
~Happy reading~
“kamu tak restuin mereka Joe?” tanya sang papa setelah ikut bergabung dengan kedua anaknya
“tidak pa”
“kenapa?” sejujurnya papa Daniel juga sangat mengharapkan Alexa menjadi putrinya. Istri tercintanya ikutan merengek seperti bungsunya untuk membawa Alexa pulang ke rumah.
“ada beberapa alasan pa” jawab Joe dengan berat, merasa sepertinya Devan akan mendapat dukungan dari sang papa,
“kalau kau tak setuju Alexa jadi istrinya Alexa, bagaimana kalau papa adopsi saja?”
“tidak!!!!” jawab Devan tegas “papa apaan sih, ya jangan diadopsi lah, kalau diadopsi Devan ga bisa nikahin Alexa dong” Devan semakin merengek, jantungnya semakin berdetak kencang memikirkan ucapan sang papa barusan,
Joe pun terlonjak kaget mendengar teriakan penolakan dari Devan.
“Devan, apa-apa kamu sih? berani berteriak di depan papa” tegur papa Daniel pada putra bungsunya yang membuatnya menutup telinga.
“ma…maaf pa” seketika Devan gelagapan , sadar akan sikap tidak sopannya “papa ga restuin aku sama Exa apa? Jangan adopsi Alexa pa” pintanya dengan memelas
“lha Joe yang sebagai walinya aja ga restuin kamu kok, tau sendiri mama kamu sudah ndak mau pisah sama Alexa, ya mau ndak mau papa adopsi dong”
“papa…” Devan semakin memelas mendengar penjelasan sang papa
“bujuk kakak mu lah.. kalau kakak mu setuju, papa mama tentu merestui kalian”
“kak Joe…” Devan beralih ke arah sang kakak yang memandang mereka dengan tatapan bingung
“kita bahas lain kali ya, kakak mau kerja dulu”
“tuh kan pa… ka…” belum selesai bicara dering telephone dari saku celana Devan menghentikan pembicaraannya, buru-buru Devan menggeser tombol hijau setelah melihat nama yang tertera di layar.
“ya, siap pak!” jawab Devan dengan tegas setelah sambungan telephone terhubung
“….”
“baik, saya segera ke sana”
Setelah mengakhiri panggilan telephonenya Devan segera beranjak dari duduknya, kini sisi tegasnya kembali hadir, tak ada kelihatan jiwa kekanakan yang barusan muncul di hadapan kakak dan papanya,
Setelah Devan tak terlihat lagi di balik pintu, Joe pun menghela nafas, dan membuat papa Daniel mengernyitkan dahinya,
"kenapa Joe?"
"hmmm....itu pa..." Joe menunduk sebentar dan menghela nafas lagi,
"iya, kenapa? Ada masalah?" tanya papa Danie karena tak biasanya Joe mengehela nafas berkali-kali kalau tak di landa kebingungan
"papa lihat bagaimana Devan tadi, ya itu salah satu alasan kenapa Joe tidak mau Devan menikahi Alexa"
"hmm, karena pekerjaannya?"
