
Gadis yang baru saja masuk itu tak lain ialah Raina. Dia berjalan dengan anggunnya menuju Divta dan Darius yang nampak tersepona oleh kecantikannya, namun hal itu tak disadari oleh Raina.
“Selamat pagi tuan.” sapa Raina dengan senyuman manisnya yang membuat mulut kedua lelaki yang ada di hadapannya menganga lebar.
“Maaf tuan, itu air liurnya mengalir.” imbuhnya sedikit tergelak.
Sontak saja Divta dan Darius menyeka sudut bibir mereka, namun mereka tak menemukan adanya air liur disana.
Sial, kenapa dia cantik sekali. Kenapa pula Dayus harus datang di saat Amanda juga datang.
Sungut Divta dalam hatinya. Dia sungguh merasa tidak rela membagi kecantikan wajah Raina dengan kakak kandungnya itu.
“Ehm, perkenalkan nama ku Darius Andromeda, kakak dari Divta si cecunguk itu.” dia mengulurkan tangannya hendak mengajak Raina berkenalan, namun tangannya di tepis dengan kasar oleh Divta.
"Apaan sih ?!" sentak Darius, namun Divta tak menggubris perkataannya.
“Aku sangat merindukanmu.” Divta meraih pinggang Raina dan memeluknya dengan erat. Dia menyandarkan kepalanya di dada gadis itu, dan tentu membuatnya merasa begitu nyaman.
Namun, hal yang bertentangan dirasakan oleh Raina. Tubuh gadis itu seketika menegang, wajahnya berubah merah padam serta kedua tangannya mengepal kuat. Ini adalah kali pertama dia di peluk oleh lelaki asing. Dulu dia pernah menampar mantan kekasihnya yang dengan kurang ajar menyentuh bahunya.
Lalu, bagaimana dengan sekarang ? ingin sekali rasanya dia mendorong dengan kuat tubuh Divta yang sedang memeluknya, tetapi kekuatannya seolah hilang begitu saja, dia tidak mampu melakukan itu. Apakah karena Divta sedang sakit ?
“Tu-tuan tolong lepaskan saya.” Suaranya terdengar sedikit gemetar. Namun hal itu tidak di gubris oleh Divta. Pemuda itu malah menggelengkan kepala di dadanya, seperti seekor anak kucing yang sedang bermanja dengan induknya.
Cih, apa-apaan bocah ini ? bukannya dia pacaran dengan Arumi, terus kenapa sekarang ganti lagi ? sialan, kenapa harus lebih cantik dari Arumi sih ?
Hati Darius mendesis kesal. Dalam hal percintaan, dia memang selalu kalah dengan sang adik.
Dulu, dia pernah menyukai teman sekelasnya saat di sekolah menengah atas, tapi gadis itu menyukai Divta, lalu teman kuliahnya juga menyukai Divta, kemudian Arumi juga menyukai Divta, Divta, Divta dan selalu Divta. Padahal dari segi wajah, dia tidak kalah tampan dengan lelaki yang terpaut usia 3 tahun dengannya itu. Dari segi fisik dia bahkan lebih kuat jika di bandingkan dengan Divta, dia juga lebih mandiri, lebih dewasa dan lebih lebih lah intinya.
Baiklah, kali ini kita akan bersaing untuk mendapatkan hati gadis cantik ini.
Darius tersenyum semirik.
“Cobalah pegang dahi ku, aku ini sakit sampai aku jatuh pingsan tadi.” imbuh Divta makin merengek dan mengeratkan pelukannya.
“Cih.” desis Darius menatap Divta dengan tatapan jijik, namun malah di balas dengan tatapan mengejek oleh Divta sambil menjulurkan lidah, yang membuatnya meradang.
“Jadi kau pacarnya Raihan ?” tanya Darius, dan hanya di angguki Raina sebagai jawabannya.
“Hei bocil, sadar diri dong, gadis yang kau peluk itu pacarnya asisten mu sendiri. Kau jangan jadi pebinor ya.” cetusnya tersenyum licik.
