Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Kedatangan Arumi



Warning !!


Mengandung tema dan muatan dewasa. Bagi pembaca yang belum cukup umur dan tidak nyaman dengan konten tersebut dianjurkan untuk tidak membacanya.


...SELAMAT MEMBACA !...


...❤️❤️❤️...


Aku sangat beruntung bertemu dengan mu, sayang. Begitulah hati Divta berkata dengan penuh rasa bangga. Meskipun dia sudah dua kali jatuh cinta, tetapi ini adalah kali pertama dia merasa sangat bahagia memiliki kekasih seperti Raina.


"Ya sudah, ini minumlah." dia menempelkan tepi gelas berisi anggur tersebut ke bibir Raina kemudian menyuapinya. Dan dengan senang hati Raina meminumnya. Seteguk, dua teguk gadis itu menelannya.


"Enak kan ?" tanya Divta, dan Raina hanya mengulas senyum sebagai tanda bahwa dia mengiyakan bahwa minuman itu sangatlah enak. Sungguh polosnya gadis itu.


"Apa aku boleh mencium bibir mu ?" Divta mulai menggoda.


Raina terbelalak. Dengan segera dia menarik masker yang masih menggantung di bawah dagunya untuk menutupi bibirnya. Kemudian menggelengkan kepalanya kuat.


"Kalau begitu, aku cium kedua matamu, ya ?" suara Divta terdengar semakin menggoda.


Raina terbelalak lagi. Dia pun menaikan maskernya dan menutupi matanya. Kemudian menggelengkan kepalanya lagi.


Divta terkekeh pelan.


"Ya sudah aku cium bibir mu." dia mendekatkan wajahnya hendak mencium Raina. Namun, dengan sigapnya gadis itu kembali menurunkan maskernya untuk menutupi mulut seraya memundurkan kepalanya.


Divta tersenyum licik. Dia meraup kedua pipi Raina dan langsung mengecup bibir gadis yang tertutup masker itu.


"I love you." ucapnya saat bibirnya masih menempel di atas kain yang melindungi bibir Raina. Membuat si empunya diam membeku. Kemudian dia menggigit kecil bibir bawah Raina hingga garis itu terhenyak.


Ya ampun, jantung ku kenapa deg-degan seperti ini ?


gumam Raina merasa salah tingkah karena habis di cium. Padahal, dia sudah sering mendapat serangan mendadak, tapi entah kenapa dia masih saja menegang setiap kali pemuda itu menyerangnya.


Setengah jam kemudian, Raina sudah nampak mabuk berat. Gadis itu bahkan tidak sadar dimana kini dia berada. Yang di lihatnya hanya sebuah bayangan ketika dia sedang bersama kedua orangtuanya serta adiknya. Sungguh moment yang membahagiakan.


Dan hal itu pun di manfaatkan oleh Divta. Dia memeluk Raina dan menyandarkan kepala gadis itu ke bahunya.


"Sayang, bolehkah aku bertanya sesuatu ?" tanyanya sambil mengusap lembut punggung tangan Raina.


Raina mengangguk pelan. Telinganya mendengar suara sang ayah ingin menanyakan sesuatu padanya. Dia lalu memeluk Divta dengan begitu erat dan menenggelamkan wajahnya di ketiak pemuda itu.


"Silahkan saja yah.." gumamnya.


Divta bingung. Entah dia harus memulai dari mana. Dia takut akan terjadi suatu hal yang buruk jika nanti dia melaksanakan rencana yang sudah dia susun tadi.


"Tidak apa-apa Div, ayo lakukan." ucapnya dalam hati.


Divta menarik nafas dalam,


"Sayang, aku ingin bertanya. Sebenarnya hal apa yang membuat mu selalu pingsan setiap kali aku memeluk mu atau bahkan mencium mu ?"


Hening...


"Sayang ??" panggil Divta yang bingung karena tadi mendapat respon dari Raina. Dia pun mendongakkan wajah Raina.


"Hah ? tidur ?" pekiknya terkejut.


