
Divta yang panik, pun segera membawa Raina ke kamarnya. Dia tak mengindahkan peringatan Raina karena yang terpenting sekarang adalah, menjauhkan Raina dari sang nenek. Dia tidak ingin Raina tahu secepat itu tentang bekas ciuman di lehernya.
"Divta, turunkan aku !" sentak Raina memukul punggung Divta. Saking kesalnya bahkan dia menggigit bahu pemuda itu.
"Iya aku akan turunkan kamu." jawab Divta seraya mengunci pintu kamarnya. Kemudian dia menurunkan Raina di atas tempat tidur.
"Kamu jangan dekat-dekat dengan nenek." ucapnya penuh peringatan. Dia lalu memaksa Raina untuk tidur di kamarnya saja dan tidak mengizinkan gadisnya itu untuk bertemu dengan Deasy sampai esok hari.
"Aku tidak mau tidur di sini. Aku mau keluar." Raina berusaha beranjak dari tempat tidur, tapi Divta menahan tubuhnya sehingga dia kembali terhempas di atas kasur spring bed yang sangat lembut dan nyaman itu.
"Sssst ini sudah malam, sebaiknya kita tidur. Karena besok kita akan ke luar kota untuk melihat keadaan pembangunan hotel." pungkas Divta menunggang sebelah kakinya di atas kedua kaki Raina serta tangannya memeluk tubuh kecil gadis itu.
"Tapi aku mau tidur dengan nenek saja." Raina masih mencoba untuk bangun meskipun tenaganya tadi sebanding dengan Divta.
"Sst." Divta menutup mulut Raina menggunakan telapak tangannya.
"Asal kamu tahu saja ya, kalau sedang tidur nenek selalu mendengkur. Itu sangat berisik dan mengganggu sekali. Jadi sebaiknya kamu tidur disini temani aku." lanjut Divta lalu mengecup singkat pipi Raina dan dia segera memejamkan kedua matanya.
"Tapi jelaskan dulu apa maksud perkataan nenek tadi ?" cetus Raina membuang muka ke arah lain sambil menepis tangan dan kaki Divta dari tubuhnya.
"Perkataan yang mana ?" tanya Divta pura-pura tidak tau. Padahal dalam hatinya dia sedang mengutuk kebodohannya karena membiarkan Raina bersama Deasy.
"Bekas merah yang ada di leher ku. Kata nenek, ini bekas ciuman mu." tutur Raina seraya mengerucutkan bibirnya kesal. Jika benar itu adalah bekas ciuman, berarti dia adalah perempuan paling bodoh sedunia, dan pasti dia akan marah. Tetapi jika itu bekas gigitan nyamuk dan bukan ciuman, maka dia akan memberikan sesuatu yang Divta minta.
"I- itu ... tentu saja itu bekas ... umm gigitan (ku)" jawab Divta gugup.
"Gigitan nyamuk ?" tanya Raina kini menatap Divta dengan jarak yang begitu dekat. Dia tak menyadari jantungnya yang berdegup kencang karena dia sedang fokus pada pertanyaan yang dia lontarkan.
Namun tidak dengan Divta. Pemuda itu dengan mudahnya bereaksi. Berada di jarak yang begitu dekat dengan sang kekasih, membuatnya ingin berbuat lebih dari sekedar berpelukan. Pemuda itu pun semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Raina.
"Apa kamu benar-benar ingin tahu ?" tanyanya sambil menatap kedua mata Raina bergantian.
Raina menganggukkan kepalanya kemudian sedikit memberi jarak. Dia dapat merasakan deru nafas dari pemuda yang berada di hadapannya dan sedang memeluknya itu.
"Sini ku cium dulu. Dengan begitu kamu tau, apakah itu bekas ciuman atau bekas gigitan nyamuk." lanjut Divta sambil menyingkap kaos di bagian pundak Raina. Dengan tanpa persetujuan si empunya, pemuda itu langsung mendaratkan bibirnya disana.
"Lihat, tidak ada bekasnya, kan ?" lanjutnya tersenyum licik.
Sedangkan Raina yang masih terkejut, pun seketika menoleh ke arah pundaknya yang baru saja di cium oleh Divta.
"Oh begitu ya. Baiklah. Kamu mau minta apa dari ku ?" tanya Raina dengan polosnya.
Sebelah alis Divta terangkat sebab dia merasa bingung dengan pertanyaan Raina. Kenapa tiba-tiba menawari sesuatu padanya ? apakah gadis itu sudah mulai mengantuk sehingga perkataannya melantur ? begitu pikirnya.
Raina menghela nafas sabar.
