
Raina mulai mencermati kata demi kata yang tertulis, namun ada 2 nomor yang ternyata kalimatnya mencuri perhatian Raina hingga membuatnya mengerutkan dahi.
Setiap pagi, seorang asisten harus sudah berada di apartemen tn. Divta untuk mengurus semua keperluannya seperti pakaian dan mengantarkan sarapan ke dalam kamar.
"Apa seperti ini tugas seorang asisten pribadi ?"
Kemudian, Raina kembali melanjutkan.
Seorang Asisten harus siap siaga setiap kali tn. Divta memerlukan tenaga maupun otaknya, tidak peduli itu siang atau malam, hari kerja atau hari libur sekalipun.
"Apa aku masih bisa hidup dengan tenang setelah ini ? tidak apa, demi masa depan ku dan juga Raihan."
"What the ?" pekiknya dalam hati terkejut tatkala Gita membaca peraturan selanjutnya.
Seorang asisten harus bersedia jika tn. Divta mengajaknya ke bar untuk minum bersama.
"Oh my gosh, aku paling tidak bisa minum alkohol. Bagaimana jika aku kelepasan dan mabuk ? oh tidak tidak, jangan sampai aku minum walau hanya seteguk saja."
Raina membalik kertas tersebut hingga ke halaman terakhir, dan alangkah terkejutnya dia melihat nomor yang tertera di paling akhir.
"420 ? kenapa banyak sekali ?" tubuhnya seketika lunglai seakan kehilangan gairah untuk bekerja, dia menghempaskan tubuhnya ke atas meja dan menutupi wajahnya dengan bekas tersebut, namun sedetik kemudian dia bangkit lagi dan menyemangati dirinya sendiri.
"Demi Raihan, dan masa depan ku." gumamnya penuh semangat,
Kemudian dia kembali membaca peraturan tersebut, dan saking asiknya bahkan Raina tidak menyadari ada seorang wanita cantik nan seksi datang menghampiri bos barunya.
"Sayang, kenapa harus disini ? ada asisten mu bukan ?" bisik wanita cantik itu yang belum di ketahui siapa namanya.
"Sudahlah biarkan saja, lagipula dia tidak bisa melihat wajahmu karena kau membelakanginya." ucap Divta sambil menarik wanita itu agar duduk di pangkuannya.
"Kau... ahh." desah wanita itu manja.
Sementara Raina, meskipun dia fokus pada pekerjaannya, tapi telinganya tidak terlalu tuli untuk mendengar adanya suara desahan dari seorang wanita di ruangan itu.
Perlahan, wajahnya menengadah ke arah dimana Divta duduk, seketika tubuhnya terjingkat kaget melihat lelaki itu sedang memangku seorang wanita dan melakukan ...
"Aaah mata ku sudah tidak perawan lagi, dasar bos mesum !" umpat Raina mengutuk Divta yang dengan tidak tau malunya berbuat mesum di dalam ruang kerja dan bahkan masih ada orang lain di sana, parahnya lagi orang lain itu adalah dirinya.
Raina menutupi kedua matanya dengan telapak tangan, sambil mulutnya tak henti mengumpat kata-kata buruk tentang Divta, sungguh telinganya merasa tidak nyaman mendengar suara suara menjijikkan itu. Akhirnya dia beranjak dari kursinya, dan tanpa sengaja dia menjatuhkan pulpen ke lantai hingga membuat wanita yang duduk di pangkuan Divta merasa terkejut.
"Maaf saya tidak sengaja." ucap Raina dingin.
"Kau kenapa Rai ? apa kau mau juga ? kemarilah, aku akan berbagi sebagai awal perkenalan kita." Divta tertawa keras.
"Tidak tuan, saya hanya ingin pergi ke toilet, permisi." dengan gagah Raina melangkahkan kakinya keluar dari ruang maksiat itu.
"Sayang, mengapa kau tega ingin membagi ku pada asisten mu ?"
"Dengar aku Winny, kau hanya wanita yang aku bayar untuk memberi ku semangat pagi sebelum aku memulai aktivitas bekerja, jadi jangan pernah menganggap dirimu yang terbaik, karena aku bisa mengusir mu kapan saja jika aku sudah bosan. Sekarang pergilah." jawab Divta dengan suaranya yang terdengar tidak ramah.
Ya begitulah Divta, dia akan membuang sesuatu jika sudah bosan.
