
Awali pagi dengan sesuatu yang baik-baik, salah satunya dengan tersenyum. Tersenyum di pagi hari akan membuat suasana hati menjadi lebih baik, sehingga harimu nantinya juga akan berjalan dengan baik pula. Selamat pagi.
Raina membuka matanya ketika dia mendengar kalimat itu. Seketika senyuman indah terukir di wajahnya tatkala dia melihat wajah Divta berada tepat di hadapannya.
"Selamat pagi sayang." ucapnya menyapa sang calon suami dengan suara yang masih terdengar begitu serak khas orang yang baru bangun tidur.
Divta membalas sapaan Raina dengan sebuah kecupan manis di pipi gadis itu. Kemudian dia mengajak sang kekasih untuk segera bangun karena hari ini mereka akan melakukan sesi foto prewedding.
"Tapi ini kan masih jam 6." Raina menghempaskan tubuhnya kembali dan menarik selimut. Cuaca dingin memang membuat sebagian besar orang lebih memilih untuk menghangatkan tubuh di bawah selimut, daripada harus keluar. Lagipula ini akhir pekan.
"Sayang, ayo dong. Siap-siap dulu." ucap Divta sambil merayu. Namun, Raina malah menggelengkan kepala dan memunggunginya.
Divta mendengus kecil. Padahal dia sudah tidak sabar ingin berfoto. Dia bahkan terlihat sudah tampan dan wangi karena telah mempersiapkan diri sejak pukul 5 pagi. Tapi apa ? gadisnya malah masih meringkuk di bawah selimut.
"Haish !" desisnya lalu membuka jas dan ikut menelusupkan diri ke dalam kain tebal yang menutupi tubuh Raina. Dia mendekap gadis itu dengan begitu erat sambil tangannya bermain ria di atas pusar Raina yang tertutup baju tidur.
"Ih geli !" pekik Raina menepis tangan Divta.
"Bodo. Kalau kamu gak mau bangun, aku akan menggelitik mu sampai puas." jawab Divta santai.
"Ish, iya iya aku bangun." sungut Raina mengerucutkan bibirnya. Dia menatap sinis Divta lalu beranjak dari tempat tidur.
"Menyebalkan." ujarnya menggerutu yang membuat Divta terkekeh geli.
...***...
"Tuh kan, kalau tau begini lebih baik aku tidur lagi, tadi." lagi lagi Raina menggerutu karena foto prewed terpaksa di tunda karena adanya meeting antar dewan direksi yang dilakukan secara mendadak.
"Maaf sayang, aku juga gak tau kalau akan di adakan meeting." jawab Divta meminta maaf karena merasa tidak enak hati telah membuat Raina menunggunya selama berjam-jam, bahkan hingga gadis itu ketiduran.
"Iya tapi kan aku bisa menunggu di apartemen saja. Tidak perlu ikut kesini." cerca Raina makin kesal.
"Sayang, kenapa harus marah-marah terus, si." desis Divta bingung. Sedari tadi, calon istrinya itu terus saja menggerutu padanya. Padahal sudah setengah jam berlalu. Tapi Raina masih saja memarahinya. Dasar menyebalkan, begitu umpatnya sambil cemberut.
"Bukannya marah. Tapi aku paling tidak suka menunggu. Apalagi sendirian begini." Raina menyilang kedua tangannya di atas perut. Bibirnya mengerucut panjang dan tatapan matanya sinis.
Divta menarik nafas dalam. Memang benar apa yang orang-orang bilang. Perempuan kalau sudah marah, akan sulit untuk di bujuk.
Dia lantas memeluk paksa Raina meskipun gadis itu meronta-ronta. Terus mempertahankannya walaupun dia harus menahan sakit di kakinya karena di injak oleh Raina.
"Sayang ku... cinta ku... perempuan ku yang tadinya jadi-jadian. Tolong maafkan calon suami mu ini, ya. Aku janji tidak akan membuat mu menunggu lagi seperti tadi." ujarnya ketika Raina sudah lelah meronta.
Siapa yang tidak luluh mendengar perkataan manis seperti itu dari sang kekasih ? Tapi sebentar, kok ada kata perempuan jadi-jadian sih ? tidak etis sekali.
"Tidak mau !!" cetusnya.
