
Jalanan nampak ramai akan kendaraan yang melintasi jalan raya di pusat ibu kota.
Banyak juga pejalan kaki yang berwara-wiri ke sana kemari untuk berburu makanan atau minuman yang di jual di pinggir jalan. Keindahan langit sore membuat para pengunjung itu rela antri panjang hanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Di sisi jalan, ada sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik terparkir indah di sana. Pemilik mobil tersebut tengah menunggu sang asisten yang sedang membeli makanan kecil yang juga di jual di pinggir jalan untuk di berikan kepada wanita tua yang telah melahirkannya.
"Silahkan tuan." ucap sang asisten memberikan bingkisan plastik berwarna putih berisi sate ayam.
"Apakah penjualnya masih sama ?" tanya pemilik mobil itu.
"Iya tuan. Bahkan seperti yang Anda lihat, gerobak dan banner yang terpasang masih sama persis. Hanya mungkin di ganti yang baru karena yang lama sudah usang." jawabnya.
"Ya sudah. Kita ke apartemen terlebih dulu. Karena ibu ada di sana."
"Baik tuan." asisten itu menyalakan mesin mobil dan mulai menginjak pedal gas dengan perlahan karena jalanan lumayan padat.
Di kantor
Suasana kantor nampak menegangkan serta membekukan karena tatapan dingin yang Divta lemparkan pada seluruh kepala bagian yang menghadiri acara rapat dadakan.
Semua dalam mode silent dan tertunduk takut. Tak berani berbuat apapun selain diam dan mendengarkan ocehan Divta.
"Sudah ku bilang jangan sampai ada skandal tentang diriku !"
sentak Divta sambil menggebrak meja, membuat semua orang yang berada di ruang meeting itu tersentak kaget.
"Apa gunanya kalian disini, hah ? hanya menunggu gaji masuk ke rekening kalian, iya ?!" lanjutnya lalu menyandarkan tubuhnya seraya memijat pelipisnya yang terasa sangat pusing dan berdenyut.
"Rapat selesai. Kalian boleh keluar." Raina yang sudah tidak tahan dengan ocehan Divta, pun mengambil alih untuk membubarkan meeting.
Dia tidak tega melihat para karyawan itu ketakutan bahkan sampai ada yang gemetaran.
"Sayang, kenapa di bubarkan ? aku masih belum selesai memarahi mereka ?" ucap Divta mencegah orang-orang untuk pergi.
"Tidak tidak, kalian cepat keluar sekarang juga." tukas Raina beranjak dari kursi dan mengusir mereka yang hendak kembali duduk.
Raina membuka maskernya ketika ruangan telah sepi. Dia menarik nafas dalam-dalam. Dadanya terasa begitu sesak karena menggunakan kain hitam tersebut untuk menutupi sebagian wajahnya.
"Ayo kita ke ruangan mu untuk istirahat. Berikan mereka kesempatan untuk menjalankan tugasnya." Raina menarik tangan Divta dan membawanya pergi dari sana. Sementara Divta dia hanya menurut saja sambil mulutnya terus menggerutu.
Satu jam kemudian
"Apa sudah ada kabar dari bagian humas ?" tanya Divta sambil memainkan pulpen di tangannya.
Hari ini dia merasa sangat kesal dan jengkel dengan gosip yang beredar di Internet tentang dirinya yang memiliki tunangan.
"Belum ada pak. Tapi kami sudah mengkonfirmasi bahwa jika dalam waktu 1 jam berita tersebut tidak di hapus, maka pihak kita akan menuntut atas tuduhan pencemaran nama baik." jawab seorang lelaki yang bekerja di bagian entertainment.
"Baguslah. Jika perlu blokir akun yang menyebar berita hoax tersebut dan jangan beri akses untuk kembali ke dunia hiburan lagi." pungkas Divta sambil mengibaskan tangannya dengan maksud mengusir lelaki itu.
"Baik pak, saya permisi." pamitnya.
Setelah karyawannya itu pergi, Divta beranjak dari kursi kebesarannya dan pindah ke sofa.
"Sayang, tolong pijat kepala ku." pintanya pada Raina yang terlihat sedang duduk di kursi sambil menjentikkan jarinya di keyboard laptop miliknya.
Raina yang merasa di panggil, pun segera menurut dan menghampiri Divta.
Dia duduk di sofa dan dengan sigapnya sang kekasih meletakkan kepala di atas pangkuannya.
