
Di tengah-tengah keasikan pertarungan yang tengah terjadi antara ketiga orang di atas tebing, mendadak sepasang kaki menapak di atas bebatuan tebing, hingga terasa tapak kakinya itu menggetarkan seluruh permukaan tebing yang curam pun juga terjal.
Ketiga orang di sana tampak tertegun di tempat berdiri mereka. Mereka juga terlihat berhenti dari aksi pertarungan yang sebelumnya tengah mereka lakukan.
Mereka sontak menghadap ke arah Alexa, dan kemudian menatap mata gadis itu, Maya yang pada bagian tengahnya berwarna merah, sementara di sekelilingnya, tampak berwarna keemasan.
Keajaiban dan keindahan yang bergabung dan berbaur menjadi satu, menjadi semakin indah dengan sentuhan kulit putih dan bersih milik Alexa.
Apalagi gadis itu tidak hanya membawa keajaiban yang sungguh nyata bisa dilihat oleh kedua mata, tapi dia juga membawa kekuatan yang sangat besar, yang tentunya, mungkin bisa dia gunakan untuk membalas dendam yang tersemat dalam hatinya untuk Valheins.
"Alexa?" panggil Shaga dengan gumaman lirihnya, dia bahkan tidak bisa menyembunyikan kekaguman di wajahnya tatkala menatapi sosok Alexa yang baru.
"Ha.. ha.. ha..."
Namun pria tua yang gila yang menjadi musuh bebuyutannya itu malah tertawa, seakan dia akan menjadi orang pertama yang mengalahkan dan membunuh Alexa. Dia benar-benar laki-laki yang selalu bermimpi dengan cukup tinggi.
"Kau datang dengan kedua orang tua kamu? sayang sekali, sekalinya lemah, maka seumur hidup juga akan dibilang lemah." Ucap Valheins, seperti biasa, berusaha untuk menjatuhkan lawannya.
Namun sejak awal bukankah Alexa selalu terkenal dengan kepandaiannya dalam berbicara, dan ketangkasannya menjatuhkan lawan.
Agaknya Valheins masih terlalu buta untuk melihat siapa Alexa yang hendak dia hadapi itu.
Gadis itu terlihat membersitkan senyuman tipis di balik cindung yang menutupi sebagian wajahnya itu.
Namun senyumannya masih bisa terkuat dari luar, senyuman yang sangat menakutkan pun juga amat menyeramkan.
Senyuman yang bahkan bisa membunuh nyali siapapun hanya dengan kilatan sinisnya, dan sekarang, Valheins agaknya akan mendapat balasan yang setimpal untuk membalas semua perbuatannya sejak dahulu kala.
"Heng! ya, hanya dibilang lemah, biasanya yang terlihat lemah, adalah sesuatu yang sangat berharga, justru sebaliknya, yang disanjung, biasanya hanya sampah yang tidak berguna!"
Balas Alexa dengan sangat berani. Ia bahkan tidak lagi merasa gugup dengan pria tua yang katanya memiliki kekuatan yang sangat besar, dan tidak ada yang bisa menandingi kehebatan Valheins sejak ratusan tahun silam, termasuk juga ayahnya.
Tapi dia, dia tidak lahir dari sembarang rahim. Dia lahir dari sebuah keberanian, dan dia tercipta dari sebuah kehebatan. Hingga terciptalah dirinya yang bisa dibanggakan oleh kedua orang tuanya, termasuk dan terutama adalah dirinya sendiri.
Sekarang dia berdiri di hadapan Valheins. Dengan kekuatan baru yang melekat di tubuhnya, dua kekuatan yang berasal dari ayah dan ibunya, dan sekarang, dia menjadi orang lain di dalam tubuhnya, orang baru yang akan membawa orang lama juga dalam masa depannya.
Mendadak api berkobar di sekeliling Alexa, membakar bebatuan yang ada di sekitar Alexa, dan kemudian membuat wanita itu tampak semakin gagah pun juga berani.
Semua orang tampak tertegun melihat kehebatan ini. Terlebih lagi pada Valheins, yang tidak pernah akan menduga kalau cucu yang dia anggap tidak berguna itu malah memiliki kekuatan yang cukup besar.
