Alexa

Alexa
Part 42



~Happy Reading~


“Perasaan tante dari tadi tidak enak” ucap tante Rasty yang sedari tadi merasa gelisah. Sedari mereka makan bersama tadi tante Rasty sudah merasa tak nyaman, seperti sebuah firasat, sesuatu hal buruk akan terjadi,


“tante tidak usah khawatir, Exa akan baik-baik saja, tante jaga diri di rumah sama bibi lagi pula Exa juga cuma bentar, Exa janji nanti akan langsung pulang setelah ketemu Dosen”


Tante Rasty pun mengangguk, meski dirinya masih begitu cemas.


Saat akan berangkat ke kampus, Alexa memberikan arahan kepada para penjaga di rumah untuk waspada, entah mengapa dia juga merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi, hanya saja dia belum bisa memastikan apapun, yang penting saat ini bersiap dan berjaga-jaga kalau hal buruk itu terjadi.


Saat mobil yang di kemudikan Rayhan memasuki halaman depan, Alexa segera keluar dan masuk ke dalam mobil setelah berpamitan pada sang tante. Rayhan langsung memacu pedal gasnya agar segera tiba di kampus sang sepupu, kampus yang sama dengan tempatnya dulu menimbanya ilmu.


Drrrt… Drrrt


Saat mobil Rayhan bergerak perlahan di jalan raya karena padanya kendaraan, terdengar ponsel Alexa bergetar menandakan adanya panggilan masuk.


Alexa pun mengambil ponsel dalam tasnya dan melihat nama yang tertera di ponselnya.


“Xa..!!!” panggil seseorang di seberang sana saat sambungan telephone terhubung.


“iya kak”


“kamu di mana?” tanya orang itu to the point dengan suara yang terdengar tegang.


“di jalan mau ke kampus”


“s****!!” umpatnya karena terlambat mencegah sang kekasih untuk keluar rumah, ya seseorang yang menghubungi adalah Devan, kekasih Alexa yang dua hari ini tak menemuinya.


“kenapa kak?”


“kembali ke rumah sekarang juga!!”


Brak!!!!!


Belum jadi Alexa menjawab terdengar suara benturan dari samping kiri mobil, mengarah tepat pada bangku di samping kemudi tempat Alexa duduk.


“Xa… Exa….!!!” Terdengar suara panik di ponsel yang terlepas dari genggaman pemiliknya.


Sementara Alexa saat ini tengah memegang kepalanya yang berdenyut dengan tangan kanannya. Alexa mencoba menegakkan tubuhnya dan melihat sekelilingnya. Samar-samar tedengar suara orang mendekat, dan dilihatnya Rayhan yang terlihat tak sadarkan diri dengan kepala bersandar di pada airbag.


Sesaat setelahnya pandangan Alexa mulai mengabur dengan nyeri kepala yang cukup hebat, suara orang-orang yang berusaha menolongnya terdengar riuh, dan lama-lama kelamaan pandangan matanya meggelap.


***


Disisi lain, seseorang yang menghubungi Alexa merasa sangat panik karena mendengar suara benturan yang cukup keras, dan panggilannya pada sang kekasih tak di jawab. Samar-samar dia mendengar suara keramaian, karena tak mendapatkan jawabannya Devan segera menghubungi rekan teamnya yang menjaga Alexa dari kejahuan.


Setelah memastikan titik lokasi dimana Alexa berada, Devan segera meluncur menuju tempat sang kekasih berada. Devan pun memperoleh informasi kalau mobil yang ditumpangi Alexa di tabrak dari samping, sebelum mereka bisa mencegahnya,


Tak berapa lama Devan telah sampai di lokasi kecelakaan, dan melihat sang kekasih yang di dorong ke dalam ambulance. Devan pun bisa melihat mobil yang Alexa tumpangi tampak ringsek bagian samping kiri, dan orang-orang berkerumun untuk membantu atau sekedar melihat kecelakaan yang menimpa Alexa dan sepupunya itu.


Setelah memberikan arahan kepada rekannya, Devan mengikuti petugas yang membawa Alexa. Alexa masih dalam keadaan tak sadarkan diri dengan Devan duduk di sampingnya, sementara petugas medis berusaha memberikan pertolongan pertama.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, Devan mulai merasakan sesuatu yang janggal. Kenapa mereka tak sampai-sampai? Lalu ia melihat ke depan, tak tampak ambulance yang membawa Rayhan di depannya, dan jalan yang dilalui seperti bukan jalan ke rumah sakit.


“siapa kalian?” ucap Devan sembari menodongkan senjatanya ke arah petugas yang memberikan pertolongan pertama pada kekasihnya.


Petugas itu pun terdiam tak menyahut, sementara seseorang yang berada di depan semakin memacu pedal gasnya menambahkan kecepatan mobil ambulance yang dikemudikannya.


“hentikan mobilnya!!” Devan memerintah sembari menodongkan senjatanya di belakang kepala sang sopir, namun petugas yang berada di sisi seberangnya langsung menyerang Devan. Terjadi perebutan senjata di dalam mobil dan sesekali pergerakan Devan dan petugas itu membuat sopir kehilangan control kemudinya hingga mobil meliak-liuk di jalanan yang sepi itu, sedangkan Alexa masih belum sadarkan diri.


Ciiit!!!!!


Setelah beberapa saat mereka berkelahi, mobil ambulance tampak berhenti mendadak, dan memberikan kesempatan pada Devan untuk memukul petugas yang hendak merebut senjatanya. Orang itu tak sadarkan diri setelah mendapat pukulan di kepalnya. Sementara sopir yang berada di depan mencoba mencoba untuk memundurkan mobilnya karena ternyata di depan mobilnya terdapat seekor sapi yang lepas dari kandangnya.


Devan pun mengikat petugas yang tak sadarkan diri itu kemudian melihat ke arah depan mobil. sontak saja matanya membola melihat sapi yang yang telihat marah berdiri di depan mobil.


Dengan keadaan lengah sang sopir Devan segera membuatnya tak sadarkan diri, Devan pun melompat ke arah kursi depan dan berusaha mengikat sopir itu agar nanti saat sadar tak bisa melarikan diri. Dengan susah payah Devan menggeser sopir itu ke kursi samping kemudi, dan dirinya mengambil alih kemudi untuk membawa Alexa ke rumah sakit.


Mengabaikan sapi yang terlihat marah itu, Devan segera memundurkan mobilnya dan memutar balik saat kondisi jalan lengang.


“ssssttt….”


Tbc


Terimakasih atas dukungannya 😍😍😍😍