"Untuk apa di pikirkan ? bukankah itu hanya berita hoax saja ?" tanya Raina mulai memijat pelan pelipis Divta.
Divta mengerutkan keningnya,
"Memangnya kamu tidak cemburu melihat aku di gosipkan begitu ? lagipula aku ini pemilik perusahaan TV ini, bagaimana mungkin ada orang yang lancang membuat berita hoax seperti itu tentang ku ?" gerutunya sambil mengerucutkan bibir.
"Dan karena hal ini juga kita tidak jadi pergi ke luar kota kan ?" lanjutnya semakin kesal.
Raina berdecak kecil mendengar Divta yang sedari pagi sampai sore begini masih saja mengoceh hanya karena gosip.
"Kenapa kamu berdecak begitu ?" tukas Divta merajuk. Dia memiringkan tubuhnya dan memeluk pinggang Raina.
Tingkahnya yang kekanak-kanakan sungguh tidak cocok dengan usianya.
Bayangkan saja, satu bulan lagi usia pemuda itu 28 tahun, tapi sikap dan perilakunya tak mencerminkan layaknya orang dewasa.
"Hufh !" Raina mendengus dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa serta kepalanya menengadah.
Seharian bekerja membuatnya merasa begitu lelah dan mengantuk.
Tanpa sadar matanya pun terpejam, mengabaikan Divta yang terus saja mengoceh tidak jelas.
"Aku kesal sayang, harusnya kita bisa menginap di Bali dan menikmati indahnya panorama alam yang indah dan menakjubkan di sana." rengek Divta.
"Sayang !" panggil Divta.
"Aku gigit perut mu nanti kalau terus mengabaikan aku." ancamnya dengan serius. Namun karena Raina yang sudah terlelap, pun membuat Divta menunaikan ancamannya untuk menggigit perut gadis itu.
Dia lalu menyingkap kemeja Raina dan mendaratkan bibirnya di sana.
"Masih mau mengabaikan aku ?" tanya Divta lagi tanpa melihat bahwa sang pacar sudah terbawa ke alam mimpi.
"Ya sudah, jangan menyesal." lanjut Divta kemudian membuat satu tanda merah di perut Raina.
Karena tak ada pergerakan dari si empunya, Divta melakukannya lagi dan lagi, sampai saat dia melihat bekas jahitan di pinggang yang membuatnya terhenyak.
"Eh, ini bekas jahitan, kan ?" Divta mendongakkan kepalanya, dan di saat itu juga dia menyadari jika Raina sudah terlelap.
"Astaga, jadi kamu tidur ? jadi aku ngomong sendirian dari tadi ?" gerutunya sambil beranjak duduk.
Karena rasa penasaran, Divta kembali menyingkap kemeja Raina untuk melihat bekas jahitan di pinggang gadis itu.
"Biasanya kalau ada bekas jahitan seperti ini, itu karena dia pernah melakukan operasi.
Tapi operasi apa ya ? ginjal, lambung atau usus ?" gumamnya.
Suara dering ponsel yang terdengar begitu keras, seketika menyadarkan Raina dari tidurnya.
"Eh ponsel ku ?" pekiknya mencari-cari ponselnya.
"Ini di sini." ucap Divta menunjukkan ponsel Raina. Dia menatap layar benda pipih tersebut yang menampakkan sebuah nama,
"Adam ? siapa ?" tanyanya penasaran.
Raina segera merebut ponselnya dari tangan Divta,
"I-ini bos lama ku." jawabnya gugup kemudian me-reject panggilan tersebut, membuat Divta mengerutkan dahi.
"Kenapa di matikan ? siapa tau penting." pungkas Divta bingung.
"Tidak ! biasanya dia akan memaksa ku untuk kembali bekerja dengannya.
Kan aku sudah bekerja dengan mu, jadi aku tidak perlu meladeninya." jawab Raina berusaha menghilangkan rasa kegugupan yang melanda hatinya.
"Ooh ya sudah di block saja sayang, dari pada kamu terus menerus di hubungi." Divta merapatkan tubuhnya dengan Raina.
"Cium aku." pintanya sambil mendekatkan wajahnya.
Bagaimana mungkin aku memblokir nomornya.
Sesal Raina.
Siapa itu Adam ? 🤔
Siapa pun itu, yang penting jangan lupa klik 👍 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