
Sunyi sepi malam yang telah berlalu, dipenuhi kegelapan dan rasa dingin nan menusuk sekujur tubuhnya. Tanpa pakaian, tanpa adanya pelindung yang melindungi bagian kulitnya.
Angin bertiup tak kencang malam itu, untunglah, karena rasanya pasti akan jauh lebih menyulitkan saat harus menghadapi angin malam yang terlalu dingin.
Pakaian atasnya telah dia berikan pada Alexa untuk melindungi tubuh gadis itu dari kedinginan, tapi dia bahkan membuat dirinya semakin kedinginan. Kurang apa pengorbanan yang dia lakukan untuk Alexa.
Hingga saat pertengahan malam mereka pun masih saja berada di tempat yang sama, dan tidak bergeming satu inci pun dari tempat tersebut.
Satu orang pun masih belum ada yang menemukan kedua orang itu, bahkan terlihat pria yang sebelumnya dikata anak dari Collab, pria muda itu pun masih belum menunjukkan batang hidungnya di depan Shaga dan Alexa.
Di tengah kesepian malam, tanpa satu orang pun yang berada di tengah-tengah keduanya, mereka tampak tertidur pulas dalam kedua posisi yang berbeda satu sama lain nya.
Mereka tampak tidur di berbeda tempat, Alexa yang bersandar di bawah pohon, berbaring dengan nikmat dengan kehangatan yang baju Shaga berikan padanya.
Sementara Shaga yang hanya bisa memejamkan kedua matanya sembari terduduk di samping api unggun yang sudah menyala kecil, bahkan hampir mati.
Setidaknya api itu yang sedari tadi menemani dia dan membantu dia menghangatkan tubuhnya.
Ia tak juga bangun, hingga sampai dia mendengar sesuatu yang mulai bergerak di sekitarnya, kupingnya pun dengan cepat menangkap gelagat itu.
Dia langsung membuka kedua matanya dengan lebar, entahlah, padahal biasanya dia tak pernah melakukan hal ini, awas dalam tidurnya tapi kali ini di benar-benar melakukannya hanya untuk Alexa.
Dia pun mulai beranjak dari duduknya, dan menatapi ke sekelilingnya, sampai akhirnya dia menemukan tubuh Alexa yang mulai bergerak secara perlahan-lahan.
"Alexa?!"
Langkah kedua kakinya terus bergerak mendekat ke arah Alexa, dan kemudian kembali terduduk di samping Alexa.
"Alexa? kau mau bangun?" tanya Shaga dengan lirih, agaknya dia juga berpikir akan menganggu gadis ini jika dia mengatakannya dengan keras.
Gadis itu mulai menggerakkan tubuhnya, dan kemudian bangun dari tidurnya yang sangat panjang.
"Umm? aku.. sssshhhhh."
Saat dia baru setengah jalan dalam percobaan merentangkan kedua tangannya, mendadak rasa sakit itu jelas terasa sampai ke jantungnya, ia pun mengaduh kesakitan.
"Ugh, sakit sekali tubuhku.." gumam Alexa sembari meraba bagian dada dan juga beberapa bagian tubuh yang lain.
"Jangan banyak bergerak, kamu akan sembuh nanti kalau tidak banyak bergerak, sudahlah, kau berbaring saja dulu, kau mau minum atau makan? aku sudah berburu ikan petang tadi, aku juga membawa kamu minuman, kamu boleh meminumnya."
Ucap Shaga bahkan terlihat terlalu berlebihan untuk ukuran seorang gadis yang sudah bangun dan selamat dari kematian.
Agaknya pria muda itu benar-benar tidak mau kehilangan Alexa seumur hidup, apalagi memang sejak awal Shaga ini sudah menyukai Alexa dan terus mempertahankan rasa suka itu sampai sekarang.
"Tidak perlu, Shaga, aku hanya harus..."
Dia terkejut, manakala menyadari sekujur tubuhnya yang seperti sudah di unboxing oleh seseorang. Hal itu sangat jelas dia bisa rasakan, karena semua lukanya sudah tertutup oleh ramuan, sementara lukanya juga ada yang termasuk pada dadanya.
