Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Membuatmu terbiasa



Malam ini, Divta mengajak Raina (dalam bentuk Amanda) ke apartemennya. Dia sudah memiliki planning untuk membuat gadis itu terbiasa dengan kehadiran dan juga sentuhannya. Dia yang memang dinyatakan sedang dalam kondisi kurang sehat pun memanfaatkan kesempatan itu untuk memaksa Raina merawatnya. Atau lebih tepatnya, Amanda menggantikan posisi Raihan selama dia sedang sakit. Divta berfikir : hah, licik sekali aku.


Trik yang saat ini Divta lakukan adalah berpura-pura pusing. Ya, pemuda itu terlihat lemas tak berdaya. Ditambah lagi kulit wajahnya yang nampak pucat, menambah kesan bahwa dia memang benar-benar sedang sakit. Jadi dia meminta Raina untuk memijat kepalanya.


Sedangkan Raina yang masih mengenakan dress selutut, pun hanya bisa menuruti keinginan sang majikan.


“Kenapa kamu masih berdiri disitu ?” tanya Divta tatkala melihat Raina tegak di sampingnya.


Raina mengerutkan dahinya bingung. Bukankah selama ini dia memijat Divta dengan posisi dia berdiri ? lalu sekarang harus bagaimana ? apa harus dengan gaya jongkok atau gaya kodok ?


“Terus saya harus bagaimana, tuan ?” tanyanya.


Divta tersenyum penuh maksud, kemudian dia meminta Raina untuk duduk di tepi tempat tidur. Dan Raina pun segera mematuhi perintahnya. Setelah itu, Divta ambil posisi untuk merebahkan tubuhnya dan hendak meletakkan kepalanya di atas kedua paha Raina. Namun realitanya melebihi batas normal dan diluar ekspetasi. Raina malah dan sontak saja dia berdiri, menyebabkan Divta terguling kemudian dia terjatuh dari atas tempat tidur.


“Aaaah !!” teriak Divta saat suara gubrak bersumber dari tubuhnya yang terhempas ke lantai.


Raina terlonjak kaget melihat itu. Dia pun segera berjongkok untuk membantu Divta bangun.


“M-maafkan saya tuan. Saya tidak sengaja.” dia merasa sangat bersalah atas tindakannya tadi. Tapi menurutnya, hal itu wajar saja dia lakukan sebab posisi Divta dan dirinya tadi terlihat sangat intim. Dia tidak pernah seperti itu. Terakhir kali Divta memeluknya dia sampai tak sadarkan diri saking dia merasa panik dan takut karena tubuhnya melakukan kontak fisik dengan laki-laki lain.


Sedangkan Divta, akibat terjatuh kini dia merasakan sakit di bagian bahu dan pinggulnya. Tapi tidak separah itu. Hanya saja, dia melebih-lebihkan rengek’annya agar Raina tidak lagi melakukan hal yang sama padanya. Agar Raina menuruti keinginanya. Dan agar dia bisa bermanja-manja pastinya.


“Tubuhku rasanya sangat sakit sekali.” Dia merengek layaknya seorang anak kecil yang ingin dimanja ibunya.


“Bagian mana yang sakit, tuan ?” tanya Raina semakin panik melihat wajah Divta yang semakin pucat.


“Bahu ku, lengan ku, pinggul dan juga kaki ku sepertinya terkilir. Aku tidak bisa bangun.” jawab Divta sambil menyentuh bagian-bagian tubuh yang baru saja dia sebutkan.


Raina yang merasa bersalah pun tidak punya pilihan lain. Di apartemen itu hanya ada dirinya dan Divta. Sebenarnya dia ragu ingin memapah Divta. Dia takut akan pingsan lagi karena serangan panik yang mungkin saja akan datang saat tubuhnya melakukan kontak dengan pria lain. Tapi, meskipun begitu dia tetap melakukannya. Sambil hatinya berdoa agar dia bisa bertahan sampai dia berhasil membantu Divta naik ke atas tempat tidur.


“Mari tuan.” dia mengangkat kepala Divta. Kemudian dia meletakkan tangan pemuda itu ke bahunya dan bergegas membantu Divta berdiri.


“Aah !” pekik Divta pura-pura kesakitan sambil tangannya merengkuh tubuh Raina dengan erat.


