Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Sandaran hati



Raina mengikat rambutnya seperti ekor kuda dan dia tambahkan jepit berwarna merah muda di antara pengikat rambut.


Dia meraih bedak tabur dalam kemasan botol lalu dia tuangkan sedikit ke telapak tangan kirinya. Setelah itu dia gosok di kedua tangan kemudian dia usapkan ke wajahnya yang kecil.


Gadis itu tersenyum manis seraya menatap pantulan dirinya di cermin.


Kedua tangannya dia letakkan di pipinya sambil terus tersenyum.


Raina beranjak dari kursi dan berjalan menuju ke meja belajar kemudian dia membuka sebuah buku berwarna biru muda dengan karakter khas anak-anak.


Gadis itu juga mengeluarkan pulpen dari dalam tasnya dan mulai menulis di buku yang yang tadi dia buka.


Untuk kakak yang di SMA, terimakasih sudah membantu ku menyelesaikan masa hukuman memunguti sampah daun kering :)


**


Raina bergumam kecil.


Dia menarik tangannya yang terasa kram dan sulit untuk di gerakan.


Matanya perlahan terbuka. Mengedarkan pandangan dan berusaha mengenali dimana dia berada.


Gadis itu mendesis, merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat serpihan kaca yang banyak menancap di kulitnya.


"Ayah... Ibu..." gumamnya seraya menahan perih.


Seorang lelaki yang tidak sengaja tertidur di kursi dengan menumpu kepala di tepi bangsal, seketika terbangun mendengar gumaman Raina.


"Sayang ?" dia berdiri dan membungkukkan badan lalu mengusap dahi Raina.


"Apa yang kamu rasakan sekarang ?" tanyanya khawatir.


"Sakit..." rengek Raina.


Cairan bening mulai menggenang di kedua pelupuk matanya yang memerah.


Karena sudah tak tertampung lagi, akhirnya cairan itu mengalir melalui ekor matanya.


"Tenanglah, jangan banyak bergerak dulu." Divta menahan bahu Raina dan mencegah gadis itu untuk bangun.


"Ini dimana ? kenapa gelap sekali ? coba tolong hidupkan lampunya." ucap Raina meraba meja kecil yang ada di sebelah bangsal sebab ingin menyalakan lampu.


Namun tangannya malah menyenggol gelas minum sehingga gelas tersebut terjatuh dan pecah.


"Eh maaf maaf aku tidak sengaja. Aku hanya ingin menyalakan lampu karena disini terlalu gelap. Aku takut..." Raina mengulurkan kedua tangannya dan mencari Divta.


Dia ingin sekali memeluk lelaki itu saking dia merasa takut.


Divta dibuat tertegun olehnya.


Apa yang tadi gadis itu katakan, gelap ? ingin menyalakan lampu ?


Bahkan ini di siang hari. Apa yang sebenarnya terjadi pada Raina ? mungkinkah ...


"Sayang, sekarang tidak mati lampu. Ruangan ini sangat terang." Divta meraih kedua tangan dan menggenggamnya.


Namun gadis itu segera beranjak duduk dan menarik Divta ke pelukannya.


"Tidak, ini sangat gelap. Aku takut, tolong hidupkan lampunya." Raina menenggelamkan wajahnya di dada Divta.


Tubuhnya bergetar. Seolah rasa sakitnya hilang karena tergantikan oleh rasa takut yang luar biasa.


Divta tidak berani membalas pelukan Raina karena punggung gadis itu terdapat banyak luka akibat serpihan kaca yang menancap di kulitnya.


Nafas Divta terasa berat, inikah kemungkinan yang dikatakan dokter tadi ?


"Kemungkinan besar, nona Raina akan mengalami kebutaan."


kata-kata itu kembali terngiang-ngiang di kepalanya.


Tanpa terasa, pemuda itu meneteskan air mata. Hatinya terasa begitu sakit melihat Raina menangis ketakutan.


Terlebih lagi, gadis itu sedang sakit. Lalu apa yang harus dikatakannya jika Raina menanyakan tentang kegelapan yang tak kunjung terang ?


"Tenanglah sayang, semua akan baik-baik saja." Divta mengecup pucuk kepala Raina dengan perasaan hancur.


"Cepat hidupkan lampunya, aku takut."


Raina semakin histeris sambil menahan sakit di tubuh bagian belakangnya.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga mu dengan baik." ujar Divta penuh penyesalan.


