
Usai mendapat izin dari Raihan, Raina segera mengepak barang-barangnya kedalam koper. Tidak banyak, hanya beberapa pakaian kerja dan kaos serta celana pendek milik Raihan yang dia pinjam. Dia juga meminjam celana dalam Raihan untuk memanipulasi barang jero'annya, takut takut Divta akan mengetahui identitasnya sebagai wanita.
"Sedikit sekali, tapi yaaaah sudahlah." gumamnya saat melihat koper kecilnya tidak terisi penuh. Setelah semua siap, Raina keluar dari kamarnya.
"Dek, ingat pesan kakak. Jangan pernah bawa anak gadis orang ke rumah, dan jangan macam-macam selama kakak tidak tinggal disini." bisik Raina saat mendapati Raihan sedang berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Harusnya aku yang bilang seperti itu. Kakak kan tinggal bersama lelaki asing, jadi kau jangan macam-macam. Apalagi dia tampan rupawan, mapan dan kaya. Jangan sampai kau terjebak tipu muslihatnya. Sudah sana cepat pergi." celetuk Raihan ketus. Nampak sekali guratan ketidaksukaan di wajahnya karena keputusan Raina yang ingin tinggal bersama Divta. Dalam hatinya sungguh dia merasa sangat menyesal karena telah menyetujuinya.
"Hehe tidak akan, kau tenang saja ya. Sayangnya kakak, jangan kecewakan kakak ya." Raina mengusap lembut pipi Raihan dengan ibu jarinya.
"I love you." imbuhnya sambil memeluk Raihan dengan begitu erat. Bukan karena apa, dia pasti akan sangat merindukan pemuda yang cerewet itu. Biasanya setiap pagi Raihan yang selalu membangunkannya meskipun melalui telepon, membuatkan sarapan dan juga menyiapkan keperluannya.
Tapi mulai malam ini dia akan sangat jarang bertemu dengan pemuda yang tak lain ialah keluarga satu-satunya itu.
"Sudah jangan menangis, tuan Divta sudah menunggumu tuh di luar." ucap Raihan sembari menepuk punggung Raina.
"Ya sudah, kakak berangkat ya. Jangan lupa tiap malam telepon kakak." Raina melepas pelukannya.
Raihan mengangguk patuh,
*Sepertinya mulai hari ini slogan hidupnya akan berubah. Tidak ada lagi kata menunda dalam dunianya. Baguslah, ada* sedikit kemajuan.
Di dalam mobil
Sudah sepuluh menit ruang dalam mobil itu hening. Raina dan Divta hanyut dalam pikirannya masing-masing, hingga akhirnya Divta mengambil inisiatif bertanya untuk memecah keheningan.
"Kenapa barang mu hanya sedikit ?" tanya Divta tanpa menoleh.
"Karena saya lelaki, jadi tidak perlu terlalu banyak bawa pakaian. Lagipula kalau memang kurang, saya bisa membelinya nanti ketika sudah gajian." sahut Raina.
"Memangnya kau tidak ada yang simpanan sampai harus menunggu gajian baru bisa beli baju ?" tanya Divta lagi sambil menoleh sekilas, kemudian dia kembali fokus menyetir mobil.
"Ada, tapi saya harus hemat sampai waktu saja gajian karena saya takut adik saya punya keperluan mendadak dan membutuhkan uang." jawaban Raina pun membuat suara Divta tercekat di tenggorokan. Sesulit itukah hidup asisten pribadinya itu?
Sesampainya di apartemen
"Itu kamar mu, rawat dengan baik jangan sampai ada kotoran sedikitpun." tegas Divta memberi peringatan.
"Baik tuan, terimakasih." sahut Raina kemudian dia segera melangkahkan kakinya sambil tangannya membawa koper ke dalam kamar yang di tunjuk oleh Divta, yang letaknya berada tepat di samping kamar pemuda itu.
Raina menengadahkan pandangannya ke seluruh ruangan itu. Ruangan yang di design khusus memang untuk pria. Dinding berwarna abu-abu, sementara furniture serba putih. Sederhana namun terlihat sangat mewah menurutnya.
