Alexa

Alexa
Part 39



“Apa yang om pikirkan?” tanya Alexa saat melihat om Ardian termenung


Om Ardian pun menoleh ke arah sang keponakan, berpikir sejenak, haruskah ia menceritakan peristiwa yang terjadi? Apakah mungkin ini ada hubungan dengan kematian kakak dan kakak iparnya yang tak lain adalah orantua dari Alexa?


“sebenarnya ada kejadian di masa lalu sebelum peristiwa pembunuhan itu terjadi.” om Ardian menerawang kejadian masa lampau, sebelum peristiwa kelam itu terjadi,


Flashback on


Brak!!


Terdengar gebrakan meja di salah satu ruang perkantoran pada siang hari saat karyawan pergi makan siang.


“bre***k kau Di!!” umpat seorang pria yang menggebrak meja tersebut


“kenapa? Kalian tidak berhak atas tanah itu” ucap pemilik ruangan yang tak lain adalah Adi Narendra.


Beberapa hari yang lalu Adi Narendra membeli sebidang tanah di daerah Y, tanah yang berada di perbukitan dan sangat luas, Adi mendapatkan tanah itu atas tawaran dari seorang pria tua yang dia selamatkan di pinggir jalan.


Pria tua itu bercerita ingin menjual sebidang tanah yang ingin direbut oleh sang keponakan. Tanah itu merupakan tanah keluarga, namun sudah diwariskan kepada sang pria tua itu, dan keponakan yang tak lain anak dari mendiang kakaknya itu sudah mendapat bagian tanah lain di tempat yang berbeda, namun masih menginginkan tanah yang diberikan kepada pria tua itu karena tanah itu sangat subur dan lebih luas.


Pria tua itu tak memiliki anak sebagai ahli waris, makanya sang keponakan memaksa untuk meminta tanah itu. Pria tua itu awalnya ingin memberikan tanahnya, namun belum sempat ia memberikannya. Ia mengetahui maksud sang keponakan meminta tanah, dan itu adalah tujuan yang tidak dibenarkan, sang keponakan ingin menanam g***a di lahan itu. Mengetahui niat buruk dari sang keponakan makanya ia berniat menjual tanah itu dan menyumbangkan uang hasil penjualan tanah untuk panti asuhan dan pembangunan masjid.


Mendengar cerita itu tanpa pikir panjang Adi langsung menawarkan diri untuk membeli tanah itu. Pria tua itu pun begitu senang dengan penawaran yang diberikan Adi. Merekapun segera mengurus akta jual beli serta sertifikat kepemilikan tanah itu.


“itu adalah tanah paman ku, dan aku adalah ahli warisnya” bentak orang dengan wajah sangar yang tak lain adalah keponakan pria tua itu.


“maaf, tapi tanah itu sudah saya beli sebelum pamanmu meninggal, dan secara hukum tanah itu sudah sah menjadi milik saya, kalian tak berhak meminta”


“awas kau Di, lihat apa yang akan terjadi karena perbuatan mu!” ucap pria itu mengancam dengan penuh amarah, lalu meninggalkan ruangan Adi Narendra diikuti beberapa orang yang bersamanya.


Flashback off


“lalu tanah itu sekarang di kelola siapa om?” tanya Joe yang mulai paham dengan cerita sang paman,


“tidak ada yang mengelola, tanah itu masih menjadi milik kalian, Adi membeli tanah itu secara pribadi bukan atas nama NRC, jadi tanah itu bukanlah aset daru NRC, kondisi tanah itu terbengkalai dan tidak ada yang mengelola.”


“tunggu om, om bilang itu tanah di daerah Y?”


“iya, di daerah perbukitan,”


Devan berpikir sejanak, mencoba mencocokab kejadian demi kejadian, mungkinkah tanah itu tanah yang didirikan gudang Narkoba yang ia gerebek tahun lalu? Kalau memang benar motif mereka melakukan penyerangan pasti berkaitan dengan tanah itu.


“kenapa kak?” tanya Alexa yang melihat sang kekasih berpikir setelah mendengar cerita sang paman.