Dia pun lekas mendongak menatap ke arah Shaga. Shaga yang bingung dengan tatapan mata Alexa yang tajam itu akhirnya hanya bisa terdiam di tempat dia duduk, dan terus saja seperti itu sampai beberapa detik.
"Um? ada apa? kau menatapku sangat aneh?" tanya Shaga pada Alexa.
"Apa kau yang memberi semua ramuan ini di tubuhku?" tanya Alexa semula dia lakukan dengan sangat lembut dan tidak berkesan kesal.
Melihat pertanyaan dari Alexa barusan, tentu saja Shaga yang polos hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
Meski begitu, dia tidak bisa memungkiri kalau wajah Alexa saat itu memang terlihat begitu aneh. Sayang sekali dia terlambat menyadari itu.
"Apa??"
Gadis itu berteriak, sampai-sampai hal itu jadi mempengaruhi luka di tubuhnya, membuat luka itu menggeronggang dan akhirnya menyebabkan rasa sakit yang luar biasa di sana.
"Ouh."
Dia pun melenguh, sembari memegangi bagian dadanya yang sudah tak lagi terhalang apapun kecuali selembar kain milik Shaga, itu pun entah setipis apa, dia tak tahu.
"Kamu baik-baik saja?"
Dengan cepat Shaga merengkuh tubuh Alexa yang kesakitan, dan membenamkan wajah itu di dadanya yang bidang, tanpa penghalang apapun di sana.
Dalam dekapan Shaga, jantung Alexa selalu saja bergemuruh, seperti hampir mau meledak. Dia tak bisa bergerak dari sana meski hal itu terus saja terjadi pada dirinya.
Agaknya dia benar-benar merasa tidak aman kalau terus berada di dalam pelukan pria ini.
Tapi sayang sekali, tubuhnya sangat lemah sampai-sampai dia tidak bisa bergerak satu inci pun dari dada Shaga. Sebenarnya dada Shaga memang lebih nyaman dibanding yang dia kira.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak bergerak, luka kamu belum sembuh total, tidurlah lagi, ya?" ucap Shaga dengan lembut pada gadis itu.
Dengan perlahan Alexa pun hanya menganggukkan kepalanya ringan, dan mencoba untuk kembali memejamkan kedua matanya dengan perlahan-lahan.
Namun dia merasa sangat dingin, dia pun hanya bisa mencoba mencari tempat kehangatan itu, dan menemukan dada Shaga yang terus saja memunculkan buih-buih keringat yang bersarang di sana.
Ia tak sungkan lagi, dia raba saja dada itu dengan tangannya, karena hanya dari dada Shaga lah yang bisa membuat dia merasa hangat.
Shaga mengetahui hal itu, dengan segera dia mendekap tubuh Alexa dengan tubuhnya yang polos itu dan kembali menyelimuti Alexa dengan selembar kain bajunya.
"Hahh! apa kamu kedinginan?" tanya Shaga pada gadis di sebelahnya.
Shaga mendapati gadis dalam pelukannya mengangguk kecil, dan itu sudah cukup untuk dirinya mengetahui apa yang tengah di rasakan oleh gadis ini.
Dia pun akhirnya semakin mendekap tubuh mungil Alexa itu dengan tubuhnya yang tak terhalang apapun, huhh! kalian tahu bagaimana rasanya dalam posisi seperti itu?
Rasanya seolah semua yang ada di dunia ini tidak ada lagi yang berguna, seolah sekujur tubuh Shaga menjadi lebih panas dari suhu normalnya, seolah ingin sekali tubuh itu dipuaskan, ugh! rasanya memang tak bisa dijelaskan melalui kata-kata.
Dada Shaga semakin bergemuruh hebat, darahnya berdesir panas tak karuan, sementara keringatnya mulai bercucuran deras membasahi sekujur tubuhnya.
Ia benar-benar merasa sangat gugup, seolah dia tengah berada dalam keadaan perang, perang yang dia sendiri bahkan tak sanggup melawan apalagi berharap untuk menang.
