Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Malam pertama



Usai acara, wartawan mulai bermunculan di depan gedung hotel guna mewawancarai Andromeda terkait masalah yang menimpanya. Orang-orang berfikir, bagaimana mungkin pemilik perusahaan televisi terbesar bisa terjerat masalah pembunuhan? Padahal selama ini, Andro di kenal sebagai pengusaha yang selalu menjaga nama baik keluarga maupun perusahaan. Dia selalu menjaga tutur kata dan perbuatannya. Malahan, kedua anaknya dididik dengan sangat keras agar bisa seperti dirinya. Tapi yang namanya roda kehidupan, tentu tak semulus jalan tol. Ah, bahkan jalan tol saja terkadang ada yang berlubang.


"Pak, apa benar yang dikatakan orang asing itu bahwa bapak adalah penyebab dari meninggalnya alm. Rico ?"


"Bagaimana penjelasan bapak terkait masalah tersebut ?"


"Kenapa anda tidak menyela ataupun membela diri ? apakah tuduhan itu benar ?"


Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan oleh para wartawan.


Andro terdiam. Dia menarik nafas dalam dan dihembuskan melalui mulut. Rongga dadanya terasa menyempit sehingga ia kesulitan untuk bernafas. Andro sendiri merasa bingung. Jawaban apa yang harus ia berikan. Kalau di sebut sebagai penyebab, tentu itu tidak benar. Tapi dia juga tidak bisa membantahnya kalau kedua orang tua Raina meninggal karena ada kaitannya dengan dirinya. Lalu ia harus bagaimana ? apa yang harus ia katakan ?


Lagi, Andro menghela nafas berat. Setelah beberapa saat, akhirnya dia mengeluarkan satu kalimat yang mampu membungkam para wartawan.


"Saya hanya akan mengatakan bahwa, saya.. bukan.. penyebab.. meninggalnya.. Rico.. dan.. istrinya."


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Andro masuk ke dalam mobilnya dengan di kawal beberapa orang kantor agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.


Di waktu yang bersamaan, Daisya sedang berusaha meyakinkan Raihan bahwa ayahnya bukanlah pembunuh.


"Kenapa kamu terlihat begitu yakin ?" tanya Raihan dengan raut wajah datar.


Perubahan sikap Raihan tentu membuat Daisya merasa sedih. Pasalnya, Daisya jatuh hati kepada adik dari kakak iparnya itu. Tapi, kehadiran pria bernama Yudha telah mengacaukan segalanya. Baik itu reputasi keluarganya, maupun kisah percintaannya. Tapi di balik itu semua, Daisya masih bersyukur karena acara pernikahan sang kakak berjalan sebagaimana mestinya. Walau di bumbui dengan drama yang lumayan memakan waktu sampai hampir satu jam.


"Aku sangat mengenal ayah ku, Rai. Beliau tidak mungkin mencelakai karyawannya sendiri. Apalagi berdasarkan informasi yang aku terima, sebelum meninggal ayahmu akan di angkat menjadi supervisor." jelas Daisya seraya menggenggam tangan Raihan.


Dia benar-benar takut. Takut jika Raihan akan menjauh dan tak mau mengenalnya lagi.


"Jangan genggam tangan ku erat-erat. Kau tau kan kalau di jemari ku ada luka." cetus Raihan masih tanpa ekspresi.


"Ah iya maaf." Daisya segera melepas genggamannya dari tangan Raihan seraya menyengir kuda.


Sebetulnya, Raihan masih dilanda rasa bingung. Bingung karena tidak tau harus mempercayai siapa. Di satu sisi, dia seakan mendapat petunjuk tentang kematian kedua orangtuanya. Tapi di sisi lain, dia tidak percaya kalau orang seperti tuan Andromeda tega membunuh. Apalagi, petinggi seperti beliau adalah tipe orang yang baik, bahkan mau menerima kakaknya yang berstatus hanya sebagai asisten pribadi. Itu adalah hal yang luar biasa. Karena kebanyakan orang kaya, pasti akan mencari menantu yang setara, selevel dan sama tinggi derajatnya.


"Ayo ke kamar." ajak Daisya. Kepalanya ia miringkan dan wajahnya ia hadapkan di depan Raihan. Dengan senyuman yang begitu manis, ia mencoba mengembalikan suasana yang sebelumnya tegang, menjadi lebih hangat. Daisy berharap, hubungannya dengan Raihan mengalami kemajuan. Karena Raihan adalah orang pertama yang membuatnya jatuh cinta. Dan semoga Raihan menjadi orang terakhir yang akan melengkapi hidupnya.


Raihan tersentak. Apa maksud ajakan Daisy, ayo ke kamar? mau apa?


Dia pun menatap Daisya curiga. Bibir atasnya sedikit terangkat sebab ia terkejut mendengar kalimat ambigu tersebut.


"Jangan bilang kalau kau berfikiran mesum. Maksud ku, aku ke kamar ku dan kau ke kamar mu." ucap Daisya sambil terkekeh geli.


"Oh ku kira." balas Raihan lalu beranjak berdiri.


