Alexa

Alexa
#Aku Masih Tetap Mencintai Kamu



"Heng! sungguh keluarga yang kompak!"


Swosh!


Mendadak Valheins bisa lepas dari jeratan tangan Alexa. Pria itu lari dan menjauh dari Alexa, berdiri di atas kursi singgasana miliknya, dan kemudian menatap ke arah semua orang di sana.


"Ha.. ha.. ha.."


Tawanya terdengar begitu lucu. Entahlah, agaknya dia seorang kakek tua yang tidak pantas mendapatkan pujian. Semua yang ada pada dirinya hanyalah sebuah keburukan.


"Kalian mau melawan aku? kalian bahkan tidak tahu kenapa kalian bertahan sampai sekarang, itu karena aku membiarkan kalian untuk hidup," ucap Valheins dengan sangar, "sekarang jika pun kalian masih hidup, suatu hari nanti, atau bahkan beberapa detik setelah ini, kalian pasti juga akan segera mati," ucap Valheins menyambung perkataan pertama.


Pria itu kemudian melirik pedang yang berada di dalam genggaman tangan Alexa. Wow, pedang yang sangat antik, yang dahulu kala menjadi incarannya, dan sekarang pedang itu bahkan telah takluk di tangan Alexa.


"Wow! kau memiliki pedang itu?" tanya Valheins menunjuk ke arah pedangnya, "ck, sayang sekali, dia tidak pantas untukmu."


Mendengar perkataan dari Valheins, Alexa sontak menggenggam erat pedang tersebut, dan menajamkan tatapan matanya ke arah Valheins.


"Menurut anda ini tidak cocok untukku? apa bagimu pedang ini akan cocok di tanganmu?" tanya Alexa berbalik pada Valheins.


Sean pun melirik pedang yang berada di tangan putrinya. Sebuah pedang yang dahulu kala menjadi kawan baiknya, menjadi saksi dalam setiap pertempuran, hanya dia dan seluruh leluhurnya yang bisa menyentuh pedang ini, dan sekarang Alexa berhasil memegangnya, meskipun dia sendiri lupa dimana kiranya dia meninggalkan pedang tersebut.


Pesona pedang yang dahulu menjadi incaran banyak orang. Dicuri, dan bahkan ingin dihancurkan, tapi semuanya berhasil dia gagalkan, dan sekarang, dengan gagahnya pedang tersebut telah menemukan pemilik yang sesungguhnya.


"Kau memang hebat!" gumam Sean memuji putri cantiknya.


Mendengar pujian dari Sean, Alexa pun menyunggingkan senyuman yang sangat berarti, sementara di sisi lain, tampak pula Arsello yang akhirnya mampu menembus benteng kaum vampir. Dan sekarang pria itu akhirnya telah tiba di hadapan Valheins, menjadi salah seorang yang menentang akan adanya dirinya di atas singgasana.


"Datang lagi, satu musuh kita semua," ucap Valheins pada Arsello, "dia lah putra satu-satunya dari sepasang suami istri yang mengincar pedang itu, kenapa kau malah membiarkan dia ada di sisimu, gadis polos?" sambung Valheins.


"Heng! dia sedang menanti sebuah jawaban, dan kau tahu? akulah yang akan menjawabnya!" Ucap Alexa menutup mulut semua orang dengan seketika.


"Dua puluh sembilan tahun yang lalu, saat kedua orang tua Arsello kedapatan mencuri pedang legendaris milik suku serigala," mengulas balik kehidupan di masa lalu, yang dia sendiri bahkan tidak pernah menyaksikannya.


Semua orang menjadi diam seperti patung manekin yang bisu dan tidak dapat bergerak tatkala Alexa mulai menceritakan kejadian puluhan tahun silam.


"Arsello hanyalah anak kecil yang tidak tahu apapun, yang dengan mudahnya dibohongi hanya bermodal tatapan mata, hipnotis, dan bersilat lidah."


Mendengar perkataan barusan, membuat Arsello tertegun, tidak sanggup mengatakan apapun. Dia membayangkan betapa bodohnya dia di masa lalu, sampai Alexa pun berbicara seperti itu.


"Lihatlah, dia bahkan masih tetap sama sampai sekarang, peduli pada seseorang yang bahkan tidak pernah pantas mendapat keberuntungan itu." Ucap Alexa lagi.