Mengapa satu hal ini malah terjadi pada dirinya?
Bahkan adik kecilnya yang semula sangat penurut dan patuh pada kakaknya pun mulai terasa memberontak dengan sangat mengerikan, seakan tengah berusaha untuk memberi perlawanan terhadap sang tuan, dan terus berubah menjadi adik yang besar pun juga kuat yang bisa saja melakukan apapun yang dia inginkan, termasuk mencari tempat aman untuk dia bersembunyi.
Dia dengan keras menahan sesuatu yang terasa menyetrum sampai ke sekujur tubuhnya, sesuatu yang terasa menjalar menguasai badannya, mulai dari ujung kepala bahkan sampai ke ujung kaki.
Ia bahkan merasa kalau dirinya yang semula merasa kedinginan oleh angin malam di atas bukit, kini dia malah berubah menjadi panas tak karuan rasanya.
Seolah dia tengah dibakar di atas tungku dengan suhu api yang mencapai 50° Celcius. Dan itu sudah cukup membuat orang merasa dirinya hampir mati.
Ia terus saja terdiam, sampai akhirnya gadis dalam pelukannya itu mulai menyadari ada yang tidak beres dari Shaga.
Ia pun lekas membuka kedua matanya, dan menatap ke arah wajah Shaga yang tengah memangkunya.
Shaga pun terlihat menatap ke arah gadis itu, dengan wajah yang sudah berkeringat dan terlihat tidak karuan di sana.
"A-ada apa?" tanya Shaga gelagapan pada sang sahabat.
Ia mungkin tidak akan pernah melupakan sejarah yang terjadi hari ini, sejarah yang telah membuat dirinya akan mengenang momen lucu dan mengesankan ini di sepanjang hidupnya. Dia jelas tidak akan melupakan perasaan pertama kali saat dia bersentuhan langsung dengan kulit seorang wanita.
"Shaga, kamu sakit?" tanya Alexa pada pria tersebut.
Tanya Alexa dengan cemas. Dia memang Mendengar dan merasakan semua yang terjadi dalam tubuh Shaga, agaknya dia benar-benar mengira kalau Shaga tengah sakit.
"A? sakit katamu?"
Tapi mendengar pertanyaan dari Alexa barusan, tentu saja Shaga malah jadinya bingung. Dia sungguh tak tahu apa alasan Alexa mengatakan dirinya sakit. Padahal saat itu, yang dia rasakan sejujurnya hanyalah ada sesuatu yang berbeda di tubuhnya, dan itu memang lebih bermasalah dibanding sakit.
Alexa segera bangkit meski dengan lukanya yang belum sembuh. Namun dia malah mencoba memeriksa suhu tubuh Shaga dan mendengarkan lagi degup jantung pria itu dengan seksama.
"Degup jantung kamu semakin cepat, keringat kamu juga bercucuran semakin deras," ucap gadis itu.
Alexa kemudian beralih pada kening Shaga yang sudah terlihat mengkilat di sana akibat keringat yang tak juga mau berhenti.
Dia memeriksa suhu tubuh Shaga dengan menggunakan kening pria muda itu, mengukur suhunya di sana, dengan punggung tangannya.
Pria di depan Alexa hanya terdiam seperti patung, lebih dari itu, tidak.
"Kamu panas! kamu demam?" tanya Alexa pada Shaga.
Shaga hanya terdiam memperhatikan wajah Alexa saat sedang cemas. Lucu sekali wajah cemas Alexa itu, bahkan sampai membuat senyum simpul terlihat di bibir Shaga.
Agaknya dia benar-benar mengagumi gadis kecil mungil ini.
"Kenapa bisa kamu demam? makanya jangan sok perhatian mau kasih aku baju kamu, kalau kamu sendiri membutuhkannya." Ucap Alexa sambil mengambil baju Shaga yang sedari tadi terus menutup tubuhnya.
Kini Alexa pun hanya mengandalkan bajunya yang sudah robek saja tanpa mengenakan apapun selain itu.
