
Ternyata begini ya, rasanya jauh dari pacar.
gumam Raina dalam hati karena merasa kesepian. Biasanya di saat malam, dia selalu bercanda bersama Divta. Tapi sekarang, makan pun dia merasa tidak enak. Padahal sedari pagi perutnya belum terisi karbohidrat.
"Rain, ayolah cepat di makan." desak Dealova sambil menyodorkan sesendok nasi ke mulut Raina.
Raina memundurkan kepalanya menjauh dan menggeleng pelan. Entah kenapa hari ini dia tidak nafsu makan. Selain tidak merasa lapar, perasaannya juga sedikit tidak nyaman.
"Aku tidak lapar." ucapnya sembari mengerucutkan bibirnya.
Dealova menghela nafas panjang.
"Aku akan melaporkannya pada Divta kalau kau tidak mau makan. Dengan begitu dia akan pulang dan proyeknya pasti akan gagal." ucapnya lalu beranjak dari sofa.
"Eeeh iya iya, aku makan. Kau jangan beritahu Divta." pekik Raina berusaha meraih tangan Dealova namun gagal karena dia tidak tau dimana temannya itu berada.
Dealova tersenyum menyeringai.
"Kenapa tidak dari tadi kau bilang begitu. Menyebalkan." gerutunya pura-pura kesal dan langsung menyendok makanan ke mulut Raina yang tertawa kecil.
Setelah makanan telah habis, Raina dan Dealova duduk di ruang TV. Karena Raina tidak bisa melihat, alhasil Dealova membantu Raina untuk menceritakan apa yang di tayangkan di berbeda pergi empat yang besar itu.
"De, aku ingin minum susu rasa stroberi." ucap Raina tiba-tiba.
"Hmm tapi stok susu di lemari sudah habis. Kalau begitu aku akan pergi ke supermarket dulu ya." ujar Dealova lalu beranjak dari sofa untuk bersiap pergi ke supermarket.
Raina mengangguk senang,
"Terimakasih ya, De. Maaf aku merepotkan mu."
"Iya. Sebagai bayarannya, kau harus mengizinkan aku mencicipi bibirnya Divta ya." sahut Dealova sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lalu memanggil Rumania agar menjaga Raina dan memberikan apapun apa yang Raina minta. Kemudian, dia pergi untuk membelikan susu sesuai dengan yang di inginkan oleh teman barunya itu.
"Bi, bisakah kau telepon Divta ? aku ingin mendengar suaranya." pinta Raina ketika dia tau bahwa ada seseorang yang duduk di sebelahnya.
"Baik, nona." sahut Rumania dengan sopan. Dia bergegas mengambil ponselnya dan mengubungi Divta.
"Bagaimana ?" tanya Raina saat sambungan telepon tidak juga terhubung.
"Maaf nona, tapi tuan Divta tidak mengangkat telponnya." jawab Rumania yang langsung membuat Raina menunduk lesu.
Ada rasa sesal dalam hati Raina karena mengusir Divta tadi. Tapi sisi lain dalam dirinya berkata, Divta hanya pacar mu, bukan suami mu. Lagipula dia sedang bekerja, bukan untuk selingkuh di belakangmu.
"Tapi tetap saja aku kesepian kalau tidak ada dia." gumamnya tanpa bersuara.
Gumaman Raina, tentu membuat Rumania menyunggingkan senyuman. Masa-masa pacaran memang sangatlah manis dan gurih. Seperti halnya salad buah yang di taburi coklat dan keju. Rasa manis dari buah dan coklat, serta gurih dari mayonaise dan keju bercampur menjadi satu.
"Aaah apa nona mau saya buatkan salad buah ?" tanya Rumania yang tiba-tiba saja terpikirkan untuk membuat cemilan sehat itu. Karena sepertinya, suasana hati Raina sedang buruk, jadi dia berusaha menaikkan mood booster kekasih dari tuannya itu.
Raina tersenyum semangat dan mengangguk cepat, membayangkan salad buah yang segar membuat air liurnya serasa mengalir melalui sudut bibirnya.
"Baiklah, saya buatkan dulu ya, nona." ucap Rumania langsung beranjak dari sofa dan melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur untuk membuatkan salad buah yang segar dan sehat untuk Raina.
