Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Bertemunya Divta dengan Raihan



Raihan mulai bersiap mengenakan seragam kerjanya yang berwarna hitam dan ada list biru di dada sebelah kanannya. Dia juga mengenakan topi hitam khas seorang waiter. Di tempat itu, dia menjadi karyawan yang paling di senangi oleh karyawan lain. Tak ada satu orang pun yang iri terhadapnya karena memang Raihan memiliki sifat yang rendah hati dan tidak sombong.


"Rai, kamu antar minuman ini ke meja nomor 3 ya." perintah seorang bartender sambil memberikan sebuah nampan berisi 2 botol anggur dan dua buah cawan.


"Siap, laksanakan." jawab Raihan yang langsung sigap menjalankan tugasnya. Itulah yang membuatnya di sukai semua orang. Sifat dan perilakunya yang sangat baik serta tekun dalam bekerja.


"Silahkan tuan, nona." ucap Raihan sembari menurunkan botol dan cawan dari nampan ke atas meja. Di hadapan itu ada dua orang tamu yang berlawanan jenis. Yang satu cantik dan yang satunya lagi tampan. Benar-benar pasangan yang cocok, begitu pikirnya untuk menilai dua orang tersebut.


"Terimakasih." sahut si wanita. Dia membuka dompetnya dan mengambil beberapa lebar yang pecahan seratus ribuan dan di berikan kepada pemuda itu.


"Terimalah." ucapnya meletakkan uang itu ke atas nampan yang masih di pegang oleh di pengantar minuman yaitu Raihan.


"Terimakasih nona. Kalau begitu saya permisi." Raihan bergegas pergi dari sana.


"Alhamdulillah, baru saja masuk kerja setelah izin karena sakit. Eh sudah dapat tip sebanyak ini." gumamnya penuh rasa syukur.


"Baik sekali nona yang tadi. Sudah cantik, rajin sedekah pula. Rajin-rajin lah datang kesini haha." imbuh Raihan.


Sementara orang yang baru saja di puji oleh Raihan, ternyata sedang merencanakan niat jahat. Dia datang ke bar untuk menemui seseorang yang beberapa waktu lalu dia beri perintah untuk menyelidiki siapa wanita yang berada di sisi Divta.


"Bagaimana ?" tanyanya lalu meneguk bir yang dia tuang ke dalam cawan.


"Tenang saja sayang, jika ada aku maka semuanya akan beres." jawab si pria.


"Mana bayaran ku ?" dia menelusuri leher wanita itu menggunakan lidahnya.


Wanita itu mendengus kasar dan berusaha menahan kepala sang pria yang hendak menuju ke dadanya.


"Jangan disini bodoh. Kau pikir aku ini wanita gratisan yang rela mempertontonkan tubuhku pada sembarang orang ?!" cetusnya kesal.


"Baiklah kalau begitu, kita ke sana saja." jawab pria itu sambil menunjuk ke arah ruangan. Dia benar-benar sudah tidak tahan lagi ingin menuntaskan apa yang seharusnya dia tuntaskan. Kemudian dia membawa wanita itu ke ruangan khusus menyediakan tempat tidur yang biasa di sewa oleh para pasangan yang ingin melakukan itu.


Sedangkan Raihan yang awalnya mengagumi orang tersebut, kini memandangnya jijik. Ternyata kecantikan wajah tidak mencerminkan kepribadian seseorang, begitu pikirnya.


"Menjijikkan sekali. Apakah uang yang ku terima ini uang halal ? ah, lebih baik aku sumbangan saja ke orang yang kurang mampu. Mudah-mudahan saja menjadi jalan untuk si dia agar terhubung dengan Tuhan dan lekas bertaubat." gumamnya.


Saat Raihan sedang asyiknya bergumam, tiba-tiba saja pemuda itu di buat terkejut tatkala ada seseorang yang menepuk bahunya. Dia pun menoleh ke belakang.


"Iya ? eh ?!"


"Kau Raihan, kan ?" tanya seorang itu sembari memicingkan matanya.