"Masa ?" Divta menyentuh pipi Raina lalu menelusupkan tangannya ke sela rambut gadis itu. Mengusap dengan sangat lembut di bagian bibir seraya memasang wajah yang begitu tampan. Perlahan tapi pasti. Dia mendekatkan wajahnya pada Raina.
"Tapi aku mau." bisiknya ketika hidungnya dan hidung Raina saling bersentuhan.
Dua...
Tiga...
Empat...
"Mau cium atau tidak sih ?!" seru Raina kesal karena merasa di permainkan oleh Divta. Padahal bibir mereka sudah hampir menyentuh. Bahkan dia sudah memejamkan kedua matanya dan bersiap menerima ciuman dari Divta. Tapi sudah hampir lima detik berlalu, kekasihnya itu masih belum juga menciumnya.
Divta tertawa terbahak-bahak melihat Raina yang kesal. Rencananya mengerjai gadis itu telah berhasil. Dia terpingkal-pingkal. Hingga kakinya tak kuat menahan berat tubuhnya. Lalu dia menghempaskan bokongnya di sofa sambil masih tertawa.
Raina semakin kesal. Wajahnya merona menahan malu. Dia pun berencana untuk membalas rasa malunya itu dengan cara yang sama. Merapatkan tubuh Divta di sandaran sofa menggunakan kedua tangannya yang bertumpu di bahu pemuda itu.
"Kalau kamu tidak mau melakukannya, biar aku saja." dia melakukan hal yang tadi Divta lakukan padanya, yakni mendekat secara perlahan hingga bibir mereka bersentuhan.
Tapi... tunggu, tunggu. Ini tidak seperti yang dia rencanakan. Niatnya ingin segera beranjak. Tapi kenapa Divta menarik tengkuk dan pinggangnya secara bersamaan ? bahkan tanpa di sadari, dia sudah duduk di pangkuan Divta.
"Mau coba menggoda ku ?" tanya Divta yang kini membalikkan keadaan.
"Kamu tidak bisa melakukan itu, sayang. Karena itu bukan keahlian mu."
Divta mulai mengusap lembut pipi Raina yang terasa panas. Membuat gadis itu terbuai akan kelembutan yang dia berikan hingga kedua matanya terpejam.
Divta menyeringai licik. Dia menyusuri wajah Raina dengan hidung mancungnya. Bahkan sesekali bibirnya yang manis itu dia gesekkan di tulang pipi Raina.
Raina sedikit membuka matanya ketika dia bisa merasakan hangatnya di nafas Divta yang menyeruak ke wajahnya.
Pandangan mata mereka bertemu dan beradu tatap. Mereka terperangkap dalam pancaran yang penuh kehangatan. Kemudian hal itu pun terjadi. Tanpa ragu sedikitpun, Raina menautkan bibirnya di bibir Divta.
Di sela ciumannya, sudut bibir Divta menipis dan mengulas senyum sambil menatap kelopak mata Raina yang tertutup dengan jarak yang sangat dekat. Membiarkan gadis itu menguasai dirinya dan melakukan apapun yang di inginkan.
Divta seakan terbang keatas awan. Merasakan kebahagiaan yang teramat sangat akan hal itu. Dia tidak menyangka gadis yang dulunya berpura-pura menjadi pria hanya demi bisa bekerja dan mendapat uang, kini menjadi kekasihnya. Yang dulu selalu menolak setiap dia tak sengaja menyentuh, kini berada dalam dekapannya. Dan yang dulu selalu pingsan setiap kali dia memeluk, kini tengah duduk di pangkuannya dan memainkan lidah secara liar di dalam mulutnya.
"Sebentar lagi, kamu akan menjadi milikku sepenuhnya." gumam Divta dalam hati.
Dia lantas mendorong pelan bahu Raina untuk mengakhiri ciuman sepihak itu. Nafasnya sedikit terengah karena Raina tak memberinya kesempatan untuk menghirup udara.
Sementara Raina yang sudah terlanjur menggebu, pun kembali menautkan bibirnya. Ciuman itu di rasa semakin liar bagi Divta. Wajahnya mulai terasa panas. Jantungnya pun berdetak tak karuan. Sulit rasanya untuk mengendalikan dirinya sendiri. Hingga tanpa sadar, dia membalas ciuman itu. Ciuman yang semakin lama semakin liar.
Panas...
Panas...
Panas...
🎶🎶🎶
Maaf ya, Xia kelamaan liburnya 🤣🤣🤣