Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Menikmati senja



Bulatan matahari yang menguning telur dan semburat jingga saat senja seperti menghipnotis siapapun yang memandangnya. Sama halnya seperti Raina yang nampak fokus menatap langit yang terlihat begitu indah serta matahari yang hendak terbenam. Dia sedang membayangkan menikmati keindahan tersebut bersama Raihan yang tanpa dia tahu bahwa saat ini sang adik tengah berada di rumah sakit karena kecelakaan.


Sementara Divta, dia duduk di sebelahnya sembari memotret Raina secara diam-diam. Sudut bibirnya tak henti-hentinya mengulas senyum memperhatikan bercak merah di leher gadis itu, sambil membayangkan jika dia sedang melakukan itu bersama Raina.


"Oh shit, kenapa aku berfikiran mesum terus sih ?" desis Divta frustasi. Terlebih lagi mereka sedang berada di balkon kamar hotel dan hanya berdua. Fix, otak mesumnya mulai berkelana.


Kali ini Divta sadar, mengapa setiap kali di dekat asistennya itu dia merasa bergairah. Dia sempat berfikir jika dirinya biseksual karena menyukai sesama jenis juga, tapi ternyata tidak. Asistennya adalah seorang wanita yang cantik, manis dan seksi. Ya seksi, karena dia pernah melihat keseksian tubuh Raina saat bangun tidur. Tubuh yang sebelumnya hanya di lihat saat belajar biologi di sekolah dan saat dia sedang bermimpi banjir. Bahkan dia pernah dengan sengaja dan tidak sengaja menyentuh dada Raina yang di samarkan dengan korset. Ya ampun, begitu empuk, pikirnya.


Jika mengingat itu, rasanya ingin sekali Divta melahap Raina lagi. Ingin sekali dia menepuk dan menciumi wajahnya yang cantik itu, tapi bagaimana caranya ? bukankah dia sudah memutuskan untuk pura-pura tidak tau kalau Raina adalah seorang wanita ? huh, menyiksa sekali.


"Tuan." suara Raina menyadarkan Divta dari lamunannya. Pemuda itu nampak gelagapan dan bergegas menegakkan tubuh yang sebelumnya bersandar di sandaran kursi.


"Iya, kenapa ?" tanya Divta gugup, dia pun berpura-pura mengecek pesan di ponselnya sebab dia takut kalau kalau dia ketahuan telah memperhatikan dan memotret Raina.


"Kenapa dari tadi Anda memperhatikan saya ?"


Deg !! yang di takutkan Divta pun akhirnya terjadi, Raina melontarkan pertanyaan yang sulit di jawab oleh Divta. Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebagai dalihnya, sementara otaknya sedang berfikir keras tentang jawaban apa yang harus dia berikan pada Raina.


"Aduh leher ku gatal sekali. Kau tanya apa tadi ?" ucap Divta yang sudah mendapat jawaban untuk dia lontarkan pada Raina.


Raina menarik nafasnya dalam-dalam,


"Kenapa Anda memperhatikan saya ? tidak mungkin Anda menyukai saya kan ?" ucapnya menuduh dengan nada mengintimidasi, serta tatapannya yang menaruh curiga terhadap bosnya itu.


"Cih, besar sekali nyali mu. Aku hanya melihat leher mu sambil berfikir, nyamuk mana yang berani menggigit lelaki datar dan cuek seperti mu ? bahkan bekasnya sampai seperti itu." sahut Divta mencibir.


Raina mengerucutkan bibirnya kesal, dia lalu menyilang kedua tangannya di atas perut dan kembali menikmati langit senja yang sebentar lagi akan bergulir menjadi malam.


"Rai, sepertinya aku menyukai Amanda." celetuk Divta tiba-tiba yang seketika membuat kedua mata Raina terbelalak kaget.


Gadis itu terhenyak mendengar penuturan Divta yang mengatakan jika pemuda itu menyukai Amanda yang tak lain ialah dirinya sendiri.


