
Suasana tiba-tiba saja hening setelah Alexa menanyakan bagaimana Joe dan Devan bisa berada di Camping Ground saat peristiwa penembakan itu terjadi.
Alexa pun menatap kepada sang kakak dan Devan yang berada di sebrang layar ponsel secara bergantian.
“hmm, Xa, sudah malam, baiknya kamu istirahat ya” ajak Joe agar menghentikan obrolan mereka,
“jawab dulu pertanyaan Exa kak”
Huff…
“besok kakak jelaskan bagaimana bisa kami berada di sana, tapi malam ini istirahatlah lebih dulu” kata Joe dengan penuh kelembutan
"Aku masih belum ngantuk kak"
“kenapa harus besok? ceritakan sekarang saja, kakak besok kerja kan? jadi pasti cari alasan lagi nanti kalau Exa tanya lagi” Alexa pun menunjukan wajah cemberutnya karena belum mendapatkan jawaban atas pertanyaannya
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Joe menghela nafas
“hmm… baiklah, tapi janji, jangan marah... dan setelah ini kamu harus istirahat, oke?"
“ya, Exa akan istirahat setelah ini”
Flashback on
Hari masih terasa terik, meskipun waktu sudah menunjukan sore hari, terdengar langkah sepasang kaki priai bertubuh tegap yang tak lain adalah Devan berlari dengan cepat ke ruang kerja sang kakak.
“kak…!!” Devan masuk ruangan tanpa mengetuk pintu, membuat kedua orang yang tengah berdiskusi di dalam ruangan terkejut.
“huf…. Van, sudah berapa kali kakak bilang?” Joe menghardik sang adik dengan raut kesalnya, sudah sering Devan mengagetkannya, masuk ruangannya tanpa salam tanpa mengetuk pintu terlebih dulu,
“hehe… maaf kak, buru-buru soalnya” Devan nyengir memperlihatkan gigi putihnya sembari menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal.
“terimakasih laporannya Ga, kita lanjutkan besok lagi”
“baik kak, saya permisi” Arga sang asisten dari Joe meninggalkan ruangan untuk memberikan kesempatan kepada kakak beradik itu berbicara.
“Ada apa Van? tidak biasanya kamu ke kantor, apalagi papa sedang di luar kota” ucap Joe setelah memastikan pintu ruangan tertutup sempurna setelah asistennya keluar ruangan
“ini mengenai Alexa kak, hari ini dia ada kegiatan di Camping Ground”
“Lalu, apa yang perlu di khawatirkan?” Joe mengernyitkan dahinya, merasa ada yang aneh dengan laporan sang adik, Alexa sudah terbiasa ikut kegiatan kampus, dan itu tak masalah baginya, dan kenapa hal yang sudah biasa harus dilaporkan?
“Hadi telah bebas kak, kakak sudah tau kan? dan perlu kakak tau, bebapa hari lalu dia ke kantor NRC kak, bermaksud ingin menemui pimpinan NRC, dan dari info yang aku dapatkan setelah bebas dia bergabung dengan kelompok mafia kak”
“Whats??!” pekik Joe, sepertinya dirinya salah strategi kali ini, “apa dia sudah menyelidiki Alexa?”
“ada kemungkinan kak, karena kan Alexa saksi hidup kejadian beberapa tahun silam kan?”
“ya, ada kemungkinan dia ke NRC juga ingin bertemu dengan Alexa” lanjut Devan membuat raut muka Joe semakin menegang
“kita susul Alexa Van, entah kenapa firasat kakak tidak baik kali ini” Joe langsung berdiri dari duduknya, mereka berdua melangkah keluar ruangan dengan terburu-buru, setelah berpesan kepada Arga untuk menghandle pekerjaan di kantor, Joe pun segera meninggalkan tempat kerjanya bersama sang adik untuk menuju Camping Ground.