Ingin sekali dia melampiaskan kekesalannya terhadap dirinya sendiri


yang menyebabkan Raina terluka bahkan hingga mengalami kebutaan.


"Apa maksud mu ?"


pinta Divta.


Raina mendongakkan kepalanya dan meraba wajah Divta,


"Aku tidak akan marah asal kamu tidak berbohong." jawabnya berusaha menyunggingkan senyumnya yang getir.


Divta menyentuh punggung tangan Raina yang berada di pipinya kemudian mengecup telapak tangan gadis itu.


"Kata dokter, kamu mengalami kebutaan.


Tapi kamu jangan khawatir. Dokter bilang itu hanya sementara. Kamu pasti akan bisa melihat lagi." tutur Divta dengan cepat.


Raina yang hendak menyela, pun sedikit merasa lega. Meski sebenarnya dia merasa sangat sedih dan hancur karena tidak bisa melihat.


Hal yang dia takutkan kini menimpanya dalam jangka waktu yang tidak sebentar.


Gelap, dia sungguh takut dengan itu.


"Apa setelah ini kamu akan meninggalkan aku ?" tanya Raina tertunduk lesu.


Rasa kepercayaan dirinya telah hilang,


seiring hilangnya cahaya dalam hidupnya.


Divta berdiri dan membungkukkan setengah tubuhnya kemudian meraup kedua pipi Raina


dan mendaratkan kecupan manis di kedua kelopak mata gadis itu,


"Mana mungkin aku meninggalkan mu di saat keadaan mu seperti ini ?


Justru aku akan lebih menjaga dan melindungi mu, sayang. Akan selalu ada untuk mu. Tidak peduli bagaimana pun kamu.


Aku akan tetap bersama mu."


jawabnya dengan hati yang tulus.


"Benarkah ?"


Divta mengangguk mantap meskipun Raina tak melihatnya.


"Percayalah." tuturnya.


Dia mendekatkan wajahnya sebab dia sudah rindu ingin mencium gadis itu,


namun suara dering ponsel membuatnya mendengus dan dengan terpaksa merogoh benda pipih tersebut di saku celananya untuk melihat siapa gerangan orang yang berani mengganggu momen indahnya bersama Raina.


"Eh ?" pekik Divta terkejut saat melihat siapa yang menelponnya.


"Sayang, kamu tunggu sebentar ya, aku mau angkat telepon dulu." ucap Divta permisi dan mengecup dahi Raina kemudian dia keluar dari ruang inap tersebut.


"Apa itu dari pacar barunya ?" gumam Raina sedih.


"Tenang Rain yakinlah dia setiap padamu. Dan ini bukan gelap seperti yang kau takutkan. Anggap saja kau sedang ingin tertidur sehingga kau memejamkan mata." lanjutnya menyemangati dirinya yang kini telah buta.


Sementara Divta


"Halo Papa, kenapa tiba-tiba mengubungi ku ?"


Ya, yang menghubunginya adalah tn Andro. Pria paruh baya itu telah sampai di apartemen Divta namun tak menemukan anak keduanya disana. Itulah sebabnya dia menelpon.


"Kau dimana ?" tanya Andro langsung pada intinya.


"Aku sedang di rumah sakit. Pacar ku habis mengalami kecelakaan." jawab Divta setengah berbisik agar tak ada yang mendengar pembicaraannya dengan sang ayah.


"Pacar mu ?" tanya Andro mengulang.


"Iya Pa. Sudah dulu ya, kalau aku berlama-lama di luar takut dia akan berfikir yang tidak-tidak tentang ku." Divta memutus sambungan telepon dan kembali masuk menghampiri Raina.


"Maaf ya, tadi papa ku menelpon." ucapnya memberitahu Raina agar tidak salah paham terhadapnya.


Sebab dia melihat ekskresi wajah gadis itu merengut seperti sedang menahan kesal.


Oh papanya ? benarkah ?


Seketika sudut bibir Raina terangkat. Senyumnya kembali cerah sambil merentangkan kedua tangannya minta di peluk. Di usianya yang masih 21 tahun dan sudah kehilangan kedua orangtua, membuatnya harus mendewasakan diri secepat mungkin.


Dia tidak bisa jadi bermanja, dia tidak bisa jadi memeluk ayah dan ibunya.


Raina sangat bersyukur dengan kehadiran sosok Divta yang mampu menghilangkan rasa takutnya,


di jadikannya pemuda itu sebagai sandaran hatinya, dan dia berharap


sandaran itu bisa berlangsung selamanya.


Xia butuh vote dan like 🥺