
Ia tengah terduduk di atas singgasana, dengan seorang putri yang terlihat dungu di samping kirinya, berhias mutiara dengan wajah yan. Cantik dan juga anggun, namun sayang sekali, dia terlihat seperti seseorang yang diam.
Diam di tempatnya, dan tidak bergeming atau inci pun dari sana. Tidak mengedipkan kedua matanya, bahkan dia terlihat seperti patung.
Sang ayah membelai punggung tangannya yang sangat lembut, selembut sutra. Dia menatap punggung tangan putrinya yang sudah sangat putih pun juga memucat dari hari ke hari. Namun ia tidak pernah peduli.
Selama wanita ini ada di sini, bukankah jalannya untuk mendapatkan Alexa akan jauh lebih mudah?
Ia tersenyum, di raba lagi kulit putrinya yang hanya mengenakan gaun berlengan pendek dengan warna putih berpadu dengan hijau tosca membuat putrinya semakin terlihat anggun dan rupawan.
Meski dia sosok vampir, tapi penampilan Riyana sungguh sangat berbeda dibanding dengan yang lainnya. Dia terlihat seperti hal nya seorang manusia biasa, yang punya penampilan seperti putri istana, tidak melulu menggunakan jubah hitam merah khas mereka, dia bahkan mengubah gambaran vampir sang pembunuh berdarah dingin menjadi vampir yang anggun pun juga cantik.
"Sayang, kau sangat cantik, sama seperti ibumu, sayang sekali, ibu kamu harus tewas secara mengenaskan."
Ucap Valheins masih dalam posisi mengelus punggung tangan putrinya.
Dia melihat sihirnya berhasil merasuki jiwa dan pemikiran Riyana, hingga membuat dirinya menjadi semakin berani mengatakan apa yang seharusnya dia pendam selama ratusan tahun lamanya, yaitu tentang kematian mendiang istrinya, ibu kandung dari Riyana, sekaligus nenek Alexa.
"Seharusnya dia tidak mengkhianati aku, dengan melahirkan kamu yang hanya akan membuat aku merasa direpotkan, jika saja aku tidak memiliki kamu, aku mungkin akan menjadi penguasa tiga alam pada saat itu," ucap Valheins dengan sangat dalam, dia tidak segan-segan untuk berbisik di telinga mungil milik Riyana, "tapi," dia kemudian berhenti, dan kembali mengusap punggung tangan Riyana, "ayah sangat berterima kasih padamu, karena kau telah melahirkan seorang putri yang cantik, dan akan sangat berguna bagi ayah," sambung Valheins.
Dalam benak Riyana terasa rontok, seakan semuanya begitu mudahnya hancur dilalap si jago merah, seakan semua yang tidak ingin dia dengar sejak dahulu, semuanya membayang dengan jelas di depan kedua matanya.
Namun sayang sekali, dia tidak bisa bertindak apapun. Suara hati kecilnya itu begitu dalam, sampai rasanya tidak bisa dia dengar dengan jelas. Sekujur tubuhnya membeku seperti es, meski hati dan jiwanya meronta minta untuk dibangunkan.
Valheins benar-benar kejam telah membuat dirinya terkurung dalam raganya sendiri. Valheins bahkan tidak segan untuk membuat dirinya tidak bisa berbicara atau pun menolak ucapan Valheins.
Dalam lubuk hati terdalamnya, dia memang masih sadar, meski kegilaan itu sudah terjadi selama puluhan tahun lamanya, tapi jujur saja, di dalam hati kecilnya, dia masih waras seperti makhluk pada umumnya.
Hanya saja, dia selalu mudah untuk dikendalikan. Dia tidak mudah mengatasi dirinya sendiri, tapi orang lain justru lebih mudah membuat dirinya bertekuk lutut.
"Aku janji padamu, jika aku sudah berhasil mendapatkan jantung anak kesayangan kamu dan pria itu, aku akan membuat kamu menjadi wanita paling tersanjung, meski itu hanya di dalam neraka!!"
Ha.. ha... Ha....
Tawa Valheins terdengar sangat puas. Ia bahkan tidak bisa mengerti bagaimana perasaan Riyana yang saat itu hancur lebur seperti kiranya kayu yang dibakar dengan lalapan api, dan kemudian mulai berubah menjadi abu.
Hati Riyana merontok, tapi wanita itu tidak menunjukkan ekspresi sedih dan marahnya pada bagian fisik, terutama pada wajahnya. Dia terlihat baik-baik saja dari luar, tapi di dalam hatinya, dia sungguh meronta meminta untuk dibebaskan, terutama pada putrinya, yang sampai sekarang pun dia masih belum tahu dimana letak keberadaannya.
Aku mohon, tunjukkan dimana putriku, aku mohon, aku percaya padanya dia akan datang, tapi aku cemas dia tidak bisa mengatasi kejahatan ayahku, putriku, aku tahu kau akan selamat..
Blam!
"Jegal dia!!!"
Blam!
Bukk!