Dia memang mesum, setiap pagi sebelum dia mulai bekerja pasti akan ada wanita cantik yang datang ke ruangannya. Wanita itu bertugas memberikan ciuman selamat pagi untuk Divta, tapi ada juga wanita yang rela memberikan tubuhnya untuk lelaki itu, berharap bisa menjadi nyonya Andromeda yang kesekian, dan tak jarang juga Divta tergoda hingga ciumannya turun ke bagian yang lebih intim dari ciuman di bibir. Namanya juga lelaki normal, melihat sesuatu yang menggairahkan pasti akan terpancing juga, bukan ?
Tapi jika ada wanita yang bertindak kelewatan, atau dengan sengaja membuka baju di hadapannya, maka dia akan memaki dan melempar wanita itu. Sungguh dia merasa sangat jijik dengan wanita yang agresif.
Suara dering ponsel pun mengalihkan perhatiannya, dia meraih benda pipih tersebut dari atas meja, dan di lihatnya nama Darius memanggil.
"Kenapa ?" ucapnya dengan nada ketus, hatinya masih merasa kesal dengan ucapan Winny yang seakan memposisikan diri sebagai calon nyonya Divta.
"Hei tidak sopan sekali, apa itu cara mu menyambut telepon dari ku ? besok aku akan kembali ke Indonesia, bersihkan ruangan ku ya." sahut seseorang di seberang sana.
"Apa gunanya disini mempekerjakan office boy kalau aku yang harus membersihkan ruangan mu ?" sungut Divta kesal.
"Sebagai seorang adik, kau harus patuh pada kakak mu."
Ya, Darius adalah kakak kandung Divta yang baru saja menyelesaikan masalah perusahaannya di luar kota. Darius memiliki perusahaan sendiri yang juga bergerak di bidang pertelevisian yakni EATV dan perusahaan itu masih di bawah naungan OKTV yang saat ini di pegang oleh Divta.
Divta berdecak kasar, merasa jengah dengan sikap sang kakak yang selalu saja memerintah dirinya, tapi sebagai seorang adik dia hanya bisa menurut saja sebab biar bagaimanapun, Darius adalah kakak yang harus di hormatinya.
"Ya ya ya dasar cerewet." decaknya sambil menoleh ke arah pintu yang terbuka dan menampakkan Raina yang baru saja masuk.
"Bagus lah, kau memang tole ku yang paling tampan seantero jagat raya, haha." Darius tertawa senang.
Divta memutar bola matanya jengah, kemudian dia memutus sambungan telepon tanpa mengucap apapun lagi.
"Rai, pelajari sisanya di rumah, sekarang kau kerjakan ini." titahnya menyambar sebuah berkas dari atas mejanya, lalu beranjak dari singgah sana dan menghampiri Raina yang baru saja duduk di kursinya.
"Ah ya, sebentar lagi sekretaris ku akan datang, mintalah jadwal ku padanya." imbuh Divta sembari memberikan berkas tersebut.
"Baik tuan." sahut Raina.
"Kalau sedang tidak ada orang lain, panggil saja aku Divta."
"Baik tuan Dita."
Divta yang hendak keluar dari ruangannya pun menghentikan langkahnya dan menatap Raina dengan tatapan tajam, seperti mata elang yang sedang membidik mangsanya.
"Bilang apa kau barusan ? nama ku Divta, bukan Dita. D I V T A" lelaki itu mengeja namanya menggunakan English alphabet.
"Jangan tinggalkan huruf V di tengahnya." imbuhnya penuh peringatan.
"Aah iya maafkan saya tuan Divta."
"Jangan panggil aku tuan !! panggil aku DIVTA !!" serunya kesal, membuat Raina tersentak kaget namun sebisa mungkin dia menyembunyikan rasa keterkejutannya.
"Maaf, saya hanya belum terbiasa tuan." jawab Raina sedikit gugup.
Divta berdecak kesal sampai dia menendang pintu saking kesalnya, sebenarnya dia paling tidak suka di panggil tuan, dia bukan tipe orang yang gila hormat terlebih lagi pada Raina yang baru saja menjadi asisten pribadinya dan akan memenuhi semua kebutuhan serta menemaninya kemanapun dia ingin pergi.
"Biasakan mulai sekarang." cetus Divta sambil lalu.
"Cih menyebalkan sekali sih orang itu, begitu banyak peraturan, pekerjaan dan banyak juga maunya. Eh jangan lupa kalau dia juga mesum." gerutu Raina sambil mengerucutkan bibirnya.
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