
Ia bergerak mundur dari tempat berdirinya di hadapan Alexa. Ia semakin dibuat cemas tatkala Alexa mengatakan hal tentang virus padanya barusan. Bukannya dia tak percaya, hanya saja, bukankah soal virus itu, bisa untuk tidak dipercaya?
Mulailah dia membenci Alexa, dan sejak saat itu, dia tidak ingin lagi mempercayai Alexa, atau bahkan, berkawan dan menyukainya pula.
"Shaga, percayalah, kau akan berada dalam bahaya karena virus itu, kumohon percayalah padaku," ucap Alexa mencoba untuk meyakinkan sang sahabat.
Meski dia tahu, impian Shaga untuk menjadi lebih kuat adalah impian sejak lama, namun, dia juga tidak mau kekuatan itu perlahan-lahan menguasai Shaga, dan mengharuskan pria itu mengalami kehancuran yang sama selama bertahun-tahun seperti Tuan Wilmer.
Sejujurnya hanya itu yang Alexa takutkan, karena virus itu makin lama makin ganas dan tentunya amarahnya juga tidak akan bisa semudah itu dikendalikan. Bukankah seharusnya dia benar-benar perhatian pada Shaga?
Namun pria di depannya malah mundur semakin jauh, mundur dan seakan tidak mau lagi mendengar celoteh apapun tentang virus dan kekuatan itu dari mulut Alexa. Sekarang dia sudah tidak percaya lagi pada siapapun.
"Tidak, aku tidak bisa, kekuatan ini, kekuatan ini, aku sungguh tidak bisa melepasnya, tidak!" Gumam Shaga dengan bergetar.
"Shaga, kau harus tahu, kekuatan itu hanya akan membahayakan dirimu, makin lama virus itu juga akan menjangkiti otak kamu, dan semakin lama dia akan mengendalikan dirimu, cobalah untuk mengerti," ucap Alexa lagi, seakan tidak bosan baginya untuk mengingatkan Shaga soal ini.
"Tidak! Diam kamu!" Namun pria itu malah mencegat ucapan Alexa, dan mulailah dia menentang setiap perkataan Alexa, "aku tidak lagi mempercayai kamu! Kau bahkan berkawan dan bersatu dengan Arsello sekarang, vampir yang bahkan menjadi musuh kami selama bertahun-tahun," lanjut Shaga.
"Tidak, Shaga, dengarkan aku, aku dan Arsello hanya.."
"Cukup! Aku tidak mau mendengar apapun lagi darimu, sejak awal kamu memang tidak pernah mendengarkan kami, dan kamu hanya mengutamakan keinginan kamu sendiri, kamu tidak mempercayai kami, dan aku juga tahu, sejak awal kau sudah meremehkan kami dan lebih berpihak pada kelompok vampir." Pria itu semakin dibuat memuncak emosinya, mungkin emosi itu juga akibat virus yang ada dalam tubuhnya.
"Shaga dengarkan aku!!!"
"Tidak ada lagi yang perlu kamu jelaskan, semuanya sudah jelas sekarang, aku tidak butuh penjelasan kamu! Pergilah kamu, pergi dan jauh-jauh dari sini, atau kami akan memburumu dan membunuhmu sekarang juga!" Ucap Shaga dengan marah.
"Siapa yang bilang begitu?"
Mendadak seseorang terdengar mendekat dan menyela ucapan Shaga barusan. Pria itu tampak dengan gahar membela Alexa dan bahkan menyembunyikan Alexa di belakang punggungnya. Dia bahkan tidak pernah diduga akan melakukan hal ini pada Alexa, tapi lihatlah sekarang, dia bahkan menjadi garda paling depan untuk membela gadis itu.
"Ayah?" Panggil Shaga pada Tuan Wilmer yang sekarang sudah berdiri di depan Alexa untuk melindungi Alexa.
"Kau salah, dia bukan musuh kami, seharusnya kau yang mengaca diri, kau sudah menjadi monster seperti ayah di masa lalu, dan kau amat mengasihani monster yang ada di tubuh kamu itu? Benarkah? Mengerikan sekali dirimu!" Ucap Tuan Wilmer agaknya malah menyalahkan putranya sendiri.
Mendengar ucapan dari sang ayah, Shaga nampak menjadi berapi-api, kedua matanya berubah kuning keemasan dan menyala, sementara kedua tangannya mengepal dengan sangat marah.