"Astaga..." Divta menepuk dahinya frustasi. Niat hati ingin mencari informasi perihal masa lalu Raina, malah berakhir sia-sia.


Keesokan harinya


Kicauan burung membelah kesunyian pagi disertai dengan cahaya kuning keemasan yang membuat kita terbangun dari mimpi. Sejuk angin pagi pun seolah menambah semangat kita memulai hari, rasanya begitu segar dan nyaman. Tak mau kalah. Embun-embun kecil pun, mencoba menarik perhatian kita dengan memancarkan kilaunya yang indah. Dari luar, nampak orang-orang dengan semangat mengawali hari dengan senyuman hangat, sehangat mentari pagi.


Lain halnya dengan dua orang yang masih terlelap di ruangan dan tempat tidur yang sama. Siapa lagi kalau Divta dan Raina.


Ya, mereka masih terlelap dengan posisi Divta terlentang. Sebelah tangannya merentang di atas kepala Raina sementara wajah Raina berada di bawah ketiaknya sambil memeluk tubuh kekar pemuda itu.


Sinar matahari yang masuk seketika menerpa wajah Raina dan membuat kedua mata gadis itu mengerjap. Yang pertama kali di lihatnya adalah wajah Divta dari arah samping. Awalnya dia berfikir jika dia masih bermimpi. Tapi ketika dia menyadari bahwa dia memeluk Divta, seketika dia berteriak.


"Aaaaaaaaaah !!" suaranya begitu melengking hingga mengagetkan Divta. Pemuda itu reflex bergerak dan setengah menindih tubuh Raina dan menutup mulut gadis itu.


"Emmmmmmph." Raina memberontak.


"Sssst, kenapa kamu teriak-teriak sih. Ini masih pagi. Mengagetkan saja." desis Divta menutup mulut Raina dengan telapak tangannya.


"Emmmmph (lepaskan aku)" namun Divta tak mengindahkannya, dan malah terkekeh. Alhasil dia menggunakan lututnya untuk menyentak bawahnya Divta.


"Aaaaargh !!" kali ini Divta berteriak. Dia menghempaskan tubuhnya dan menjauh dari Raina. Dia merintih kesakitan sambil memegangi harta berharganya.


"Masa depan kita sayaaaaang." dia meringkuk tak kuasa menahan sakit.


Raina yang melihat itu pun terkejut hingga dia menutupi mulutnya yang menganga menggunakan kedua telapak tangannya.


"Ka-kamu baik-baik saja kan ? maaf a-aku tidak sengaja." wajahnya terlihat begitu ketakutan menyaksikan Divta yang seperti hendak meregang nyawa.


"Kamu tega sayang. Apa kamu ingin membunuh ku." suara Divta terdengar begitu lirih.


"Tidak. Iya. Eh bukan. Bukan seperti itu. Aku hanya tidak sengaja." Raina mendekati Divta dan menyentuh lengan pemuda itu serta mengusapnya. Wajahnya terlihat sangat panik dan takut bercampur khawatir. Dia benar-benar tidak sengaja. Dia juga tidak tau jika lututnya akan mengenai anu nya Divta.


"Aku rasa aku tidak akan punya keturunan. Hancur sudah masa depan ku. Tidak akan ada yang mau menikah dengan ku." rengek Divta menangis bombay.


Raina semakin panik mendengarnya. Bagaimana jika yang di katakan Divta benar ? apakah dia akan di tuntut atas tindakan perusak masa depan orang ?


"Apa yang harus aku lakukan untuk membuat mu merasa lebih baik ?" tanyanya bingung. Dia tidak tau harus berbuat apa. Sebab tidak mungkin dia mengecek keadaan Divta karena dia tidak tau apa-apa tentang hal itu.


Divta tersenyum licik. Meskipun dia masih merasakan sakit, tapi dia tidak menyangka jika ternyata sakitnya itu membawa berkah.


"Apa kamu bersedia menyembuhkan aku ?" tanyanya sedikit merengek.


Raina mengangguk mantap.


