
Sekarang ketiga orang itu telah terduduk berhadapan di rumah Shaga yang luasnya memang tak seberapa luas, hanya saja sekarang rumah itu jauh lebih baik dari sebelumnya terasa sangat hangat dan juga lebih bersinar, tak melulu abu-abu dan busam.
"Aku harap kau tahu sesuatu tentang kematian putriku, tentang apa yang terjadi di malam itu, hanya kaulah saksi satu-satunya yang masih waras." Ucap jenderal tua itu pada Shaga dengan raut muka yang masih saja sendu.
"Ya, karena kau bertanya hari ini, aku akan menjelaskan semuanya, malam itu aku memang membuntuti seekor serigala yang sangat tinggi, sampai akhirnya aku melihat serigala itu, umm.." Wajah Shaga begitu ragu untuk menjelaskan semuanya, meski itu masih saja tak sepenuhnya benar.
Wajah Jenderal di depannya juga tampak menaruh pertanyaan yang terus saja menganggu hati kecilnya. Sebisa mungkin dia memang harus tahu segalanya, semua ini, ia harus tahu, agar dirinya bisa tenang setelah semua ini mendapat penjelasan.
"Kenapa? katakan saja apa yang kau lihat di sana." Ucap Jenderal itu mencoba untuk meyakinkan Shaga.
Shaga yang semula tampak ragu pun akhirnya mulai mencoba yakin dan menjelaskan kembali dengan lebih jelas..
"Ya, anak anda memang dimakan serigala itu, sampai habis." Ujar Shaga mencoba memberitahu kenyataan yang terjadi pada malam itu.
Memang iya dia melihat Muba yang disantap habis oleh serigala itu, meski dia tahu serigala itu adalah ayah nya.
Jelas saja dia tidak memberitahu apapun tentang serigala itu, lagi pula, jika dia berbicara tentang ayahnya yang ternyata adalah sosok monster, apa mungkin manusia di dunia ini masih ada yang percaya cerita khayalan?
"Ja-jadi, kau juga melihat hal itu terjadi?" tanya Jenderal itu pada Shaga, matanya terlihat berkaca-kaca, dengan sekujur tubuh yang gemetar hebat tak bisa tergambarkan bagaimana perasaan dia yang tak dapat terlukiskan dengan sebait kata-kata.
Dengan penuh penyesalan Shaga pun lekas menganggukkan kepalanya dengan berat, "ya, itu sangat menyedihkan."
Jawab Shaga mendapat perhatian dari Alexa.
Jelas saja wanita itu tampak memerhatikan ucapan suaminya. Jelas sekali di dalam hati kecil Shaga dia tertawa terbahak-bahak di atas penderitaan pria tua ini.
Bukan karena apa, masa lalu Muba sudah terlalu banyak membuat kegaduhan, gadis itu sendiri juga harus bertanggung jawab akan perbuatannya yang membunuh kedua orang tua angkat Alexa.
Heng! pandai lah kau bersandiwara.
Gumam dalam benak Alexa menohok pada suaminya.
"Tapi tuan, satu hal yang perlu anda ketahui." Ucap Shaga pada pria jenderal itu.
Pria di depan Shaga nampak kembali menajamkan pandangannya ke arah Shaga. Dia terus saja menantikan apa kata selanjutnya yang akan dikatakan oleh pemuda yang satu ini.
"Anak anda juga bersalah, mungkin ini adalah balasan untuk dia karena dia telah berhasil membunuh kedua orang tua Alexa dengan sangat keji." Ucap Shaga pada pria tersebut.
"Apa?" sejenak terlihat pria tua itu tampak terkejut, meski itu juga tak terlalu terlihat.
Karena memang sejak awal pak jenderal itu memang sudah tahu kalau anaknya bersalah. Dia mendengar penjelasan dan kesaksian dari kedua sahabat Muba, dan mereka berdua memang kompak mengatakan kalau Muba sebelumya telah membunuh kedua orang tua Alexa dengan mengarahkan senjata tajam ke arah kedua manusia tak berdosa itu.
Ja-jadi, ucapan mereka semua benar? Muba yang harus bertanggung jawab atas kematian kedua orang tua Shaga?