Dia pun membuka koper dan mulai menyusun barang-barangnya di lemari yang terletak tak jauh dari tempat tidur.
"Eh kenapa aku bisa lupa membawa dalaman ?" pekik Raina terkejut saat dia tak menemukan satupun bra di dalam kopernya.
"Haish, padahal baru beberapa hari aku memakai korset untuk menyamarkan dadaku, tapi sekarang aku sudah melupakan barang kesayangan." Raina mengeluhkan kebodohannya. Tapi sudahlah, lagipula selama bekerja tidak memerlukan bra. Bahkan di saat tidur pun tidak menggunakan bra demi kesehatan. Jadi tidak perlu worry, begitu pikirnya.
Setelah selesai menyusun barang-berang, dia pun menanggalkan jas hitamnya dan dia gantungkan di hanging wall yang ada di dekat pintu kamar, setelah itu dia mengunci pintu tersebut untuk berjaga-jaga agar Divta tidak masuk ketika dia sedang membersihkan diri.
"Haaah sesak sekali rasanya menggunakan ini sepanjang hari." Raina melepas korset yang membuat dadanya terlihat rata, kemudian dia memutar keran dan membiarkan tubuhnya di basahi oleh guyuran air yang keluar dari shower.
Setengah jam kemudian, Raina keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk putih yang melilit di tubuhnya untuk menutupi dada sampai ke pahanya.
Raina mendengus kasar, baru setengah jam lalu dia bernafas lega tanpa memakai korset tapi sekarang Divta sudah memanggilnya lagi.
"Iya tuan." sahutnya dengan malas.
"Cepat pijit kepala ku, aku mau tidur." ucap Divta masih teriak.
Iya iya aku dengar, tidak perlu sampai berteriak-teriak seperti itu.
gerutu Raina kesal, kemudian dia berjalan mendekat pintu.
"Sebentar, saya pakai baju dulu." jawabnya.
Kemudian terdengar suara pintu terbuka dan kembali tertutup menandakan bahwa pemuda itu sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Haih, aku lupa kalau alasan utama ku tinggal di sini adalah untuk memijat kepalanya agar dia bisa tidur." Raina memijat pangkal hidungnya sambil melangkahkan kakinya menuju ke lemari untuk segera berganti pakaian.
10 menit kemudian, Raina sudah berganti peran sebagai Raihan dengan dadanya yang rata, kumis tipis yang keren dan juga wig yang membuatnya terlihat begitu tampan dan nampak mirip dengan Raihan, sang adik.
Raina keluar dari kamarnya dan bergegas mengetuk pintu kamar Divta,
"Tuan." panggilnya dengan suara kaku tanpa intonasi.
"Ya, masuk." sahut Divta dari dalam.
Dengan malas Raina memutar handle pintu dan masuk ke dalam kamar yang sebelumnya pernah dia masuki itu. Dia melihat Divta sedang duduk di kursi kerjanya,
"Ada apa tuan ?" tanyanya sambil mendekat.
Divta beranjak dari kursi,
"Pijat kepala ku, aku ingin istirahat." perintahnya sembari menuju ke tempat tidur king size miliknya, kemudian dia merangkak naik dan merebahkan tubuhnya di sana.
Raina pun duduk di tepi tempat tidur, dan mulai mengerti pijatan di kepala Divta.
"Tuan."
"Hm.." jawab Divta dengan hanya berdehem saja.
"Kenapa Anda tidur hanya pakai kolor saja ?" tanya Raina malu. Sedari tadi dia terus mengalihkan wajahnya ke arah lain sebab tidak berani memandangi tubuh Divta yang sangat terbuka.
"Aku tidak bisa tidur jika pakai baju." jawab Divta seadanya tanpa membuka mata yang sudah terpejam sejak dia merebahkan dirinya.
"Oh." jawab Raina.
Setengah jam kemudian, Divta sudah terlelap. Raina berinisiatif untuk menutupi tubuh Divta yang terbuka itu dengan selimut.
"Kau akan sakit kalau tidur seperti ini." ucapnya pelan. Setelah menyelimuti Divta, Raina pun bergegas keluar karena dia juga ingin beristirahat.
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