Mereka sungguh beruntung bisa mendengarkan ucapan Alexa yang bertele-tele, karena sebenarnya gadis itu tidak terlalu suka banyak bicara.


Dia menoleh ke arah Arsello, dan menatap pria yang masih berdiri di kejauhan itu dengan tatapan penuh gemetar.


"Selama ini kau dibohongi oleh musuhmu sendiri," ucap Alexa merontokkan hati Arsello.


"Bukankah kau ingin tahu apa kebenaran yang terjadi di masa lalu?" tanya Alexa pada Arsello.


Namun Arsello tidak menjawab. Lidahnya kaku dan sekujur tubuhnya tidak bisa berhenti bergetar. Dia tidak bisa berbuat apapun di tempat dia berdiri, selain bertambah erat genggaman tangannya pada pedang di tangannya.


Alexa melempar debu-debu yang kemudian dia tiup ke arah Arsello.


Swosh!


Seketika di depan mata Arsello tergambar dengan jelas kejadian antara kedua orang tuanya dengan Valheins puluhan tahun silam.


"*Aku menginginkan pedang itu, bawalah kemari dan serahkan padaku, maka kalian akan mendapatkan separuh dari kekuasaan yang aku miliki*.."


Senyum terpancar di wajah kedua orang tua Arsello. Bahkan semua itu terlihat dengan sangat jelas di depan kedua mata Arsello, bak dia masuk sendiri ke dalam masa-masa itu, dan dia menyaksikannya dengan sangat menyedihkan.


Saat sang ibunda berhasil mengecoh kawanan serigala yang menjaga pedang dan kerajaan Sean sewaktu itu, sewaktu kelompok serigala masih dalam masa jayanya, saat sang ayah dengan kemampuan hebatnya mengangkat pedang itu dari pusaranya, dan setelah itu terjadi..


"*Pencuri*...."


Seseorang berteriak menggagalkan sang ayah mengambil pedang tersebut, jatuhlah pedang itu dari tangan ayahanda nya, bersamaan dengan sekelompok prajurit kelompok serigala yang menyeretnya keluar dari ruangan tanpa mendengarkan dulu penjelasan dari pria yang dia sebut sebagai ayah.


"*Tidak, aku mohon! jangan tangkap aku*!"


Tangisan mendera, hawa yang panas dan dingin terasa menusuk sampai ke dalam urat nadinya, dan sekarang adalah saat dimana dia melihat pengkhianatan yang dilakukan oleh Valheins terhadap kedua orang tuanya.


"*Tuan, misi mereka gagal, dan sekarang Tetua kelompok serigala berniat untuk memenggal kepala mereka berdua*."


"*Hemm, biar saja mereka melakukannya, lagipula tidak ada gunanya lagi mereka berdua hidup, biarkan saja seluruh alam semesta ini menjadi milikku*.."


Namun jawaban dari Valheins sungguh membuat dirinya terkejut setengah mati. Dia bahkan baru menyadari bahwa Valheins lah pria yang seharusnya di benci, bukan Sean, ataupun istri Sean sendiri.


Dia tidak menangis, karena vampir pada umumnya memang tidak akan pernah menitihkan air matanya, kecuali Riyana.


Dan saat hari pemenggalan itu tiba..


"*Valheins, tolong kami, kami menjadi seperti ini karena kamu*.."


Jeritan menyayat dari sang ibunda melelehkan hatinya, membakar sekujur tubuhnya hingga berselimut amarah dan juga dendam.


Jeritan sang ibunda di dalam penjara, sesaat sebelum acara pemenggalan itu dilaksanakan di tengah-tengah dua kelompok. Pemenggalan itu tidak terjadi di pelataran istana Valheins, melainkan di pelataran kerajaan Sean.


"*Tidak ada yang bisa aku lakukan, jika kalian dibiarkan hidup, maka kalian akan menggagalkan seluruh rencanaku*!"


Begitulah balas Valheins pada permintaan sang ibunda Arsello menjelang kematiannya, hingga datanglah seseorang yang tidak lain adalah Sean waktu muda.


Dia yang pada saat itu telah menjadi raja pun turut menimbrung perbincangan yang sayang sekali dia tidak mendengarnya dari awal.