"Biasanya kalau sakit harus di usap. Tapi pasti kamu tidak mau melakukannya, kan ? aku juga malu kalau kamu menyentuhnya. Jadi, kamu peluk aku saja. Aku ingin lanjut tidur sambil di peluk kamu." pinta Divta dengan manja.


"Aku yakin akan sembuh jika kamu memeluk ku." lanjutnya dengan cepat ketika Raina mengerutkan alisnya hingga simetris.


Bagaimana ini ? masa aku harus memeluknya ? aku takut malah aku yang tidur nanti. Tapi itu lebih baik dari pada aku mengusap i- itu nya ? Ya ampun, sungguh merepotkan sekali.


Haaaah, baiklah. Tutup matamu Raina. Anggap saja kau sedang memeluk Raihan.


Raina menghela dan menghembuskan nafas panjang hingga berkali-kali, lalu merentangkan kedua tangannya dan menyambut Divta dalam peluknya.


Di luar kantor


"Kau tidak tau siapa aku, hah ? Aku Arumi pacarnya Divta, bos kalian !" serunya kesal.


Ya, sejak 5 menit yang lalu Arumi telah berada di kantor Divta. Dia terlihat menenteng dua buah rantang susun yang di perkirakan berisi makanan. Dia ingin sekali masuk ke dalam dan menemui Divta, namun di hadang oleh dua resepsionis yang sedang berjaga.


"Maaf nona. Bahkan kemarin pak Divta membawa kekasihnya kemari. Jadi tolong Anda jangan mengaku-ngaku sebagai pacarnya pak Divta."


"Kau jangan mengada-ada ya. Pacarnya Divta hanya aku seorang !" sanggah Arumi mendelik penuh emosi. Akhirnya dia menerobos dua tubuh wanita yang berada di hadapannya dan berjalan cepat menuju lift khusus presdir. Tapi sayang sidik jarinya sudah tidak bisa membuka pintu besi itu lagi. Dulu saat dia masih menyandang sebagai kekasih Divta, dia dapat dengan mudah keluar masuk perusahaan. Bahkan sidik jarinya sudah terverifikasi di setiap sandi keamanan yang ada di kantor tersebut.


"Shit !!" umpatnya kasar. Mau tak mau dia harus menggunakan lift karyawan untuk menuju ke lantai teratas dan menemui Divta.


"Pak, bagaimana ini ?" tanya salah satu resepsionis pada seorang manager bernama Thomas.


"Tidak apa-apa. Kata pak Divta biarkan saja gadis itu masuk." jawab Thomas. Sebelumnya pria paruh baya itu telah menghubungi Divta dan memberitahukan perihal kedatangan Arumi.


Flashback 3 minutes ago.


"Maaf tuan, nona Arumi datang ke kantor dan memaksa ingin masuk." begitulah isi pesan yang di tuliskan oleh Thomas pada Divta.


Sedangkan Divta yang sedang di peluk Raina pun bergegas membalas pesan tersebut.


"Tidak apa-apa pak. Biarkan dia masuk ke ruangan ku." balasnya.


Back to reality.


Arumi telah sampai di lantai teratas dimana ruangan Divta berada. Awalnya dia sempat ragu untuk masuk. Tapi akhirnya dia memberanikan diri untuk mendorong handle pintu yang ternyata sudah di buka oleh Divta melalui remote kontrol miliknya.


Arumi masuk dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Namun dia tak melihat Divta di sana. Ketika dia mendapati jas Divta berada di sandaran kursi kebesaran, Arumi tersenyum puas.


"Pasti dia di kamar." gumamnya sambil meletakkan tas dan rantang bawaannya di meja dekat sofa. Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ke kamar dimana Divta dan Raina berada.


"Selamat pagi sayang !!" seru Arumi setelah membuka pintu seolah memberi kejutan pada Divta. Namun sayang sejuta sayang, justru dia lah yang mendapat kejutan. Dia mendapati Divta yang hampir telanjjang sedang terlelap di bawah selimut bersama seorang wanita ?


Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