Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Cantiknya Amanda



Di dalam ruangan yang sepi itu, terlihat Raina sedang duduk di kursi. Sebelah tangannya bertumpu di atas bangsal tempat Divta terbaring lebar dan masih belum sadarkan diri, sementara tangannya yang masih dia jadikan tujuan dagu. Dia menatap wajah Divta yang tengah terlelap, terlihat begitu tampan dan menawan. Dia akui bahwa Divta memiliki paras yang diidam-idamkan oleh para kaum hawa. Selain tampan, Divta juga kaya dan sukses, pekerja keras dan tahan banting. Ramah terhadap sesama, tidak membeda-bedakan kasta dan sangat menghargai orang-orang yang berada di bawahnya.


Suasana yang tenang, pun membuat Raina di hampiri rasa kantuk yang makin lama makin tak tertahankan. Hingga tanpa sadar, dia tertidur dengan posisi yang sama yakni dagunya masih bertumpu di sebelah tangannya.


Tak lama setelah Raina terlelap, kini Divta mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa berdenyut sangat nyeri yang membuat tangannya sontak memegangi kepalanya.


"Ssssh." dia berdesis menahan nyeri yang tak tertahankan. Namun rasa nyeri itu tak berlangsung lama, karena itu hanyalah rangsangan orang yang baru sadar dari pingsan saja.


"Amanda.." gumamnya saat melihat Raina terlelap dengan imutnya. Pemuda itu pun mengerutkan dahi, kemudian bibirnya yang masih nampak pucat itu tertarik di bagian sudutnya, membentuk sebuah senyuman manis semanis madu. Dia merasa begitu tersanjung melihat Raina menunggunya sampai tertidur seperti itu. Divta pun semakin yakin, bahwa Raina juga menyukai dirinya.


Perlahan, Divta memiringkan tubuhnya ke kanan agar dia lebih leluasa memandangi wajah Raina, rasanya ingin sekali dia melepas kumis dan rambut palsu yang Raina kenakan agar dia bisa melihat wajah asli gadis cantik itu.


"Kenapa kau harus menyamar jadi laki-laki ? apa alasan mu ?" gumamnya pelan.


"Apa karena kau suka pada ku ? atau karena kau sangat membutuhkan pekerjaan ini ?" imbuhnya lagi. Lalu dia mendekatkan wajahnya, ingin sekali dia mencium gadis itu. Perlahan tapi pasti, jarak yang tersisa hanya 2 cm saja, bahkan Divta bisa merasakan deru hangat dari nafas Raina, dan cup...


Satu kecupan mendarat di bibir tipis Raina, namun sepertinya dia masih belum puas jika hanya sekali, alhasil dia mengulanginya lagi, dan ketika dia sudah mengambil posisi tiba-tiba saja... jedugh !!


"Aah." pekik keduanya. Tangan Raina yang digunakan untuk menyangga dagu tak sengaja tersenggol oleh Divta sehingga dia oleh dan terjatuh menimpa kepala Divta, menyebabkan keduanya saling terbentur dan menimbulkan suara yang lumayan keras karena tulang beradu dengan tulang.


"M-maaf tuan, saya tidak sengaja." Raina membantu Divta untuk kembali ke posisi semula yakni meluruskan tubuh pemuda itu serta membenahi bantal untuk menyangga kepala Divta.


"Aduh.. kepala mu itu isinya batu atau baja ?" cetus Divta pura-pura kesal seraya memegangi kepalanya.


"Tentu saja isinya tulang tengkorak tuan, Dan sangat wajar jika kepala anda sakit karena anda memang sedang sakit.” ujar Raina membela dirinya.


Lagipula mana ada kepala manusia isinya batu. Gerutunya dibarengi dengan tatapan sinis.


“Kepala ku benar-benar sakit.” Divta mengaduh.


“Kalau begitu saya akan penggilkan dokter.” Raina beranjak dari kursi hendak keluar dari ruangan untuk memanggil Dino, namun tangannya di cekal oleh Divta sehingga di kembali terduduk.


‘Kenapa ?” Raina mengerutkan dahinya bingung.


“Tolong panggil Amanda untuk menjenguk ku, aku sangat ingin bertemu dengannya.” pinta Divta memelas.


Raina mendengus kasar kala mendengar permintaan sang baginda raja, rasanya dia malas sekali menunjukkan wajah aslinya pada Divta. Tetapi dia tidak punya pilihan lain, selain menuruti keinginannya karena biasanya apa yang diminta orang sakit, jika di turuti maka sakitnya akan segera sembuh, begitu pikirnya.


“Baiklah, nanti aku akan memintanya untuk datang kemari. Tapi tolong diingat ya tuan, Amanda itu pacar saya. Jadi anda jangan sekali-kali mencoba merebutnya dari saya.” tutur Raina penuh peringatan.


Divta pun tergelak mendengarnya,


“Baiklah baiklah, aku tidak akan merebutnya. Tapi aku akan membuatnya jatuh cinta padaku.”celetuknya.


‘Cih, bermimpi saja sana.” desis Raina, dia lalu menambah tekanan di kepala Divta, membuat si empunya mengaduh kesakitan, sementara Raina tertawa karenanya.


“Ya sudah sana kau bawa Amanda kesini, setelah itu kau bisa bebas main kemana saja. Dan jangan lupa untuk menyuruhnya berdandan yang cantik, biar aku bisa cepat sehat.” Divta menepis tangan Raina dari kepalanya sebab dia sudah tidak sabar ingin melihat wajah cantik asistennya tersebut. Dan setelah mendapat perintah, Raina pun segera pergi untuk berhanti pakaian karena dia akan berperan sebagai dirinya yang asli.


Setengah jam kemudian


“Divta !!” seru Darius ketika sudah membuka pintu ruangan dimana Divta di rawat, membuat sang adik terhenyak kaget.


‘Kau ini apa-apaan sih, datang tanpa permisi !! mengagetkan saja.” cetus Divta kesal.


Darius hanya meringis menampakkan deretan gigi putihnya sambil melangkahkan kaki untuk menghampiri Divta yang terlihat kesal. dia pun menanyakan keadaan yang adiknya rasakan. Setelah mendapat jawaban, Darius dapat bernafas lega. Pasalnya, di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, dia terus memarahi sang supir agar melajukan mobilnya lebih cepat, padahal kondisi jalanan sedang macet parah. Itu dia lakukan, karena dia merasa sangat khawatir dengan keadaan sang adik yang katanya tiba-tiba pingsan usai meeting.


Suara ketukan pintu pun menghentikan obrolan mereka yang absurd.


“Masuk !” seru Darius mempersilahkan seseorang yang berada di balik pintu untuk segera masuk.


Dan nampak lah seorang gadis cantik yang mengenakan dress berwarna biru muda. Rambut panjangnya di biarkan terurai ke belakang serta terdapat hiasan jepit pita di sebelah kirinya. Gadis itu tak lain ialah Raina. Dia berjalan dengan anggunnya menuju Divta dan Darius yang nampak tersepona oleh kecantikannya, namun hal itu tak disadari oleh Raina.


Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