Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Hari pertama jadi asisten



Pukul 2 pagi, terlihat Raina sedang menyandarkan tubuhnya di headboard tempat tidurnya, dia baru saja terbangun karena mimpi buruk tentang kecelakaan yang menimpa kedua orangtuanya hingga menyebabkan orang yang telah melahirkan dan membesarkannya tersebut meninggal dunia.


Dia kembali merebahkan tubuhnya dan berguling ke sana dan kemari untuk mengusir rasa gelisah yang menyelimutinya, namun sepertinya hal itu tak berpengaruh padanya, kemudian dia memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur dan menuju ke dapur untuk mengambil minum, mungkin karena tenggorokannya kering sehingga dirinya kesulitan untuk kembali tidur.


Saat dia keluar dari kamar, ekor matanya melirik ke arah kamar Raihan yang nampak sedikit terbuka, lalu dia pun melirik ke kamar adiknya tersebut.


"Tumben sekali dia tidur tanpa menutup pintu." gumamnya.


Sudut bibirnya terangkat dan mengulas senyum tatkala melihat sang adik terlelap dengan begitu nyenyak bahkan seluruh tubuh tertutup dengan selimut. Tanpa merasa curiga sedikit pun Raina pun menutup pintu kamar Raihan.


Dia berjalan ke dapur dan mengambil minuman hangat dari dispenser, setelah itu dia duduk di kursi makan dan segera meneguk segelas air hangat tersebut hingga habis tak bersisa.


Di tempat lain, Raihan sedang berusaha menghafal nama-nama minuman beralkohol yang tersusun rapi di hadapannya. Setelah kurang lebih 7 menit akhirnya Raihan mampu menghafal semua jenis minuman yang ada di sana, kemudian dia pun mulai menjalankan tugasnya setelah dia mendapat apresiasi dari senior karena berhasil melakukan tugas pertamanya dengan cepat.


"Ya sudah kau antarkan dulu minuman itu pada lelaki yang memakai jas hitam disana." ucap senior yang sudah bekerja lebih dari 5 tahun di bar itu sambil menunjuk seorang pria tampan yang sedang duduk di sofa serta di temani dia wanita cantik nan seksi di sebelah kanan kirinya.


Dengan semangat 45 Raihan menganggukkan kepalanya dan bergegas membawa nampan berisi dua botol anggur serta 3 gelas kosong ke arah lelaki yang di maksud oleh seniornya yang bernama Andre.


"Silahkan tuan." ucap Raihan sembari meletakkan botol anggur dan gelas ke atas meja.


"Tunggu !!" seru lelaki berjas hitam itu membuat Raihan menghentikan langkahnya yang hendak berlalu pergi, dia pun berbalik badan kemudian menunduk hormat.


"Apa tuan memanggil saya ?" tanya Raihan sedikit gemetar karena takut melakukan kesalahan.


Lelaki itu tadi menjawab, dia hanya mengeluarkan dompet dari dalam saku jasnya dan mengambil beberapa lembar uang dengan nominal ratusan ribu.


"Ini tip untukmu, rajinlah bekerja dan jangan membuat kesalahan sedikitpun." ucapnya sambil memberikan uang tersebut pada Raihan.


Kedua mata Raihan membulat sempurna, ini adalah pertama kalinya dia bekerja dan diberi uang di hari pertamanya.


"Terima kasih banyak tuan, semoga kau selalu sehat, panjang umur dan banyak rezeki." ucapnya dengan antusias sambil menerima uang tersebut.


"Ya sudah sana kembalilah bekerja." lelaki itu menepis tangannya untuk mengusir Raihan kemudian dia memeluk bahu kedua wanita seksi di sebelah kanan kirinya dan memerintahkan salah satu wanita itu untuk menuangkan satu gelas anggur,


sementara Raihan segera membalikkan tubuhnya dan cepat-cepat pergi dari sana.


5 jam kemudian


Tak terasa, hari mulai menjelang pagi Raihan pun bersiap untuk segera pulang namun sebelum itu dia melepas seragam dan menggantinya dengan pakaian yang sebelumnya dia kenakan. Setelah itu dia keluar dari bar menuju area parkir dan mengambil motornya, dia harus cepat sampai rumah sebelum Raina menyadari ketiadaanya di rumah.


