
Divta terlihat gelisah sambil menahan kesal. Nampak jelas terlihat urat-urat di lengan bermunculan seiring terkepalnya jari-jari tangan. Bahkan rahang pipinya begitu menegang dan sesekali menggertakan gigi. Emosinya akan muncul ketika dia mengingat Raina di peluk oleh Yudha. Jika saja dia tidak sedang berada di rumah sakit, bisa di pastikan dia akan membuat kekacauan dengan menghempas semua barang-barang yang dapat di raihnya.
Dia berdiri dan menempelkan kedua tangannya di kaca kecil yang ada di pintu, mencoba mengintip ke dalam ruangan dimana Raina sedang di tangani oleh dokter. Rasanya dia ingin sekali masuk ke dalam dan menggenggam tangan Raina. Dan kegelisahannya pun semakin bertambah tatkala dia melihat air mata Raina mengalir melalui sudut matanya.
"Sayang." gumamnya sedih tak sanggup melihat Raina merintih kesakitan.
Meski sudah di bius, tapi sepertinya Raina masih bisa merasakan ngilu ketika dokter menjahit lukanya.
Ya, memang ada beberapa luka yang harus di jahit karena serpihan kaca yang menancap terlalu dalam. Dan karena kecerobohan Yudha memeluk Raina begitu erat, membuat beberapa luka jahitan itu terbuka.
Dealova yang melihat itu, pun merasa iba. Dia beranjak dari kursi dan merangkul bahu Divta dari belakang, kemudian mengusapnya berharap pemuda itu sedikit merasakan ketenangan.
"Raina pasti baik-baik saja, tenanglah. Dokter sedang berusaha untuk mengobati luka di punggungnya." ucapnya dengan suara sedikit bergetar menahan pilu. Dia juga merasa sedih melihat Raina. Karena meskipun dia baru dua kali bertemu dengan gadis itu, tetapi dia sudah merasa nyaman berteman dengannya. Dan dia memutuskan untuk tidak merebut Divta dari Raina. Dia akan berusaha mengubur perasaannya terhadap Divta yang sudah bertahun-tahun lamanya dia pendam. Karena dia sadar, sesuatu yang di paksakan, pagi tidak akan baik.
curhat.com
Divta berbalik badan dan memeluk Dealova. Menenggelamkan wajahnya di leher teman masa kecilnya itu. Tubuhnya bergetar, menandakan bahwa pemuda itu tengah menangis dalam diam. Hatinya terasa nyeri.
Melihat Raina merintih, sungguh mengingatkannya pada mendiang sang ibu yang telah lebih dulu meninggalkannya beberapa tahun lalu.
"Aku tidak sanggup melihat dia seperti itu, De." gumam Divta gemetar.
"Iya iya, daripada menangis seperti ini, lebih baik kau berdoa untuk kesembuhan Raina. Karena yang dibutuhkannya saat ini bukanlah airmata mu, melainkan dia yang kau lantunkan pada Tuhan." ucap Dealova sambil mengusap punggung Divta.
Berharap pemuda itu tidak bersedih lagi.
"Nana ?" pekik Yudha yang tiba-tiba datang. Dia mendekat ke arah pintu dan berusaha untuk melihat keadaan Raina, namun hal itu tidak akan mungkin terjadi selagi masih ada Divta di sana.
Ya, Divta segera melepas pelukan dan bergegas menarik kerah baju Yudha, kemudian melayangkan sebuah pukulan keras di wajah lelaki yang menyebabkan Raina kembali masuk rumah sakit.
"Masih berani kau menampakan wajahmu di hadapanku, hah ? apa kau tidak punya urat malu !" teriaknya penuh emosi.
"Tenang Div, ingatlah bahwa kita masih berada di rumah sakit." Dealova menarik lengan Divta yang hendak memukul Yudha lagi dan membawanya kembali duduk.
Yudha pasrah. Dia memang pantas menerima pukulan itu sebab dia lah penyebab Raina terluka. kemudian dia mendekat lagi ke arah pintu dan menajamkan penglihatannya, berusaha untuk melihat keadaan Raina.
"Nana, tolong maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu terluka seperti ini. Aku sungguh tidak tau, Nana."
gumamnya bersedih.
1 jam kemudian, dokter keluar dan mencari Divta. Lalu memintanya untuk masuk karena Raina ingin menemuinya.
"Sayang bagaimana keadaanmu ? apakah masih sangat sakit ? izinkan aku meniupnya biar tidak terlalu perih, ya ?" cecar Divta khawatir.