“kak, sepertinya Alexa tidak sendiri? Itu mobil Rayhan ada di sini juga” ujar Devan, saat mereka sampai di tempat parkir dan melihat mobil yang sangat ia hafal, karena sering digunakan Rayhan untuk mengantar Alexa,
“Syukurlah kalau memang ada yang menemaninya” Joe merasa lega karena Alexa ada yang menjaga,
Joe pun memarkirkan mobilnya di lokasi yang agak jauh dari mobil Rayhan, kemudian mereka mencari informasi terkait kegiatan rombongan Alexa dan rute area Camping Ground. Semua terlihat baik-baik saja, dari kejauhan Joe dan Devan mengawasi jalannya kegiatan, hingga saat kegiatan susur malam, mereka mendapatkan informasi bahwa rekan sekelompok Alexa mengalami cidera dan harus di jemput dengan menggunakan kendaraan.
Setelahnya Joe dan Devan mengikuti Alexa dan kelompoknya dari kejauhan, namun mereka kehilangan jejak Alexa karena kelompoknya melewati jalur yang bukan seharusnya, hingga tiba-tiba terdengar suara letusan senjata api yang membuat Joe semakin khawatir,
“Van, kenapa ada suara tembakan?”
“Aku tidak tau kak”
“kita harus temukan posisi Alexa. Ini seperti disengaja, Alexa belum terlihat di jalur yang seharusnya”lanjut Devan dan membuat Joe merasa panik karena adiknya tak kunjung terlihat, padahal seharusnya sudah rombongan Alexa sudah melewati jalan tempatnya berdiri saat ini.
“kakak tenang dulu, aku akan hubungi polsek terdekat untuk meminta bantuan.”
Joe pun turun dari mobil dan mencari di sekitar lokasinya menghentikan mobil, lalu tak lama kembali terdengar suara tembakan. Perasaannya mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi dan ia mengikuti instingnya, mencari sumber suara tembakan sembari berlari, mengabaikan semak-semak yang menghalangi langkahnya. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada adik kecilnya, apakah Alexa baik-baik saja? Apakah suara tembakan itu dari sekitar Alexa? Ia harus segera memastikannya.
Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat samar-samar seseorang terkulai lemas tak berdaya dengan memegang dadanya, perasaannya mengatakan bahwa orang itu adalah adiknya. Adik kecil yang seharusnya dia jaga.
Lalu terdengar suara tembakan lagi, namun berasal dari senjata api yang Devan bawa, setelah memastikan penembak Alexa tak memegang senjata Joe pun berlari ke arah sang adik, sementara Devan mengejar pelaku yang menembak Alexa.
Flashback End
“Maaf kan kakak Xa” sekali lagi Joe meneteskan air mata setelah menceritakan kejadian di Camping Ground beberapa hari yang lalu.
Alexa pun tersenyum mendengar penjelasan sang kakak, setidaknya sekarang ia tak perlu khawatir karena kakanya telah kembali untuk menjaganya. Kakaknya akan selalu ada untuknya, dan ditambah dengan keluarga Devan yang sekarang ini begitu menyayanginya, maka tidak ada perlu dikhawatirkan menurutnya.
“kakak tak perlu minta maaf, justru Exa berterimakasih karena kakak berhasil menjaga Exa, dan Exa bersyukur karena insident itu akhirnya kakak kembali pulang, kakak kembali untuk menjaga Exa” dengan rasa haru dan bahagianya Alexa menatap sang kakak yang masih berkaca-kaca.
Alexa pun segera mendekap sang kakak, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang kakak, menyalurkan rasa syukur yang ia rasakan dan untuk menenangkan sang kakak.
“kok kakak jadi cengeng kaya gini sih? dulu waktu kecil sepertinya ga kaya gini deh?” kenang Alexa masih dalam dekapan hangat sang kakak.
“jangan ledekin kakak Xa, biarkan kakak cengeng, kakak sangat bersyukur masih di kasih kesempatan untuk bertemu dengan adik kecil kakak, kakak masih di kasih kesempatan untuk menjaga kamu sesuai pesan mama” Joe tersenyum dalam tangisnya
“hwa…. Kak Joe.. aku ga dipeluk??”
Tbc
Nah lho….., wah ada yang protes tuh, gangguin orang lagi pelukan aja sih…😁😁😁
Hehe…
Hai semuanya, terimakasih atas dukungannya,🤩🤩🤩
tunggu update selanjutnya ya….
Love you All😍😍😍