Sesampainya di rumah, Raihan melihat lampu di kamar Raina sudah menyala, dia merasa panik dan segera mematikan mesin motor. Dia mendorong motornya menuju garasi kemudian dia masuk ke kamarnya melalui jendela yang sengaja dia buka.


"Hufh, semoga kakak tidak menyadari bahwa aku baru saja pulang." gumamnya dalam hati.


"Raihan !!" suara Raina terdengar tiba-tiba membuat Raihan terkejut.


Dengan cepat Raihan melompat ke atas tempat tidur dan menelusupkan tubuhnya ke dalam selimut hingga seluruh tubuhnya tertutup rapat.


"Rai ?!" seru Raina lagi. Karena tak mendapat sahutan dari Raihan, Raina pun membuka pintu kamar adiknya itu dan berniat untuk membangunkannya, sebab waktu sudah menunjukkan pukul pukul 5 pagi.


"Dia belum bangun ?" ucap Raina ketika melihat Raihan masih meringkuk di bawah selimut tebal berwarna abu-abu itu.


Raina melangkahkan kakinya mendekat pada Raihan, kemudian mendaratkan bokongnya di tepi tempat tidur, sejenak dia memperhatikan selimut yang membungkus tubuh adiknya sebelum akhirnya dia mengguncang tubuh Raihan agar segera bangun.


"Dek, bangun sudah jam 5 ini. Bukannya kamu ada kelas pagi ?"


Raihan yang sebenarnya tidak sedang tidur pun berpura-pura menggeliat, dia membuka selimut yang menutupi wajahnya dan mengejapkan mata.


"Kakak." gumamnya dengan suara yang di buat sepurau mungkin untuk memaksimalkan aktingnya yang baru bangun tidur, bahkan dia mengusap kedua matanya dengan punggung tangannya.


"Ayo bangun, ini sudah jam 5." Raina mengulangi ucapannya.


Raihan duduk sambil masih mengejapkan mata,


"Aku akan mandi dulu, setelah itu aku akan membuatkan sarapan." ucapnya.


Raina menggelengkan kepalanya pelan,


"Tidak usah, kakak sudah pesan nasi uduk sama tetangga sebelah." jawabnya beranjak bangun.


"Cepatlah mandi, kakak tunggu di depan ya." imbuhnya ambil lalu.


Maafkan aku kak, aku terpaksa membohongi mu.


gumam Raihan menatap punggung Raina yang perlahan lenyap dari pandangannya.


Di kantor


"Rain, tolong kau pasang iklan ini." perintah Malik pada Raina yang terlihat sedang duduk di kursinya dan mengedit video film.


Raina melihat kertas yang di berikan oleh Malik, lalu dia mendongakkan kepalanya menatap lelaki yang juga sedang menatapnya,


"Anaknya CEO kita mencari assisten pribadi laki-laki ?" tanyanya, dia kembali membaca iklan di kertas yang baru saja dia ambil dari Malik.


"Iya, catat kualifikasinya dengan benar ya, jangan sampai ada yang di kurang-kurangi atau di tambahkan, oke ?" ucapnya sambil tersenyum tampan.


Raina mengangguk-anggukkan kepalanya paham, sepertinya dia punya rencana yang bagus untuk masa depannya dan juga Raihan.


"Baik pak."


"Oh iya Rain, kalau aku mengajak mu dinner, kau mau tidak ?" tanya Malik blak-blakan, dia menyangga tubuhnya dengan satu tangan yang bertumpu di atas meja kerja Raina.


"Maaf pak, saya tidak bisa." tolak Raina tanpa basa-basi. Dia tau Malik menyukainya, itu sebabnya dia tidak mau menerima kebaikan ataupun ajakan Malik dalam bentuk apapun, dia juga tidak mau memberi harapan pada pria yang tidak dia sukai.


Meskipun massa depan Malik terjamin, wajahnya pun tampan, tapi kalau hati gak srek mau gimana lagi ?


begitu pikirnya.


