Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Luka di bibir



Why, I was thinking of her when I know that she was never thinking of me.


Yudha menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur di kamarnya yang bernuansa putih. Matanya terpejam untuk sejenak melepas lelah setelah seharian bekerja. Nafas yang sebelumnya menderu kini perlahan mulai teratur.


Pusing. Frustasi. Hah, menyedihkan.


Di saat sedang sendiri dan sepi seperti ini, lagi lagi Yudha terbayang-bayang dengan wajah Raina yang tersenyum bahagia ketika menikah dengan Divta.


Siaaaal !! Yudha mengumpat dalam hati dengan kedua tangan yang mengepal begitu kuat hingga otot-otot tangannya menyembul.


Kelopak mata Yudha kini terbuka lebar sempurna. Menatap lampu yang menyala redup di dalam kamarnya. Bayangan Raina semakin terlihat jelas di matanya. Seolah gadis itu adalah hantu yang kemanapun ia pergi selalu mengikuti.


"Tidak bisa begini. Aku harus merebut Raina dari Divta." tekadnya begitu kuat. Walau bagaimanapun, ia harus bisa membuat Raina jatuh cinta lagi padanya. Tidak peduli meski gadis itu sudah bersuami. Sekalipun harus menjadi simpanan, Yudha rela asalkan ia bisa bersama Raina.


"Ya. Pertama-tama yang harus aku lakukan adalah mencari sekutu supaya lebih memudahkan aku." ucapnya lalu beranjak duduk dan meraih ponsel yang tadi ia letakkan di atas nakas.


"Eh ?" Yudha tertegun ketika ia tak sengaja membuka galeri dan menemukan sebuah video. Seketika senyumnya menyeringai layaknya iblis yang jahat. Dia benar-benar terlupa kalau ia memiliki sesuatu yang bisa membuat Raina kembali ke pelukannya.


"Sayang, ku tunggu janda mu." Yudha tertawa puas sambil memikirkan Raina yang ia yakini sebentar lagi akan menjadi miliknya.


Yudha menyambar guling empuk yang berada di sebelahnya. Ia lalu kembali merebahkan tubuhnya sambil memeluk guling tersebut. Berangan-angan bahwa yang di peluknya sekarang adalah Raina, cinta pertama sekaligus calon cinta terakhirnya.


...***...


Raihan berjalan sambil terus menggendong Daisya di punggungnya. Ia tak peduli pandangan orang-orang terhadap dirinya. Karena yang di pedulikannya saat ini hanyalah membawa Daisya ke ruang kesehatan agar luka di lutut dan bibir Daisya segera di obati. Jujur Raihan merasa ngilu melihat luka tersebut. Karena itu mengingatkan Raihan akan mendiang kedua orangtuanya yang meninggal karena kecelakaan maut beberapa tahun lalu.


Bicara tentang orangtua, Raihan jadi merindukan keduanya. Sudah lebih dari sebulan ia dan sang kakak tidak mengunjungi makam orang yang melahirkan dan merawat mereka. Sesaat Raihan terdiam dan menghentikan langkah kakinya yang membuat Daisya merasa heran.


"Ada apa ?" tanyanya seraya mencoba melihat wajah Raihan, namun yang dia lakukan malah membuat pemuda itu merasa geli sekaligus merona.


So why ? because her breath was right in Raihan's ear. Ya, Daisya berbicara tepat di telinga Raihan bahkan tanpa ia sadari, bibir mungilnya yang terluka itu menyentuh daun di sisi telinga kiri pemuda yang telah berhasil mencuri hatinya tersebut.


"A- apa yang kau lakukan ?" bisik Raihan terbata merasakan panas di telinganya.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Kan aku hanya bertanya 'ada apa ?' sudah itu saja." jawab Daisya yang masih belum sadar bahwa tingkahnya membuat Raihan semakin merona dan kepanasan.


"Berhenti bicara." Raihan meneruskan langkahnya dengan cepat.


"Iya iya aku tidak akan bicara lagi."


"Sudah ku bilang berhenti."


"Iya aku sudah berhenti."


"Itu kau masih bicara !"


"Kau yang terus mengajakku bicara." Daisya semakin ngotot. Ia merasa seperti sedang di salahkan. Padahal ia sudah ingin mengakhiri ucapannya, tapi Raihan terus saja memancingnya untuk tak berhenti mengeluarkan kata-kata.