Dia masih saja terlihat tak percaya dengan semua itu, tapi entahlah, semua orang berkata hal yang sama tentang sang putri.
Tak dia duga ternyata sang putri jauh lebih berani daripada yang dia kira.
Padahal selama ini dia terus memberi kepercayaan untuk Muba, kepercayaan yang sangat sulit dia taruh pada siapapun, dan dia malah dengan mudahnya percaya tentang semua perkataan Muba, ternyata dia sudah salah dalam mendidik anak tersebut.
Sekarang dia hanya terlihat menunduk kesal, juga kecewa, sekaligus rasa menyesal di dalam hatinya.
Dia tak pernah menduga kalau semua permasalahan yang menimpa anaknya tak semudah yang dia kira, dia pun tak pernah menduga kalau rupanya anaknya malah jadi tersangka utama dalam kasus ini.
Sejenak dia melamun, sampai akhirnya mendadak suara Alexa membangunkan lamunan asiknya itu.
"Maaf, Pak, boleh saya sedikit bertanya?" tanya Alexa dengan sopan pada pria jenderal tersebut.
Pria tua itu pun tercengang, jelas saja dia terkejut mendengar dan melihat sikap Alexa yang jauh lebih sopan dan ramah dibanding terkahir kali dia bertemu dengan dirinya.
Rupanya benar kata kedua sahabat Muba, selama ini Muba lah yang telah bersalah, dia hanya seorang jenderal cerdas yang malah dibodohi oleh anaknya sendiri. Sepertinya dia bukan seorang pria yang beruntung.
"Ya, apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Ayah Muba itu pada Alexa.
"Anda menangani kasus serumit ini, apa anda juga tahu dimana kedua adik saya? maksudnya adik angkat saya?" tanya Alexa tanpa diduga dia masih ingat dengan kedua adiknya dari ayah dan ibu angkatnya.
"Dua anak kecil itu? kami sudah menitipkan mereka ke panti asuhan, karena kami yakin kau pasti akan segera kembali." Ucap jenderal tersebut pada Alexa, entah mengapa dia terlihat kecewa begitu dalam , entah karena apa, yang jelas dia sudah pasti kecewa karena perbuatan anak satu-satunya.
"Baiklah terima kasih atas semua informasinya, saya tidak tahu bagaimana akan menghadapi kasus serumit ini jika kalian tidak membantu saya sama sekali, akhirnya sekarang semuanya sudah jelas, anak saya lah yang bersalah, benar kata orang-orang, anak saya yang sudah kurang ajar sama kalian semua, maafkan anak saya, Muba." Ucap pria itu dengan penuh sesal.
Terlihat Shaga dan Alexa pun ikut tersenyum lega mendengar permintaan maaf langsung dari mulut Pria tua yang dulunya sangat angkuh itu. Entah mengapa keduanya jelas begitu senang melihat semuanya akhirnya benar-benar berakhir.
Meski ia masih saja percaya tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Shaga. Namun agaknya dia benar-benar harus merelakan sang putri yang ternyata harus mengalami takdir seburuk ini di dalam hidupnya.
Bahkan takdir putrinya jauh lebih kejam dari apa yang dia bayangkan selama ini, harus menjadi santapan buas makan malam dari seekor serigala yang kelaparan.
"Maaf semula saya menuduh kamu yang melakukannya, tapi setelah aku pikir-pikir lagi, tidak mungkin juga kau terlibat dalam pembunuhan ini, saya sadar putri saya telah bersalah, saya minta maaf untuk segala hal yang terjadi pada kalian yang disebabkan oleh putriku, aku sangat menyesali atas semua yang terjadi, tapi tenang saja saya janji saua tidak akan lagi mengganggu kalian berdua." Ucap jenderal itu akhirnya harus pulang dengan kekecewaan.
Shaga dan Alexa hanya terlihat mengantar pria tua itu pergi dari rumah mereka dengan tatapan mata mereka yang hangat.
Dan setelah semuanya benar-benar usai, kini cerita apa lagi yang bisa di angkat untuk selanjutnya?