Alexa hendak mengenakan baju itu pada sang pemiliknya, namun mendadak tangan Shaga malah menghentikan aktivitas yang dilakukan oleh Alexa pada dirinya, dan mulai menatap kedua mata Alexa dengan tatapan hangat.
Hap!
"Ah?"
Tatapan itu semakin dalam menghujam hati dan jantung Alexa, bahkan seketika jantungnya berdegup cukup cepat untuk sesaat, sampai saat wajah Shaga mulai mendekat ke arah wajahnya, semakin dekat, dan akhirnya bisa menyentuh bagian bibirnya dengan lembut.
Anehnya lagi, Alexa bahkan tidak bergeming satu inci pun dari tempatnya, meski dia tahu Shaga tengah berusaha untuk menguasai dirinya.
Bak anjing peliharaan yang penurut, dia ternyata bisa tunduk juga di depan pria, entah itu hanya pada Shaga, atau dia juga tunduk pada pria yang lain, tidak!
Sepertinya Alexa hanya akan tunduk pada satu pria ini, bukan pria lain, kecuali Sean.
Bibir Shaga semakin nakal menguasai area bibir Alexa. Dia terus saja mencoba untuk mencari celah masuk ke dalam bibir Alexa dan kemudian memainkannya dengan mahir di dalam sana.
Alexa makin terbuai, diangkatlah tubuh Alexa oleh Shaga menjadi lebih nyaman didalam pangkuannya, hingga terlihat baju yang Alexa kenakan terlihat merosot sampai ke bawah.
Mirisnya lagi, Alexa malah membiarkan hal itu terjadi.
Dia tampak semakin terpejam dan menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Shaga padanya.
Sentuhan yang sangat halus dan juga lembut, sentuhan yang membuat sekujur tubuhnya merasa seperti tengah dihanyutkan di alam-alam surgawi, terbang dan menikmati awan-awan indah penuh cinta.
Apalagi saat kedua tangan Shaga mulai bergerak nakal menggerayangi bagian dadanya, dua bola kenyal yang semula terkena luka tusukan pedang Valheins.
"Ugh.."
Mendadak sebuah keajaiban terjadi pada Alexa.
Dalam ciuman mesranya dengan Shaga di malam itu, dengan sentuhan lembut tangan Shaga yang terus melakukan aksi yang sangat membuai, sebuah sinar mendadak menyorot dari dalam jantung Alexa.
Cahaya itu menyorot terang manakala Shaga menyentuh bagian luka Alexa tanpa di sengaja. Namun keduanya tak bergeming dari posisi mengasikkan itu.
Keduanya justru semakin mengeratkan pelukan hangat mereka, sampai sinar keemasan itu mengelilingi mereka dan membawa mereka terbang ke atas awan di malam hari, mereka bahkan tidak melepaskan pelukan atau pun ciuman mereka.
Justru terlihat keduanya yang semakin terbuai, mulai naik ke atas, terbang dan menjatuhkan seluruh pakaian yang mereka kenakan, sampai tibalah mereka di atas awan dengan kondisi sekujur badan polos tak mengenakan apapun.
Sebuah keajaiban terjadi. Luka yang semual bersemayam di sekujur tubuh Alexa mulai perlahan terlihat membaik, dan kemudian mulai terlihat lagi kulitnya yang mulus dan juga putih itu.
Kedua anak muda itu makin asik saat kemudian bercinta di atas awan, untuk pertama kalinya, dan mungkin, ini adalah awal yang sangat baik.
Di sisi lain, tampak pria muda bernama Ceil yang sejak tadi berusaha untuk menemukan kedua orang itu.
Dari bawah bukit, dia memang mendapati percikan api yang menyala-nyala seperti tengah ditunggui oleh seseorang di sana.
Tapi dia begitu terkejut, manakala dia sampai di atas tebing dan tepat pada perkemahan darurat yang dilakukan oleh Shaga dan Alexa, dia malah tidak mendapati apapun selain peninggalan-peninggalan mereka berdua.
"Hahh? kemana mereka berdua pergi?" gumam bibirnya dengan lirih.
