Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Raina Amanda



Raina mengerjapkan matanya tatkala tangan kanannya terasa kram dan sulit ia gerakkan. Dia menoleh. Dia mendapati Divta tertidur di kursi sambil menggenggam tangannya yang dijadikan sebagai tumpuan kepala pemuda itu di tepi tempat tidur. Kemudian dia melirik ke arah nakas dimana jam weker tergeletak. Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Seingatnya, tadi dia masih mencuci piring. Dan dia pingsan saat Divta melamut jari telunjuknya yang terluka karena serpihan piring. Berarti dia tak sadarkan diri selama kurang lebih 4 jam. Dia berfikir, lama juga ya.


Perlahan, Raina menarik tangannya dari genggaman Divta. Berharap bossnya itu tidak terganggu tidurnya. Namun, usahanya gagal. Divta sudah terlebih dahulu bangun sebelum dia berhasil melepaskan genggaman tangan Divta.


“Kau sudah bangun ?” tanya pemuda itu yang hanya di angguki oleh Raina.


“Ah maaf aku tidak sengaja memegang tanganmu.” imbuh Divta segera melepaskan tangan Raina.


“Kenapa anda tidur disini ?” tanya Raina sambil beranjak duduk.


“Tadi kamu pingsan. Itu sebabnya aku menunggumu bangun. Oh iya, kamu mau makan apa ? biar aku pesan dari luar.” tutur Divta seraya tersenyum hangat. Dia menatap nanar kedua mata Raina yang masih terlihat sayu. Sedetik kemudian, tatapan itu beralih ke bibir Raina yang nampak ranum.


Argh, gemas sekali aku ingin menciumnya.


Divta bermonolog dalam hati seraya membayangkannya.


Raina mengangguk semangat. Ini adalah pertama kalinya Divta menawarinya makanan. Biasanya, dia hanya makan apa yang Divta makan. Meskipun makanan itu mahal, tapi terkadang ada yang tak sesuai dengan seleranya.


“Apa aku boleh minta spaghetti ikan asin ?” tanyanya dengan raut wajah sumeringah.


Divta mengerutkan dahinya bingung. Sejak kapan spaghetti ada yang rasa ikan asin ? begitu pikirnya. Nama makanan itu terdengar aneh di telinganya sebab ini adalah kali pertama dia mendengarnya.


“Dimana aku bisa mendapatkan spaghetti ikan asin itu ?” akhirnya dia melontarkan pertanyaan dengan perasaan kikuk.


“Eh maaf aku salah. Maksud ku spaghetti ikan teri. Kau bisa memesannya di kedai kopi yang ada di cafe lantai 1 gedung ini.” jawab Raina.


“Oh, aku baru tau kalau kedai itu menjual spaghetti. Baiklah, aku akan memesannya dulu. Kamu tunggu disini ya.” perintah Divta. Setelah memastikan Raina menurut padanya, dia bergegas keluar guna menelpon pihak kedai kopi untuk memesan makanan yang Raina inginkan. Tak lupa juga dia memesan kopi yang recommended dari kedai tersebut untuk dirinya dan juga Raina.


Suara dering ponsel mengalihkan Divta yang hendak kembali ke kamar. Dia pun berbalik dan menyambar ponselnya yang terletak di atas meja hias dekat kamarnya.


“Halo.” sapanya ketika dia sudah menggeser icon berwarna hijau dan menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya.


“Saya sudah mendapatkan informasi tentang asisten anda, tuan. Dia bernama Raina Amanda. Adiknya bernama Raihan Ananda yang sedang kuliah semester 4 di Universitas Negeri terkemuka. Mereka yatim piatu. Kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan.” sahut seorang lelaki yang diutus oleh Divta untuk mencari informasi terkait jati diri Raina yang sebenarnya.


“Ada lagi ?” tanya Divta.


“Ada, tuan. Ketika Raina berusia 12 tahun, dia pernah mengalami tindak kekerasan sek sual yang dilakukan oleh teman sekolahnya. Dan menyebabkan dia mengalami trauma hingga mengganggu psikisnya. Hal itu pula lah yang membuatnya takut melakukan kontak fisik dengan lelaki lain selain ayah dan adiknya.”


penuturan yang di sampaikan oleh orang suruhannya itu, membuat tubuh Divta seketika lemas. Dia menjauhkan ponsel dari telinganya dan langsung memutus sambungan telepon. Rasanya dia ingin marah dan melampiaskan emosinya. Dia menggenggam erat ponsel tersebut kemudian melemparnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Sungguh dia tidak dapat membendung emosi setelah mendengar semua hal tentang Raina.


“Aaargh !” teriaknya meninju ke udara.


Sementara Raina yang mendengar teriakan Divta, pun bergegas keluar dari kamar untuk melihat apa gerangan yang terjadi.


“Tuan, anda kenapa ?” tanyanya panik melihat Divta berlutut di lantai seraya mengepal kedua tangan.


Divta mendongakkan kepalanya menatap Raina. Kemudian dia berdiri dan berhambur memeluk Raina.


