
Senja boleh dibilang merupakan keindahan alam yang bisa dinikmati secara gratis. Senja atau rembang petang adalah pembatas siang dan malam. Senja di awali dengan matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat
Momen senja kerap menjadi panorama yang paling indah. Banyak orang berupaya mendapatkan senja. Bahkan ada yang diistilahkan sebagai "pemburu senja".
Banyak orang yang menunggu momen tersebut dengan hanya duduk santai sambil menatap ke cakrawala dan menikmati secangkir teh atau kopi dan sambil meluangkan kata-kata, sehingga ada sebagian orang terinspirasi membuat caption terkait senja. Seolah semua orang tidak ingin melewatkan datangnya senja di sore hari.
Sama seperti halnya Andro yang sedang duduk santai di kursi malas dekat kolam renang. Ditemani secangkir teh hijau hangat yang dicampur dengan susu.
"Ada apa, nak ?" suara itu berasal dari seorang wanita tua yang tak lain adalah Deasy, ibu kandung Andro.
Andro beranjak dari kursi dan menyambut sang ibu. Memberi salam dan mencium punggung tangan Deasy.
"Silahkan duduk dulu, bu. Ada hal penting yang ingin aku katakan." ucapnya dengan penuh sopan santun sambil menuntunnya untuk duduk di kursi di sebelahnya.
"Langsung saja. Biasanya, kalau mau mengajak ku bertemu empat mata begini, artinya ada sesuatu yang sangat penting." ucap Deasy mencoba membaca gerak tubuh Andro yang terlihat gugup.
"Ini tentang orang yang saat itu pernah aku ceritakan pada mu, Bu."
Deasy memicingkan matanya, menatap Andro dengan tatapan curiga.
"Apa kau baru lahir kemarin ?" tanyanya.
"Hah ? yang benar saja, Bu." protes Andro.
"Ada berapa ribu orang yang pernah kau ceritakan pada ku ? lalu apa aku harus mengingat mereka semua, begitu ?" cetus Deasy.
Andro tersenyum kikuk. Benar juga, begitu gumamnya.
"Itu loh, Bu. Orang yang tidak sengaja aku ..."
"Aaah ya, ada apa memangnya ?" tukas Deasy menyela ucapan Andro sehingga terhenti begitu saja.
"Bukankah aku sudah membayarnya dengan harga mahal ? tapi aku tidak menyangka kalau ternyata anaknya ..."
"Terima saja. Tapi sebelum itu kau harus bicara dulu dengan anak mu. Karena biar bagaimana pun, aku sudah terlanjur menyetujuinya." tukas Deasy lagi.
Andro mengangguk setuju.
"Tapi bagaimana kalau dia menuntut ku, Bu ? aku sudah hampir tua. Aku tidak ingin menghabiskan hidupku di dalam sel tahanan."
Deasy menghela nafas dalam. Memang tidak mudah untuk mengungkapkan sebuah rahasia yang sudah lama tersimpan. Apalagi resikonya begitu berat. Tapi... kenyataan harus di tetap di hadapi. Bagaimana pun akhirnya, apapun hasilnya, tetap harus di terima dengan lapang dada.
"Aku yakin, dia bukan tipe orang yang seperti itu." jawab Deasy.
**
Haaaah aku benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengan Raina. Kira-kira dia sedang apa ya ?"
Divta yang berada di pesawat, tengah asyik melamun ria sambil menyangga dagunya dengan satu tangan yang bertumpu di jendela. Menatap langit biru muda yang begitu cerah, dan di hiasi awan putih yang terkadang membuat pesawat yang dia tumpangi sedikit terguncang akibat menabraknya.
Ya, Divta menyelesaikan tugasnya dengan begitu cepat sehingga kepulangan yang di perkirakan di malam hari, ternyata bisa di majukan.
"Oke, sepuluh menit lagi akan lepas landas." gumamnya. Dia sudah tidak sabar ingin memberi kejutan untuk Raina. Pemuda itu juga tak lupa membelikan banyak oleh-oleh untuk sang kekasih.
