Alexa

Alexa
#Menang Lagi



Sejauh dia memasang kupingnya dengan sangat awas, dia benar-benar tidak mendengar apapun.


"Hei, Nak! aku ingin mendengar suara kamu!!"


Teriak Wilmer satu kali lagi, namun dia masih tidak mendapat jawaban apapun dari anak itu, sampai akhirnya sekarang dia hanya bisa terus mencoba bergerak menerjang badai lalat itu untuk bisa menggapai anak yang entah dimana keberadaannya itu.


Lama dia berusaha mencari posisi anak itu, akhirnya dia berhasil menemukan anak yang sejak tadi dia cari..


"Nak, apa kau bisa mendengar aku?" teriak Wilmer dengan sangat keras.


Tapi anak itu tidak bergeming dari tempatnya. Dia terlihat tidak sadarkan diri, dan tergeletak di atas tanah dengan jubah hitam yang ada di tubuhnya.


Dia akhirnya melangkah lagi ke depan, dan kemudian meraih anak itu lalu kemudian terlihat memeluk anak itu dengan dekapan tangannya.


"Bertahanlah, Nak, kita akan segera keluar dari sini!"


Pria itu akhirnya menggendong anak yang berhasil dia selamatkan itu, dan mulai mengeluarkan anak itu dari kumparan lalat-lalat hitam.


Sementara di sisi lain, tampak pria muda itu terlihat mengeluarkan beberapa korban yang lainnya, dia tampak masuk ke dalam gua dengan memapah seorang wanita muda dengan paras yang lumayan mempesona.


Sedikit dia tersenyum simpul, merasa senang, mungkin karena pada akhirnya dia masih menemukan satu gadis yang tersisa di suku mereka, gadis yang akhirnya akan menjadi harapan di di kedepannya..


Dia pun segera mendudukkan gadis itu ke dalam satu rumah yang masih bertahan. Memang rumah itu dulu sengaja di bangun dengan kayu yang kokoh dan pertahanan yang lumayan untuk bersiap siaga saat terjadi penyerangan musuh.


"Duduklah, jangan banyak bergerak, kaki kamu terluka," ucap pria muda itu pada sang gadis..


Gadis itu terlihat tersenyum simpul, ada satu rasa yang tak bisa terucapkan melalui bibirnya, satu rasa yang membayang di dalam hati kecilnya, dan akhirnya perasaan itu menimbulkan ekspresi canggung di wajahnya yang kemerahan dan lembut seperti ceri.


Pria itu terus menatapi sang gadis, apalagi saat gadis itu tersenyum simpul ke arahnya, huahhhh, rasanya seperti dipanah dengan panahan mematikan yang langsung menembus ke area jantungnya.


Matilah dia!


Namun mereka tak melakukan adegan itu cukup lama, sampai akhirnya mereka mendengar teriakan dari sisi yang lain.


"Istriku, bangunlah, istriku.. hu.. hu.. hu.."


Seorang pria yang tengah meratapi nasib memilukan yang terjadi pada istrinya.


"Ibu, bangun, Bu, ibu bangun.." panggil anak laki-lakinya.


Rupanya anak laki-laki yang semula berbincang dengan pria muda itu, adalah anak dari wanita yang telah tewas di sana.


Pria muda itu pun hanya bisa menatapi mereka sekejap, karena bagaimanapun dia merasa sedih, tetap saja dia masih punya tugas lain yang lebih penting..


Dia menghampiri ke arah anak itu, dan kemudian menatap anak laki-laki itu dengan tatapan yang hangat.


"Nak, kau ingat kau ini siapa?" tanya pria muda itu pada anak laki-laki yang terduduk mematung di depannya.


Anak itu hanya terdiam, ayahnya juga hanya bisa diam membisu. Kedua orang itu memang tak sanggup untuk kehilangan wanita yang paling berjasa bagi mereka. Tapi jika terus menerus bersedih, masalah tidak akan cepat selesai.


Anak itu lekas mengangguk pada pria muda di depannya.


"Baiklah, kau anak yang pintar, kau harus ingat apa misi kita selanjutnya, ya?" tanya pria itu lagi pada anak yang sama.


Lagi dan lagi anak itu hanya mengangguk Saja. Tapi pria muda itu sudah paham sikap anak ini, yang pendiam tapi sejujurnya mengerti akan segalanya.