"Kau kira apa? atau kau mau tidur sekamar dengan ku." Daisya bergurau dan akhirnya mereka tertawa bersama.


Kemudian, mereka pun kembali ke kamar masing-masing.


...***...


"Sayang ?"


Divta sedikit ragu untuk menyentuh Raina. Bahkan, untuk sekedar memegang tangan saja ia tidak berani. Bukan karena ia tak mau. Tapi sejak pesta pernikahan selesai, Raina berubah. Dari yang biasanya banyak bicara, kini jadi diam seribu bahasa. Yang biasanya nyosor duluan, kini menutup rapat bibirnya. Frustasi Divta karenanya.


"Kau marah padaku?"


Raina masih diam.


"Hufh. Padahal, semalaman aku tak bisa tidur karena harus belajar. Lihat dark circle di mataku, sudah seperti panda kan?"


Divta mencoba menghibur Raina dengan menarik kedua kantung matanya kebawah demi bisa membuat Raina tersenyum. Namun apa daya, bahkan sedikitpun Raina tak mau menatapnya. Ia lalu menarik nafas dalam-dalam. Dalam.. dan sangat dalam.


"Sayang, tolong aku !!" Namun tak itu tetap tak mampu menarik perhatian Raina.


Beberapa saat kemudian, Divta tak sadarkan diri.


Melihat hal itu, Raina mulai panik. Dia mengecek hidung Divta menggunakan jari telunjuknya, untuk memastikan apakah Divta masih bernafas atau tidak.


"Eh ? kau bercanda, kan?" Raina kini mengecek detak jantung dengan meletakkan kepalanya di dada Divta, dan Raina masih bisa mendengarkan suara berdetak disana, namun tak beraturan.


Kepanikan Raina pun kian bertambah ketika wajah Divta mulai pucat.


"Divta bangun ! Bercanda mu tidak lucu tau." Raina mencoba untuk mengguncang tubuh Divta, tetapi tak ada tanda-tanda pergerakan dari lelaki yang baru beberapa jam lalu sah menjadi suaminya tersebut.


"Sayang bangun. Maaf aku tidak bermaksud mendiamkan mu. Aku hanya masih kepikiran tentang ucapan Yudha siang tadi."


Pelukan hangat Raina berikan untuk Divta. Dia mengangkat setengah tubuh pemuda itu ke pangkuannya dan memeluknya. Ia menangis, sambil terus mendekap erat tubuh sang suami. Dia sungguh sangat menyesal telah memperlakukan Divta dengan tidak baik di malam pertama pernikahan mereka.


"Aku mohon jangan mati dulu. Kita bahkan baru menikah."


Tanpa Raina sadari, dahi Divta berkerut dalam.


Apa maksudnya jangan mati dulu? jadi kalau sudah sehari atau dua hari menikah aku mati tidak apa-apa, begitu ? dasar jahat, awas kau ya. Gumam Divta dalam hati. Ia pun membuka matanya, lalu ia beralih memeluk dan berbalik menindih Raina serta menahan kedua tangan gadis itu agar tidak bisa bergerak.


"Jadi kalau besok aku mati tidak masalah, begitu ya ?" tanya Divta menampakkan raut wajah kesal.


"Kau !! kau menipu ku, ya ?!" Raina mendelik dan ikut kesal dengan Divta yang telah mengelabuhi dirinya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan. Cepat jawab aku. Kau tidak masalah kalau besok aku mati, iya ?" Divta terlihat semakin kesal.


"Bu- bukan seperti itu." Raina mengalihkan wajah ke arah samping untuk menghindari tatapan Divta yang seolah mengintimidasi.


"Lalu apa ? kau mau menyia-nyiakan aku yang sudah beberapa hari susah tidur karena memikirkan mu, iya ? kenapa kau jahat sekali."


"Bukan begitu, aku..."


"Tatap orang yang mengajak mu bicara. Aku ini suami mu, bukan musuh mu."


Raina menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Dia jadi berfikir, apakah tadi ia salah bicara sehingga membuat Divta marah ?


"Sayang, lihat aku."


Desakan demi desakan Divta lontarkan agar Raina mau menatapnya.


Ah, rasanya sulit sekali untuk membujuk istri ku. Eh, apa aku baru saja menyebut kata istriku ? Seketika Divta tersenyum menyeringai. Dia baru sadar jika Raina adalah istrinya, yang artinya dia bebas mau menyentuh bagian manapun. Lalu, kenapa tadi dia harus takut dan ragu-ragu ?


"Haha." Dia tertawa penuh maksud tertentu.


"Kau harus tau sayang, aku sudah belajar bagaimana cara memuaskan mu di malam pertama kita." ucapnya berbisik di telinga Raina dan langsung memberikan gigitan kecil di sana. Mencumbu, seraya sebelah tangannya bermain di tempat yang bisa membangkitkan gairah sang istri.


#berdasarkan step by step yang ia baca di situs internet.


"Ahh aku.. aku.."


"Aku apa ? sudah tidak sabar ? sama aku juga."


...(っ˘з(˘⌣˘ )...


Oke, lakukanlah apa yang seharusnya kalian lakukan. Xia mau bobo cantik dulu.