
Ia masih berada dalam jeratan kekuatan Valheins, dengan bagian leher yang tercekik dan karena itulah dia semakin sulit walau hanya untuk sekedar bergerak.
"Le-lepaskan!!" pekik Alexa masih mencoba melarikan diri dari jeratan Valheins.
Ha.. ha.. ha...
Namun pria tua itu malah tertawa, seakan masih kurang puas juga dengan melihat kondisi Alexa yang sudah terkekang olehnya dan hampir kehilangan nyawa, agaknya dia memang hanya akan puas jika melihat Alexa mati.
"Tidak sebelum kau menyerahkan jantung kesayangan kamu itu!"
Brak!!
Tubuh Alexa dibiarkan di atas batu yang menggelepar dengan lebar, dijerat dengan rantai besi yang sudah diisi dengan mantra Valheins supaya gadis itu tidak bisa lagi bergerak atau mungkin ingin melarikan diri dari sana.
Dan upacara pun akan segera dimulai.
Jlger!
"Dengan kekuatan tiga alam.. aku hadirkan sebuah keistimewaan..."
Valheins terdengar mulai merapalkan mantra dari mulutnya, sementara di bawah tebing, masih berlari sosok Collab yang terus berusaha untuk bisa menggapai ke arah Valheins dan Alexa berada.
Meski keempat kaki kuatnya tidak bisa lebih cepat melebihi para vampir, tapi setidaknya dia punya nyali untuk segera tiba di tempat dimana Alexa akan menjadi persembahan.
"Tenanglah, keponakanku! aku akan segera datang!" gumamnya selalu jika dia sudah berada dalam rasa penat yang semakin membuat nafasnya terengah-engah.
Hosh! Hosh! Hosh!
Suara nafasnya memang terdengar sangat memburu. Dia bahkan tidak bisa lagi mengatur degup jantungnya yang seolah-olah ikut balapan liar dengan irama nafasnya yang menggebu-gebu.
Dia terlihat semakin tidak bisa mengatur nafasnya, mungkin usia juga termasuk salah satu faktor yang membuat dirinya mudah lelah. Entahlah, padahal Wilmer juga seusia dia, tapi ternyata pria itu masih terlihat lebih gagah dan muda dibanding dengan dirinya.
Ngomong-ngomong soal Wilmer, pria itu juga sama, masih terlihat berperang melawan ribuan vampir yang bandel, yang tidak mau menurut dan malah menyerahkan nyawanya pada Wilmer.
"Musnah saja kau!" umpat Wilmer sambil melempar mayat-mayat vampir yang berhasil dia penggal dan dia jatuhkan mereka ke dalam bara api yang menyala menyeramkan.
Hiyaaaaa!
Trang!
Pertempuran semakin ganas saja, seakan genderang perang kembali ditabuh, membuat suasana menjadi lebih memanas, dengan pertempuran yang tidaklah semudah dalam bayangan.
Ia tak bisa berkutik, dia hanya selalu fokus pada puluhan barisan vampir yang ingin sekali membunuhnya dengan usaha-usaha gila mereka. Sayang sekali, dia itu salah satu pejuang legendaris yang tercantum dalam sejarah novel ini, jadi kemungkinan besar, dia teramat mudah mengalahkan kutu-kutu seperti para vampir itu.
"Akulah sang legenda! jangan berpikir untuk membunuh pejuang legendaris ini! mimpi saja kau!!" umpat Wilmer sambil terus menjatuhkan satu demi satu lawan yang menghadang dirinya.
Dia menjegal salah satu leher vampir yang mencoba menjatuhkannya, dan kemudian mencekik leher vampir itu, lalu meludahinya.
Cuih!
"Lihatlah dirimu! aku memang anjing, tapi aku anjing yang bermoral, tidak seperti kamu, rupa mirip manusia, tapi nyatanya kelakukan tidak ada bedanya dengan iblis!" umpat Wilmer tidak main-main.
Setelah puas menjegal dan mencekik leher lawannya tanpa ampun, dia pun tak segan-segan untuk menyobek mulut vampir itu dengan kekuatannya.
Aaaaaaaa!!!!
Teriakkan keras terdengar sampai ke ujung langit, saat terjadinya eksekusi yang dilakukan oleh Wilmer. Bahkan sekarang vampir itu sudah ambruk di tangan Wilmer.