“Biasakan dirimu untuk menerima pelukan dariku. Aku berjanji akan menjagamu. Aku berjanji akan membahagiakan mu. Dan aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu.” ucapnya. Dia menenggelamkan wajahnya di bahu Raina. Dia bisa merasakan tubuh Raina menegang. Dia juga bisa merasakan leher gadis itu mulai lembab karena keringat. Namun, bukannya melepaskan, dia malah semakin mengeratkan pelukannya.


“Aku mohon Manda. Izinkan aku berperan sebagai Raihan untuk mu.” imbuhnya kemudian. Suara terdengar sedikit serak akibat menahan tangis. Dia tidak sanggup membayangkan derita yang Raina rasakan. Di saat usianya yang masih belia, gadis itu sudah merasakan trauma hingga mengganggu mental dan psikisnya.


“Tuan, tolong lepaskan saya dulu.” Raina berusaha mendorong tubuh Divta, namun sulit. Karena Divta memeluknya begitu erat. Bahkan dia sedikit merasa sesak.


“Berjanjilah kalau kamu mengizinkan aku untuk menggantikan Raihan. Laki-laki itu kan cuma seorang asisten saja. Aku kaya, aku bisa memberikan apa yang kamu mau.” tukasnya tak ingin di tolak.


Enak saja kau mau menggantikan adikku. Hanya dia sosok laki-laki yang paling ku cintai di dunia ini. Tidak ada yang bisa menggantikannya.


Sungut Raina dalam hatinya.


“Baiklah baiklah. Saya akan memutuskan hubungan dengan Raihan nanti.” ucapnya berbohong.


“Sungguh ?” tanya Divta memastikan, dan di iyakan oleh Raina.


Divta tersenyum senang dan bergegas melepas pelukannya. Dia terlihat begitu semeringah mendengar jawaban singkat yang Raina lontarkan.


Tenanglah Raina. Aku akan membalaskan rasa sakitmu pada bajjingan yang telah menodaimu. Aku akan mencarinya walau ke lubang semut sekalipun. Dan aku pastikan, aku akan membuatmu melupakan masa lalu mu yang kelam itu.


“Kalau begitu, aku akan memecat Raihan.” ucapnya sambil tersenyum penuh licik.


Raina sedikit terhenyak hingga kakinya melangkah mundur. Kalau dia di pecat, bagaimana dia bisa menghidupi dirinya dan Raihan ? bagaimana dia bisa membiayai kuliah Raihan ? tidak, itu tidak boleh terjadi. Dia harus mempertahankan pekerjaannya.


“Jangan tuan. Kalau anda memecatnya, bagaimana dia bisa menyambung hidupnya ? Bukannya Raihan masih punya seorang adik yang harus di biayai kuliahnya ? lagipula, siapa yang akan melayani anda nanti ?” tukasnya dengan nada khawatir.


Divta tersenyum lucu hingga punggung tangannya menutupi bibirnya yang sedang menipis itu. Kemudian dia menyelipkan anak rambut Raina ke belakang telinga. Lalu dia mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu dan berbisik,


“Kamu tidak perlu berpura-pura lagi, Raina Amanda ku sayang.”


Raina membulatkan matanya sempurna. Apa yang baru saja Divta bisikkan ke telinganya ? Raina Amanda ? pemuda itu menyebutkan nama aslinya ? apakah penyamarannya sudah terbongkar ?


“B-bagaimana anda tau nama saya ?” tanyanya gugup. Keringat pun mulai menetes di pelipisnya.


Divta memberi jarak lagi antara dirinya dan Raina. Dia mengulurkan tangan untuk menyeka keringat dingin gadis itu.


“Tentu saja aku tau. Raihan itu nama adikmu, kan ? dan yang selama ini jadi asisten adalah kamu, Raina.” dia menekankan kata kamu dalam kalimatnya sambil mencolek hidung Raina.


“D-dari mana anda tau ?” suara Raina terdengar semakin gugup setelah mendapat perlakuan manis dari Divta. Tapi yang menjadi masalah utamanya adalah, sejak kapan Divta menyadari penyamarannya ?


Divta meraup sisi wajah Raina,


“Rahasia.” jawabnya kemudian dia mengecup kilas hidung mancung milik gadis yang ada di hadapannya tersebut. Membuat si empunya tersentak kaget.


Ting tong


Suara bel terdengar begitu nyaring.


“Sepertinya makanan pesanan mu sudah datang. Tunggu ya, aku buka pintunya dulu.” dia melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu. Sementara Raina, dia memegangi pipinya yang terasa panas. Ini adalah kali pertama wajahnya disentuh dan di cium oleh lelaki lain.


Ya Tuhan, kenapa aku bisa seperti ini ? biasanya aku selalu kesal, marah dan emosi setiap kali di sentuh laki-laki lain. Tapi kenapa di sentuh tuan Divta aku tidak marah ?


Raina menepuk kedua pipinya berulang kali.


Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