Sedangkan semuanya benar-benar sudah selesai, sudah berkahir dengan kebahagiaan. Nampaknya sudah sangat mudah bagi Alexa dan Shaga untuk mengarungi masa depan yang jauh lebih baik lagi.
Keduanya pun hanya terlihat saling melempar senyuman di bibir mereka, dan kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.
Pintu ditutup dengan rapat, terlihat tirai mulai digeraikan hingga menutup seluruh permukaan kaca jendela.
Keduanya terduduk di atas sofa ruang tengah, dengan kondisi tv tua yang belum bisa diperbaiki, juga dengan masakan yang sudah berubah dingin.
Mereka berdua akhirnya terlambat melakukan tugas mereka selanjutnya karena kedatangan tamu yang tak pernah mereka duga tersebut.
"Kau tahu? aku hampir tertawa saat kau berkata pada pria itu kalau kau sangat menyesali kematian Muba, aku pikir kau jelas tidak pernah menyesal dengan kematian Muba, tapi kau sungguh sangat pandai bersandiwara, aku beri kau nilai sepuluh untuk hasil kerja kerasmu itu." Ucap Alexa makin pandai menggoda sang suami.
"Apa kau bilang? aku pandai bersandiwara? aku jelas menyesali semua yang terjadi, aku menyesali kematian Muba, tapi yang paling aku sesali adalah, kenapa aku saat itu tidak bisa menolong kedua orang tua kamu, jika aku bisa mungkin..."
"Jangan katakan lagi, aku tidak suka hal yang sedih untuk sekarang, aku punya jadwal yang harus aku selesaikan untuk segera," Ucap Alexa mencegat perkataan dari Shaga dengan secepat kilat.
Shaga hanya bisa menatap wanita itu dengan penuh tanda tanya. Dia tak bisa menebak Alexa sama seperti Alexa yang bisa menebak apa saja yang dia katakan meski itu di dalam hati kecilnya sekalipun.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Shaga sambil terus menebak melalui wajah Alexa yang sangat sulit diterka itu.
"Atau jangan-jangan...."
Pria muda itu terlihat menatap ke arah Alexa, dengan tatapan nakalnya. Dia menatap wajah Alexa seolah-olah dia benar-benar akan melahap Alexa, seolah wanita itu memberi isyarat pada dirinya untuk menyentuhnya, padahal kan Alexa tidak bermaksud seperti itu.
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Alexa dengan sangat gugup.
Dia bahkan bisa melihat kalau Shaga semakin mendekat ke arahnya, tentunya masih dengan tatapan matanya yang sangat nakal.
Apalagi sekarang terlihat tangan Shaga yang juga mulai bergerak menyelisip ke dalam ruang di dalam baju yang dikenakan oleh Alexa, huhh, tentu saja secara seketika bulu kuduk Alexa menjadi meremang hebat.
Tak disangka kalau ternyata Alexa benar-benar wanita yang mudah sekali digoda. Tak disangka pula kalau ternyata Shaga juga termasuk pria yang amat lihai dalam menggoda wanita.
Cup!
Pria itu bahkan tak berhenti mengecup kening dan bibir Alexa, sampai terlihat wajah Alexa yang mulai mengkilat basah.
"Ugh..."
Namun jujur saja, penampilan Alexa yang seperti itu memang sungguh memikat.
Shaga pun menjadi semakin terpancing. Dia tak mau berhenti dengan sia-sia, terlihat tangan dan bibirnya yang mulai ganas menyerang sekujur tubuh Alexa, menggigiti bagian paling sensitif milik Alexa sampai terlihat bagian tersebut sudah sangat basah oleh kelakuan Shaga yang begitu nakal.
Keduanya semakin terbuai, sampai-sampai rasa penat yang bercampur dengan rasa lapar yang mereka rasakan semula mendadak hilang dalam sekejap, dan akhirnya keduanya pun malah tenggelam dalam keindahan surgawi tanpa bisa lepas sebelum puas.
"Tindakan selanjutnya adalah, mari kita punya anak.."
"Shaga..."
...----------------...
Blam!
Keduanya tampak turun dari mobil taksi yang mengantar mereka sampai ke area panti asuhan yang semula dikatakan oleh sang jenderal sebagai tempat mereka menitipkan kedua adik Alexa.
