Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Menyusul Raina



Andro sedang menghadiri acara ulang tahun pernikahan sahabatnya di luar kota, bersama Julia tentunya. Dia berjalan beriringan dengan asistennya tersebut. Sebagian orang yang belum mengenalnya dekat, pasti akan mengira bahwa dia adalah sugar dady, haha.


Sedari tadi, tak henti-hentinya orang berdatangan untuk menyapa Andro hingga membuatnya lelah.


Kemudian, Julia mengajak pria paruh baya itu untuk beristirahat di sudut ruangan karena dia melihat keringat mulai membanjiri wajah tuan-nya.


"Julia." Andro memanggil saat setelah dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


nafasnya nampak tersengal saking dia merasa lelah.


"Iya tuan." jawab Julia kemudian duduk di kursi yang ada di samping Andro.


"Tiba-tiba saja aku teringat akan kejadian beberapa bulan lalu. Aku takut dia kan menuntut ku ke pengadilan dan aku berakhir di dalam penjara." ucap Andro dengan raut wajah sedih. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia mendekam di balik jeruji besi. Lantai yang dingin, makanan yang tidak sehat dan pakaian yang tidak layak.


Julia tertegun. Dia juga merasa khawatir melihat tuannya sedih seperti itu.


"Apa tidak sebaiknya anda mengatakan hal ini pada tuan Divta. Dengan begitu Anda bisa meminta pendapat tentang apa yang harus anda lakukan." ucapnya memberi usulan.


"Tapi aku takut Divta akan marah dan menyalahkan ku. Kau tahu sendiri tabiat anak itu bagaimana. Jika sudah marah, aku tak mampu berbuat apa-apa. Dan kau juga tahu bagaimana ibu memanjakan dia, bahkan bisa dibilang Divta adalah cucu kesayangannya." jawab Andro sembari memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.


Julia menundukkan kepalanya, dan membenarkan apa yang Andromeda katakan. Divta adalah cucu kesayangan Deasy. Dia menyadari itu beberapa tahun lalu, ketika Andromeda ingin menjadikan Darius presdir di perusahaan, namun Deasy tidak menyetujuinya, dan malah meminta Andro untuk memberikan modal agar Darius membangun perusahaannya sendiri. Dan setelah Divta menyelesaikan pendidikan di luar negeri, perusahaan itu langsung di serahkan kepada Divta.


"Sebenarnya, ada satu rahasia yang selama ini aku sembunyikan dari mu selaku asisten pribadi ku. Aku rasa, kau harus mengetahuinya sekarang agar kau tau alasan mengapa ibu ku sangat menyayangi Divta."


Julia memicingkan matanya, kemudian dia menengadahkan wajahnya menatap Andro yang nampak banyak memikul beban.


Dia tidak berani berkata 'tentang apa ?' meski sebenarnya dia merasa sangat penasaran.


Jadi dia hanya menunggu Andro mengatakan apa yang ingin di katakan.


"Karena... hanya Divta cucu laki-lakinya." lanjut Andro menghela nafas berat.


"Maaf, maksud anda...


"Ya, Darius bukan anak ku. Dulu kami kesulitan punya anak, untuk itu ibu menyuruh kami untuk mengadopsi seorang bayi dari panti asuhan. Tapi meskipun begitu, ibu tetap menyayangi mereka tanpa membeda-bedakan. Ibu selalu memberikan kasih sayang dan juga cinta yang tulus kepada Darius, Divta dan Daisya sama rata."


Julia mengangguk setuju. Deasy memang wanita yang hangat dan penuh kasih sayang, bahkan dia juga merasakan rasa sayang dari wanita tua itu.


"Bagaimana kalau anda tanyakan saja pada nyonya besar. Saya yakin beliau bisa memberikan solusi yang terbaik dan jalan keluar dari masalah yang anda alami saat ini."


Andro menjentikkan jarinya dan tersenyum semeringah. Tidak sia-sia dia bercerita panjang kali lebar pada Julia. Gadis itu sangat bisa di andalkan. Tapi anehnya, kenapa tidak terpikirkan olehnya untuk menceritakan masalahnya pada sang ibu ? malah dia pendam sendiri.