Tak lama setelah itu, otot-otot pada tubuhnya mulai mengencang, dengan wajah yang perlahan-lahan mulai berubah menjadi monster yang sangat menakutkan.
Monster yang sangat menyeramkan bagaikan pembunuh malam dengan sorot mata yang tidak bisa dijelaskan bagaimana menakutkannya itu.
"Kau tidak seharusnya membela dia, akulah putramu, kau bahkan mengagumi aku saat melihat kondisiku seperti ini, bagaimana kau bisa.."
"Karena aku tahu perubahan itu sangatlah aneh, aku juga pernah mengalaminya, dan sesuatu yang aneh itu, selalu minta dipuaskan, jika tidak, maka dia akan menggerogoti dirimu sendiri, percayalah, Nak, apa yang dikatakan Alexa bisa jadi adalah benar."
Hap!
Namun Shaga tidak mendengar perkataan pria yang dia sebut sebagai ayah kandungnya itu. Dia malah dengan geram dan marah menggapai leher Tuan Wilmer, dan kemudian mencekiknya, mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi, dan pada akhirnya, membuat sang ayah berada dalam tekanan hebat.
"Tuan Wilmer, bagus kalau kau sudah tahu, aku memang sangat haus, juga sangat panas, bisakah kau memberikan aku kepuasan itu? Seperti hal nya kau membunuh ibuku dan hal itu membuat kamu merasa puas?" Ucap Shaga pada sang ayah, dia bahkan kembali mengungkit dendam di masa lalu mereka yang telah lama berlalu.
"Tidak Shaga! Kau tidak boleh melakukannya! Lepaskan Tuan Wilmer!" Ucap Alexa mencoba untuk melepaskan jeratan tangan Shaga pada leher Tuan Wilmer, bagaimanapun juga, Tuan Wilmer adalah salah satu pejuang yang hebat, Alexa tidak mau membuat nyawa Wilmer melayang dengan sia-sia di tangan sang putra.
"Lepaskan dia!!" Ucap Alexa semakin mencoba melepaskan jeratan tangan Shaga dari leher Wilmer.
"Tidak akan!"
"Aku bilang lepaskan!" Ucap Alexa lagi, kali ini dia menatap kedua netra Shaga dengan sangat tajam dan juga menusuk, sampai-sampai ketajaman itu merasuk dalam lubuk hati Shaga yang paling dalam. Dan hal tersebut berhasil membuat Shaga meluruh.
Dia lepas jeratan tangannya dari leher sang ayah, dan kemudian pergi dengan perasaan yang cukup aneh. Pergi dengan kondisi tubuh yang tidak berubah menjadi manusia biasa, juga tidak berubah menjadi serigala. Dia berada di tengah-tengah antara dua makhluk itu.
"Uhuk! Uhuk!!"
Dan sekarang hanya tinggal Tuan Wilmer dan Alexa saja yang berada di sana. Kedua orang itu pun hanya bisa saling menatap dengan tatapan mata yang sangat rumit. Agaknya mereka juga tahu betapa sedihnya hati mereka yang harus ditinggal sosok Shaga yang polos dan lugu. Sekarang pria itu tidak ada, hanya sesosok pria yang tak ubah seperti monster buas yang bisa saja menghancurkan segalanya.
"Dia bukan putraku, aku tahu itu," ucap Tuan Wilmer mengakhiri tatapan mata mereka yang aneh.
Mendengar ucapan dari Tuan Wilmer barusan membuat Alexa tersadar. Dia memang harus mengatakan sesuatu tentang Shaga pada pria tua ini. Semuanya harus tahu kalau Shaga dalam bahaya.
"Tuan, ada yang harus aku bicarakan, tidak hanya padamu, tapi juga pada Paman Collab, kalian harus mengetahui akan suatu hal." Ucap Alexa pada pria di depannya itu.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Jadi sesuatu yang aku bilang itu memang benar-benar ada? Aku pikir aku hanya menduga, rupanya memang benar ada sesuatu yang aneh dari putraku," ucap Tuan Wilmer setelah mendapat penjelasan dari Alexa di rumah Tuan Collab beberapa detik yang lalu, "apa kau juga bilang sama seperti aku di masa lalu? Aku pikir itu hanya kutukan, rupanya dia memberiku virus itu, dan membuat aku harus menghabiskan seratus nyawa yang masih suci." Sambungnya lagi.