Mati aku. Dia kan tuan Divta, bos-nya kakak. Kenapa ada disini ? gawat. Bagaimana kalau kakak juga ada di sini ? tamat sudah riwayatku." Raihan menutupi wajahnya menggunakan nampan yang masih berada di tangannya.


"Tuan, tolong jangan beritahu kakak ku kalau saya bekerja disini. Saya bisa mati di cincang cincang halus olehnya tuan." Raihan memohon dengan sangat. Dia benar-benar takut hingga tubuhnya bergetar dan jantungnya pun berdetak dengan begitu kencang.


Divta terkekeh pelan. Kali ini dia kedapatan satu rahasia tentang adik dari sang kekasih. Kalau Raihan menunjukkan ekspresi ketakutan, berarti Raina tidak mengetahui aktivitas sang adik yang bekerja di bar. Itu artinya, dia bisa mengajak Raihan untuk bekerja sama.


"Oke, aku tidak akan memberitahukan ini kepada kakak mu. Asal kau mau memberi ku dua hal." ucapnya sambil berjalan menuju sofa yang di peruntukan bagi tamu VVIP.


Raihan pun mengikutinya di belakang. Ada sedikit perasaan lega mendengar penuturan Divta. Namun ada banyak kekhawatiran di hatinya karena lelaki itu meminta dua hal darinya. Kira-kira apa ya ? berhubungan dengan uang tidak ya ? tapi bukankah bos kakaknya itu orang kaya ? masa iya mau minta uang dari orang kecil seperti dirinya ?


"Duduk lah." titah Divta pada Raihan yang terlihat tegang.


"Maaf tuan, saya berdiri saja." jawab Raihan. Selama dia bekerja di bar itu, dia tidak pernah duduk di sofa yang kisaran harganya mencapai ratusan juta itu. Dia juga tidak berani karena takut di tegur oleh boss-nya.


"Aku bilang duduk ya duduk. Kau mau ku adukan dengan bos mu agar dia memecat mu, hm ?" tutur Divta sambil merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel.


"Baik tuan saya akan duduk. Tolong jangan adukan saya pada bos saya." tukas Raihan panik dan bergegas duduk di seberang Divta. Dia mengira jika Divta mengambil ponsel karena ingin menghubungi big boss agar memecatnya. Jadi tanpa berpikir panjang, Raihan langsung menuruti apa yang Divta minta.


Divta tersenyum menyeringai. padahal dia ingin memberi kabar pada kliennya bahwa dirinya menunggu di lantai 1. Tapi sepertinya Raihan salah menduga. Dia lalu mengetik pesan untuk si klien.


"Maaf tuan, hal apa yang anda minta dari saya ? sungguh saya tidak punya banyak uang, tuan." Raihan menundukkan kepalanya takut, yang malah membuat Divta tertawa.


"Siapa yang mau minta uang mu ? malah aku akan memberi mu uang asalkan kamu mau menuruti 2 hal yang aku inginkan." jawab Divta.


"Katakan saja tuan. Selagi itu tidak merugikan saya dan orang lain, pasti akan saya turuti."


"Ada satu pertanyaan yang sangat penting dan sangat pribadi. Juga ada satu hal yang aku minta dan kau harus memberikannya. Aku tidak bisa mengatakannya disini, jadi hubungi aku dan aku akan mencari mu nanti." ucap Divta sambil memberikan sebuah kartu nama yang baru saja dia ambil dari dalam dompetnya.


Raihan menerima kartu tersebut dan sejenak membaca nama lengkap dari si empunya.


"Divta Bintang Andromeda ? nama belakangnya seperti tidak asing." gumamnya dalam hati.


"Baik tuan. Setelah ini saya pasti akan menghubungi Anda." Raihan memasukkan kartu nama itu ke dalam saku celananya.


"Ya sudah, kau boleh pergi." Divta menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa sebab kliennya terlihat sedang berjalan menuju ke arahnya. Semetara Raihan, dia langsung pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Selamat malam tuan Divta." sapa klien tersebut dengan senyuman manis nan menggoda. Dan mereka pun terlibat dalam diskusi tentang kerjasama.


Kira-kira hal dia yang ingin Divta tanyakan dan yang ingin dia minta dari Raihan ?


Apapun itu, yang penting jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