"*Bagaimana Tuan Valheins? apa anda memberi izin bagi kelompok kami, untuk menghabisi mereka*?"


Sean masih terlihat santun pada saat itu, dan tidak menunjukkan kebencian pada kedua orang tua Arsello, meski saat itu Sean tahu kedua orang tua Arsello telah bersalah.


Namun agaknya Valheins tidak mau rencananya digagalkan. Dia pun hanya bisa mengizinkan kedua orang tua Arsello untuk dipenggal.


"*Penggal saja mereka! pengkhianat harus dihukum dengan hukuman yang setimpal*!'"


Dan perkataan sekaligus persetujuan dari Valheins itu semakin meledakkan emosi di hati Arsello. Sekarang barulah dia tahu siapa sebenarnya musuh yang harus dia habisi.


"*Tidak! jangan! aku tidak bersalah*?!"


"*Tidak*!!"


"*Tidak*!!!!"


*Cresssss*!!


Dan pisau belati pun memisahkan kepala mereka dari tubuh, bersamaan dengan pandangan mata Arsello yang kembali menjadi masa sekarang. Bayangan itu semuanya lenyap tidak berbekas.


Dan saat dia bangun, dia menatapi mata Valheins yang sangat merah padam. Dia menatap mata Valheins dengan tatapan tajam tiada ampun. Dan sekarang, dia berubah menjadi orang lain di mata Valheins.


"Pembunuh! pengkhianat yang pantas untuk mati!!"


Hiyaaaaa!!


Tanpa menunggu aba-aba lagi, pedang dia julurkan ke depan, berlarilah dia menuju ke arah Valheins sambil menghunuskan pedangnya ke arah Valheins.


Namun serangan darinya itu masih bisa ditangkis oleh Valheins, dan sekarang dirinyalah yang berada dalam kekalahan.


Trang!


Pedang dalam genggaman tangannya parah, jatuh dan menjadi dua bagian setelah berhasil dibuat patah oleh Valheins. Dan sekarang dia pun terjatuh di hadapan Valheins, jatuh dan tertunduk di depan pria tua itu.


Uhuk! uhuk!


Batuknya terlihat sangat parah akibat serangan dari Valheins, dan sekarang dia tahu dirinya sangat lemah di hadapan Valheins. Ia pun hanya bisa memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Kau sudah aku besarkan sejak dua puluh sembilan tahun terkahir, apa masih belum cukup aku memberikan kebahagiaan untukmu?" tanya Valheins pada Arsello, dia menginjak dada Arsello dengan salah satu kakinya.


"Jika saja kau bertekuk lutut di depanku, aku tidak akan mungkin merasa tega mendapat penghinaan ini darimu!" sambung Valheins lagi.


"Kau memang hina, mau bagaimana pun kau bersembunyi dari kata hina, kau tetaplah hina!" jawab Arsello dengan beraninya.


Dan sekarang tampak Alexa yang maju ke depan, menyingkirkan kaki Valheins dari dada sang paman, dan kemudian membangkitkan tubuh Arsello yang telah lemah.


"Aku tidak pernah mengganggap dirimu sebagai kakek, itu yang harus kau dengar!!"


Swosh!!


Blam!


Dan pertarungan antara Alexa dan Arsello yang melawan Sean itu terasa sangat mengasikkan.


Di tengah-tengah perlawanan yang terjadi antara mereka bertiga, mendekatlah sosok Shaga ke arah Sean dan Riyana. Dia membawa kabar bahagia untuk Sean dan Riyana pada saat itu. Dan sesungguhnya kabar bahagia yang dia bawa ini juga atas perintah dari Alexa.


"Maaf mengganggu, tapi kalian harus pergi dari sini!" ucap Shaga pada Sean dan Riyana.


"Putri kami membutuhkan bantuan, kenapa kami harus pergi?" tanya Sean pada Shaga.


"Ini menyangkut diri anda, jika ingin kembali menjadi Sean di masa lalu, maka ikutlah denganku!" ucap Shaga pada Sean dan Riyana.


"Tapi bagaimana dengan putri kami?" tanya Sean lagi mencemaskan putri semata wayangnya.


Dan pertanyaan itu seketika mendapat anggukan dari Riyana, yang agaknya juga mencemaskan Alexa.