"Entahlah, aku agak tidak mengerti dengan ucapan kamu barusan, virus? Virus apa yang kau maksud?" Sang paman malah belum memahami apapun, entah mengapa menjelaskan sesuatu pada pria ini agak terasa sulit.
"Paman, sekarang menjelaskannya lagi akan menghabiskan waktuku dengan percuma, yang terpenting adalah, bagaimana kita bisa menyembuhkan Shaga dari virus itu, sedangkan dia sendiri tidak mau kehilangan kekuatan barunya itu," ucap Alexa lagi.
"Setiap kali aku marah, kekuatan itu semakin bertambah besar, sedangkan setiap kali aku merasa kasihan dan juga iba, maka kekuatan itu semakin melemah, sementara untuk merasa kasihan dan juga iba, adalah hal yang paling sulit yang aku alami selama dua puluh tahun lamanya," Wilmer mengemukakan pendapatnya sendiri dan menceritakan kisah yang dia alami sejak dua puluh tahun menjadi sosok monster pemakan manusia, "tapi aku sungguh tidak mau putraku menjadi seperti aku, aku harap dia bisa sembuh dengan cara lain."
"Aku pernah mendengar sebuah danau kecil yang membersihkan segala penyakit jika seseorang berendam di dalamnya." Ucap Collab membuat kedua orang di sampingnya mulai memperhatikan dirinya, "tapi jujur saja, aku tidak terlalu yakin dengan itu, entahlah, aku hanya beranggapan itu sebuah dongeng untuk anak kecil yang suka cerita putri yang disihir oleh nenek sihir atau semacamnya." Sambungnya lagi.
"A? Aku tidak berpikir sampai kesitu," jawab Collab lagi.
"Coba kau ceritakan lagi apa yang pernah kau dengar tentang danau itu, letaknya, atau mungkin, bagaimana bisa menyembuhkan penyakit atau membersihkan tubuh seseorang, mungkin itu bisa membantu." Ucap Alexa pada Collab.
"Hanya sekedar cerita, dahulu ada seorang putri yang terkenal suci karena selalu mengasingkan dirinya dari semua orang, dan berdiamlah dia di tepi danau selama bertahun-tahun, sampai pada akhirnya perlahan-lahan tubuhnya mulai dilahap air karena kesuciannya, danau itu melindungi dirinya supaya tidak ada lagi satu orang pun yang bisa mengotori dirinya, dan sejak saat itu, danau itu dipercaya bisa menyembuhkan penyakit, karena kesucian putri itu yang akan mengobatinya."
"Hem, kau seperti anak kecil, aku rasa cerita itu tidak masuk akal." Ucap Tuan Wilmer menanggapi cerita lelucon yang diceritakan oleh Collab barusan.
"Sudah aku bilang itu hanya cerita dongeng saja, bagaimana aku bisa menjelaskannya dengan masuk akal padamu."
"Hai dua pria tua, bisakah kalian diam dan biarkan aku berpikir sejenak? Kau bilang cerita itu hanya sebuah lelucon? Bagaimana kalau kau mengatakan padaku adakah tempat yang akurat untuk cerita paman barusan?" Tanya Alexa pada Tuan Collab.
"Menurut legenda, di ujung barat sebuah pulau, yang dibatasi oleh dua gunung yang menjulang tinggi, dua gunung itu adalah penjaga yang menjaga keberadaan danau itu, hanya seseorang yang beruntung saja yang bisa menjumpai danau itu," ucap Collab lagi, menceritakan legenda yang dia tahu.
Hanya saja, Alexa malah mempercayai ceritanya. Bagi gadis itu tidak ada yang mustahil di dunia ini, termasuk dengan danau yang dia maksud itu.
"Baiklah, aku sungguh tidak percaya dengan lelucon itu, bagiku kau sangat bodoh Collab!" Ucap Wilmer pada sahabat karibnya itu.
"Sudah aku katakan aku hanya bicara legenda kuno, itu hanya cerita dongeng, jangan salahkan aku, Alexa lah yang meminta aku untuk menceritakannya," ucap Collab melawan sang sahabat.
Namun Alexa malah terdiam. Dia terdiam di tengah-tengah rumitnya pertengkaran dua manusia serigala di sampingnya. Dalam diamnya dia berpikir, tidak mungkin ada cerita jika tidak ada kejadian yang pernah dialami oleh seseorang. Bukankah seharusnya tidak ada asap kalau tidak ada api?