Mereka tampak menatapi kondisi panti asuhan yang lebih dari kata layak, ya, sesungguhnya melihat kondisi panti asuhan yang sedemikian bagusnya tentu saja membuat Alexa tidak lagi merasa khawatir.
Ia bisa menebak kalau hidup kedua adik angkatnya akan terjamin saat tinggal di dalam panti asuhan ini. Dia pun tak lupa membersitkan senyuman indah di bibirnya, senyuman yan. juga melukiskan betapa bahagia dan betapa leganya dia melihat sambutan yang dia dapati saat dia dan suaminya telah berhasil sampai di tempat tinggal baru kedua adiknya yang jauh lebih layak dibanding dengan rumah rusun mereka sebelumnya.
Di tengah-tengah lamunannya yang asik, terlihat seseorang mengejutkan lamunannya dan membangunkan dia dengan seketika, siapa lagi kalau bukan Shaga.
Suami sahnya.
Huyyy!
"Kenapa kamu diam?" tanya Shaga sambil merangkul pundak sang istri.
Alexa hanya terlihat tersenyum simpul saja, tak bisa dia jelaskan memang bagaimana rasanya betapa bahagia yang dia rasakan meski dia belum juga melihat kedua adik angkatnya.
"Aku tak sabar untuk berjumpa dengan mereka, apa mereka tidak akan membenci aku jika kami bertemu nanti?"
Tanya Alexa, mendadak raut muka yang sejak bahagia dan senang malah terlihat muram dan jadi begitu sendu.
Dia takut kepergiannya kala itu membuat kekecewaan di hati kedua adik kecilnya, entahlah, ia bahkan merasa kalau perbuatannya itu sama sekali tidak bisa termaafkan.
Mendadak dia jadi canggung untuk masuk ke dalam rumah asuhan itu. Dia tidak bisa berkata-kata untuk menjelaskan perasaan di hatinya yang mendadak kacau.
Tapi dengan sigap suaminya langsung merengkuh tubuhnya dan tersenyum dengan indah di depan kedua matanya, menyiratkan satu kata semangat yang kemudian akhirnya membuat dirinya kembali percaya pada diri sendiri.
"Kau tahu? satu hal yang tidak pernah aku lihat pada orang lain, dan itu ada pada dirimu, yaitu kau tetap mencintai orang yang sangat membenci kamu, aku yakin adik-adik kamu juga merasakan hal itu, aku yakin mereka tidak akan merasa kecewa dengan kepergian kamu hari itu, dan aku yakin kalau mereka mengerti alasan kamu pergi." Ucap Shaga benar-benar membangkitkan kembali hati Alexa yang mendadak terasa mati.
Dengan segera Alexa pun kembali mengulas senyuman di bibirnya yang indah. Dia tahu semuanya akan berpihak kepadanya, terima kasih takdir yang baik. Telah memberi pelajaran hebat untuk bisa sampai kepada titik yang sangat memuaskan ini.
"Ya, kau benar, untuk apa aku merasa cemas, kedua adikku pasti akan menerima aku, aku yakin itu."
"Baguslah, itu baru istri kesayanganku.."
Kedua orang itu terlihat mulai masuk ke dalam panti asuhan tersebut, dan kemudian menemui seorang wanita, wanita yang selama ini menjaga anak-anak malang yang harus hidup tanpa orang tua mereka, dan sekarang, mereka udah berbincang dengan asik di aula penerimaan tamu.
"Kami sangat senang, karena kedua adik kamu adalah anak-anak yang sangat penurut, aku yakin mereka akan jadi anak yang sukses dan bermartabat kelak di kemudian hari." Ucap wanita itu memuji kedua adik angkat Alexa.
Tampak Alexa hanya bisa tersenyum mendapati kedua adiknya yang mendapat pujian dari wanita di depannya.
"Apa kami boleh menemui mereka?" tanya Alexa langsung pada intinya saja, rupanya dia masih sama, dia masih suka sesuatu yang langsung saja tanpa basa-basi.
Wanita itu kemudian bangun dari duduknya dan berjalan menuju ke arah dalam berniat untuk menunjukkan Alexa pada kedua adiknya di dalam sana.