Di waktu yang bersamaan, Deasy sedang berdiri tepat di hadapan Yudha yang terduduk lemas tak berdaya dan penuh lebam di wajahnya. Tidak ada lagi senyuman. Tidak ada lagi tatapan kehangatan. Yang ada hanya kekesalan, kemarahan dan kekecewaan.


Bagaimana mungkin, pemuda yang di anggapnya baik dan sopan, ternyata telah membuat calon cucu menantunya menangis karena luka yang kembali terbuka.


"Apa yang kau lakukan pada cucu menantu ku ?" tanya Deasy dengan raut wajah datar.


Yudha mendongakkan kepalanya. Menatap Deasy dengan tatapan mengiba. Air matanya pun sudah tak terbendung lagi. Hingga cairan bening itu mengalir dan membasahi pipinya yang lebam.


"Raina calon istri ku, nek." ucapnya dengan suara yang begitu lirih, namun masih tertangkap di telinga Deasy.


"Jangan mengada-ada. Raina pacarnya Divta, jadi mana mungkin dia calon istri mu." cetusnya menatap Yudha sinis.


Yudha menggelengkan kepalanya pelan. Perlahan dia berdiri dan menghampiri Deasy kemudian bersimpuh di kaki wanita tua yang baru di kenalnya dua hari itu.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, nek. Raina adalah calon istri ku. Aku pernah melamarnya. Tapi karena kesalahpahaman, dia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan aku."


Deasy memegang kedua bahu Yudha dan meminta untuk bangun.


Dia tak tau apa yang terjadi tentang masa lalu Raina dan Yudha. Tetapi yang pasti, dia akan tetap membantu Divta untuk mempertahankan Raina. Sebagai seorang nenek, dia ingin melihat cucunya bahagia. Jadi bagaimanapun caranya, dia akan membuat Yudha berhenti mengharapakan Raina.


"Raina sudah menjadi kekasih Divta.


Dan sebentar lagi mereka akan bertunangan." ucapnya berbohong. Meskipun dia tidak tau kapan Divta akan melamar Raina, yang penting Yudha menyerah dulu, begitu pikirnya.


Yudha menggelengkan kepalanya seakan tidak terima dengan ucapan Deasy. Dia harus tetap mempertahankan Raina. Tidak peduli walau dia harus menentang wanita tua yang sudah di anggap sebagai neneknya sendiri.


Karena baginya, Raina lah yang terpenting dalam kehidupannya di masa kini dan di masa yang akan datang.


"Dan mungkin di dalam perut Raina, sudah ada anak Divta." lanjut Deasy.


Yudha tertegun. Dia yang hendak melangkah pergi tiba-tiba saja merasa lemas di sekujur tubuhnya usai mendengar penuturan Deasy.


"Nana-- hamil ?" bibirnya bergetar ketika mengucapkan itu. Dia tidak menyangka


gadis yang di carinya setelah beberapa bulan, kini kembali bertemu tapi dalam keadaan yang tidak dia harapkan.


"Sebaiknya kau menyerah saja Yudh.


Biarkan Divta dan Raina menjalani hidup dengan baik bersama calon anak mereka."


Tidak. Aku akan tetap mempertahankan Nana apapun yang terjadi. Tidak peduli walau aku harus menjadi ayah dari anak orang lain asalkan itu terlahir dari rahim Nana, aku akan menerimanya.


Setelah di rasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, Yudha memilih untuk melangkahkan kakinya keluar dari kamar karena dia ingin menyusul Raina ke rumah sakit untuk melihat keadaan gadis itu.


Deasy menghela nafasnya dalam. Memang tidak mudah melepaskan atau merelakan orang yang kita cinta begitu saja.


Bohong jika orang yang berkata 'asalkan kau bahagia, maka aku juga akan bahagia'.


Tidak. Tidak seperti itu.


Faktanya, rasa cinta itu adalah rasa ingin memiliki sepenuhnya, hati, jiwa dan raganya. Memilikinya secara sah di mata dunia dan secara agama.


Bohong jika dengan kata ada ikhlas tanpa harus berusaha terlebih dahulu, karena pada hakikatnya, rasa ikhlas itu adalah ketika kita mampu menyunggingkan senyum, saat melihat dia tertawa bahagia bersama orang yang di pilihnya.


*Oh my, Malah curhat disini 😭


Jangan lupa klik 👍 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