Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Beri aku kesempatan



Dengan semangat yang membara, Dealova melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruang rawat inap Raina.


"Good afternoon ..." senyum ceria gadis berusia 25 tahun itu seketika luntur, dan tergantikan dengan rasa terkejut yang teramat sangat karena melihat Divta dan Raina yang habis berciuman.


Namun, tidak dengan Darius, Andro dan Deasy sebab mereka sudah tau bahwa kedua orang yang sedang di mabuk asmara itu sebenarnya adalah pasangan kekasih.


"Dea !!" pekik Divta senang dengan kedatangan teman masa kecilnya yang sudah belasan tahun tidak bertemu.


Dia berhambur menghampiri Dealova dan mendekapnya sambil menepuk punggung gadis itu untuk melepas rindu.


"Sudah besar kau ternyata." Divta melepas pelukannya pada Dealova kemudian dia menyalami Deasy dan Andro.


"Ayo masuk, akan ku perkenalkan pada pacar ku." dia meraih tangan Dealova dan Deasy lalu menuntun mereka agar mendekat pada Raina.


"Sayang, disini ada nenek, papa dan juga kakak. Juga ada teman ku, namanya Dealova, kamu bisa memanggilnya Dea." tutur Divta memberitahukan Raina bahwa mereka kedatangan tamu.


Dengan perasaan takut dan ragu akan penolakan, Raina mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.


"Selamat sore tuan, nama saya Raina Amanda." ucapnya.


Divta membantu Raina mengarahkan tangan gadis itu agar mendekat pada Andro.


Dia menatap sang ayah dengan tatapan penuh harap agar pria paruh baya itu mau menerima kehadiran Raina dengan kelapangan hati yang ikhlas.


Andro tersenyum.


Dia mengulurkan tangannya dan menyambut Raina dengan hangat.


"Saya Andro, papanya Divta." jawabnya.


"Maaf tuan, saya tidak bisa melihat karena saya..."


"Ahh ya tidak apa-apa. Dan, ini perkenalan anak dari teman saya namanya Dea." Andro meraih tangan Dealova agar menyalami Raina.


"Halo nona, saya Raina."


Dengan malas Dealova memperkenalkan diri dengan Raina sebab mood-nya sudah sangat buruk usai melihat adegan mesra antara Raina dan Divta tadi.


"Kau asistennya Divta, ya ?" tanyanya dengan senyuman palsu dan mengakhiri salam.


Raina mengangguk,


"Iya nona." jawabnya singkat serta tak lupa mengulas senyum yang sedari tadi tak surut dari kedua sudut bibirnya.


"Karena kau lagi sakit, bagaimana kalau aku yang menggantikannya ?" ujar Dealova tanpa berbelit-belit. Dia tidak ingin menunda-nunda waktu. Lebih cepat lebih baik, begitu pikirnya.


"Iya nak, bukankah Raina masih dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk membantu mu ?" ucap Andro menimpali.


"Iya Div, biarkan Raina beristirahat dulu untuk memulihkan kondisi tubuhnya." tutur Darius memprovokasi.


"Tapi itu tidak perlu, De. Aku sudah mencari asisten baru untuk menggantikan Raina sementara waktu sampai dia sembuh." pungkas Divta kemudian mempersilahkan Deasy yang sedari tadi hanya diam itu, agar segera duduk di sofa, begitu pun dengan Andro.


"Tapi Dea lebih cekatan dan lebih berpengalaman. Aku yakin dia tidak akan mengecewakan mu." Darius berucap dengan nada sedikit memaksa.


"Iya kan, Raina ?" imbuhnya meminta persetujuan pada Raina dan berharap gadis itu menyetujuinya.


"Aku hanya menurut saja. Jika Divta menerima nona Dea untuk menggantikan ku, aku tidak keberatan." jawab Raina.


Bagaimana ini ? meskipun Raina tidak pernah menunjukkan rasa cemburunya, tapi aku tau dia sering menggerutu di belakang ku setiap kali ada wanita yang ngobrol dengan ku.


Divta terlihat bingung. Di satu sisi dia tidak bisa menolak permintaan Andro dan Dealova.


Tapi di sisi lain, ada Raina yang sedang dia jaga hatinya. Terlebih lagi gadis itu sedang sakit, dan itu di sebabkan olehnya.


Ketika Raina mengatakan 'aku tidak keberatan', bisa di lihat dengan jelas oleh matanya jika kekasihnya itu nampak getir.