“Ini benar-benar sakit.” imbuhnya merengek. Dia bisa merasakan tubuh gadis itu mulai menegang saat dia memeluknya. Namun dia terus melakukannya dan berusaha membuatnya terbiasa. Dia akan menunggu waktu sampai saat dia bisa mendapatkan kesempatan untuk menyatakan perasaannya.


Raina yang mulai berkeringat pun mempercepat gerakannya. Dengan terpaksa dia mengulurkan tangannya dan memeluk Divta.


“Pelan-pelan saja tuan.” dia mengangkat tubuh lelaki itu. Setelah Divta berhasil duduk di tepi tempat tidur, Raina membantu Divta merebahkan tubuh dan kepala pemuda itu. Kemudian mengangkat kedua kakinya dengan sangat hati-hati.


“Sekali lagi tolong maafkan saya, tuan.” tutur Raina sembari kepalanya menunduk lesu. Dia memilin jari-jari tangannya di depan. Menunjukkan bahwa dia merasa bersalah dan ketakutan. Dia takut akan di tuntut atas tindakan kekerasan antara pembantu dan majikan. Ah, sepertinya pikiran jelek Raina mulai berkelana kemana-mana.


Lebay.com


“Maafkan saya. Apakah anda masih ingin di pijat ?” tutur Raina menawarkan diri.


Nah kan, apa ku bilang. Dia pasti akan melakukan itu.


Divta tersenyum menyeringai.


“Tentu saja, tapi aku mau kepalaku berpangku padamu.” sahut Divta dengan nada yang lebih manja dari sebelumnya. Dia sengaja melakukan itu, agar Raina merelakan kedua pahanya sebagai bantal.


Raina terlihat diam dan kembali menunduk. Sepertinya dia sedang berpikir keras. Apakah dia harus menuruti keingin sang bos atau tidak. Tapi setelah mengingat kembali kesalahan yang dia lakukan beberapa menit lalu, akhirnya dia menganggukkan kepalanya.


Diam-diam, Divta tersenyum penuh kemenangan melihat Raina duduk tepi tempat tidurnya. Dengan senang hati dia mengangkat kepala dan meletakkannya di atas kedua paha Raina.


“Aaah betapa nikmatnyaaa cicilan surga dunia ini.” batinnya berteriak kegirangan saat merasakan tekanan demi tekanan jemari Raina di kedua pelipisnya.


Selama di pijat oleh Raina, Divta terus saja berceloteh ria. Menceritakan tentang dirinya, kakak dan adiknya serta keluarga besarnya. Dia juga menceritakan masa kecilnya. Masa sekolah dan masa kuliahnya yang mengesankan.


Tanpa terasa sudah 20 menit berlalu. Divta mendengar suara menguap dari mulut Raina dan perlahan tekanan dari pijatannya pun merenggang. Lalu, Divta menengadahkan wajahnya. Dia melihat kedua mata gadis itu tertutup.


“Kau memang selalu cantik bahkan saat kau lagi tidur seperti ini.” gumamnya.


Divta beranjak bangun dengan sangat pelan agar tidak mengganggu tidur Raina. Kemudian dia merebahkan tubuh Raina dan membuat gadis itu senyaman mungkin. Dia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Raina. Memeluknya dan mengecup pipinya. Cukup lama, dia menempelkan bibirnya di pipi gadis itu. Hingga keinginan untuk mellumat bibir pun mencuat ke permukaan jiwanya.


“Aku akan pelan.” dan dia pun melakukannya, dengan sangat pelan agar si empunya tidak terbangun dan menyadari bahwa dirinya sedang mengambil kesempatan dalam kelapangan.


Setelah dia merasa puas. Divta melepaskan pautan bibirnya dari bibir Raina. Kemudian dia menyusuri leher Raina dengan lidahnya.


Sejenak dia terdiam, tiba-tiba saja dia teringat akan perkataan Raina yang mengira bekas ciumannya itu adalah bekas gigitan nyamuk.


Dia pun terkekeh pelan. Betapa lucunya gadis itu, begitu pikirnya.


Akhirnya, dia memberikan satu bekas merah di leher gadis itu.


“Satu hal yang harus kau tau, sayang. Nyamuk besar itu, adalah aku.” Divta berbisik di telinga Raina saat setelah dia mengecup kilas dahinya.


Untuk menghindari rasa panik ketika Raina bangun nanti. Divta memilih untuk tertidur di tepi yang bersebrangan dengan Raina dan meletakkan guling diantara dirinya dan Raina. Kemudian dia ikut terlelap karena hari telah gelap.


Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