"Lihatlah kakek, sekarang bukan hanya tidak bisa mengambil jantung aku, tapi kau juga tidak akan bisa menyentuhku!" ucap Alexa dengan senyum miringnya.
Valheins bukan pria yang mudah untuk putus asa. tentu saja perkataan Laeca barusan tidak akan semudah itu melemahkan dirinya. Sekarang dia malah terlihat tertawa masih dengan bangganya meski dia sudah berhadapan seseorang yang agaknya jauh lebih hebat darinya.
"Ha.. ha.. ha.. kau hanya api yang sangat kecil, tidak akan cukup untuk membakar sekujur tubuhku!"
Hiyaaa!!
Dan peperangan mendadak dimulai, diawali oleh Valheins sendiri, menyerang cucunya sendiri dengan menggunakan pedang berapi miliknya.
Dan setelah mereka semua disuguhkan oleh api yang membakar di sekeliling Alexa, sekarang baru bisa terlihat, mana kiranya yang lebih baik dari yang terbaik.
Trang!
Suara pedang yang saling bersentuhan, hingga membuat suara yang memekikkan telinga.
Pertempuran keduanya sangat asik, pedang Valheins yang sangat tajam ingin merobek daging dan jantung Alexa, dan pedang Alexa yang tak kalah hausnya minta untuk dipuaskan.
Pedang yang mendadak keluar dari dalam tubuhnya, dan kemudian memancarkan kilatan api seperti petir yang menyambar, entah mengapa pedang dalam genggaman tangan Alexa tampak lebih gahar dan berani.
Agaknya memang benar, pedang dan liontin itu telah jatuh di tangan yang tepat, dan Alexa lah pemilik yang sesungguhnya dua benda pusaka tersebut.
Di sisi lain, tampak Arsello yang malah berdiri dan mematung seperti manekin dengan Shaga yang masih berwujud serigala tampan.
Shaga yang tak mau menganggur di sana, sementara di bawah sana terlihat Tuan Wilmer yang tengah kewalahan menghadapi ribuan vampir yang tak ada habisnya melawan pasukan serigala dan terutama Tuan Wilmer.
Shaga yang melihat keadaan genting dari sang ayah pun hanya bisa menoleh ke arah Arsello, dan meminta izin untuk pergi.
Arsello mengerti apa yang diisyaratkan oleh Shaga barusan.
Dia pun hanya bisa menganggukkan kepalanya saja mengiyakan ucapan Shaga barusan, lalu kembali berdiri dengan gagah dan juga sangat berani mengawasi jalannya pertandingan yang terjadi antara Alexa dan Valheins.
Sementara itu terlihat Shaga yang mulai berusaja untuk turun dari tebing yang curam tersebut. Dia tampak terus berjalan menuruni tebing, dan kemudian setelah dia sampai di bawah sana, dia lekas berlari mendekat ke arah dimana sang ayah berada di sana.
Kretak! kretak! kretak!
Ck! ck! ck!
Langkah keempat kakinya yang bergantian menginjak beberapa genangan air, seakan bunyi itu membuat irama tersendiri di telinga Shaga, seakan tengah menabuh genderang perang dan terus mendorong Shaga untuk maju ke depan dan menjadi seorang putra yang membanggakan untuk semua orang.
Hiyaaaa!!
Tanpa adanya aba-aba lagi, dia pun lekas masuk ke dalam peperangan, menghancurkan dan membawa para vampir yang masih tergeletak di atas tanah untuk dia bakar secara mengenaskan.
Dia tampak sangat hebat, menyingkirkan beberapa vampir hanya dengan satu kibasan kakinya saja, agaknya benar adanya kalau dia sudah berubah menjadi semakin lebih baik dari hari ke hari.
"Hai, Nak! kemana saja kau? sudah selesai mengurus pacarmu?" tanya Tuan Wilmer bahkan tanpa basa-basi lagi.
Agaknya dia benar-benar mendambakan seorang menantu.
"Aku amat canggung karena dia seorang putri!"
Jawab Shaga singkat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...