“kamu ingat kasus penggerebekan gudang Narkoba yang kakak tangani tahun lalu?”


“iya… tanah itu di daerah Y”


“ya, mungkinkah itu tanah yang sama yang dimaksud om Ardian?”


“apa yang kalian maksud gudang Narkoba yang di tutup itu?” tanya om Ardian menimpali


“benar om, om tau sesuatu?”


“iya, tahun kemarin om dimintai keterangan terkait kepemilikan tanah itu, hampir saja om ikut masuk penjara tapi karena om bisa membuktikan tidak ada sangkut pautnya dengan gudang itu, makanya om bisa bebas”


“apakah kakak berpikir seperti yang aku pikirkan?” tanya Alexa yang melihat Devan sibuk dengan ipadnya


“ya mungkin Xa, sebentar, kakak sedang mencoba mencocokan data yang kita punya dulu”


Drt drtt


Di tengah obrolan serius mereka, ponsel Devan bergetar menandakan adanya panggilan masuk yang tak lain panggilan dari rekannya, Devan pun beranjak menjauh ruangan itu dan menyampaikan informasi yang didapatkannya. Devan juga meminta perlindungan extra untuk keluarga karena musuh yang mereka hadapi bukanlah orang sembarangan.


***


Kini Devan duduk seorang diri di teras belakang rumah, sementara yang lain sudah tertidur, kejadian yang mereka alami membuatnya selalu waspada, kekhawatiran akan lokasinya yang terlacak membuatnya harus berpikir keras, bahkan sampai saat ini orang tua nya yang menanyakan keberadaan Alexa selalu dialihkan, Devan mengatakan bahwa Alexa sedang berlibur untuk memulihkan kondisinya. Seperti saat ini,


“Van, jangan bohong sama mama!” ucap mama Dania dengan penuh kesal, beberapa hari mencoba menghubungi anak gadisnya tetapi tak terhubung, bahkan sudah mencoba ke rumahnya, tapi rumah dalam keadaan sepi, tak ada orang. Bahkan Joe juga sang putra sulung juga tak dapat dihubungi.


“Devan ga bohong ma, Exa dan yang lain sedang berlibur, ke luar negeri ma”


“tapi kenapa nomornya tidak bisa dihubungi?”


“ya Devan ga tau, mungkin saja nomornya tidak di daftarkan di jaringan international, makanya tidak bisa di hubungi” elak Devan


Terdengar helaan nafas di seberang sana,


“mama kangen sama anak gadis mama” ucap mama dengan wajah memelasnya


Sungguh hal itu membuat Devan merasa tak tega, tapi untuk saat ini lebih sedikit orang yang tau keberadaan Alexa dan yang lain akan membuat kondisi lebih terkendali.


“Devan akan coba hubungi ma, kalau Devan dapat kabar dari Exa, Devan akan kasih tau mama”


“bener ya, mama tunggu pokoknya”


“iya, Devan usahakan, sekarang mama istirahat saja, sudah malam, jaga diri mama dan papa”


“iya, seharusnya mama yang bilang ke kamu, jaga diri kamu baik-baik”


“iya ma, Love you…” ucap Devan lalu mengakhiri sambungan telponnya.


Saat pembicaraan berakhir, teryata ada sosok wanita telah berdiri memperhatikannya


“mendekatlah Xa, kakak tau kamu di belakang” ucap Devan tanpa menoleh ke belakang di mana Alexa berdiri.


“kemampuan kakak emang tidak diragukan” Alexa tersenyum lebar kemudian melangkah mendekati sang kekasih.


“kakak akan tau posisi kamu di manapun berada, dari jauh saja kakak bisa merasakannya” gombal Devan saat sang kekasih duduk di sampingnya.


“gombal” Alexa tersipu malu mendengar godaan Devan


“kenapa belum tidur?” tanya Devan mengalihkan pembicaraan, mungkin ada hal ingin Alexa sampaikan padanya.


Tbc


terimakasih atas dukungannya 😍😍😍