
~Happy Reading~
Tak menunggu lama, Alexa segera menutup gordennya dan mengintip dari sela-sela untuk memastikan sosok yang berdiri di luar pagar rumah, setelahnya dia pun mencari handphonenya dan menghubungi seseorang yang bisa membuatnya tenang.
“Hallo”
“Kak..” ucap Alexa dengan suara bergetar
“tetap di dalam Xa, jangan khawatir akan kondisi di luar” ucap seseorang di seberang sana, sebelum Alexa menjelaskan kondisi yang membuatnya begitu khawatir, ia sudah mengetahui apa yang telah terjadi.
“tante Rasty di luar kak, aku khawatir pada tante dan bibi”
“tenang saja, mereka aman, kakah sudah beri pengawalan kepada mereka tanpa mereka ketahui”
“terimakasih kak,”
“tetap diam di kamar, kunci pintu dan jendela”
“baik kak,”
“ingat, jaga kondisimu juga, jika 10 menit orang itu tak pergi maka dalam 30 menit kakak akan sampai di sana”
“baik kak”
Alexa pun berdiri di balik tembok, sembari mengamati kondisi di luar rumah, terlihat seseorang yang tak dikenalnya masih berdiri di sana sembari berbicara dengan ponsel yang bertengger di telinganya. Orang itu berbicara sembari mengamati sekitar, dan tak lama setelahnya orang itu pergi ketika sebuah mobil berwarna hitam menjemputnya.
Alex pun segera mengabari seseorang yang diajaknya bicara tadi, memberi info melalui pesan bahwa orang asing itu telah pergi. Setelah orang itu membalas, kalau kondisi sudah aman, barulah Alexa merasa lega. Ia pun membaringkan tubuhnya di ranjang setelah ketegangan yang terjadi.
Hingga menjelang maghrib tente Rasty baru pulang dengan begitu banyaknya kantung belanjaan yang di bawa.
" tente borong banyak banget" pekik Alexa melihat begitu banyak bahan makanan yang dibeli, pantas saja mereka perginya begitu lama, walau cuma di swalayan depan,
"hehe, iya Xa, mumpung ada, lagi pula kita tidak tau berap lama kita tidak bisa keluar rumah dengan leluasa, jadi sekalian saja," ucap tante Rasty sembari menata bahan makanan di kulkas, dan lemari penyimpanan,
"oh ya, batagor kamu sedang disiapkan bibi"
"ini mbak" ucap bibi menyela sembari menyodorkan sepiring batagor pesanan Alexa sebelum belanja tadi.
"ah, terimakasih tante, terimakasih bi"
Alexa pun menyantap makanan kesukaannya itu dengan mata berbinar, sungguh nikmat rasanya. sementara tante Rasty dan bibi hanya tersenyum melihat Alexa yang begitu lahap. Tak lama kemudian om Ardian dan Rayhan datang setelah seharian bekerja,
"wih,.. bagi dong Xa," ucap Rayhan setelah menyapa mamanya dan melihat sang sepupu tengah menikmati batagor dengan lahapnya,
"eh, ga boleh, nanti aku kurang kalau kamu ikut makan"
Rayhan pun mencebikan bibirnya mendengar jawaban Alexa,
"buka sendiri itu Ray, mama tadi beli banyak, karena mama yakin kalau cuma sepiring pasti Alexa kurang" tante Rasty terkekeh melihat tingkah putra dan keponakannya itu,
"ah, mama emang is the best" puji Rayhan pada sang mama sembari mengacungkan jempolnya,
***
“Bagaimana kondisimu sayang?” tanya om Ardian saat melihat Alexa menuju ruang makan saat makan malam.
“Baik om, seharian Exa hanya tiduran”
“syukurlah, memang harus banyak istirahat, biar segera pulih”
“iya om,”
“malam semua” sapa Rayhan yang baru saja bergabung di meja makan,
“malam Ray” jawab Alexa sembari tersenyum pada sang sepupu yang duduk di sampingnya
“gimana kondisi kamu Xa?”
“sudah lebih baik Ray”
“syukurlah, pasti sangat baik ya, setelah makan batagor 2 piring,"
Alexa pun hanya nyengir, merasa malu karena begitu rakus jika di depannya ada batagor,
Tante Rasty pun hanya tersenyum mendengar ucapan putra semata wayangnya, tak ingin menyanggah, karena memang itu lah yang mereka lakukan seharian tadi.