Dia hanya bisa menatapi ke sekeliling, dengan api yang menyala kecil dan hampir mati, dengan ikan-ikan yang telah dibakar namun belum tersentuh apapun, dengan pakaian yang berserakan di atas tanah.
"Umm?"
Mendadak dia tertegun melihat pakaian-pakaian itu berserakan di atas tanah, di bawah pohon yang rindang, sementara dia tidak mendapati siapapun di tempat itu, selain tanda-tanda kalau kedua orang itu mungkin saja tengah...
"Arkh! apa yang kau pikirkan, apa juga yang harus kau lakukan jika pikiran kamu ini benar? huhh! apa aku harus mencari mereka?" gundahnya dalam hati, yang dia salurkan juga melalui ucapan di bibirnya.
"Ah, tidak, tidak, mana mungkin aku akan mencari mereka dan melihat mereka tengah.."
"Tidak, tidak, tapi bagaimana kalau ternyata mereka memang dalam bahaya? tapi tidak mungkin juga, kenapa mereka harus dalam bahaya? apa mereka menemukan musuh baru untuk mereka perangi?"
"Kecuali musuh itu......"
Dia meringis mengerikan. Agaknya sifat sang ayah yang seperti itulah juga menurun kepadanya tanpa sadar.
"Ah, sudahlah, aku tahu mereka pasti sedang tidak ingin diganggu."
Pria itu pun akhirnya berlalu saja dari tempat tersebut, dan memilih untuk kembali ke pemukiman mereka dengan segera.
"Uhm.."
Di sisi yang lain, di atas awan yang indah, dipenuhi dengan madu asmara, dengan sentuhan manja nan menggelora, kedua orang itu tengah asik melakukan hal pertama yang baru mereka rasakan.
Sesuatu yang indah, yang tidak bisa dikatakan atau bahkan dijelaskan dengan apapun itu, mereka sendiri tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan rasa yang tengah mereka rasakan itu.
Keduanya hanya terlihat terus melakukan pergerakan, meski terasa sesuatu itu sangat sulit, sangat sempit dan tak mudah untuk diterobos, tapi mereka bahkan terus saja menikmati rasa sakit yang teramat sangat bercampur dengan sesuatu yang terasa nikmat di sana.
Ia tak tahu lagi harus bagaimana caranya mengatakan hal ini, tapi ia dan Alexa malam ini benar-benar menjadi sepasang kekasih, yang mungkin ke depannya mereka juga akan menjadi legenda sama halnya seperti Sean dan Riyana.
\*\*\*\*\*\*\*\*
Lama sekali Wilmer menunggu kepulangan dari pria muda tadi. Ia bahkan sudah meminum beberapa anggur di atas meja dalam keadaan seorang diri tanpa berteman siapapun.
Semua orang telah tertidur dengan lelap di tenda darurat masing-masing, sementara dirinya masih saja terus menunggu sampai pria muda itu datang memberi dia kabar tentang putranya.
Selain itu dia juga punya banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada pria muda itu, banyak pertanyaan yang mencuat dari benaknya tentang siapa pria itu yang sebenarnya, siapa pula ayah kandungnya, dan bagaimana keadaan putranya, ah, tidak bisa dijelaskan hanya dengan bermodal penantian.
Namun setelah penantian Tuan Wilmer yang begitu panjang, akhirnya dia bisa melihat sosok pria muda itu tengah berjalan mendekat ke arahnya, tentu saja dengan wajah yang berbinar dan lebih ceria.
Agaknya pemikiran dia tentang Shaga dan Alexa masih saja membayang di otaknya, sampai-sampai dia sendiri bahkan tidak sadar kalau dari kejauhan saja Tuan Wilmer sudah bisa memperhatikan dirinya.
Ya, meski itu dalam gelap, dan hanya menerima cahaya dari api unggun di depan Wilmer saja.
"Dia sudah kembali." Gumam Tuan Wilmer melihat pemuda itu terlihat sudah kembali dengan selamat.