"ya,..papa tau tugasnya tak menentu, harus siap kapanpun dan tak tentu kapan kembali, kalau Alexa menikah dengannya, Alexa akan sering ditinggal"
"papa kan tau Exa baru ketemu sama Joe beberapa hari, meski ada om Ardian, tante Rasty dan Rayhan tapi tetap saja kondisinya berbeda, Exa sudah ditinggalkan kedua orang kami, bahkan Joe juga secara tidak langsung meninggalkannya dari kecil, jika nanti Devan menikah dengan Exa, nantinya Exa juga akan sering ditinggalkan Pa? Joe tidak mau Exa merasa sedih karena merasa di tinggalkan"
"hmmmm iya," papa Daniel mengangguk dan mengerti maksud sang putra "tapi coba pikirkan juga, kondisi waktu kalian kecil kan berbeda dengan kondisi sekarang, kalau dulu waktu kalian kehilangan orang tua kalian tentu sangat sedih karena orang tua kalian tidak akan kembali, tapi kalau saat ini, meski Devan meninggalkannya, tapi dia akan kembali, Devan hanya pergi untuk melaksanakan pekerjaannya"
"apakah Joe berpikir naif pa? Joe hanya takut Alexa akan merasa sendiri nanti"
"tidak akan Joe, kita ada untuk Alexa juga, kita tidak akan membuatnya merasa sendiri"
"Joe ingin suami Alexa nanti adalah orang yang bisa menemaninya, selalu ada untuknya"
Papa terdiam mendengar penuturan dari putra sulungnya, Mencoba mengerti bagaimana pemikiran sang putra,
"Kemarin Alexa sendiri meminta Joe untuk tak meninggalkannya" Joe kembali bersedih mengingat pembicaraan mereka kemarin malam “Joe merasa bersalah karena selama ini Joe tak bisa menjaga Exa sesuai pesan mama Joe pa”
Papa Daniel terdiam, membiarkan putra sulungnya menyampaikan hal yang mengganggu pikirannya. Selama ini putranya itu memang selalu peduli dengan keluarga, sebelum ingatannya kembali pun Joe adalah sosok yang begitu menyayangi kedua orang tuanya, terlepas dari mereka orang tua kandung atau bukan, Joe tak pernah membedakan itu,
“Joe ingin menjaga Exa pa, alasan lain juga karena usia mereka masih terlalu muda, apa sikap Joe salah pa?” Joe menatap lembut sang papa yang duduk di depannya untuk meminta pertimbangan.
“tidak juga, papa ngerti posisimu saat ini karena kamu walinya Alexa, kamu pengganti orang tua kalian, dan ya kadang memang berat sebagai orang tua melepas putrinya untuk menikah, karena putrinya akan tinggal bersama pria lain, keluarga lain, belum tentu mereka akan memperlakukan putri mereka sebaik orang tua memperlakukan putrinya selama ini. Tapi perlu Joe pertimbangkan juga jika Alexa menikah dengan Devan, justru itu tidak akan membuat kalian terpisah, kalian masih bisa bersama, kamu juga anak papa Joe, meskipun sekarang kamu akhirnya memilih untuk tinggal dengan keluarga kandungmu, tapi pintu rumah juga akan selalu terbuka untuk mu, justru nilai plusnya kalau Alexa menikah dengan Devan, kalian berdua akan lebih leluasa melindunginya, kamu atau Devan, bahkan papa dan mama pun bisa menjaganya juga”
Joe terdiam mendengar penuturan sang papa, yang biasanya memang selalu bisa mengubah keputusannya.
“Kalau terkait usia, ya mereka bisa menunggu, sebenarnya usia mereka menikah pun juga tidak masalah”
“akan Joe pikirkan pa, saat ini Joe ingin fokus ke keamanan Alexa dulu, papa tau sendiri pelaku penembakan belum tertangkap”
“ya justru itu, kalau Alexa sudah menikah Devan, Devan bisa lebih leluasa menjaga Alexa, bukan papa meragukan kemampuan mu untuk melindungi Alexa, tapi kalian bisa memberikan perlindungan double untuk Exa nantinya”
Joe masih terdiam, dalam lubuk hatinya sebenarnya juga menyetujui penuturan sang papa, tapi entah mengapa masih ada hal yang mengganjal hingga belum bisa melepaskan Alexa untuk menikah.
“bisa kita seperti ini dulu pa, Joe juga ingin lihat kesungguhan Devan terlebih dulu, dan soal restu Joe, Joe akan merestui jika Alexa sendiri mau untuk menikah dengan Devan” ucap Joe akhirnya “Joe juga tak ingin memaksa Alexa”
“hmm, baiklah, biarkan Devan berusaha untuk mendapatkan hati Alexa terlebih dahulu” papa Daniel pun menerima keputusan putra sulungnya.
“Terimakasih pa”
“ya sudah papa, mau kembali ke ruangan papa, kamu lanjutkan pekerjaanmu” Papa Daniel pun beranjak dari duduknya dan belalu keluar ruangan Joe
Joe pun menghela nafas kembali setelah papa Daniel tak terlihat lagi, kemudian kembali duduk di meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan yang tadi ditinggalkannya.
tbc
Hai semua..
maaf author telat update,..
terimakasih atas dukungannya.. 🤩🤩🤩
Tunggu update selanjutnya