"Silahkan."
Wanita itu tampak berhenti di depan sebuah kamar dan kemudian mempersilahkan Alexa dan Shaga untuk masuk ke dalam kamar tersebut.
"Terima kasih." Ucap Alexa dan Shaga kepada wanita itu sebelum wanita itu terlihat mulai beranjak dari tempat dia berdiri.
Sementara Alexa tampak menatapi kedua adiknya dari luar yang tengah bermain dengan anak-anak sebayanya, sementara satu adiknya yang besar tampak terduduk terus menerus di pojok ruangan.
Melihat adik satunya yang berusia sekitar dua belas tahun itu, Alexa tampak mendengus pelan. Dia bahkan tak pernah menduga kalau adik-adik nya harus mengalami kejadian semacam ini di umur mereka yang masih sangat belia.
Dia pun lekas maju ke dalam ruangan, sampai kiranya langkah kakinya dilihat oleh kedua adiknya di sana.
Ia tak bersuara, hanya terlihat langkah kakinya yang mendekat ke arah adiknya yang besar, dan kemudian dia lekas mendapat respon dari kedua adiknya itu.
"Hah? kakak?"
Adiknya yang besar tampak lebih dulu menyadari kehadiran Alexa di sana. Air mata tampak luruh dari kedua matanya dengan seketika.
Dia bahkan langsung bangkit dari duduknya dan langsung menggapai tubuh Alexa yang berdiri di sana.
"Kak Alexa!!" panggil yang paling besar.
Menyadari kedua kakaknya berkumpul di tempat tersebut, adik yang paling kecil dari mereka pun tampak menangis dan mendekat ke arah mereka sambil terus memanggil nama Alexa berulang-ulang kali.
"Kakak!! kakak Alexa!!!"
Hap!
Alexa langsung mendekap dua anak malang itu dan memeluk mereka berdua dan merengkuh dua tubuh mungil itu dengan penuh kerinduan.
Dia bahkan tak ada henti-hentinya mengecup pipi kedua adik manisnya yang bernama Linzi dan Timy itu.
Kedua gadis kecil yang telah hidup selama bertahun-tahun lamanya bersama Alexa, lebih paham siapa sebenarnya Alexa, dan lebih tahu bagaimana Alexa dalam kesehariannya.
Mana mungkin dia merasa kecewa dengan kepergian Alexa dari rumah mereka. Mereka bahkan lebih senang saat melihat sang kakak yang akhirnya bebas dari kekangan ibu mereka.
"Kakak, aku kangen kakak, kenapa kakak baru pulang?" tanya Timy, adik yang paling kecil, usianya sekitar enam tahunan.
Kasihan sekali dua anak kecil ini, yah, mau bagaimana lagi, ini adalah takdir yang harus mereka alami.
"Sayang, saat itu kakak yakin kalian juga mendengar permintaan ibu yang mau kakak pergi dari rumah, aku yakin kalian mendengarnya malam itu." Ucap Alexa pada kedua adik kecilnya.
"Tapi aku tidak percaya kalau kakak akan benar-benar pergi, bahkan sampai waktu yang cukup lama." Sahut Linzi, Adik pertama Alexa.
"Linzi, Timy, kalian tidak pernah kakak lupakan, mana mungkin kakak akan benar-benar meninggalkan kalian berdua, kakak yakin kalian akan merindukan kakak, karena itulah kakak memilih untuk segera kembali."
Cup!
Pertemuan itu terjadi begitu lama. Namun sayang sekali, menjelang kepulangan Alexa ke rumah bersama dengan suaminya, saat dia hendak berpamitan dan meminta izin untuk membawa kedua adiknya keluar dari rumah asuh itu, kedua adiknya malah memberi jawaban yang tidak terduga.
"Kita pulang sama-sama, ya, nanti kalian akan kembali punya keluarga, kalian akan kembali punya kakak dan kalian akan punya tambahan kakak yang baru," melirik ke arah Shaga, yang sejak tadi bahkan dia acuhkan.
Kedua adiknya tampak menatapi terus menerus ke arah Shaga terduduk dan tersenyum canggung ke arah mereka. Akhirnya setelah sekian lama keberadaannya dilihat juga oleh ketiga manusia itu.
