan pergi menyusulnya ke toilet. Namun sesampainya di sana, Daisya tak menemukan sosok yang ia cari.
Rasa panik mulai menyerang hati Daisya. Ia bingung harus mencari Raina kemana sebab ia tak menghubunginya. "Aku harus bagaimana?" Daisya menggigit bibir bawahnya karena ketakutan. Ia takut jika Raina di culik lalu di jual ke luar negeri untuk dijadikan budak. "Aaah aku mikir apa sih !" Dia menyentak kepalanya sendiri yang berfikiran buruk tentang apa yang terjadi pada Raina. Akhirnya Daisya memilih untuk menghubungi Divta.
.
.
.
Haduh Raina di culik 😫