"Oh ya sudah kalau begitu, cepatlah buat iklannya ya karena pak Divta sangat membutuhkan asisten pribadi dengan segera." ucap Malik sambil mengulas senyum.


Pulang kantor


Sore ini semua pekerjaan Raina sudah dia selesaikan, dia pun memutuskan untuk pulang naik bus karena Raihan masih belum pulang kuliah. Sebenarnya masih ada satu lagi pekerjaan Raina yang belum terselesaikan tetapi dia sengaja melakukannya karena pekerjaan itu adalah peluang masa depannya yang cerah.


"Pak tolong berhenti disini." serunya pada sopir bus. Dia harus membeli perlengkapan pria sebab besok dia akan menemui HRD untuk kembali melamar kerja sebagai asisten pribadi untuk Divta Bintang Andromeda yang tak lain ialah anak dari CEO perusahaan tempatnya bekerja.


Dia turun dari bus setelah memberikan beberapa lembar uang 2ribuan pada knek bus, kemudian dia melangkahkan kakinya menuju toko perlengkapan pria.


"Selamat datang." sapa penjaga pintu menyambut kedatangan Raina yang hanya di balas dengan senyuman oleh gadis itu.


Setelah memasuki toko, Raina segera mengambil satu buah jas berwarna hitam, dasi hitam, kemeja putih dan celana dasar serta sepatu pria, lalu dia ke fitting room untuk mencobanya.


"Waaah tampan juga aku kalau pakai baju seperti ini." ucapnya memuji dirinya sendiri.


"Oke tinggal beli wig saja." dia melepaskan baju yang belum dia bayar itu dan menggantinya dengan baju yang sebelumnya dia pakai, kemudian Raina keluar dari fitting room dan bergegas ke arah kasir untuk segera membayarnya.


"Mba, apa di sini menjual wig ?" tanya Raina pada penjaga kasir.


"Ada kak, di lantai dua." sahut mba kasir dengan ramah.


Setelah mengucapkan terimakasih, Raina menitipkan belanjaannya dan berjalan menuju ke lantai 2 untuk mencari wig,


"Waaah, yang ini keren sekali." decaknya ketika melihat wig pria yang menurutnya sangat cocok dengannya. Dia pun meraih wig tersebut dan segera mencobanya.


"Waaaah aku terlihat ganteng." pekiknya saat melihat pantulan dirinya di cermin, membuat SPG yang berjaga di sana tersenyum mengejek.


Raina yang menyadari hal itu pun tak mau ambil pusing, dia juga tidak mau membuang-buang waktunya yang berharga hanya untuk mendengar cibiran dari para SPG tak berakhlak itu.


"385 ribu rupiah kak." jawab mba kasir, dan dengan cepat Raina mengeluarkan empat lembar uang seratus ribuan untuk membayar wig tersebut, setelah itu dia bergegas turun ke lantai satu dan cepat-cepat pergi dari sana


**


Raihan keluar dari kamarnya dalam kondisi yang masih sangat mengantuk, dia terlihat sangat lelah dan lesu. Sebenarnya dia malas bangun karena baru jam lalu dia pulang dari bar, tapi harus menghilangkan rasa kantuknya dan segera membuat sarapan untuk Raina.


"Eh kakak sudah bangun." gumamnya saat melihat pintu kamar Raina sudah terbuka.


Raihan lalu menuju ke arah dapur, dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat ada seorang pria berpakaian serba hitam sedang berkutat di dapurnya.


"Maling !!" teriak Raihan sambil menyambar payung yang terletak di sudut dinding dan segera berlari menghampiri pria tersebut.


"Rai ini kakak !!" teriak Raina menundukkan tubuhnya ketika Raihan melayangkan payung untuk memukulnya.


Teriakkan Raina pun membuat Raihan makin terkejut, terlebih lagi ketika sang kakak berbalik badan dan menarik kumis palsu yang melekat di bibir mungil gadis itu.


"Kakak, kenapa berpenampilan seperti ini ? kakak mau jadi pencuri, iya ?" tanya Raihan menatap Raina dengan tatapan curiga dan mengintimidasi.