"Turun !" perintah Raihan tidak tahan lagi.


"Tidak mau !" Daisya menaikkan tubuhnya dan mengeratkan pelukannya di leher Raihan.


Raihan berdecak kasar dan mempercepat jalannya agar segera sampai. Ini adalah pengalaman pertamanya menggendong perempuan lain selain kakaknya. Kenapa rasanya berbeda ? even though, Raina sering melakukan hal sama seperti yang Daisya lakukan, yaitu berbicara tepat di telinganya, atau terlelap dengan wajah di tengkuknya. Raina juga pernah menggigit lehernya karena kesal. Terapi Raihan tetap biasa saja, tidak seperti saat menggendong Daisya sekarang ini. Ia merasakan desiran aneh yang membuat jantungnya berdebar-debar. Wajahnya terasa kepanasan walaupun langit sedang mendung. Dan parahnya lagi, telinga dan pipinya memerah seperti tomat yang sudah sangat matang.


Sesampainya di ruang kesehatan, suster yang berjaga kelihatan sibuk dengan pekerjaan lain. Raihan bergegas menghampiri dan meminta tolong untuk mengobati Daisya, namun suster tersebut menolak dan malah memintanya untuk mengobati Daisya. Sehingga mau tak mau ia harus melakukannya.


"Selalu saja merepotkan." gerutu Raihan sambil membuka kotak P3K. Ia menarik kursi lalu duduk di hadapan Daisya.


"Angkat dress mu." perintahnya, karena rasanya tidak sopan jika dia yang harus menyingkapnya, dan Daisya pun menuruti.


"Jangan tinggi-tinggi !" sentak Raihan kesal tatkala Daisya menarik dressnya terlalu ke atas hingga memperlihatkan kulit pahanya yang mulus.


"Kenapa ? bahkan saat di rumah mu aku selalu pakai celana segini." Dengan polosnya Daisya menarik ke atas lagi dressnya.


"Ck !" Raihan melotot seraya tangannya menurunkan dress gadis itu.


Seketika Daisya terdiam. Ia tidak ingin membuat Raihan marah. Sebab dia takut kalau kalau nanti Raihan malah pergi meninggalkannya.


"Sssh, perih.." desisnya ketika Raihan mengoleskan alkohol di permukaan kulitnya yang mengelupas, dan untuk menahan sakit itu Daisya menggigit bibir bawahnya.


"Jangan gigit bibir mu. Sudah tau luka malah di perparah lagi." ujar Raihan geregetan melihat bibir Daisya yang tak henti mengeluarkan darah. Bahkan Daisya sudah 5 kali mengganti tissue untuk menyeka cairan merah itu.


Apa dia tidak pernah terluka ? wajar kalau aku menggigit bibir karena untuk menahan sakit. Dasar menyebalkan.


Daisya menggerutu dalam hati.


"Aku pernah baca novel, kalau bibir berdarah bisa dihentikan dengan es batu. Tapi bagaimana ya, disini tidak ada es." gumam Raihan bingung seraya terus merawat luka Daisya.


"Kau salah, kalau berdarah itu harus di hisap darahnya supaya berhenti." sahut Daisya yang justru membuat kedua mata Raihan membulat saking merasa terkejut dengan ucapan Daisya.


Teori mana yang mengatakan kalau berdarah harus di hisap supaya pendarahannya berhenti ? apalagi itu di bibir ? masa iya dia harus ********** agar darah di bibir gadis itu berhenti ? yang benar saja.


Tapi bagaimana rasanya ya ? aku belum berciuman.


Pandangan Raihan berpusat pada bibir Daisya yang terluka.


Eh ? kenapa pikiran ku travelling ke arah sana? haha bukankah dia bisa melakukannya sendiri? astaga, kenapa aku jadi mesum begini sih.


"Ya sudah, hisap saja kalau begitu." Karena Raihan sudah selesai membalut luka Daisya dengan perban, ia pun beranjak berdiri untuk mengembalikan kotak P3K pada tempatnya.


"Tentu saja kau yang harus menghisapnya !"


Brakkk !!


Kotak P3K tersebut tak sengaja Raihan jatuhkan karena lagi lagi Daisya mengatakan sesuatu yang mengejutkan dirinya.


...***...


Divta sama Raina apa kabar ya ? 🤔