
Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi Divta. Berjalan bersama Raina di waktu sore sambil menikmati senja yang nampak tertutup awan mendung. Mulanya mereka hanya berjalan di kawasan taman dekat apartemen. Tapi ternyata langkah kaki membawa mereka ke sebuah tempat fitness yang menyediakan berbagai macam alat olahraga.
Raina pun mengajak Divta untuk masuk ke dalam. Awalnya Divta menolak, tapi setelah Raina merengek manja akhirnya Divta menyetujuinya.
"Kalau begitu, aku beli pakaian olahraga dulu ya." ucap Raina tersenyum semangat. Sudah lama dia tidak pernah olahraga. Tepatnya setelah kedua orangtuanya meninggal dunia. Sejak saat itu, dia tidak punya waktu untuk melakukan aktivitas yang sekiranya tidak menghasilkan uang. Serta meninggalkan segala kegiatan yang malah membuatnya mengeluarkan uang.
Divta mengangguk sambil memberikan sebuah kartu kredit untuk Raina berbelanja, namun di tolak oleh Raina dengan alasan dia punya uang sendiri.
"Kalau kamu menolak, lebih baik kita pulang." tukas Divta seraya memasukkan kembali kartu kreditnya ke dalam dompet.
"Iya iya sini sini." Raina yang terlalu bersemangat pun merampas dompet Divta dan mengambil kartu berwarna hitam yang tadi di tawarkan oleh Divta. Kemudian dia menuju outlet yang menjual khusus pakaian olahraga.
Sementara Divta, dia menunggu Raina sambil duduk di kursi tunggu yang telah di sediakan.
10 menit kemudian, Raina datang dengan membawa dua buah paper bag. Dia lalu memberikan satu paper bag berisi celana dan kaos olahraga yang di belinya untuk Divta.
"Ini untuk mu." ucapnya.
"Dan ini kartu kredit mu. Ayo kita ganti baju dulu." ucap Raina sambil lalu menuju ke toilet untuk berganti pakaian.
Divta mendengus kecil. Sebenarnya dia enggan berolahraga di sore hari seperti ini. Tapi demi menyenangkan hati sang kekasih, dia rela melakukan apa saja bahkan jika itu adalah sesuatu yang tidak dia sukai sekalipun.
"Ya ampun, perutku sudah buncit seperti ini." keluh Raina saat telah memakai baju olahraga berwarna abu-abu dengan warna celana senada.
"Aku harus rajin olahraga mulai saat ini. Tidak masalah kalau bayar. Lagipula gaji ku masih sisa banyak walau aku datang kesini setiap hari." kemudian dia merapikan pakaian yang dia pakai sebelumnya dan dia masukkan ke dalam paper bag.
"Kenapa lama sekali, sayang." decak Divta mengetuk pintu toilet yang di gunakan oleh Raina.
"Iya iya aku sudah selesai !" sahut Raina yang langsung membuka pintu.
"Ayo." saat Raina hendak mengajak Divta ke tempat olahraga, tiba-tiba Divta menarik tangannya dan membawanya kembali masuk ke toilet.
"Hei kamu ini apaan sih ?" desis Raina bingung dengan tingkah Divta. Padahal dia sudah tidak sabar untuk berolahraga. Tapi Divta malah mengajaknya ke toilet.
"Kamu yang apa-apaan. Ini apa yang kamu pakai ?!" Divta menunjuk baju yang Raina kenakan.
"Ya baju olahraga, memangnya apa lagi ?" tanya Raina bingung. Dia melihat ke arah cermin yang menampakkan pantulan dirinya.
"Tidak ada yang salah." lanjutnya kembali menatap Divta.
Divta menghela nafas dalam, dan menghembuskan perlahan.
Sabar Div, pacar mu ini masih terlalu polos.
Divta memegang kedua bahu Raina dan memutarnya agar menghadap ke cermin. Sementara dia berdiri di belakang gadis itu. Sejenak dia memperhatikan Raina yang hanya menggunakan sport bra berwarna abu-abu tua sehingga menampakkan perutnya yang membuat gadis itu terlihat sangat seksi.
