
Usai membersihkan diri, Raina segera keluar dari kamar mandi setelah sebelumnya dia menguras bathtub dan membersihkan sisa-sisa busa sabun yang tersisa. Sebenarnya dia kurang puas berendam, terlebih lagi dia belum sempat membilas tubuhnya karena saking dia terburu-buru.
"Sudahlah, nanti aku jadi lagi saya." gumamnya dalam hati.
"Saya sudah selesai tuan." Raina melihat Divta sedang duduk di tepi tempat tidur sambil menyilang kedua tangannya di atas perut. Bibirnya mengerucut kesal, bahkan tatapan pemuda itu nampak seperti sedang menahan amarahnya.
"Maafkan saya tuan, saya terlalu lama di dalam kamar mandi." imbuh Raina membungkukkan tubuhnya. Dia merasa sangat bersalah karena membuat Divta terlalu lama menunggu.
"Apa saja yang kau lakukan didalam sana ? kau tau tidak, kamar mandi itu adalah tempatnya jin dan syetan, kalau kau berlama-lama didalam sana, sama saja kau bercinta dengan makhluk tak kasat mata itu." cetus Divta.
Raina menundukkan kepalanya, dia tau betul dengan apa yang di maksudkan oleh Divta. Dia juga pernah belajar tentang hadist larangan berlama-lama di dalam kamar mandi, tapi berhubung tidak ada yang mengingatkannya jadi yaa, seperti itulah.
"Daripada kau bercinta dengan jin, lebih baik dengan ku saja." imbuh Divta.
Raina membulatkan matanya dengan sempurna mendengar ucapan yang Divta lontarkan. Apa maksudnya ? kenapa dia bisa berkata demikian ? apakah bossnya itu tau jati dirinya yang sebenarnya ?
Dia lalu mendongakkan wajahnya menatap Divta, dahinya berkerut dalam serta kedua alisnya sejajar tajam.
Divta terkekeh geli melihat ekspresi Raina,
"Kenapa wajahmu seperti itu ? maksud ku kau dan aku sama-sama bercinta tapi dengan pasangan masing-masing." celetuknya sambil terkekeh lagi.
Raina menghembuskan nafas lega, tapi sedetik kemudian dia mencebikkan bibirnya merasa jijik dengan ajakan Divta, padahal baru saja pemuda itu mengingatkan tentang jangan berlama-lama di kamar mandi, tapi tak lama setelah itu malah mengajaknya berbuat maksiat.
**
Divta dan Raina terlihat sedang sarapan di restoran yang berada tepat di seberang hotel tempat mereka menginap. Alasan Divta tidak sarapan di hotel adalah agar dia punya waktu untuk jalan berdua dengan Raina.
Ya, untuk menuju ke restoran mereka cukup berjalan kaki selama kurang lebih 5 menit dari hotel. Selain makanannya yang mewah, tempatnya juga sangat romantis, dan Divta sangat menyukai itu.
"Divta ?"
Tiba-tiba suara seorang gadis terdengar di telinga Divta dan Raina. Mereka pun menoleh ke arah sumber suara.
"Arumi ?!" pekik Divta terkejut melihat gadis yang berada di belakangnya itu.
Dialah Arumi Varasha, gadis cantik keturunan Jepang yang tak lain ialah anak dari pemilik hotel luxury tempat Divta dan Raina menginap semalam. Arumi adalah mantan kekasih Divta yang tiba-tiba pergi tanpa meninggalkan pesan untuk Divta 4 tahun lalu untuk mengejar cita-cita yang ingin menjadi seorang designer terkenal.
Arumi tersenyum senang melihat Divta, dia lalu membungkukkan tubuhnya dan memeluk leher Divta.
"Aku sangat merindukan mu." dia mengecup pipi kekasihnya itu.
Tangan Divta terulur mengusap punggung Arumi, dia pun merasakan hal sama yakni rindu, rindu yang teramat sangat.
"Aku juga merindukan mu." sambil mencium rambut Arumi.
Divta melepas pelukannya dan menggeser kursi serta mempersilakan Arumi untuk duduk.
