
Hari ini Raina bangun terlambat karena semalam dia kesulitan tidur, dan hanya ada satu alasan yakni dia telah menelan makanan yang di masak oleh Daisy.
Ya, sepuluh menit usai menerima suapan dari Daisy, Raina muntah-muntah bahkan diare. Entah racun apa yang di masukkan kedalam masakan tersebut sehingga membuat Raina seperti itu.
"Sial sial sial !!" umpat Raina setiap kali dia tergagap dalam aktivitasnya, seperti tersandung, lupa menyikat gigi, lupa memakai korset dan lupa yang lainnya. Gerakan tergesa-gesanya lah yang membuatnya terlihat ruwet sendiri.
Saat Raina merasa semua telah ready, dia pun sejenak memperhatikan pantulan dirinya di cermin untuk mengecek apakah ada sesuatu yang kurang atau tidak.
"Perfect." dia menilai penampilannya yang sempurna dengan dua acungan jari jempol tangannya. Kemudian dia keluar dari kamar untuk membangunkan juga menyiapkan pakaian untuk Divta.
Raina tersenyum menyeringai saat melihat Divta masih terlelap dengan posisi terlentang serta mulutnya menganga lebar. Dia pun merogoh ponsel di saku celananya dan bergegas memotret Divta dari berbagai angle.
"Dengan begini, kau tidak bisa mengerjai aku lagi karena aku punya foto mu yang lebih tepatnya adalah aib." gumamnya sambil tersenyum licik.
Raina kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Tak sengaja dia melihat ada segelas air putih diatas meja nakas, dan dengan jahilnya dia mencelupkan 5 jari tangannya ke dalam gelas tersebut, setelah itu dia percikkan sisa-sisa air di jarinya ke wajah Divta.
Dalam sekali percikkan, Divta langsung mengerjapkan mata, membuat Raina tersenyum senang.
"Tuan bangun. Ini sudah jam 7." ucap Raina seraya mengait jari kedua tangan di balik tubuhnya. Nampaknya sekarang Raina sudah terbiasa melihat Divta yang hanya menggunakan celana kolor saja.
Note: bukan celana kolor yang bentuk segitiga gaes.
"Ck, kenapa jam 7 baru membangunkan ku ? Harusnya kan jam 6." decak Divta bergegas bangun dan beranjak dari tempat tidurnya, kemudian dengan langkah terburu-buru dia masuk kedalam kamar mandi.
"Shit, kalau begini bagaimana bisa aku mengajak Raihan kesana ?!" umpatnya sambil menanggalkan celananya lalu menyalakan keran shower dengan suhu hangat dan membiarkan guyuran air shower itu membasahi tubuh atletisnya.
Sementara di luar kamar mandi, dengan asyiknya Raina tertawa cekikikan, dia merasa puas melihat Divta yang tergesa-gesa seperti orang yang takut rezekinya di patok ayam.
15 menit kemudian
Divta keluar dari kamarnya. Penampilannya hari ini nampak tidak seperti biasanya sebab dia terlihat begitu berantakan. Rambutnya belum tersisir dengan rapih, kemejanya belum terkancing semua serta dasi dan jas dia gantungkan di pundak sebelah kanannya.
"Cepat bantu aku mengancingkan kemeja ku!" serunya pada Raina yang sedang duduk di sofa sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
Raina mendesis kesal, dirinya saat ini adalah seorang pria, bagaimana mungkin dia mengancingkan kemeja Divta ? Oh gosh, keringat dingin mulai mengucur di bagian pelipisnya. Dengan langkah gontai dia mendekati Divta yang nampak kesulitan mengancingkan lengan kemejanya.
"Haish apa kancing ini mau mengajak ku gelud ?" gerutu Divta emosi.
Raina pun berinisiatif menarik pergelangan tangan pemuda itu dan membantunya memasang benda kecil nan bulat itu hingga kini terlihat rapi. Meski terselip rasa gugup yang luar biasa tapi dia tetap melakukan tugasnya sebagai seorang asisten pribadi.
Sial !! Apa-apaan ini ? Kenapa tubuhku bereaksi saat berada di dekat asisten ku sendiri ? Oh shit, jangan bilang selera ku terhadap wanita sudah hilang. Damn !!
Divta membuang mukanya ke arah lain. Dia mengutuk dirinya sendiri yang tiba-tiba saja menegang tatkala Raina membenahi kemejanya dan tanpa sengaja jari halus asistennya itu menyentuh permukaan kulitnya, membuat sesuatu yang lain dalam tubuh Divta ikut bereaksi.