"Dia pacar saya tuan, silahkan anda cari wanita lain." cetus Raina, rasa ketidaksukaan begitu terlihat di wajahnya. Dia akui Divta memang tampan dan kaya, tapi dia sungguh tidak menyukai sifatnya yang playboy, pakboy dan badboy. Apalagi dia pernah melihat Divta memangku dan mencium wanita tepat di depan matanya.


Cih, aku tidak sudi di sukai olehnya.


desisnya menggerutu dalam hati.


"Terserah dirimu, aku sudah putuskan untuk mengejar Amanda." jawab Divta menirukan gaya bicara Raina yang ketus.


"Terserah anda, saya pastikan Amanda tidak akan pernah muncul lagi di hadapan Anda."


"Hahaha !!" kekehan itu kini berubah menjadi tawa yang terbahak-bahak. Divta mengingat tentang dirinya yang di bodohi oleh Raina karena menganggap wanita itu adalah seorang pria. Tapi memang dia bodoh sih, sudah jelas Raina tidak memiliki jakun, dan juga kulit tangannya sangat halus melebihi dirinya.


"Bagaimanapun juga, aku pasti akan mendapatkan Amanda. Tidak peduli itu pacar mu atau bukan, yang jelas aku sudah terlanjur jauh cinta padanya." Divta mengacak rambut Raina karena merasa gemas, kemudian dia beranjak dari kursi dan masuk ke kamar.


Raina mencebikkan bibirnya sambil sebelah tangannya terangkat untuk menyentuh kepalanya yang baru saja di usap oleh Divta.


"Apa-apaan dia ? aku bukan anak kecil yang harus di acak-acak rambutnya karena gemas. Suek." sungutnya.


Sementara di tempat lain, Raihan dan seorang gadis yang baru beberapa jam lalu menabraknya itu terlihat saling diam dan sesekali melempar pandangan. Sudah setengah jam berlalu mereka dalam keheningan, membiarkan sinar matahari senja masuk ke ruangan dengan aroma obat-obatan yang mendominasi.


Raihan sedang berkecamuk dalam pikirannya, apakah dia harus memberitahu Raina tentang keadaannya atau memilih diam. Sementara gadis yang duduk di sebelah bangsal tempatnya berbaring itu hanya sibuk menatap layar ponsel yang hitam.


Suara ketukan pintu pun membuyarkan lamunan, pandangan mereka kini mengarah ke pintu yang menampakkan wajah seorang dokter wanita yang masih terlihat muda dan cantik.


"Selamat sore." dokter itu masuk dan menghampiri Raihan.


"Saya cek dulu ya." ucapnya kemudian memeriksa keadaan Raihan.


Apa sedari tadi mereka hanya diam membisu seperti itu ?


gumam sang dokter dalam hati yang tidak mendengar suara dari Raihan maupun gadis yang duduk menunggu.


"Baiklah, besok Anda sudah bisa pulang. Hanya saja, Anda harus menggunakan kursi roda untuk beberapa hari sampai gips nya bisa di lepas." tutur sang dokter dan hanya di angguki saja oleh Raihan dan gadis tersebut.


Setelah selesai memeriksakan kondisi Raihan, dokter itu pun pamit undur diri.


"Aku Daisya." akhirnya gadis itu mengeluarkan suaranya.


Ya, dia adalah Daisya adik dari Divta. Gadis itu secara tidak sengaja menabrak motor Raihan karena dia sedang mengantuk sehingga tidak fokus mengendarai mobilnya, dan berakhir membuat Raihan celaka.


"Raihan." sahut pemuda yang sedang terbaring itu.


"Maafkan aku ya, aku tidak sengaja menabrak mu. Aku janji aku akan bertanggung jawab merawat mu sampai kaki dan luka mu sembuh." ucap Daisya.


Raihan diam, dia sedang berfikir apakah dia akan mengizinkan Daisya merawatnya atau tidak. Di satu sisi, dia tidak ingin menceritakan kondisinya pada sang kakak karena pasti akan membuat gadis itu khawatir serta menggangu pekerjaannya, tapi dia juga tidak bisa melakukan semuanya sendiri karena dia belum bisa berjalan.


Akhirnya, dia menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia setuju membiarkan Daisya merawatnya sampai sembuh.


Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 dan votes sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