Di waktu yang bersamaan, ada seorang lelaki yang baru keluar dari lift. Dan dia bergegas sembunyi di balik tiang penyangga gedung yang letaknya tak jauh dari lift.
"Kebetulan sekali gadis itu keluar." gumamnya sambil tersenyum semirik.
Setelah gadis yang maksudkan masuk ke dalam lift dan memastikan jika semuanya akan, pemuda itu pun keluar dari persembunyian. Kemudian dia berjalan dengan santai menuju ke apartemen Divta untuk menemui wanita pujaannya.
Dengan penuh semangat dia menekan bel. Dia merapikan penampilannya yang memang sudah rapi dan wangi. Alasannya melakukan itu hanya agar dia terlihat perfect di mata Raina.
"Bi, tolong bukakan pintu." seru Raina ketika dia mendengar suara bel pintu terus berdering.
Sementara orang yang di panggil, sedang berada di dalam kamar mandi untuk memenuhi panggilan alam yang tiba-tiba menyerunya sehingga dia tidak mendengar adanya suara bel maupun panggilan dari Raina.
"Haah bibi kemana sih ? atau di kamar mandi ya ?" gumam Raina lagi beranjak dari sofa.
Dia yang sudah hafal jarak antara sofa dan pintu, pun melangkah pelan sambil mengulurkan tangannya untuk penunjuk jalannya.
Ketika sampai di pintu, dia lalu membukanya.
"Iya ?" ucapnya tanpa tau siapa yang berada di hadapannya saat ini. Namun, dia bisa mengenali apa parfum dari seorang yang berada di hadapannya.
"Kamu !" Raina meraih pintu karena ingin menutupnya, namun gagal karena tubuhnya sudah di raih oleh Yudha dan di peluk sedemikian eratnya.
"Aku sangat merindukan mu, sayang." ucap Yudha.
"Lepaskan aku !" pekik Raina berusaha mendorong tubuh Yudha.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu. Ayo kita menikah. Aku siap membesarkan anak dalam kandungan mu walau dia bukan anak ku. Ayo kita menikah" ujar Yudha.
"Aku tidak akan menikah dengan mu. Lepaskan aku !" Raina memberontak kuat, tetapi usaha gagal karena kekuatannya tak sebanding dengan Yudha.
"Aku tidak peduli, ayo kita pergi dari sini." Yudha membopong tubuh Raina dan membawanya pergi.
"Hei !" langkah kaki Yudha yang hendak masuk ke dalam lift, pun seketika berhenti dan menoleh ke belakang.
"Mau kau bawa kemana Raina ?!" sentak seseorang yang baru keluar dari apartemen.
Dialah Darius.
"Kak Iyus, tolong aku." Raina mengguncang tubuhnya dari dekapan Yudha sambil menangis. Dia berharap Darius mau menolongnya untuk melepaskan diri dari Yudha.
"Cih, bukan urusan mu. Aku hanya ingin menawarkan pulang tunangan ku." desis Yudha acuh lalu masuk ke dalam lift.
Darius tersenyum licik. Dia berlari menghampiri Yudha dan menariknya keluar dari lift kemudian melayangkan sebuah pukulan keras di pipi pemuda itu.
"Aaargh." Yudha merintih menahan sakit, dan bergegas menurunkan Raina dari gendongannya.
Hal itu, dimanfaatkan oleh Darius untuk menarik tangan Raina dan memeluknya.
"Kau baik-baik saja, kan ?" tanyanya khawatir sambil mengusap pipi Raina yang basah akibat cairan bening yang sedari tadi mengalir.
Raina mengangguk pelan. Dia tidak sanggup berkata apa-apa sebab dia masih ketakutan jika tubuhnya pun gm bergetar.
"Di depan pintu apartemen di lengkapi CCTV. Jika kau masih berani menemui Raina, aku pastikan kau akan mendekam di penjara atas tuduhan penculikan." ancam Darius segera membawa Raina ke apartemen Divta.
Yudha menyeka sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan Darius.
"Aaargh !!!" dia meninju dinding hingga buku-buku jarinya mengeluarkan darah. Kenapa Darius harus keluar disaat yang tidak tepat. Padahal tinggal beberapa detik lagi dia berhasil membawa Raina pergi.
Adu du duuuh, Raina jadi rebutan ya gaes.
Jangan lupa klik 👍 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