Dia pun hanya bisa meminta anak ini untuk melakukan satu hal yang sama yang dia bilang sebelumnya.


"Ingat, jika masuk satu, kau bisa membunuhnya, atau menakutinya dengan sedikit percikan api, tapi jika banyak yang sudah masuk, kau bisa melakukan yang kakak minta, kau mengerti?" tanya pria itu lagi ingin lebih jelas mendengar jawaban dari anak tersebut.


Anak itu lagi dan lagi kembali mengangguk.


Tak lama setelah itu, masuklah Wilmer yang tergopoh-gopoh menggendong anak yang dia temukan selamat di tengah pusaran badai lalat tersebut.


Pria muda itu langsung menggapai Wilmer, dan kemudian segera menidurkan anak kecil itu di atas bebatuan.


Anak itu masih tidak sadar meski sudah sekian lama dia tidak sadarkan diri. Semua orang melihat ke arahnya, juga gadis itu, gadis yang semula ditolong oleh pria muda tersebut.


Seketika wajah gadis itu tercengang, manakala dia mendapati sosok anak yang begitu dia kenal.


"Zeyan?" panggil gadis itu pada anak kecil yang baru saja datang.


Ia tak menyempatkan waktu untuk berpikir, langsung saja dia menghampiri gadis itu dan kemudian memeluknya dengan erat.


Semua orang menatap mereka dengan wajah yang tak bisa ditebak.


"Zeyan! bangunlah! Zeyan! bangun!" teriak gadis yang lebih tua puluhan tahun dari anak kecil yang bernama Zeyan.


"Kamu kenal dengan anak ini?" tanya pria muda tadi sambil menaruh sedikit kecemasan.


Ya, cemas saja jangan-jangan gadis ini sudah punya anak, tidak ada yang tahu.


Jangan sampai dia berkata kalau anak ini adalah anaknya.


Gumam pria itu merasa gundah.


"Tidak, bukan, dia bukan anakku, kami tinggal satu rumah, orang tua Zeyan mengadopsi aku saat aku kecil, kau pasti pernah mendengar sekitar lima belas tahun lalu ada anak yang ditinggal mati kedua orang tuanya, karena diburu dan jadi korban para vampir, itulah aku." Jawab gadis itu pada pria yang bertanya..


"Um? sepertinya aku ketinggalan banyak berita, dua puluh tahun terkahir di negeri manusia memang membuat aku ketinggalan zaman di negeri sendiri." Gumam Wilmer sembari bangkit dari duduknya.


Sedikit merasa canggung melihat percintaan muda yang dialami oleh pasangan yang baru saling bertemu itu, agaknya dia akan kalah telak oleh percintaan mereka.


"Ya, aku sudah sangat tua, sudah waktunya bagiku untuk memikirkan masa depan, tapi aku masih saja sibuk berperang." Gumam Wilmer lagi.


Pria itu kemudian terlihat berhenti tepat di depan pintu. Dia melihat satu lalat yang berhasil masuk melalui celah-celah pintu.


Dia tertegun sesaat, suara gemerung riuh di luar sana semakin terdengar menakutkan.


Satu hal yang dia takutkan pada saat itu adalah, bagaimana jika lalat-lalat itu berhasil masuk ke dalam satu-satunya rumah yang mereka jadikan persembunyian?


"Tidak," gumam Wilmer merasa sedikit ketakutan.


Semua orang menoleh ke arahnya, dan menatap bagian pintu yang agaknya mulai bergerak dan bergetar seperti tengah mendapat serangan yang sangat kuat dari arah luar.


Brak!


Semua orang terkejut manakala suara pintu seperti didobrak oleh sesuatu itu terdengar di kedua telinga mereka semua, hingga membuat semua orang lekas berjaga-jaga dan mencoba mengamankan diri sendiri.


Pria muda yang tadi tengah bercakap-cakap dengan seorang gadis akhirnya terlihat maju ke depan, dan berhenti tepat di samping Wilmer.


Dia menatap celah-celah pintu dan mendapati banyak lalat yang akhirnya berhasil masuk ke dalam.


Lalat-lalat itu tampak terbang dengan sehat dan mulai menteror semua yang ada di dalam rumah tersebut.


"Aaaa!! awas!"