Sambil menunggu waktu sepuluh menit itu, Divta membangunkan Kairo untuk mengajaknya mengobrol. Meski awalnya Kairo menolak bangun, tapi akhirnya dia berhasil membuat Kairo terjaga dari tidurnya.
"Terserah aku. Oh iya, kau sudah dapat kabar tentang pendonor mata, belum ?" tanya Divta.
Kairo yang masih memejamkan matanya, pun menggeleng.
"Belum." jawabnya bergumam.
"Kau harus cepat mencarinya. Atau, bagaimana jika mata mu saja yang di donorkan ?"
Seketika Kairo terbelalak kaget. Dia menoyor kepala Divta kemudian memiting leher sahabatnya itu.
"Enteng sekali kau bicara, hah ? kenapa tidak mata mu saja !" ucapnya geram.
Sontak saja Divta tertawa terbahak-bahak. Namun beberapa detik kemudian mereka kembali tenang setelah mendapat teguran dari seorang nenek-nenek yang merasa terganggu akibat kebisingan mereka.
"Ini semua salah mu." cetus Kairo.
"Cih, enak saja. Jelas-jelas kau yang mencari masalah dengan ku." sanggah Divta tidak terima karena di salahkan.
Tak terasa, perdebatan kecil itu membuat mereka tanpa sadar telah sampai di darat dan mereka bergegas turun dari pesawat.
"Kenapa Raina tidak menjemput kita ?" tanya Kairo bingung.
"Kita ? gue aja kali." Divta tersenyum sinis.
"Aku sengaja tidak memberitahunya karena ingin memberi kejutan." lanjutnya.
"Oh." jawab Kairo singkat.
Ketika Divta dan Kairo hendak masuk ke dalam taksi, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita menyerukan sebuah nama. Seketika si empunya menoleh ke arah sumber suara.
"Untuk apa kau kesini ?" tanya Divta dengan dahi yang berkerut dalam. Raut wajahnya seketika masam tatkala melihat wanita yang tidak dia harapkan muncul di hadapannya.
"Tentu saja aku datang untuk menjemputmu." wanita itu mendekap lengan Divta tanpa mempedulikan jika pemuda itu tengah menahan emosinya.
"Rumi !!!" sentak Divta menepis kasar tangan Arumi hingga wanita itu terhuyung dan hampir terjatuh jika saja Kairo tidak menangkapnya.
"Berapa kali aku katakan, jangan pernah menyentuh ku lagi !!" sentaknya sengaja berteriak agar semua orang tau kalau ada sesosok penghianat sedang mencoba untuk menggoda dirinya.
"Aku hamil, Div. Beginikah cara mu memperlakukan ibu dari calon anak mu ?!" teriak Arumi tak mau kalah. Dia juga berusaha untuk menarik perhatian orang-orang agar mendukungnya sekaligus menyalahkan Divta.
Divta mendesis. Sudut bibirnya mengulas senyuman sinis. Bahkan mimik wajahnya nampak jijik dan enggan menatap Arumi.
"Calon anak ku ? menyentuh tangan mu bahkan aku tidak pernah sama sekali. Bagaimana kau bisa hamil anak ku ? Sebaiknya kau temui para pelanggan mu, dan minta mereka untuk mencocokkan DNA-nya satu per satu dengan calon anak mu itu." cetusnya kemudian dia masuk ke dalam mobil dan menyuruh Kairo untuk segera menyusulnya.
"Sayang !! sayang !! buka pintunya !!" teriak Arumi sembari menggedor pintu kaca mobil.
Niat hati ingin mendapat belas kasihan dari orang-orang, tapi malah mendapat cibiran yang luar biasa menyakitkan. Di tambah lagi, Divta berkata 'para pelanggan'. Sudah pasti orang akan berfikir bahwa dia adalah wanita malam.
"Sialan !!!" seru Arumi mengumpat kasar.
To be continued