"Bagaimana, Div ?" tanya Dealova mendekati Divta dan meraih kedua tangan pemuda itu.


Divta melirik Raina.


"Maafkan aku, De, aku merasa tidak enak hati dengan orang yang sudah aku janjikan untuk bekerja dengan ku. Lagipula, orang itu adalah sahabat ku sendiri." jawabnya menolak Dealova dengan halus.


Syukurlah. Aku pikir Divta akan menerima nona Dea untuk menggantikan aku.


Raina tersenyum lega mendengar keputusan Divta yang tetap mempertahankan asisten yang tadi sudah dia rundingkan bersamanya.


Hal itu, juga sama di rasakan oleh Deasy.


Meskipun Dealova gadis yang baik dan dari keluarga yang terpandang,


tetapi dia sudah terlanjur mengharapkan Raina agar menjadi cucu menantunya.


Namun, lain halnya dengan apa yang di rasakan Darius dan Dealova. Kedua orang itu merasa sangat kesal dan kecewa akan pendirian Divta yang sulit untuk di goyahkan.


Divta yang menyadari senyuman Raina, pun merasa sangat senang akan keputusannya.


Ternyata, benar apa yang di rasakanya selama ini. Diam-diam gadisnya itu berharap agar dirinya tidak dekat-dekat dengan wanita lain.


"Sekali lagi, tolong maafkan aku ya." lanjutnya kepada Dealova.


Dealova terpaksa mengulas senyum palsu demi menjaga imagenya di hadapan Divta.


Bagaimanapun caranya,


dia harus bisa mendapatkan laki-laki yang sudah sedari dulu dia suka.


"Ya sudah tidak apa-apa. Tapi selama aku disini, bolehkah aku main ke apartemen mu ?" tanyanya penuh harap. Karena jika dia di perbolehkan untuk berkunjung, itu tandanya dia bisa dengan mudah untuk merebut hati Divta.


"Oh silahkan saja, sekalian biar kau bisa lebih akrab dengan Raina, karena kami tinggal bersama." tutur Divta yang langsung membuat Dealova tersentak hingga kakinya mundur beberapa langkah ke belakang.


Me- mereka tinggal bersama ?


Dealova tidak menyangka di hari pertama bertemu dengan Divta setelah belasan tahun berlalu, dia mendapat hadiah pertemuan yang sangat mengejutkan. Awalnya dia melihat Divta dan Raina berciuman, lalu sekarang dia mendengar bahwa mereka tinggal bersama ?


"Apa aku sudah tidak punya kesempatan untuk merebut hatimu darinya ?" tanyanya pelan sambil menatap Divta sedih.


Sudah aku duga, nona Dea punya perasaan dengan Divta.


Raina tertunduk lesu. Dia cukup sadar siapa dirinya. Hanya gadis yatim piatu yang harus bekerja keras demi menghidupi diri sendiri dan juga sang adik yang masih kuliah.


Tidak pantas jika harus bersaing dengan Dealova yang sepertinya keturunan Sultan.


Divta mengerutkan dahinya dalam. Apa maksud dari perkataan Dealova barusan ?


Ketika dia hendak menanyakan hal itu, tiba-tiba saja Dealova berhambur memeluknya dengan begitu erat hingga membuatnya kesulitan bernafas.


"Sudah lama aku menyukai mu, Div.


Aku mohon beri aku kesempatan untuk menjadi kekasihmu. Akan ku buktikan kalau aku lebih bisa di andalkan dari pada dia." Dealova tak mampu lagi membendung kesedihannya.


Dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Divta dan menangis tersedu-sedu.


Haruskah aku berakhir seperti ini ? menjadi buta dan di tinggalkan Divta ?


Ya Tuhan, ujian mu terlalu berat untuk ku.


Tanpa terasa cairan bening menggenang di peluk mata gadis yang sedari tadi hanya diam. Mendengar ungkapkan perasaan dari Dealova pada Divta. Sakit, sedih. Itulah yang di rasakanya.


Jika kamu tidak memilih ku, aku ikhlas. gumam Raina menangis dalam diam sambil kepalanya terus menunduk agar air matanya tidak terlihat oleh orang lain.


"Maafkan aku..."


Tidurlah sayangku, mentari tlah menunggu. Sambutlah pagi nanti... dengan hati tersenyum. Bermimpi lah cinta, dengan segenap rasa. Kini tiba saatnya kita harus berpisah 😭😭😭


Meskipun Xia lagi sedih, tapi semoga Raina tidak ikutan sedih juga.


Jangan lupa klik 👍 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