Semua orang lantas berteriak ketakutan. Tak beda pula dengan gadis yang tengah melindungi adiknya.


Dia tampak meringkuk dan berlindung di balik baju tebal yang dia kenakan. Namun lalat-lalat itu semakin banyak yang masuk. Mereka juga semakin kesulitan membunuh lalat-lalat itu.


"Awas! dia punya ngengat yang sangat sakit jika sampai mengenai kita," ucap salah satu di antara mereka.


Sementara yang lain tampak membuka pakaian mereka dan mulai menyabet lalat-lalat yang berterbangan semakin banyak itu.


"Bagaimana tuan? apa yang harus kita lakukan?" tanya pria muda itu pada Wilmer, tahu saja kalau Wilmer tengah mencoba untuk berpikir mencari jalan keluar.


"Kita harus melakukan aksi bakar-bakaran." Ucap pria itu pada pria muda di sebelahnya.


"Kakak!!!"


Terdengar anak kecil laki-laki yang semula menangis meratapi nasib sang ibunda berteriak dengan keras, hingga membuat pria muda dan Wilmer seketika menoleh ke belakang.


Anak itu melempar dua batu yang semula berada di dalam genggaman tangannya, dan kemudian dua batu itu segera ditangkap oleh pria itu.


Wilmer Tersenyum, "aku cari minyak tanahnya!".


Segera Wilmer masuk ke dalam rumah itu, dan mencari ke tempat penyimpanan, dia ingat semua orang masih menggunakan cara lama untuk melakukan penerbangan di malam hari.


Bukan hanya itu saja dia juga yakin kalau Collab pasti mengisi rumah darurat ini dengan beberapa benda penting yang bisa membantu mereka dalam situasi sulit.


Dia mencari ke seluruh gudang penyimpanan, dan benar saja, dia menemukan beberapa wadah minyak yang sangat banyak, dan jumlah yang sebanyak itu jelas bisa membuat semua lalat-lalat itu hangus terbakar..


Dia pun lekas tersenyum senang, "huhh! mari kita bermain api!"


********


Di sisi lain, tampak Alexa yang masih berada di atas punggung Shaga. Dia masih tidak sadarkan diri, dan lebih dari itu dia masih belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari ketidak sadarannya itu.


Agaknya benar apa yang dikatakan oleh Wilmer, gadis itu memerlukan waktu yang cukup lama untuk memulihkan kondisinya. Tapi seberapa lama itu, tidak ada yang tahu, tidak ada yang bisa memastikan.


Ucap pria itu di tengah kondisi nafasnya yang tergopoh-gopoh karena kelelahan menggendong bobot sebesar Alexa di punggungnya.


Mungkin iya dia pria yang telah berubah menjadi kuat luar biasa, tapi bagaimanapun juga jika berlari sejauh dua mil dengan beban di atas punggungnya memang sangat sulit, mungkin hanya bukan terjadi pada dirinya saja, orang lain pun pasti akan merasa penat saat harus mengalami hal yang sama seperti dirinya.


Dia bukan pria yang sok jagoan, dia memang mengakui, kalau berjalan sejauh dua mil dengan kondisi yang seperti ini, dia pasti akan kelelahan.


Dia yang terlihat kelelahan pun akhirnya berhenti di bawah pohon yang berumur ratusan tahun berdiri dan tumbuh dengan kokoh di atas tebing, seorang diri tanpa teman dan keluarga..


Sejujurnya menggambarkan posisi pohon sampai seperti itu agak terasa berlebihan. Jadi lebih baik mengakhiri saja cerita dan drama mengenai pohon berusia ratusan tahun yang tumbuh di atas tebing itu.


Dia menurunkan Alexa dari punggungnya, dan dengan segera dia merubah dirinya menjadi sosok manusia biasa.


Ia kemudian mendekati Alexa, membenarkan posisi Alexa menjadi lebih nyaman, dan akhirnya terduduk di samping Alexa yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Hahhh!


Ia menatapi wajah Alexa yang damai namun sedikit layu, wajah mungil yang telah berjuang semampu dan sekuat tenaganya untuk membela kelompoknya dan membawa nama kebesaran ayah serta ibunya.


Perjuangan anak gadis ini memang sangat berat, lebih berat kiranya dari pada perjalanan Shaga sejauh dua mil dengan beban di atas punggungnya.