Raina kembali mengenakan kumis palsunya,


"Apakah kakak sudah terlihat seperti seorang laki-laki ?" tanyanya sambil berkacak pinggang, serta kakinya sedikit mengangkang.


Raihan memperhatikan penampilan Raina dari atas hingga ke bawah, mengusap dagu dengan ibu jarinya sambil menimbang-nimbang penampilan sang kakak,


"Sudah, tapi kenapa kakak berpenampilan seperti ini ? jawab pertanyaanku. Apakah ingin menjadi seorang pencuri, detektif atau jangan-jangan kakak ingin menjadi seorang mata-mata ?" dia menghujani Raina dengan pertanyaan yang beruntun.


Raina menepuk dahinya, kenapa dia memiliki adik yang otaknya hanya sebesar biji zarah ?


dia menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, kemudian dia menarik lengan Raihan untuk segera duduk di kursi makan.


"Hari ini kakak akan melamar kerja sebagai seorang asisten pribadi anak dari bos besar kakak, kau doakan kakak ya semoga kakak diterima kerja karena gajinya 5x lipat lebih besar dari gaji kakak biasanya." ucapnya sambil memeluk leher Raihan dari belakang.


Raihan mendengus kecil, rupanya Raina rela berpenampilan layaknya seorang pria hanya demi pekerjaan dengan gaji besar ? sebenarnya dia tidak setuju dengan keinginan Raina, tapi dia juga tidak bisa menghentikan sang kakak yang keras kepala itu, semakin Raina di larang semakin Raina menentang.


"Iya, semoga saja." jawabnya terpaksa, dia berharap kakaknya itu tidak di terima dan kembali menjadi seorang editor saja.


"Duuuh adek ku ini memang yang paling ganteng." puji Raina mengecup pipi kiri Raihan yang wajahnya nampak tak bersahabat.


"Ya sudah habiskan sarapan mu, kakak sudah memesan taksi online dan sekarang drivernya sudah di depan. Kakak berangkat dulu ya sayang." dia mengecup pipi Raihan lagi, kemudian dia meraih roti bakar yang sudah di gigit oleh Raihan.


"Daah sayang." dia berlari sambil melambaikan tangannya.


"Menyebalkan sekali sih." desis Raihan kesal, namun beberapa detik kemudian dia tersenyum hangat.


Di kantor


Raina berjalan dengan gagah sambil membawa sebuah amplop coklat yang berisi tentang CV dan surat lamaran kerja.


"Selamat pagi pak, apakah benar kantor ini sedang membutuhkan sistem pribadi untuk anak dari pemilik perusahaan?" tanya Raina pada security dengan suara yang mirip seperti lelaki.


Security itu sejenak memperhatikan penampilan Raina dari atas hingga bawah,


"Kalau aku perhatikan, wajah mu sedikit mirip dengan karyawan disini." ucapnya sambil terus menatap Raina.


"Gawat bagaimana ini ? jangan-jangan pak Eko menyadari penyamaran ku ?" gumam Raina dalam hati, dia pun berdehem untuk mengalihkan rasa gugupnya.


"Ah bapak bisa saja, jadi apa benar anak dari bos besar di sini sedang membutuhkan seorang asisten pribadi ?" tanya Raina lagi.


Eko menganggukkan kepalanya,


"Silahkan masuk ke lantai 3 untuk menemui HRD, ruangannya berada tak jauh dari pintu lift." jawabnya ramah.


Setelah mengucapkan terimakasih, Raina segera melangkahkan kakinya dengan gagah menuju ke lift.


"Huh syukurlah pak Eko tidak mengenali ku." dia pun menghembuskan nafas lega.


"Tunggu !!" teriak seseorang dari belakang menghalau pintu lift agar tidak tertutup.


"Gawat, pak Alka dan Dion." pekik Raina, dia menutupi wajahnya dengan amplop coklat di tangannya, namun sedetik kemudian dia sadar bahwa dirinya sedang menyamar jadi tidak mungkin ketahuan, bukan ?


"Pak, jadi benar Raina izin tidak masuk kerja karena sakit ?" tanya Dion pada Alka.