"Oh iya perkenalkan dia asisten ku, Raihan." ucap Divta mengenalkan Raina yang masih asik mengunyah itu pada Arumi.
Arumi duduk di kursi yang tadi di sediakan oleh Divta, kemudian dia mengulurkan tangannya pada Raina.
Kenapa dia cantik sekali ? apa ini pacarnya tuan Divta ?
hati Raina bermonolog seraya memandangi wajah Arumi yang menurutnya sangat cantik. Bahkan, dia belum pernah melihat wajah secantik Arumi sebelumnya.
"Rai, kenapa bengong ?!" sentak Divta menyadarkan Raina dari lamunannya.
"Rumi ingin bersalaman dengan mu." imbuhnya.
Raina menyeka tangannya yang sedikit berminyak karena keringat menggunakan tissue,
"Nama saya Raihan, nona." jawabnya menyambut uluran tangan Arumi dan menyalaminya. Sebagai wanita yang wajahnya standar standar saja, dia tentu merasa minder dan iri dengan Arumi. Untung saja dia menyamar, jadi tidak ada yang tau keburikan wajahnya.
Insecure.jpg
Tidakbersyukur.jpg
Arumi tersenyum lagi, dia pun merasakan hal yang sama dengan Raina yakni mengagumi wajah Raihan yang berdasarkan penglihatannya itu nampak begitu tampan. Mungkin, jika Raihan orang kaya, pasti Arumi akan menyukainya. Dia lalu menarik kembali tangannya,
"Sayang, aku kangen." Arumi merengkuh lengan Divta saat setelah dia melepaskan tangan Raina.
Divta tersenyum menyeringai menatap Raina yang kembali melanjutkan makannya. Rencananya, dia ingin membuat Raina cemburu padanya dan dia berharap Raina akan marah kemudian pergi dari restoran itu.
Lihat saja kau Amanda, aku yakin kau pasti sudah jatuh cinta padaku.
dia tersenyum licik. Kemudian dia melepas pelukan Arumi dari lengannya dan beralih memeluknya.
"Aku juga, kau kemana saja sih ? pergi tanpa alasan dan tanpa memberiku kabar." suara Divta terdengar begitu manja, bahkan kini dia mengeratkan pelukannya di tubuh Arumi sambil sesekali memperhatikan wajah Raina, namun sayang gadis itu tak menghiraukannya dan lebih memilih menghabiskan makanan.
Sedangkan Arumi, dia serasa terbang di atas awan. Dia berfikir Divta akan marah dan tidak mau berhubungan dengannya lagi, tapi ternyata dia salah. Sepertinya Divta sudah cinta mati padanya.
"Aku pergi untuk mengejar cita-cita ku sayang. Tapi tenang yah, sekarang aku tidak akan pergi lagi. Aku akan tetap disini bersama mu." dia mengecup pipi Divta dan hendak mencium bibir pemuda itu, tapi Divta menepis wajahnya sehingga ciuman itu mendarat lagi di pipinya, membuat Arumi tersenyum kecut.
Raina yang melihat itupun mendengus kasar dan menyudahi sarapannya. Dia meraih tissue untuk menyeka bibir.
"Maaf tuan, lebih saya kembali ke hotel agar tidak menggangu anda, permisi." dia beranjak dari kursi dan berlalu dari sana, membuat Divta tersenyum penuh kemenangan.
Amanda, akhirnya aku tau bahwa kau juga menyukai ku.
Divta menatap punggung Raina yang semakin jauh dari jangkauan penglihatannya.
Di hotel
Raina menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, selama di jalan menuju hotel tadi hatinya tak henti-hentinya menggerutu dengan sikap Divta yang menggangu acara sarapan paginya. Bukan karena cemburu, tapi karena dia kesal. Dia paling benci melihat orang yang bukan pasutri bermesraan di tempat umum.
"Dasar tidak tau malu !!" umpatnya penuh rasa geram sambil kedua tangannya mengepal erat. Raut wajahnya masih nampak masam dan merah padam.
Kemudian dia memutuskan untuk memesan makanan dari resto yang ada di hotel saja untuk melanjutkan sarapannya yang tertunda sebab perutnya masih belum kenyang.
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