"Sayangku yang cantik. Aku tidak suka jika ada lelaki lain yang melihat perut mu, oke. Jadi sebaiknya kamu ganti yang lain saja." ucapnya penuh pengertian.
"Tapi kan kita ingin olahraga, masa iya aku harus pakai daster." protes Raina tidak terima. Dan mereka pun terlibat perdebatan sengit. Setelah kurang lebih 10 menit, akhirnya Divta mengalah. Namun sebelum itu, dia keluar lebih dulu dari toilet dan meminta Raina untuk menunggu sebentar.
Beberapa saat kemudian, Divta membuka pintu dan mempersilahkan Raina untuk keluar.
"Silahkan nyonya Divta." sikap manis yang dia tunjukkan rupanya ampuh membuat Raina tersenyum padanya.
"Eh kok sepi ?" tanya Raina heran. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang memiliki luas seperti lapangan basket itu, namun tak mendapati satu orang pun kecuali dirinya dan juga Divta. Padahal tadi ramai pengunjung.
"Sudahlah, ayo." Divta melingkarkan tangannya di leher Raina dan mengajaknya untuk mulai berolahraga.
Satu jam kemudian
Raina lebih dulu menyudahinya. Dia sudah tidak kuat lagi untuk terus melakukan hal yang menguras tenaganya. Terlihat dia sedang duduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya di dinding. Nafasnya begitu memburu hingga terengah-engah.
Sedangkan Divta, dia masih begitu semangat melangkahkan kakinya di atas treadmill.
"Aduuuh haus..." seru Raina memberi kode pada Divta agar pemuda itu mengambilkan minum untuknya. Dan sepertinya pemuda itu peka terhadap kode batu yang baru saja dia lempar. Dia melihat Divta berjalan ke arahnya sambil membawakan kemasan mineral yang tadi mereka beli ketika masih di luar.
Divta duduk di samping Raina. Kemudian dia membukakan tutup botol yang masih di segel dan segera dia berikan pada sang kekasih.
"Silahkan nyonya." ucapnya seraya tersenyum.
"Terimakasih tuan." Raina pun membalas senyuman Divta sambil menerima botol air mineral dan langsung meneguknya.
Divta yang melihat itu pun berusaha keras menelan liurnya. Dia tidak tahan melihat tubuh Raina yang berkeringat. Terlebih lagi, dadanya sedikit terlihat. Usai Raina minum, dia pun gercep mencium leher gadis itu.
"Eeh, a-apa yang kamu lakukan ?!" Raina merasa terkejut atas apa yang Divta lakukan padanya.
Ciumannya seperti api yang tak terlihat. Mampu memanaskan tubuhku. Jauh lebih panas dari olahraga selama satu jam.
Untuk sejenak Raina menikmati lumattan lembut Divta di lehernya. Dan seketika dia tersadar ketika pemuda itu berkata,
" Asam manis. Terimakasih sayang."
Raina terbelalak kaget dan langsung menyentak bahu Divta yang bertato dengan keras.
"Dasar cabul !!" teriaknya kemudian memukuli dada Divta yang di lapisi oleh kaos tanpa lengan bergambar Mickey mouse itu.
Gelak tawa pun lolos begitu saja dari bibir Divta. Setelah sekian lama akhirnya dia bisa membuat tanda merah di leher Raina dalam keadaan sadar. Biasanya dia selalu mencurinya ketika gadis itu terlelap. Dengan begitu Raina akan mengira bahwa bekas ciumannya adalah bekas gigitan nyamuk.
"Kenapa tertawa ? aku ini marah." sentak Raina mengerucutkan bibirnya kesal. Entah apa yang ada dalam benaknya. Dulu dia paling anti di sentuh lelaki. Lalu bagaimana dengan sekarang ? dia bahkan menikmatinya ketika Divta mencium lehernya tadi.
"Duuuh gadis ku ini lagi marah atau senang yaaa karena habis ku cium ?" godanya sambil mencolek dagu Raina.
Besok lagi ya 😂
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa terimakasih 🤗