"Tuan Sean, anda perlu tahu, aku yang lebih mengenal putrimu, dia sangat hebat, ia pasti bisa mengatasi kakek tua itu." Jawab Shaga meyakinkan hati Sean dan Riyana.


Setelah berpikir beberapa saat, Sean pun hanya bisa mengangguk menerima tawaran dari Shaga. Ketiga orang itu kemudian bergegas pergi dari istana Valheins dan kemudian berlari menuju ke suatu tempat yang sangat jauh.


Sementara perlawanan masih saja berlanjut, dengan dua kekuatan yang berbaur menjadi satu, melawan Valheins yang sebelum ini memang tidak ada bandingannya.


"Ketahuilah Tuan Valheins, aku pernah berencana untuk merebut posisimu, dan sebenarnya aku tidak terlalu bodoh untuk itu!" ucap Arsello di tengah-tengah perlawanannya pada Valheins.


"Tidak kau memang sangat bodoh!" sahut Valheins.


"Kau yang lebih bodoh, karena kau tidak mengerti apa arti sebuah keluarga." Alexa menimbrung.


Pertarungan tetap saja berlanjut. Sementara dalam waktu yang singkat, ketiga orang itu kini telah berada di atas tebing yang curam, yang terletak di pedalaman hutan nan menyeramkan, di kelilingi oleh awan yang menggumpal dan tidak terkena cahaya matahari sedikitpun.


"Kenapa kamu membawa kami ke tempat seperti ini?" tanya Sean pada Shaga.


"Tuan, asal kau tahu saja, ciuman dari gadis itu, berhasil membuat aku lepas dari virus yang sengaja Valheins ciptakan untuk menghancurkan kelompok serigala," jelas Shaga pada Sean.


"Apa? apa maksud kamu?" tanya Sean agaknya dia tidak suka saat mendengar putrinya telah mencium seorang pria, dia bahkan belum melihat Alexa tumbuh dewasa, "dia mencium bibirmu?" tanya Sean sekali lagi tidak pernah bisa percaya.


"Ya, aku tidak ingin membahasnya, tapi kami memang saling mencintai." Jawab Shaga pada pria itu.


Mendengar perkataan dari Shaga, Sean pun hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Ingin sekali dia menghabisi pemuda ini, sayang sekali, dia punya istri yang saat ini juga berada di sampingnya. Dia tahu Riyana pasti akan menolak pemikirannya itu.


Dia hembuskan saja nafasnya secara perlahan, dan kemudian dia coba untuk tidak marah.


"Tuan, jika kau mendapat ciuman dan pelukan hangat dari seseorang yang kau cintai dan yang mencintai dirimu sepenuh hati, mungkin sihir dan virus itu akan lenyap, aku percaya itu, Alexa sendiri bahkan melakukannya padaku, dan sekarang aku telah bebas dari semua hal yang menjeratku." Ucap Shaga dengan senang.


Melihat tingkah Shaga yang setengah aneh, Sean dan Riyana hanya bisa mengangguk dan menatap aneh pula ke arah wajah Shaga.


Kedua orang itu kini hanya bisa menurut saja. Dilangkahkan dua pasang kaki mereka menuju ke tengah lautan awan, dan kemudian melakukan apa yang diminta oleh Shaga.


"Sayang, kau tahu? aku tidak yakin apa benar putri kita mencintai orang seperti dia." Ucap Sean bergumam pada istrinya.


"Entahlah, aku juga meragukannya, tapi, tidak ada salahnya mencoba melakukan apa yang dimaksud oleh pria muda itu, kita juga tidak tahu bagaimana hasilnya, asal kau..."


Cup!


Belum juga Riyana selesai berbicara, dan sekarang bibirnya sudah dilahap oleh monster Sean dengan rakusnya, membuat dia terdiam dan tidak bisa bergeming dari tempat berdirinya.


Dia pun mulai tenggelam dalam ciuman maut yang dilakukan oleh Sean padanya. Sejujurnya dia sangat menikmati ciuman yang telah lama tidak dia rasakan itu. Dia memang sangat merindukannya.


*Aku hanya mau bilang, aku masih tetap mencintai kamu, dan bahkan rasa cintaku lebih dari kata-kataku ini*..


Dan sebuah keajaiban pun terjadi..


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...