Dia lekas bangkit dari duduknya, dan melihat semakin tajam ke arah Ceil, hendak menemukan sesuatu yang mungkin juga datang bersama dengan Ceil.
Namun dia malah tertegun dengan hebat, tatkala dia tak mendapati satu orang pun yang berjalan membuntuti dirinya.
"A? kenapa dia datang hanya seorang saja? dimana putraku? dimana Alexa?" tanya dia bergumam lirih di bibirnya.
Dia pun langsung beranjak dari duduknya dan mulai menghadang Ceil dengan sangat cepat, agaknya dia tak mau kehilangan anak ini dan semua jawaban atas pertanyaan yang masih dia simpan dengan baik di dalam hatinya.
"Hei, kau!"
Suara Wilmer yang berat langsung mengalihkan perhatian dan sekaligus pemikiran dari Ceil.
Pria muda itu pun tampak menoleh ke arah api unggun dan baru saja menyadari kalau di sisi api unggun itu juga terdapat seorang manusia yang tengah berdiri dengan tegak menunggu jawaban dari dirinya.
Dia pun lekas mendekat ke arah Tuan Wilmer memberi suara, dan kemudian menatap Tuan Wilmer dengan tatapan kedua matanya yang masih saja berbinar.
"Ya, tuan? maaf membuat anda lama menunggu." Ucap pria itu pada Wilmer.
Namun Wilmer tak menghiraukan ucapan maaf dari Ceil, yang dia mau hanyalah, Ceil menunjukkan kemana kiranya anaknya dan gadis yang pergi bersamanya itu.
"Kemana anakku dan kekasihnya pergi? kenapa kamu tidak membawa mereka kembali?" tanya Wilmer pada pria muda itu.
Mendengar kata-kata dari Wilmer barusan, sontak saja membuat Ceil mematung di tempatnya.
Tepat sekali, dia memikirkan tentang satu hal yang berhubungan dengan sepasang kekasih, dan ternyata, seperti yang diduga oleh Ceil, kedua orang itu memang tengah melakukan suatu hubungan yang terjadi antara sepasang kekasih di malam pertama.
Ugh..
Mengesankan.
"Kenapa kamu malah diam? kenapa kamu malah shock seperti itu?" tanya Wilmer benar-benar menghujani pria muda ini dengan ribuan pertanyaan dari mulutnya.
"A? Tuan, bukan apa-apa, aku, aku, aku hanya, aku.." Agaknya Ceil menjadi gugup karena pemikirannya sendiri.
"Aku apa? cepat katakan apa yang kau lihat!!" tanya Wilmer semakin menekan Ceil dalam amarahnya.
"Tuan, aku tidak menemukan mereka, aku hanya menemukan bekas perkemahan dan...."
"Dan apa?" pria itu benar-benar tidak sabar ingin mendengar penjelasan selanjutnya dari kata dan yang Ceil lontarkan kepada dirinya.
"Dan, pakaian mereka yang berserakan di atas tanah...."
Duarrrr!!!
Lantas Wilmer akhirnya terdiam membisu. Dia tak bisa lagi berkomentar pada pria ini, kecuali, dia menebak atas dua hal yang kemungkinan akan terjadi pada Alexa dan Shaga.
Pria itu lantas memalingkan wajahnya dari arah wajah Ceil, dan mulai larut dalam pikirannya sendiri yang rumit, berbunga-bunga, namun juga tak luput dari kecemasan.
Dua orang ini, apa mereka tengah melakukan hal itu, atau mereka tengah berada dalam bahaya?
Nak, ayah harap kau membawa pulang Alexa tanpa kurang suatu apapun, ayah harap, kau tidak membuat gadis itu dalam bahaya, ayah harap..
Dia berhenti berbicara dalam benaknya, dan kemudian malah terlihat tersenyum senang di bibirnya.
Dan ayah harap..
Ayah harap kamu segera memberi ayah seorang cucu...
Xi..xi.. xi..
Pria di sebelahnya melihat kejadian tersebut, dan menyematkan pemikiran aneh tentang pria tua di sampingnya tersebut.
"Aku harap dia tidak gila."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...