Duashh!
Aaaaaaaa
Blam
"Arkh!"
Suara keributan mendengar terdengar pada dua telinga Valheins. Dia menjadi bergeming dari tempatnya, saat mendapati suara keributan yang kemudian menjadi semakin dekat dengan dirinya.
Agaknya keributan itu memang berada dalam istananya, tapi sejujurnya, dia tidak tahu siapa yang hadir di sana.
Dia bergeming, mulai memalingkan wajahnya menjadi fokus pada pintu masuk ke dalam aula kebesarannya. Sementara semua penjaga di tempat itu sudah bersiap untuk menghadapi apapun yang ada di luar sana.
"Rapatkan barisan!!" Teriak salah seorang, yang kemugkinan besar adalah suara seorang jenderal.
Gruduk! Gruduk! Gruduk!
Semua pasukan menurut, merapatkan barisan dan mengamankan pintu masuk menuju ke arah aula besar tempat dimana Valheins bersama putrinya sedang terduduk dengan manisnya di atas singgasana.
Namun dia tak begitu risau, saat dia mulai mencium aroma yang sangat khas menusuk hidungnya, dan kemudian membuat dia mulai mengerti siapa kiranya yang datang untuk menemui dirinya.
Dia tersenyum dengan congkaknya, melepas tangan putrinya, dan kemudian meminta semua prajurit untuk mundur dan membiarkan tamunya hadir.
Brak!
Brak!
Terdengar suara sesuatu di balik pintu terdengar seperti sedang berusaha untuk mendobrak pintu.
"Buka pintunya.." ucap Valheins pada semua pasukannya.
Seketika semua prajurit pun mundur dari pintu, dan mulai memberikan jalan yang sangat luas untuk seseorang yang masih dianggap misterius tersebut.
Sementara itu, Valheins ingin membuat sebuah kejutan besar. Dia membalikkan kursi yang tengah diduduki oleh putrinya menjadi tidak terlihat oleh siapapun selain dirinya.
"Sayang, diam di sana, menurutlah.." ucap Valheins pada putri nya.
Brak!
Tak lama kemudian, terlihat pintu pun sudah terbuka, setelah sesuatu yang aneh itu memaksa masuk, dan bahkan merusak pintu tersebut tanpa ampunan.
Pria kekar itu masuk ke dalam aula tempat berdirinya singgasana Valheins, dan kemudian menghadap ke arah Valheins tanpa rasa takut.
Sementara Valheins malah menyimpulkan senyuman piciknya. Dia terlihat menatap kedua mata sang monster di depan kedua matanya, dan kemudian mulai memasang wajah s serius.
"Hem, aku menjebak orang lain, tapi lihat sendiri, tikus ini malah datang sendiri ke tempatku, aku jadi sangat terkesan.." ucap Valheins pada sosok monster serigala besar dan berotot di depannya.
Serigala itu tengah mengatur nafasnya dan juga degup jantungnya menjadi lebih teratur iramanya.
Namun Valheins tidak akan pernah kehabisan idenya. Dia hanya terkekeh pada saat serigala itu mengancam dirinya tanpa menggunakan apapun, tanpa mengandalkan apapun, selain kekuatan tubuhnya yang tersisa.
"Ha.. ha.. ha.."
Tawa Valheins bahkan sangat mengerikan. Tawa itu terjadi sesaat sebelum pria itu mulai menunjukkan sebuah kejutan luar biasa untuk sosok di depan matanya.
Dia mulai memutar kursinya, dan berniat membuat pria monster di depannya merasa terkejut.
Kursi itu pun mulai berbalik, dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat, juga tidak terlalu lambat. Kursi itu mulai menampilkan satu sosok wajah yang entah mengapa, sangatlah tidak asing meski sang serigala barulah melihat dari sisi kanan wajah wanita itu.
Sang serigala hanya bisa terdiam mematung sembari melihat sosok siapakah kiranya yang akan dia hadapi kali ini.
Namun dia begitu terkejut, saat melihat sebuah hadiah terbesar yang tidak akan pernah bisa dia bayangkan.
Sosok yang terlihat sangat anggun, dengan wajah yang tirus dengan kedua mata yang bersorot dalam sekali. Bibirnya kering meski agaknya sudah ditetesi dengan darah, sementara badannya menjadi lebih kurus dibanding sebelumnya.
Entah bagaimana konsep sebelumnya yang sedang dia katakan. Mengingat sebelumnya, adalah dahulu kala saat dia terkahir berjumpa dengan wanita ini, dan itu terjadi sekitar 20 tahun yang lalu.
Bukankah waktu dua puluh tahun adalah waktu yang lumayan lama?
"A? Riyana?"
Ha.. ha.. ha....
Tawa Valheins menjadi sangat puas terdengar, apalagi tawanya kali ini adalah gambaran kepuasan hatinya karena malah berhasil memulangkan tahananannya yang sudah pergi berhari-hari.