Mungkin saja, jika dia bisa menyembuhkan Shaga, bukankah seharusnya dia bisa menyembuhkan sang ayah.
Namun di tengah-tengah pergulatannya dalam otaknya, mendadak dia ingat kejadian malam itu, saat dia dijumpai oleh bayangan sang ayah yang kemudian memberinya ribuan petuah. Dan sekarang pertanyaan baru mendadak muncul dalam pikirannya.
Jika pada saat itu ruh sang ayah menghampiri dirinya, bagaimana bisa monster itu juga memiliki masa lalu seperti ayahnya? Apa mungkin kedua sosok itu adalah sosok yang berbeda? Bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini?
Semuanya menjadi semakin rumit.
\*\*\*\*\*\*\*\*
Ia pun kembali menemui Arsello, dan mengatakan semua yang dia dengar tentang danau legenda yang diceritakan oleh sang paman padanya, setelah dia sampai di rumah tua milik keluarga Arsello.
Entah kenapa sekarang dia lebih suka bergabung dengan Arsello, bukanlah dia berkhianat, hanya saja, mereka berdua sekarang juga memiliki tujuan yang sama, yaitu menghancurkan Valheins.
Dia tampak berjalan kesana dan kemari saja sembari berpikir keras tentang ucapan Alexa barusan.
Tuk! Tuk! Tuk!
Lama dia menunggu pria di depannya itu hanya untuk mondar mandir kesana kemari dan membuat dirinya malas menatapnya. Ya, dia sudah semakin bosan dengan tingkah laku Arsello.
Lama pria itu berjalan-jalan dengan bingung, akhirnya dia terduduk pula di depan Alexa, dan kemudian menatap gadis itu dengan lekat.
"Sudah tahu jawabannya?" Tanya Alexa pada pria itu.
"Aku tidak pernah dengar, mungkin itu hanya cerita khayalan paman kamu pada saat kecil saja," ucap Arsello dengan sangat mengecewakan.
"Aish! Tidak ada gunanya aku menunggumu, menurut kamu bagaimana? Bisa kita pergi untuk mencarinya dan mengobati serigala itu?" Tanya Alexa sambil menatap ke arah lantai bawah tempat serigala itu ditahan.
"Lalu bagaimana dengan Valheins? Perjanjian awal kita adalah, aku membunuh Valheins dan kau akan memberiku sesuatu yang menjanjikan, tentunya mencari penawar untuk virus itu tidak termasuk perjanjian."
Prak!
Alexa meletakkan kepingan koin emas dalam sebuah wadah kain berwarna merah.
"Apa itu cukup bagimu?" Tanya Alexa sekali lagi.
Mata pria di depannya menjadi hijau merona, melihat koin-koin emas itu dengan lihai menggoda imannya. Sekarang kehormatannya sebagai seorang pria kaki tangan Valheins sudah hancur.
"Baiklah, mari kita lakukan, mana dulu yang harus kita lakukan, aku akan membantu kamu."
"Ck! Mata duitan!" Ucap Alexa sambil bangkit dari duduknya dan kemudian mengenakan cindungnya lagi, "mungkin mencari keberadaan danau dongeng itu lebih dulu, baru setelah itu, mari kita lihat seberapa hebat kemampuan kamu membunuh kakek tua itu." Ucap Alexa.
"Cucu yang durhaka, maunya membunuh kakek sendiri."
Swosh!
Mendengar perkataan Arsello barusan, Alexa menjadi marah. Dengan cepat dia berbalik, dan dalam sekejap mata dia telah berhasil menggapai leher Arsello dengan satu cengkeraman tangannya, "karena dia sendiri yang mengajari aku, maka akan aku tunjukkan bagaimana aku bisa lebih hebat darinya." Jawab wanita itu dengan tegas.
Sang pria dalam jeratannya hanya bisa terdiam memaku, sampai pada saat Alexa melepaskan jeratan tangannya pun dia masih dibuat memaku di tempat.
Melihat wajah Arsello yang tertekan, Alexa pun pada akhirnya memilih untuk mundur, dan kemudian berjalan keluar sembari melirik arah pintu ke ruang bawah tanah.
*Aku harus memastikan apa itu benar dirimu atau bukan*.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...