
Jlger!
Petir menyambar pada saat teriakan Collab terdengar. Dan teriakan keras pada saat itu juga terdengar pada kedua telinga Wilmer, hingga membuat pria itu sejenak berhenti memerangi para vampir di sekelilingnya.
Ia mendongak, menatap ke arah tebing yang sangat tinggi dan juga curam, dan melihat Valheins yang berdiri dengan gagah beraninya di dalam kegelapan. Ia baru sadar sesuatu telah terjadi pada Collab dan Alexa di atas sana.
"Collab!"
Dia berteriak keras. Namun dia juga mendapat serangan dari para vampir yang memaksanya untuk melayani mereka.
Swosh!
Trang!
Blam!
Ia tak punya pilihan lain selain melayani para vampir ini dan membuat mereka musnah dari muka bumi. Entah bagaimana dia harus memilih pilihan yang sangat sulit untuk mengabaikan sahabat karibnya, tapi dia memang tidak bisa bergeming dari tempatnya..
"Collab!!!! bangunlah!!!!" teriak Wilmer berharap bisa sampai pada telinga Collab di ujung bukit nan jauh di sana. Meskipun hal itu masih teramat mustahil, namun memang hanya itu saja yang bisa dilakukan oleh Wilmer untuk sahabat karibnya itu.
Suara Wilmer yang keras memang sampai di atas tebing. Namun suara itu hanya sampai pada kedua telinga Valheins yang tengah berdiri dengan gagah beraninya di depan jasad Collab.
Pria legendaris itu telah mati. Pejuang yang selama ini menggantikan kepemimpinan kakaknya itu nyatanya saat ini telah kehilangan nyawanya dan mati di tangan Valheins. Nasibnya memang sangat menyedihkan.
Mendengar teriakkan Wilmer dari bawah sana membuat Valheins hanya tertawa lucu. Dia tampak menganggap bodoh pria di bawah sana. Karena yang diteriaki oleh Wilmer hanya sebujur bangkai yang tidak lagi bernyawa. Bukankah itu memang sangat lucu?
Ha.. ha.. ha..
"Bodoh sekali kalian semua! mana bisa bangkai akan hidup kembali?"
Ia berbicara sambil menatapi mayat Collab yang saat itu masih memiliki sisa darah yang dia serap. Dia tak mau membuang sisa-sisa itu, bukankah satu tetes darah saja akan sangat meredakan rasa hausnya yang merongrong?
Ia pun kembali menghabisi darah Collab, menghisap dan memastikan darah Collab habis olehnya.
Sampai beberapa detik berlalu, dan sekarang darah Collab benar-benar bersih dia sapu tiada ampun.
Ia kembali menyeringai, sesaat setelah dia membangunkan kepalanya, dan menengadahkan kepalanya ke atas, menghadap ke arah langit yang pada saat itu mendung hebat.
Di sekitar area mulutnya, darah Collab sudah mengotorinya dan membuat setengah wajahnya berwarna merah, ditambah dengan darah yang menetes membuat dia benar-benar menikmati perannya menjadi pembunuh berdarah dingin.
"Ini adalah pembalasan dendamku untukmu!"
Gumam pria itu. Dia kemudian terlihat berdiri dan mulai memperhatikan Alexa di tempat berbaringnya, dengan keadaan masih tidak sadarkan diri.
Agaknya kejutan tangan Valheins pada jantungnya beberapa saat yang lalu membuat Alexa lumpuh untuk sekejap waktu, dan itu membuat Alexa tidak bisa melakukan apapun.
Melihat kondisi Alexa yang agaknya makin lemah dalam ketidaksadaran nya, Valheins kembali mengulum senyuman. Dia terlihat melangkah semakin dekat ke arah Alexa, dan kemudian tertawa kecil.
He.. he.. he..
"Sekarang adalah giliran kamu!"
Pria itu kembali terlihat meletakkan tangannya pada area jantung Alexa, dan kembali mencoba mengambil jantung istimewa itu dengan cengkeraman tangannya.
"Selamat tinggal cucuku, selamat datang dunia baru.. ha.. ha.. ha.."