"Iya, kenapa ? kau sudah kangen ?" ledek Alka sambil terkekeh geli.


"Permisi." ucap Raina ketika suara dentingan dari lift terdengar serta pintu yang sudah terbuka, dengan buru-buru dia keluar karena dia tidak ingin mendengar obrolan Dion dan Alka yang membicarakan dirinya.


Raina segera menuju ruangan yang di bagian depan pintunya tertera huruf HRD, kemudian dia mengetuk pintu tersebut. Tak lama terdengar suara sahutan dari seseorang yang berada di dalam untuk mempersilakannya masuk.


Raina pun membuka pintu tersebut, dan nampaklah dua orang pria sedang duduk saling berhadapan.


"Permisi pak." Raina membungkukan setengah tubuhnya.


"Saya ingin melamar pekerjaan sebagai asisten pribadi pak Divta." ucapnya dengan tegas namun sopan.


"Panjang umur sekali, sedari kemarin tidak ada email masuk untuk melamar pekerjaan, dan kau adalah orang pertama yang datang kemari untuk itu." ucap kepala HRD bernama Doni.


"Tentu saja tidak ada yang melamar, karena aku tidak memasang iklannya." batin Raina tertawa puas.


Sementara orang yang duduk hadapan Doni terlihat sedang membalikkan tubuh dan kini menatap Raina dari ujung kaki ke ujung kepala, menilai serta menimbang-nimbang apakah cocok atau tidak untuk di jadikan asisten.


"Pak, apakah saya yang harus mewawancarainya atau anda sendiri ?" tanya Doni dengan sopan.


Ya, lelaki yang saat ini menatap Raina adalah orang yang sedang mencari asisten pribadi, yaitu Divta Bintang Andromeda. Pemuda itu berusia 28 tahun. Lelaki yang tubuhnya 15cm lebih tinggi dari Raina, memiliki paras tampan dan wajahnya seperti bule.


Divta memberikan kode pada Doni melalui lirikan mata, kemudian dia beranjak dari kursinya dan keluar dari ruangan tempat perekrutan karyawan itu.


"Mari silahkan." ucap Doni mempersilahkan Raina duduk.


Setengah jam kemudian Raina di antarkan oleh Doni ke lantai teratas, setelah melalui beberapa ruangan kini mereka berdiri tepat di depan sebuah pintu yang di design dengan sangat indah dan terlihat begitu unik.


Doni mengetuk pintu itu dan langsung mendapat sahutan dari seseorang di dalamnya.


"Pak setelah saya wawancarai Raihan, saya yakin dia pantas untuk di jadikan asisten pribadi Anda." ucap Doni.


Divta menganggukkan kepalanya kemudian menepis tangannya bermaksud mengusir Doni agar segera pergi.


Setelah Doni keluar dari ruangannya, Divta membalikkan kursi kebesarannya dan kini dia dan Raina saling berhadapan, untuk sejenak pandangan mereka saling terkunci.


"Siapa nama mu ?" tanyanya tanpa ekspresi.


"Saya Raihan tuan." sahut Raina dengan singkat, padat dan jelas. Pose yang Raina tunjukkan saat ini adalah, kedua tangan dia tekuk di belakang tubuhnya serta kakinya sedikit mengangkang. Persis, seperti seorang bodyguard.


"Aku harap kau tidak mengecewakan aku." Divta menggeser sebuah dokumen yang terletak di atas mejanya, tepat di hadapan Raina.


"Pelajari, itu semua adalah peraturan serta list pekerjaan yang harus kau lakukan selama menjadi asisten pribadi ku." imbuhnya.


"Maaf pak, apakah saya bekerja mulai hari ini?" tanya Raina.


"Ya, duduklah di meja yang ada di ujung sana, dan pelajari semua peraturan yang tertulis di bekas itu." perintah Divta.


"Baik pak." Raina meraih berkas tersebut dan membawanya ke meja yang tadi di tunjuk oleh bos barunya, dan fix Raina akan mengundurkan diri sebagai editor karena mulai hari ini dia akan bekerja sebagai asisten pribadi dari Divta Bintang Andromeda.


__


Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