Dia terlihat bangkit dari kursi kebesarannya, dan kemudian mulailah dia berjalan maju ke depan, membuat sang monster serigala di depan sana tampak semakin terdiam.
"Sean, kau lupa kalau kau lebih lemah dariku, apa sekarang kau datang hanya untuk mengulang kesalahan keduamu?"
A? Apa itu Sean? apa pria serigala yang kini telah menjadi sosok monster ganas di depan Valheins itu adalah sosok Sean yang hilang selama puluhan tahun dari kelompok serigala? dan dialah yang dimaksud sebagai ayah kandung Alexa?
Jadi, rupanya kedua orang tua Alexa rupanya masih hidup?
"Valheins, selamanya aku tidak akan pernah merasa bersalah.."
Pria serigala itu terlihat memicingkan kedua matanya, bersiap untuk menyerang Valheins kapanpun itu. Namun dia begitu terkejut, saat Valheins malah kembali tertawa dengan puasnya, dan mulai menggunakan mantranya untuk mengendalikan Riyana.
Dengan patuh Riyana tampak bangkit dari duduknya, melangkahkan kedua kakinya dan berdiri di samping sang ayah. Namun tatapan matanya kosong, tidak berisi apapun di sana. Benar sekali, Valheins telah menyihirnya supaya lebih penurut, dan bisa dikendalikan dengan sangat mudah.
Meski begitu hatinya berkata lain. Dia berteriak, meminta tolong dan merasa senang melihat sang suami yang ternyata masih hidup dengan baik.
Dia merintih dan berteriak dalam hatinya, tapi suara hati Riyana terlalu dalam untuk didengar, dan suara itu, tidak akan pernah sampai pada telinga siapapun, termasuk juga telinga Sean.
"*Sean!! bantulah aku!! Sean, suamiku!!! aku ingin bangun!! Sean, selamatkan aku!! aku mohon! lepaskan aku dari jeratan yang sangat menyiksaku ini! aku mohon!!! Sean*!!!"
Teriaknya dalam benaknya, membuat sebuah jeritan menyedihkan yang sayang sekali tidak akan bisa didengar oleh siapapun juga.
Dan dia hanya bisa menangis merasa pilu dengan takdir yang begitu kejam dan tragis ini. Dia berada dalam kurungan di dalam tubuhnya sendiri, sedangkan sekarang suaminya telah kembali, bukannya dia harus memeluknya, dia justru malah harus menjadi tameng sang ayah dari serangan suaminya.
Ha... ha... ha..
Valheins kembali tertawa dengan puasnya. Dia mendapat kepuasan dari kejadian ini. Dia kemudian mengambil sebuah pedang yang tertancap di atas batu suci di samping kiri singgasananya, dia tarik dengan kekuatannya, dan kemudian dia arahkan menuju tangan Riyana.
Swosh!
Sling!
Melihat hal tersebut, Sean menjadi sangat terkejut. Dia terkejut karena pada saat itu, dia tahu, hal bodoh yang akan dia lakukan selanjutnya.
Sama seperti Sean yang terkejut dibuatnya, Riyana di dalam hatinya pun terkejut. Dia menggenggam pedang panjang dan mengkilat itu dengan sangat gagah berani, padahal sejujurnya dalam hatinya, dia tidak akan pernah melakukan peperangan melawan suaminya sendiri.
*A? apa-apaan ini? dia ingin aku melawan suami aku sendiri? Valheins! kau benar-benar iblis*!
"Ha.. ha.. ha.. majulah jika kau benar-benar pria yang sejati, lawan wanita ini, dan bunuh dia sesuka hatimu, aku mengizinkan kamu untuk melawannya, maka gunakan waktu kamu sebaik mungkin." Ucap Valheins pada Sean di depannya.
*Ayah, kau gila*!!
"Tuan Valheins, kau benar-benar gila!!" ucap Sean dengan sangat tegas.
Ha.. ha... ha...
Namun pria itu malah semakin keras tertawa di atas penderitaan orang lain. Dia malah semakin puas dengan pertunjukkan ekspresi yang ditunjukkan oleh kedua orang di depan sana.
"Ayolah, Sean, aku hanya minta kau untuk melawannya, apa itu sangat sulit bagimu?"
"Dasar pria tua yang gila!!"
Mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut Sean, Valheins sontak menjadi sangat marah. Dia terlihat mulai menajamkan tatapan matanya, menarik garis senyumnya, dia ganti dengan ukuran kebencian dan kemarahan yang membara.
Dia kemudian mulai menggerakkan satu tangan kanannya, seketika tubuh Riyana menjadi sangat tegap, tangannya dengan sangat kokoh menggenggam pedang, dan kedua kakinya siap untuk melangkah maju ke depan, untuk melawan Sean.
*Apa ini? ayolah, jangan lakukan itu, Riyana! aku mohon*!
Benak Riyana, untuk dirinya sendiri.
"Kau memang suka bermain-main!" ucap Sean.
"Putriku, majulah untuk menghabisinya!"
Swosh!
*Riyana, bangunlah*..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...