“Apa itu pebinor ?” tanya Divta bingung, sejenak dia mengangkat kepalanya mengarah pada Darius, namun sepersekian detik dia kembali menyandarkan kepalanya di dada Raina.
“Ck.. dasar kudet ! pebinor itu artinya perebut bini orang !!” seru Darius kesal, dia lalu menghempaskan tubuhnya di sofa yang jaraknya tak jauh dari bangsal. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, kedua tangannya menyilang diatas perut serta menyilang kaki di sebelah lututnya.
Divta mendongakkan kepalanya menatap Raina,
Raina merasa tubuhnya sangat sulit digerakkan sehingga dia hanya bisa merendahkan pandangannya tanpa menundukkan kepala. Kemudian dia menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan yang Divta lontarkan.
Divta pun kembali menyandarkan kepalanya,
“Kau lihat sendiri kan ? aku bukan perebut bini orang. Aku hanya sedang berusaha merebut Amanda dari pelukan Raihan.” celetuknya membalas ejekan Darius.
Ucapan Divta tentu membuat Raina semakin menegang. Bagaimana tidak ? baru saja Divta berkata bahwa pemuda itu akan merebutnya dari Raihan, apakah itu artinya Divta menyukai dirinya ? lalu bagaimana dengan Arumi ? apakah Divta menyukai dua wanita di waktu yang bersamaan ?
“Sebaiknya jaga ucapan anda tuan. Bagaimana mungkin anda ingin merebut saya dari Raihan ? kau juga sudah punya nona Arumi, bukan ?” suara Raina terdengar dingin, bahkan terkesan tidak ramah.
Divta melepas pelukannya dan pura-pura terkejut,
“Kau kenal dengan Rumi ? kok bisa ?” sentaknya seraya mendelik untuk memaksimalkan aktingnya.
Dengan susah payah Raina menelan salivanya. Bagaimana mungkin dia bisa kelepasan berbicara dan mengatakan bahwa Divta sudah punya Arumi ?
“Umm ta- tadi Raihan yang memberitahu ku.” Jawabnya berkilah, dia pun berusaha untuk menutupi kegugupan yang melanda hatinya.
Bibir Divta ber-oh ria, kemudian dia kembali meraih tubuh Raina dan memeluk pinggang langsing gadis itu,
“Kau tenang saja, aku dan Rumi hanya masa lalu saja. Sejak dia pergi meninggalkan ku, aku sudah memutuskan untuk tidak menganggapnya sebagai pacar ku lagi. Saat di restoran juga aku sudah bilang putus padanya.” ucapnya memberi kejelasan.
“Hei, sadarlah masih ada aku disini !!” seru Darius menyindir Divta yang terlihat mengambil kesempatan untuk bermanja-manja pada Raina. Seumur hidupnya bahkan dia belum pernah memeluk wanita selain ibu dan Daisya, tetapi Divta ? selain memeluk, bocah cilik itu malah menyandarkan kepala di dada Raina yang lumayan uwah, bahkan dia pernah melihat Divta sedang berciuman dengan wanita seksi di dalam kantor.
“Shit !!” umpatnya.
“Ya sudah kau keluar sana. Dasar pengganggu.” Sahut Divta ketus.
Darius mendengus kasar, kemudian dia beranjak dari sofa. Dia menatap Divta seperti seorang musuh.
Kita harus bersaing secara sehat untuk mendapatkan Amanda.
Batinnya berbicara pada sang adik.
Tidak, Amanda milikku, kau cari saja yang lain karena dia sudah menjadi milikku.
Balas divta.
Aku tidak peduli, aku akan merebutnya darimu.
Darius pun keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Divta yang terlihat tersenyum penuh kemenangan.
Say hello to my beloved readers, tolong kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ untuk novel ini ya biar Author semangat nulis cerita. Jangan lupa tinggalkan like 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