Blus!
Melemparkan kepala vampir ke mulut api.
"Ahahaha.. kau makhluk menjijikan!" umpat Wilmer lagi.
Pria itu tak ada bosannya mengumpat, mungkin jika umpatannya itu dia masukkan ke dalam karung, sudah hampir penuh lah itu umpatan dari mulutnya. Sayang sekali, hal itu hanya sebuah perumpamaan.
"Tukarkan jantung ini.. tukarkan jantung istimewa ini.."
"Tidak! tidak bisa!" pekik Alexa, kali ini dia benar-benar tidak bisa melakukan apapun.
"Aku menginginkan keabadian.. aku menginginkan kekuasaan.."
Sementara di sisi lain, Collab sudah hampir tiba di atas tebing. Sedikit lagi, hanya membutuhkan waktu satu menit lagi.
Namun Alexa sudah berada di ambang kematian.
"No!!!!!"
Sling!
Kuku-kuku tajam di ujung jemari Valheins mulai dia keluarkan. Kuku-kuku yang sangat panjang dan runcing, bahkan mungkin penampakkan kuku-kuku milik Valheins itu tidak ada bedanya dengan penampakkan silet yang berjejer dan mengkilat bisa melukai dan membunuh Alexa dengan satu sentuhan saja.
Dan kawanan kuku milik Valheins itu dihujamkan, ditusukkan dengan sangat perlahan mengarah pada jantung yang tengah berdenyut dalam dada Alexa.
Aaaaaaaa!!!!
Pekik Alexa pun semakin kencang dan juga kuat. Rasanya seluruh rasa sakit pada sekujur tubuhnya benar-benar berkumpul dan menjadi satu berbaur dalam satu jantung Alexa, dan hal itu membuat Alexa menitihkan air matanya.
*Rasanya pada saat itu, antara aku yang tidak akan bisa bernafas lagi, atau mungkin, dia yang menekan aku begitu dalam sampai terasa membuat aku seakan mau mati*.
Bibirnya menjadi semakin pucat, dengan sorot mata yang entah mengapa berubah menjadi sangat dalam. Dia menutup kedua matanya, tidak menolak lagi jika memang saat ini adalah saat baginya untuk mati.
*Aku pasrah*!
Samar-samar terdengar suara seseorang berteriak menyebut namanya..
*Alexa*!!!
Dia terbangun, membuka kedua matanya meski hanya untuk sekejap. Sekelebat bayangan Shaga muncul di sana, bersamaan dengan wajah cemasnya dan kata-kata cintanya yang tidak pernah dia lupakan dalam ingatan kecilnya..
*Aku mencintai kamu, apakah kau juga*?
Kata-kata itu terdengar dan terngiang-ngiang di kedua telinganya, hingga membuat dia tersenyum sekilas.
"*Ya, aku sudah jatuh cinta padamu*.."
Lap!
Dan setelah itu dia tidak mengingat apapun lagi. Dia tidak mendengar apapun lagi, bahkan saat Paman Collab sampai pada sisinya, dan kemudian menggagalkan rencana Valheins lagi.
"Jangan mimpi kamu!!"
Bruk!!
"Arkh!"
Sejuta tenaga Paman Collab mencoba untuk mendorong Tuan Valheins agar terjatuh dan tersingkirkan dari arah Alexa. Dan benar saja, usaha Paman Collab rupanya membuahkan hasil yang sangat baik.
Tuan Valheins terjatuh dan tersungkur jauh dari Alexa. Dia jatuh di atas bebatuan tebing, dan kemudian memegang dadanya yang mungkin terbentur sesuatu hingga membuat bagian tersebut terasa sangat nyeri.
Dia terbangun dan menatap Collab, lalu tersenyum miring, seakan menyiratkan sebuah ledekan keras bagi Collab.
"Hahh! pejuang lawas yang kembali muncul di Medan perang! apa kau ini sedang bercanda?" tanya Valheins pada Paman Collab.
Namun Paman Collab tidak satu pun menjawabnya. Dia hanya terlihat mengepalkan kedua tangannya dan menatap Tuan Valheins dengan sangat tajam.
"Lihatlah dirimu ini! lemah dan payah!" umpat Valheins berusaha untuk menjatuhkan Collab.
"Pejuang legendaris yang ketakutan!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...