"Usir dia dari sini aku tidak mau melihatnya." rengek Raina dengan puppy eyes andalannya.
Ya, meskipun dia tidak bisa melihat kedatangan Yudha, tetapi dia mendengar Divta marah-marah tadi ketika di luar. Dan bisa dipastikan jika kekasihnya itu emosi karena kehadiran Yudha.
"Aku harus mengusir siapa, laki-laki brengsek itu atau Dea ?" tanya Divta melirik kearah pintu yang tertutup melalui ekor matanya.
"Yudha." jawab Raina.
Divta mengepal jemari tangannya kuat. Bahkan Raina saja tidak mau Yudha berada di sini. Siapa sebenarnya laki-laki itu ? dan ada hubungan apa Raina dengan Yudha ?
"Baiklah aku keluar dulu ya." ucapnya, kemudian dia keluar di ruangan untuk mengusir Yudha.
Namun sayangnya, Divta tak mengizinkan Yudha untuk bertemu dengan Raina meskipun pacarnya itu menginginkannya.
"Raina tidak ingin melihatmu. Dia menyuruhku kesini untuk mengusir mu." Divta mendorong tubuh Yudha menjauh.
"Dea, ayo masuk." imbuhnya lalu menarik tangan Dealova dan mengajaknya masuk. Kemudian dia menutup pintu serta menguncinya.
"Tuan, aku mohon izinkan aku bertemu dengan Raina. Dia calon istri ku !" seru Yudha dari luar, membuat Divta menghentikan langkahnya. Seketika tubuhnya terasa lemas dan untuk di gerakan setelah mendengar penuturan Yudha.
Calon istri ? dia menatap nanar Raina yang nampak bersedih.
"Tenanglah Div, Aku yakin dia hanya bicara omong kosong. Lagipula Raina tidak mau bertemu dengannya, kan ? jangan membuat Raina terbebani dengan hal sepele seperti ini." ucap Dealova pelan agar Raina tidak mendengar apa yang dia katakan.
Divta menunduk lesu,
kemudian dia tersenyum meskipun hatinya terasa nyeri. Dia pun memilih untuk mengabaikan perkataan Yudha dan melanjutkan langkahnya.
"Sayang, aku sudah mengusirnya." dia mengusap lembut pipi Raina dengan mesra.
"Dia mantan ku." ucap Raina tiba-tiba sambil menyentuh punggung tangan Divta yang berada di pipinya.
"Sampai suatu saat, aku melihatnya sedang berciuman dengan perempuan lain. Dan aku mendengar perempuan itu berkata, bukankah Raina tidak bisa memberi apa yang kau inginkan ? bahkan memegang tangannya pun dia tidak mengizinkan mu. Apalagi tubuhnya."
"Aku mengingat dengan jelas perkataan itu. Bahkan sekarang kalimat itu terasa melayang-layang di kepala ku." lanjut Raina.
Divta tersenyum lega. Dia lalu memeluk Raina dengan sangat hati-hati dan menenggelamkan wajah gadis itu di dadanya.
"Aku senang mendengarnya." ujarnya.
Tidak mengizinkan untuk menyentuh tangan ? memberi tubuh ? lalu, bagaimana dengan yang kemarin aku liat ? mereka berciuman, kan ? dan Raina bilang, Divta pernah melihat dan memegang dadanya. Astaga, aku penasaran.
otak kecil Dealova berfikir keras saat setelah mendengar penuturan Raina.
"Dan aku senang menjadi orang pertama yang bisa memegang tangan mu." lanjut Divta mengusap kepala Raina.
Kau tidak hanya memegang tangannya, tapi juga gunung di dadanya.
Dealova menggerutu sambil mencebikan bibirnya.
"Aku juga senang karena aku yang pertama memeluk mu." lanjut Divta lagi.
Tidak hanya memeluk, tapi kau juga menempelkan dadanya di perut mu.
sungut Dealova tidak tahan melihat kemesraan Divta dan Raina. Beberapa detik kemudian, kedua matanya terbelalak melihat Divta membungkukkan tubuhnya dan menggigit bibir Raina.
"Astaga !" pekiknya menutup mulut. Membuat Divta dan Raina tersentak kaget karena mereka baru menyadari keberadaannya.
"Maafkan aku, De.
Aku lupa kalau aku mengajak mu kemari." ucap Divta tersenyum kikuk seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Raina, wajahnya nampak merah menahan malu karena melakukan live streaming di hadapan Dealova.
"Menyesal aku masuk kesini." sungut Dealova sinis lalu membuang muka.
♥️