Ia menatapi ke sekelilingnya, sampai dia akhirnya mendapati sosok Valheins di ujung tebing, tengah melakukan suatu hal.
"Ck, sialan!" umpat Sean dengan lirih.
"Sayang, anak kita!" ucap Riyana di samping Sean, masih berada di punggung Shaga, agaknya dia juga melihat keganjalan di ujung tebing.
"Aku akan menyelamatkan dia!" hanya kata-kata singkat itu yang bisa diucapkan oleh Sean sebelum pada akhirnya dia menyusul naik ke atas tebing. Dia menjadi sangat marah, hingga terlihat kedua kakinya yang berlari bergantian dengan sangat cepat.
Sementara itu, Shaga memilih berhenti. Dia terlihat menurunkan Riyana di sana.
"Kau berhati-hati lah.." ucap Riyana mengantarkan kepergian Shaga menyusul Sean ke atas tebing.
Shaga hanya bisa mengangguk kecil. Dia kemudian berpaling dari wajah Riyana dan mulai bergerak berlari menuju tebing untuk menyusul Sean.
*Semoga kalian baik-baik saja*.
Tak lama Riyana terdiam di tempat berdirinya, sampai pada akhirnya dia mengalihkan pandangan matanya ke arah pertarungan sengit antara dua kubu di sekitarnya.
Dia menatap pertarungan itu, hingga pada akhirnya, dia mulai menimbrung dan mengeluarkan kegagahannya di dalam pernah tersebut.
"Lawan putri kalian ini!"
Ia menggapai pedang yang terjulur di atas tanah, dan kemudian mulai melangkah maju ke dalam pertarungan.
Wilmer melihat kehadiran Putri Riyana dalam kubunya, dan dia tampak sangat terkejut dengan kehadiran Putri kerajaan vampir itu. Sejenak dia memang tertegun.
"Putri Riyana? benarkah itu dia?" gumamnya tidak percaya, apalagi saat melihat sang putri yang tampak menendang dan menjatuhkan para vampir yang menghalangi jalannya, huhh! dia amat terkesima.
Ia kemudian mengulas senyuman, merasa senang dan bahagia mendapati sosok Putri Riyana yang kembali hadir di hadapan matanya. Jujur saja, dia juga sangat merindukan sosok putri yang satu ini.
"Hai, Wilmer, kau berhutang padaku lagi" ucap Putri Riyana pada Wilmer.
"Dengan senang hati aku akan membayar hutangku padamu, Nyonya!" jawab Wilmer dengan sangat bahagia, "aku senang anda kembali! tapi rasanya kau tidak disambut dengan hangat, lain kali aku akan meminta mereka untuk mengadakan upacara penyambutan." Sambung Wilmer.
"Aku hargai itu, tapi sekarang kita sedang punya tugas! kau siap!?"
Dengan gagah beraninya dia mengangguk, menjawab dengan persetujuan atas perkataan dari Putri Riyana barusan. Dan setelah itu kedua pejuang itu pun kembali maju dalam satu garis yang sama, melawan kelompok vampir.
Secepat kilat Sean berlari, sampai pada akhirnya dia mendapati sebuah pemandangan mengerikan di depan kedua matanya. Satu jasad yang telah pucat dan membiru di atas tebing, dan satu sosok yang hampir meregang nyawa dibuat oleh Valheins, mertua sekaligus musuh terbesar sepanjang sejarah hidupnya.
Valheins berhenti merobek kulit luar pelindung jantung Alexa. Dia mendongak setelah mendapati kehadiran Sean di hadapannya. Namun bukannya dia takut, dia malah terlihat tertawa kembali. Agaknya dia suka sekali tertawa di atas penderitaan orang lain.
Ha.. ha.. ha..
"Selamat datang menantu kesayanganku." Ucap Valheins sambil merentangkan kedua tangannya, mungkin dia berpikir untuk memeluk Sean dengan kedua tangannya, namun Sean dengan cepat menjulurkan pedang di tangannya, mengarah kepada leher Valheins.
Sling!
Dan hal itu membuat Valheins tertegun di tempatnya, tidak bisa maju ke depan untuk memeluk menantunya itu.
"Aku benci orang yang menghancurkan keluargaku!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...