Alexa

Alexa
Part 50



~Happy Reading~


Beberapa hari Alexa di rawat di rumah sakit, kini dia sudah diijinkan pulang ke rumah, meski tangan kirinya belum pulih, dan perban tebal masih melindungi lengannya.


“kak, kita mampir ke makam papa mama ya” ajak Alexa saat dirinya bersiap pulang ke rumah, Hanya sang kakak yang menjemputnya.


Om Ardian dan Rayhan sudah kembali beraktivitas di perusahaan, begitupun dengan papa Daniel dan mama Dania. Kalau Devan jangan di tanya, beberapa hari dirinya terlihat sibuk, entah apa yang di kerjakan hanya dia yang tau.


“iya” ucap Joe sembari menuntun sang adik


Tangan kananya merangkul sang adik, sementara tangan kirinya membawa tas berisi perlengkapan mereka selama di rumah sakit.


Dengan raut binar bahagia Alexa berjalan keluar rumah sakit. Rasanya sungguh melegakan, meskipun fasilitas yang di dapat bagus dan tempatnya nyaman, namun tak bisa dipungkiri rumah adalah tempat ternyaman.


Joe mengemudikan pelan mobilnya ke arah pamakaman umum tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuanya.


“Assalamu’alaikum ma,pa..” sapa Alexa dan Joe pada dua gundukan tanah yang bersisihan.


Mereka berjongkok di ujung bawah menghadap kedua makam yang terlihat terawat.


“Ma, pa, coba tebak Exa bawa siapa? Exa bawa kak Joe ma, Kak Joe sudah pulang. Sekarang kakak akan selalu jaga Exa” Exa tersenyum mencurahkan isi hatinya dengan air mata yang tak bisa di bendungnya.


“Sekarang mama dan papa bisa tenang di sana, kak Joe akan selalu bersama Exa, dan mama papa tau? penjahat itu juga sudah di tangkap, mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas pebuatannya.”


“oh ya, kak Devan juga sudah lamar Exa ma, jadi ada orang lagi yang akan selalu menjaga Exa selain kak Joe, mohon restui kami ya pa ma.” Ucap Exa dengan terbata, rasa sedihnya kembali menyelimuti hatinya, ingatan kehangatan semasa kecil terbesit dalam pikirannya membuatnya tak kuasa untuk menyerukan isak tangisnya.


Joe mendekap sang adik yang sesengukan, ia yang mendengarkan curahan hati sang adik ikut meneteskan air mata, rasa bersalah itu kembali muncul karena tak bisa menjaga adiknya selama ini.


“Ma, pa, maaf kan Joe karena baru bisa kemari, Maafkan Joe yang tidak bisa menjaga Exa selama ini, Maafkan Joe yang tidak bisa menepati janji Joe pada mama” Joe mengusap air matanya, rasanya tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya.


“Tapi mulai sekarang Joe berjanji akan selalu menjaga Exa ma, kalian tau, adik kecil Joe ini sudah besar, ternyata dia sangat cantik ma, cantik seperti mama, tapi tegas seperti papa.”


Mereka berdua terisak di depan makam kedua orang tuanya. Sungguh kehilangan mereka berdua adalah kesedihan terbesar dalam hidup mereka.


“Mama dan papa sekarang bisa mengandalkan Joe untuk menjaga Exa, dan NRC. Dalam waktu dekat om Ardian akan menyerahkan NRC pada Joe pa, mohon restunya agar Joe bisa mengelola NRC dengan baik, agar orang-orang yang bekerja di NRC merasa senang, seperti yang papa ajarkan waktu Joe kecil dulu, restui Joe agar bisa jadi pemimpin seperti papa"


***


“Exa…” pekik Mirna saat Joe dan Alexa melangkah ke dalam rumah, rasanya seperti dejavu, Alexa sudah pernah mengalami hal ini dan ini kembali terulang.


Joe melepaskan rangkulannya dan memberikan ruang kepada sahabat adiknya ini untuk melepas rindu.


“Ah, kau ini kenapa suka sekali menghilang sih, aku di kasih tau kak Rayhan kalau kamu kembali di rawat di rumah sakit.” Mirna mencebik setelah melepas rangkulannya.


Sementara Alexa hanya tersenyum melihat kehebohan dan kecerewetan sahabatnya ini.


“Mirna, kebiasaan kamu, biarkan Exa duduk dulu, baru juga pulang, kamu todong seperti itu” tegur tante Rasty setelah menyambut Joe yang lebih dulu duduk di ruang keluarga.


“hehe, maaf tan, lupa” Mirna pun menuntun Exa untuk duduk di sofa,


Kali ini suasana rumah nampak sepi, hanya ada bibi dan tante Rasty yang berada di rumah.


“Kok mata kalian bengkak sih?” tanya tante Rasty setelah mengamati wajah kedua keponakannya.


Joe hanya tersenyum menatap sang tante.


“kami tadi mampir ke makam papa mama tan” ucap Exa menjawab pertanyaan sang tante.


Tante Rasty pun mengerti, pastinya mata mereka merah sehabis menangis. Tante Rasty pun turut merasakan kesedihan mereka, bahkan sampai saat ini saja dirinya masih suka merindukan kedua kakak iparnya, apalagi Joe dan Alexa yang putra meraka, di tinggal sedari kecil tentu saja menjdibhal yang sangat berat.


"Mir, tolong bilang bibi untuk menyiapkan makan siang" ucap tante Rasty mengalihkan.


"siap tan"


Mirna pun beranjak ke ruang makan, karena sudah sangat hafal letak ruang yang berada di rumah ini.


Tbc