“kamu bicara apa sih Ray?” bukan suara dari Alexa yang terdengar, melainkan dari om Ardian yang merasa aneh dengan ucapan putranya. Bagaimana putranya itu tau kalau dighibahin sepanjang hari? begitu pikirnya
“sepanjang hari, Ray bersin-bersin terus pa, pasti lagi ada yang ghibahin Ray tadi”
Om Ardian yang mendengar jawaban sang putra hanya menggelengkan kepala, tak masuk akal menurutnya. “Ada-ada saja kamu ini”
“serius pa.. Ray sudah pernah alamin ini, benarkan Xa?”
Alexa pun tertawa pelan menjawab desakan sang sepupu, “kamu kaya cenayang Ray?”
“ih, serius ini, iya kan?”
“sudah, waktunya makan malam, tidak baik ngobrol saat makan” cegah tante Rasty menengahi pembicaraan putra dan keponakannya.
“wah, pasti ghibahnya tadi sama mama kan?” Rayhan masih merasa tak terima
Sementara tante Rasty dan Alexa pun hanya tertawa tertahan melihat ekspresi kesal dari Rayhan, hingga teguran om Ardian membuat Rayhan mau tak mau mengubah rasa kesalnya. Mereka pun akhirnya makan malam bersama dengan tenang.
“Joe sudah mengabarimu Xa? Kenapa belum pulang jam segini?” tanya om Ardian setelah usai makan malam.
“Kak Joe ke rumah papa Daniel om, mungkin agak malam pulangnya karena ada yang mau di urus katanya”
“oh, baiklah”, seketika kekhawatirannya sirna mendengar jawaban Alexa
“gimana kerjaanmu di kantor Ray?” om Ardian beralih bertanya kepada sang putra
“ga ada masalah pa, Ridwan sekretaris papa bisa diandalkan kok, bantu Ray banget”
“syukurlah, kamu harus jaga kerja sama kamu dengan Ridwan Ray, dia anak yang punya kinerja bagus"
"siap pa" jawab Rayhan mantap,
"oh ya Xa, setelah kondisi aman, om harap kamu mulai pegang NRC ya Xa?” om Ardian kembali menatap lembut Alexa
“hmmm…gimana ya om?”
“sekarang kan Joe sudah pulang juga, jadi om rasa tidak ada alasan lagi, benarkan?”
Alexa hanya tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya, dulu setiap kali ditanya soal NRC Alexa selalu mengelak dengan alasan sang kakak belum kembali, namun kali ini karena Joe sudah kembali akhirnya dirinya tak bisa menghindar lagi, NRC memang sudah menjadi haknya dan sang kakak yang diwariskan kedua orang tuanya untuk mereka.
“nanti Exa bicarakan sama kak Joe dulu deh om”
“hmmm, ya ada baiknya kalian berdiskusi tentang ini, bukannya om sudah tak mau membantu, tapi alangkah baiknya kalau salah satu dari kalian yang berada di kursi pimpinan, dan om akan bantu dari belakang, lagi pula dari awal itu hak kalian juga”
“iya om, terimakasih sudah banyak membantu menjaga NRC selama ini”
Obrolan lain pun mengalir hingga pukul sembilan malam, dan Rayhan sudah pamit dulu ke kamarnya untuk beristirahat, setelahnya mereka pun membubarkan diri untuk membaringkan tubuh mereka di kamar masing-masing.
Pukul sepuluh malam, barulah Joe tiba di rumah, tempat yang di tuju pertama adalah kamar sang adik, seharian tak bisa menemaninya membuatnya begitu merindukannya,
Cklek
Perlahan Joe membuka pintu kamar sang adik, dan melangkah perlahan mendekati ranjang. Dilihatnya sang adik tengah terbaring lelap, Joe tersenyum dan mengusap pelan pucuk kepala Alexa kemudian mendaratkan kecupan sayang di kening sang adik.
“Kak…” ucap Alexa yang terbangun setelah mendapat kecupan sang kakak
“Maaf kakak membangunkan mu?” ucap Joe sembari duduk di pinggir ranjang Alexa
“kakak baru pulang?” dilihatnya sang kakak masih mengenakan pakaian kerjanya
“iya, lanjutkan tidurmu, kakak akan ke kamar”
“hmm” Alexa pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum menatap kakaknya yang beranjak dari duduknya dan melangkah keluar kamar.
Alexa pun kembali memejamkan matanya, meski situasinya belum begitu aman baginya, namun rasa aman sudah menyertai pikiran dan hatinya. Dia yakin kakaknya kali ini akan selalu menjaganya. Tak akan membiarkan dirinya terluka lagi, bahkan terpisah darinya.
Sementara sang kakak kembali ke kamarnya setelah memastikan keamanan rumahnya terjaga, kali ini Joe begitu protective terhadap keluarganya, tak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan semua anggota keluarga. Musuhnya sudah diketahui secara pasti namun cara mereka yang mendekat dan menyerang perlu diantisipasi.
tbc