"Kak? dia siapa?" tanya adik yang paling kecil pada Alexa.
"Shutt!! jangan banyak bertanya, anak kecil masih belum boleh tahu urusan orang dewasa." Sahut Linzi pada adik kecilnya.
Mendengar perkataan dari Linzi barusan jelas saja membuat Alexa menahan tawanya yang sudah terasa menggelitik perutnya.
Ah, bagi dia Linzi sungguh sangat lucu.
"Umm, kak, maaf kamu tidak bisa membawa kami pulang." Ucap Linzi seketika membuat Alexa terdiam cukup lama di tempat dia terduduk.
Tak hanya Alexa yang terdiam membisu, tapi Shaga juga tertegun dengan perkataan gadis belia itu pada Alexa.
Agaknya dia punya sebuah keputusan yang sudah dipikirkan secara matang- matang.
"Lho? tapi kenapa tidak bisa?" tanya Alexa pada kedua adiknya.
Linzi tampak menggenggam erat tangan adik kecilnya, dan kemudian menguatkan sang adik untuk tetap bersama dengan dirinya.
"Linzi, kamu pikir kamu akan merepotkan Kaka kalau ikut kembali bersama kakak?" tanya Alexa sambil menggenggam kedua tangan adiknya.
Tampak wajah mereka semua berubah sendu dan tampak muram, tak hanya Alexa dan Shaga, Linzi dan adiknya pun tidak terlihat baik-baik saja saat Linzi mengatakan hal itu pada mereka.
"Kak Alexa, kau sudah punya kehidupan sendiri, tak baik bagi kami untuk menimbrung rumah tangga kalian, lagipula kami sudah punya banyak teman di rumah ini, kami tidak rela untuk meninggalkan semua teman-teman kami, mereka pasti akan sangat sedih, mereka sudah menganggap kami sebagai keluarga mereka, bagaimana kami bisa meninggalkan mereka semua?" ucap Linzi membuat Alexa seketika terdiam membisu.
"Kak Alexa, kau tak perlu cemas, kau juga bisa mengunjungi kami setiap bulan, setiap akhir pekan terserah kau saja, kapan kau ingin datang kau bisa datang, kalau kau sedang sibuk dan tak punya waktu pun kami tidak akan menuntut kau untuk datang, kami sudah cukup bahagia di sini, dan kami tidak mau kehilangan keluarga seperti teman-teman kami di sini," ucap Linzi sambil tersenyum lebar.
Alexa tahu senyuman itu hanya sebuah kepalsuan. Dia tahu adiknya akan menangis saat melihat kepergian dirinya setelah ini, tapi apa boleh buat, jika pun kali ini dia memaksa, tentu saja semuanya akan berkahir buruk.
Mungkin memang sudah seharusnya begini. Lagipula benar apa yang dipikirkan oleh Linzi dan apa yang dia katakan, semuanya tidak semudah yang dia bayangkan.
Dia pun hanya bisa membalas perkataan dari Linzi dengan senyuman manisnya, dan kemudian mulai mencoba untuk merelakan apa yang dia inginkan semula.
"Baiklah, aku percaya kalian juga bisa menjalani semua ini dengan baik, kau harus berjanji, tidak ada lagi yang namanya kesedihan, selepas aku pergi nanti, kalian harus kembali tertawa dan jangan menangis di pojok ruangan seperti yang aku lihat saat aku baru pertama kali datang." Ucap Alexa memberi pesan pada adik pertamanya.
Adik pertamanya hanya bisa mengangguk dengan senyum songarnya.
Akhirnya kedua orang itu pun terlihat mulai pergi dan berpamitan pada kedua adiknya dan juga perawat di panti asuhan itu.
Keduanya tampak melambaikan tangan untuk Linzi dan untuk Timy.
Meski keduanya harus pulang dengan kesedihan, dan dua adiknya pun harus menangis selepas kepergian Alexa, tapi ini memang sudah seharusnya terjadi.
Akan lebih baik jika kedua adiknya tetap berada di panti asuhan, dan dirinya lebih fokus untuk menjalani rumah tangga bersama Shaga.
