
~Happy Reading~
Hufff
Papa Daniel menghela nafas mendengar ucapan om Ardian. Sungguh membayangkan ke depannya ia akan memegang sendiri perusahaannya membuatnya sakit kepala. Selama ini perusahaan sebagian besar dihandle oleh putra sulungnya, karena putra bungsunya belum mau terjun membantu mengurus perusahaan. Beberapa waktu terakhir mengurus pekerjaan Joe saja sudah membuatnya sibuk, apalagi besok kalau Joe sudah menyerahkan sepenuhnya.
"papa jangan khawatir, ada Arga yang siap membantu, dan aku akan meminta Devan mulai terjun membantu" ucap Joe menenangkan sang papa.
Sementara Devan yang mendengar ucapan sang kakak malah melirik tajam ke arah sang kakak, bisa-bisanya kakak bicara seperti itu?
Joe membalas tatapan tajam sang adik dengan senyum smirknya, rencana yang menurutnya hebat sudah bertengger di kepalanya. Hehe, kali ini kamu akan nurut Van.
Joe akan memanfaakan kesempatan yang ada untuk membuat adiknya menurut. Pasalnya selama ini Devan selalu mengelak apabila Joe maupun papa Daniel meminta Devan bergabung dengan perusahaan.
Kakak yakin kamu ga akan bisa menolak Van.
Kenapa kakak senyum seperti itu? Jangan-jangan...
Devan sudah merasakan hawa yang tak enak menurutnya, sepertinya apa yang kakaknya rencanakan akan sangat membuatnya tak berkutik.
"kau dengar Van? bantu papa di perusahaan, dan kalau kau tidak mau, jangan harap bisa menikahi Alexa" ucap Joe tenang namun begitu tegas,
jeder!!
Devan menelan ludahnya kasar, benarkan dugaannya, kakaknya pasti akan mengungkit hubungannya dengan Alexa untuk membuatnya menghandle perusahaan. Hal yang selama ini dia hindari.
"kak...." renge Devan merasa tak terima
"eits, no protes!!! turuti kakak atau tidak ada restu dari kakak"
Skakmat!
Joe sudah mengeluarkan aturan yang tak bisa dibantah. membuat Devan begitu frustasi.
Tapi lain halnya dengan Rayhan yang merasa sangat senang dengan pembicaraan ini, Rayhan berpikir kalau sang kakak sudah menghandle NRC pasti papanya akan kembali mengurus ADR, jadi beban kerjanya akan berkurang,
Hihihi
Rayhan terkikik dalam hati membayangkan hal itu segera terjadi.
"Benar Van, papa setuju dengan syarat dari Joe" ucap papa Daniel dengan wajah sumringah
"kenapa ndak dari dulu saja sih Joe?"
"apanya yang dari dulu pa? ancam anak bandel papa ini?"
"iya lah, kan kalau gitu papa bisa banyak bersantai di rumah sama mama sejak lama, sudah ada anak-anak papa yang menghandle"
Para wanita yang mendengar pembicaraan mereka hanya menggelengkan kepala.
Ditengah pembicaraan yang terlihat hangat itu, Alexa mengerjapkan matanya perlahan.
"eh..." desis Alexa pelan, membuat mama Dania yang sedari tadi berada disampingnya menoleh,
"Exa..!!!."pekik mama Dania histeris, "kamu sudah bangun?"
"kak..." gumam Alexa pelan sembari mengerjap untuk memperjelas pandangannya.
Dengan sigap Joe menundukan tubuhnya di sisi Alexa seteleh memencet tombol di atas ranjang,
"kakak di sini Xa,..." bisik Joe, "apa yang kamu rasakan dek?"
"haus"
Joe mengambilkan segelas air yang berada di atas nakas, lalu membantu Alexa untuk meminumnya.
***
Siang hari setelah Alexa di periksa dokter, kondisinya sudah jauh lebih baik, kini Alexa tengah duduk bersandar sembari makan dengan disuapi mama Dania.
"sudah ma, Exa kenyang," tolak Alexa saat mama Dania kembali menyodorkan sesendok nasi beserta lauknya.
"tinggal sedikit sayang"
Alexa menggeleng, perutnya terasa begitu penuh dan tak sanggup lagi untuk menampung lebih banyak makanan.
"baiklah kalau gitu minum obatnya" mama Dania meletakan piring yang bawanya ke atas nakas dan menyodorkan beberapa butir obat untuk diminum Alexa.
"makasih ma" ucap Exa tersenyum setelah meminum obatnya.
"cepet sembuh ya sayang" usapan lembut Alexa terima di pucuk kepalanya dari sang mama.
Mama Dania terlihat begitu sedih melihat tubuh Alexa yang tampak kurus dan lemas,
"biarkan Exa istirahat ma, mama juga istirahat sini" timpal papa Daniel setelah melihat Alexa menyelesaikan makan siangnya. Papa Daniel menepuk sofa disisinya agar sang istri mendekat dan duduk di sana.
Di ruangan nampak begitu sepi karena om Ardian berserta anak dan istrinya telah kembali ke rumah lantaran Rayhan juga masih memerlukan banyak istirahat untuk memulihkan kondisinya. Sementara Devan dan Joe sedang pergi ke kantor polisi untuk mengurus perkara kejadian yang menimpa mereka.
"istirahat sayang, mama akan duduk di sana sama papa,"
Alexa mengangguk kemudian memejamkan matanya, lantaran efek obat yang dia minum sudah menunjukan reaksinya. Sementara sang mama telah duduk di samping suaminya.
"kapan kita bisa bawa Exa pulang ke rumah pa?" pertanyaan yang berupa rengekan itu mama Dania lontarkan pada sang suami yang sibuk dengan ponselnya.
"tunggu Devan mau bantu di perusahaan dulu ma"
"tunggu sampai kapan. Anak itu masih seneng dengan pekerjaannya saat ini" mama Dania menghela nafas. "papa sendiri tau kan bagaimana anak bungsu papa itu"
Perlahan tangan papa Daniel mengusap pundak sang istri kemudian menariknya dalam dekapannya. Memberikan kenyamanan pada sang istri agar tak merasa kesal lagi dengan putra bungsunya.
"ya papa tau, sejak awal Devan bergabung dengan tim kerjanya saat ini. Devan begitu sangat senang, meski papa sendiri terkadang begitu khawatir karena pekerjaanya sering mempertaruhkan nyawa"
"makanya bujuk Devan lagi pa, biar dia segera melepas pekerjaannya"
"tidak semudah itu ma, papa tau mama juga khawatir, tapi papa juga tak ingin begitu memaksakan kehendak papa, biarlah Devan menentukan pilihannya sendiri.
Tbc