"Jika benar yang di leher ku ini bukan bekas ciuman mu, maka aku akan memberi apa yang kamu minta dari ku." imbuhnya menjelaskan untuk menjawab rasa keheranan yang Divta rasakan.
Sayang, aku jadi merasa bersalah. Tapi bagaimana ini ? aku sudah terlanjur bohong tadi.
Divta menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian dia menarik tubuh Raina agar menghadap ke arahnya.
"Bisa tidak, untuk jangan minta itu ?" tanya Raina penuh harap. Tapi sayang Divta menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa permintaannya tidak bisa di ganggu gugat, membuat Raina mendengus kecil. Dia tidak mau mencium Divta, tapi dia sudah terlanjur berjanji pada dirinya sendiri. Dan dia tidak punya pilihan lain selain mendaratkan bibirnya di pipi Divta.
"Aku belum bilang ya kalau aku minta cium di pipi." ucap Divta sambil terkekeh.
Raina mendesis, kemudian dia mencium dahi Divta. Dan lagi, pemuda mengatakan hal yang sama yakni tidak memintanya untuk mencium di bagian dahi. Raina yang mulai kesal akhirnya bertanya dengan nada kesal,
"Lalu aku harus cium apa ?!"
Yah, lebih baik di beritahu sekarang. Karena kalau sampai nenek yang bilang seperti tadi lagi, pasti Raina akan benar-benar marah padaku.
"Cium leher ku. Tapi ciumnya seperti saat aku mencium mu beberapa hari yang lalu." ujar Divta.
Raina kembali mengingat-ingat bagaimana saat Divta menciumnya.
Lidahnya ? ciuman yang saat itu membuat ku panas ? apa harus seperti itu ?
Raina menatap Divta dengan tatapan ragu. Tapi beberapa detik kemudian dia melakukan apa yang Divta minta untuk menunaikan janjinya. Dia mengangkat kepalanya. Meletakkan tangannya di atas dada Divta.
Pandangan kedua mata mereka pun saling terkunci.
"Ayo cium aku." perintah Divta seraya melingkarkan tangannya di pinggang Raina.
Raina berusaha keras menelan liurnya. Kemudian, dengan perlahan dia mendaratkan bibirnya di bawah tulang pipi pemuda itu, dan dia pun mulai memainkan lidahnya seperti yang Divta lakukan saat itu.
Divta tersenyum puas. Dia tau tindakannya salah karena telah mengajari Raina yang bukan-bukan. Tapi tidak apa-apa kan, jika sepasang kekasih melakukannya ? Terlebih lagi di usianya yang hampir menginjak 28 tahun, dia masih belum menikah. Jadi, untuk sekedar berciuman atau mencium leher, wajar wajar saja, bukan ?
Sayang, maaf. Aku harap setelah ini kamu tidak marah. Tapi, ini sangat menyiksa ku.. Astaga, kamu benar-benar melakukannya. Aaah aku tidak tahan lagi.
Batin lelaki dewasa seperti Divta tentu saja berteriak ingin meminta lebih. Berada di dalam kamar dan tempat tidur yang sama dengan sang kekasih, tentu membuat lelaki manapun menegang.
"Ini tidak baik. Ini sungguh tidak baik." ucapnya tanpa suara tatkala Raina masih belum melepaskan dirinya. Gadis itu mellumat lehernya dengan begitu lama dan begitu kuat.
"Aaaah." desahan yang keluar dari mulut Divta berbarengan dengan Raina yang melepaskan ciumannya. Dan di saat itu pula Divta segera menutupi lehernya yang mungkin bukan lagi meninggalkan bekas berwarna merah, melainkan warna ungu atau bahkan kehitaman.
"Kamu kenapa ? sakit ya?" tanya Raina panik. Dia duduk dan berusaha menarik tangan Divta karena dia ingin melihat leher pemuda itu. Seingatnya dia tidak menggigit, tapi kenapa Divta mendesah seolah dia sedang kesakitan ?
"Coba singkirkan tangan mu. Aku ingin lihat." ucapnya penasaran ingin melihat, tetapi Divta menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan menolak untuk memberitahunya.
Epilog
"Dasar cucu kurang ajar. Beraninya dia menipu calon cucu menantu ku." Deasy mendengus sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Divta persis seperti rubah jantan yang pandai menipu.
Ya, sejak Raina di bawa pergi oleh Divta tadi, Deasy langsung keluar ke balkon untuk mengintip sang cucu sebab dia ingin tahu apa yang di lakukan oleh pasangan muda itu. Beruntung jendela kamar Divta tidak tertutup dengan rapat sehingga dia bisa melihatnya dengan jelas.
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗
^^^Salam sayang,^^^
^^^Suli Xia^^^