Mari menjalani kehidupan masing-masing, dan mari berbahagia meski harus hidup secara terpisah.
Karena aku yakin, rintik hujan tidak akan turun jika di bumi tidak ada makhluk yang membutuhkan kehadirannya.
Tidak ada binatang yang lemah jika tidak ada binatang buas yang memerlukan dagingnya untuk dimakan.
Dan tidak akan ada aku yang lahir dengan cara yang sangat istimewa jika tidak ada satu orang pun yang membutuhkan aku.
Aku yakin seredup apapun cahaya yang keluar dari tubuh kita, jika kita berdiri di tempat yang tepat, maka cahaya itu akan bersinar dengan terang di depan mata yang tepat.
Jika dulu aku hanya menjadi gadis yang penuh dengan gunjingan, dengan hidup yang sederhana dan serba miskin, tapi siapa pula yang mengira kalau di dunia lain, aku adalah seorang ratu, seorang pemimpin, dan juga seorang pejuang legendaris.
Ya, tidak akan ada yang percaya dengan mudah pada ceritaku ini, cerita yang aku tulis di sebuah buku pribadiku, yang hanya aku dan suamiku yang mengetahuinya.
Perjalanan yang cukup mengesankan, perjalanan yang amat panjang, namun begitu sulit untuk aku lupakan.
Dan sekarang, aku telah menyadari akan segalanya, bahwa kekuasaan, uang, semua itu tidak ada yang abadi, tidak ada yang bisa menolong dirimu pula dari kematian.
Contoh kecil saja, seperti kiranya Valheins yang mati dan jasadnya terhimpun di dalam reruntuhan kekuasaannya sendiri..
Dan Muba yang tewas karena kesombongannya sendiri, tentu saja semua itu seharusnya menjadi satu tanda yang jelas, bahwa di balik kekuasaan, dan uang, seharusnya tersimpan malapetaka yang bisa saja menggigit kamu kapan saja mereka mau.
Aku bangga pada diriku sendiri, karena akhirnya, aku tahu kalau pilihanku yang selama ini aku ambil adalah pilihan yang tepat.
Benar kata Shaga, satu hal yang tidak dimiliki orang lain, tapi aku berhasil memilikinya, yaitu aku menakdirkan diriku untuk lebih memilih hidup bersama dengan keluarga, daripada mempertahankan harta yang bagi orang lain adalah sangat berharga.
"Hemm!"
Shaga terlihat mengejutkan Alexa dalam lamunannya. Padahal wanita itu tengah asik melamun sembari menatapi dunia luar dari balik jendela kaca mobil.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Shaga pada sang istri.
Istrinya hanya bisa menoleh ke arah wajah suaminya, dan kemudian tersenyum.
"Satu hal yang tak pernah bisa kau tebak dari diriku.."
Jawab Alexa dengan singkat, dan kemudian kembali lagi mengarah pada jendela dan pemandangan luar yang sangat mempesona.
Keberuntungan dan usaha yang tepat.
"Apa kau sedang memikirkan sepasang anak kembar?" mendadak dan merayap di leher Alexa.
Menggelikan.
Padahal bukan itu yang sedang aku pikirkan, kenapa pikiran kamu kesana terus si?
Gumam Alexa di dalam hatinya.
"Baiklah, jika begitu, kita akan lekas membuat anak kembar untuk kamu.."
Hu.. hu.. hu...
Bagaimana dia harus lepas dari jeratan ini? sulit sekali bisa lepas dari jeratan Shaga. Agaknya Alexa telah menjerat dirinya pada pria yang salah.
Selamat berbahagia Alexa..
Dan semoga cepat diberi anak kembar juga..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan akhirnya author bisa menamatkan cerita yang kurang laris ini, sedih deh..
Gak apa-apa lah, karena niat author cuma mau menuangkan ide kegabutan, jadi nggak masalah kalau gak ada yg berkenan untuk mampir.
Semoga hari kalian menyenangkan..
Terima kasih untuk yang sudah menitipkan dukungan untuk karya ini, semoga rezeki kalian dilancarkan dan semoga kita bisa berjumpa lagi..
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam cinta dari author ♥️♥️
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...