"Kenapa wajah anda merah ? Apa anda demam ?" tanya Raina yang tidak sengaja melihat wajah Divta berubah merah padam.
"Karena kau bau !!" cetus Divta tanpa menoleh.
Entah apa yang merasuki Divta, pandangannya seakan tak mau lepas dari memperhatikan langkah Raina menuju ke arah rak sepatu yang terletak di dekat dapur.
"Divta, sadarlah dia sejenis dengan mu." dia menampar wajahnya sebanyak dua kali serta menepuk kedua matanya agar tidak lagi memandangi Raina yang kini berjalan ke arahnya.
"Silahkan." Raina meletakkan sepasang sepatu tepat di bawah kaki Divta, dan hal itupun tak luput dari perhatian Divta.
"Hari ini kita libur saja. Kita pergi ke bar." tutur Divta. Dia rela menunda pekerjaannya demi bisa meyakinkan diri bahwa seksualitasnya masih berfungsi dengan baik terhadap wanita. Dan kalaupun tidak, maka dia akan pergi ke dokter untuk menormalkannya kembali.
Raina terhenyak mendengar penuturan yang Divta lontarkan. Dia sudah merasa senang karena bangun kesiangan supaya tidak jadi pergi ke tempat lucknut itu. Tapi sepertinya, dia harus pasrah kali ini. Dia hanya perlu menghindar saat Divta mengajaknya untuk memerah atau meminum susu langsung dari sumbernya, begitu pikirnya.
_____
Setelah setengah jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan yakni bar. Tempat itu tidak terlihat ramai begitu sebab waktu masih pagi. Mereka memilih ruang VVIP yang terletak di lantai 3.
"Waah tidak salah aku memilih bar ini untuk memuaskan diri." ucap Divta ketika dia seorang penjaga membukakan pintu untuknya dan juga Raina. Di dalam ruangan itu, terlihat ada 4 orang wanita cantik dan seksi yang nampaknya memang sedang menunggu kedatangan mereka.
"Tadinya, aku ingin mengajak mu ke pabrik susu, tapi sepertinya disini lebih private dan lebih aaah." bisik Divta di telinga Raina di iringi desahan di akhir kalimatnya, membuat di empunya telinga merinding hingga bulu kuduknya serasa berdiri.
Divta lebih dulu ambil posisi untuk duduk di antara dua wanita cantik yang masing-masing menggunakan mini dress berwarna merah dan hitam. Dia memeluk kedua leher wanita dan mencium rambutnya secara bergantian.
Aku masih merasakan gairah ku ketika bersama mereka, tapi kenapa tadi aku merasa seperti ini juga saat berada di dekat Raihan ? ah tidak tidak, mungkin itu hanya perasaan ku saja karena sudah 2 hari tidak di cium wanita.
gumam Divta dalam hatinya.
Sementara Raina, dia mati-matian menahan diri agar tidak membuka suara dan sebisa mungkin menjaga diri agar tidak terlihat betapa dia merasa jijik karena lengan kanan kirinya di tempeli benda kenyal yang bahkan dia sendiri punya.
"Oh gosh, bantu aku keluar dari sini." batinnya berteriak pilu. Sungguh dia merasa begitu geli dan ingin cepat-cepat pergi dari tempat terkutuk itu.
"Rai, ayolah kau jangan jadi orang munafik. Kau boleh kok menyentuhnya, mereka sudah ku bayar." ucap Divta sambil menatap Raina. Sepertinya pemuda itu bisa menilai ekspresi wajah Raina yang terlihat sangat tidak menyukai dua wanita yang bergelayut di lengannya.
"Tuan, saya kebelet kentut." Raina bertingkah layaknya orang yang benar-benar ingin membuang gas, memegang perutnya dan berpura-pura sedang menahan sesuatu.
Seketika 4 wanita yang sedari tadi menggelayuti mereka pun beranjak menjauh, sebab tidak ingin mencium bau bau tak sedap yang mungkin akan membuat mereka mual nanti.
"Haish, kau jangan jorok. Pergi sana ke toilet." seru Divta jijik.
Dan dengan terburu-buru Raina beranjak dari sofa setelah sebelumnya meninggalkan suara merdu yang keluar dari anunya.
"Rai sialan !!" teriak Divta seraya menutup hidungnya.
"Oh my, padahal tadi aku hanya pura-pura, tapi kenapa keluar beneran ?" gerutu Raina lari terbirit-birit.
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