Shaga tersenyum, namun senyum di bibirnya juga melukiskan tentang kesedihan yang mendalam di hatinya untuk Alexa. Gadis yang harus berjuang dan memaksa diri menjadi wanita tangguh.


Tentu saja siapapun akan merasa kasihan. Bukan karena apa, di saat teman-teman di kampus mereka menghabiskan masa muda mereka dengan kebahagiaan, foya-foya, main bersama kawan-kawan mereka di luar sana, tapi berbeda dengan Alexa.


Entah di dunia manusia, atau dunia tempat asli kelahirannya, dia tetap saja harus menjadi wanita tangguh yang hidup di kelilingi oleh bahaya.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu setalah ini, tapi benar-benar berharap kamu akan baik-baik saja." Ucap Shaga masih menatapi wajah Alexa.


...----------------...


"Tidak!! aaaa!!!"


Sementara kericuhan masih terjadi di dalam rumah terakhir tempat mereka bersembunyi.


Lalat-lalat itu malah terus saja masuk satu per satu ke dalam rumah terkahir yang menjadi tempat persembunyian bagi mereka semua yang tersisa.


Padahal pintu sudah ditutup dengan sangat rapat dari dalam, tapi celah-celah di pintu masuk yang membuat lalat-lalat itu masih saja bersliweran masuk ke dalam rumah.


Swosh!


Sesekali pria muda di sana tampak menggunakan balok-balok kayu untuk menyingkirkan lalat-lalat itu, tapi bagaimanapun juga jumlah mereka terlalu banyak untuk diserang dengan alat seadanya.


"Minggir kalian semua!!"


Tampak terdengar dari dalam suara seseorang yang dengan gagah berani mencoba untuk maju ke garis depan dan berniat untuk menghancurkan para lalat-lalat itu.


Dia maju ke arah pintu, hingga membuat semua orang merasa cemas.


"Tuan jangan!"


"Apa yang akan kau lakukan? kau mau membunuh kami semua?" tanya seorang pria di suatu sisi masih di dalam rumah itu.


Pria muda itu mendekat ke arah Wilmer, menunjukkan dua batu yang dia pegang sedari tadi, dan kemudian memberikannya pada Wilmer.


Wilmer hanya menatap ke arah mereka semua, dan menunjukkan minyak beserta dua batu di tangan mereka.


"Kalian tidak mau mempercayai aku? begitu?" tanya Wilmer pada semua orang di sana, terutama pada pria yang barusan memberi tuduhan pada Wilmer.


Semua orang terdiam. Mereka tidak bisa menjawab apapun lagi pada Wilmer. Mereka hanya terlihat berdiri di sisi yang aman, dan kemudian menyaksikan apa yang akan Wilmer perbuat pada lalat-lalat itu.


"Kau siap nak?" tanya Wilmer pada pria muda di sampingnya.


"Ya, sejauh ini aku selalu siap!"


Wilmer pun akhirnya mulai menggapai pintu, berusaha untuk membukanya secara perlahan-lahan, dan kemudian, akhirnya pintu pun terbuka dengan lebar.


Mereka terkejut, melihat kawanan lalat-lalat itu yang telah berubah semakin banyak, mengepung rumah tersebut dan agaknya mereka tahu kalau rumah itu menjadi tempat persembunyian orang-orang.


Namun Wilmer dan pria muda itu dengan gagah berani mengambil inisiatif untuk melakukan penyerangan.


"Kau siap??"


"Lakukanlah!!"


Rrrrrrrrrrr


"Sekarang!!"


Byur!!


Ck!


Blussss!!


"Merunduk!!"


Semua orang tampak merunduk di atas tanah, bersamaan dengan api yang mendadak meluap besar di luar rumah.


Kecuali Wilmer yang setelah melakukan aksinya dia langsung menutup pintunya, dan kemudian menahan pintu itu agar tidak jebol saat api mulai membakar lalat-lalat tersebut.


Sejenak suasana nampak sedikit menegangkan. Tegang karena getaran yang sangat terasa pada rumah tersebut, serasa hampir roboh saja rumah itu.


Namun setelah beberapa menit berlalu, akhirnya suasana kembali menjadi tenang, bukan lebih baik, karena pada kenyatannya di luar sana masih banyak pula lalat-lalat yang masih berkeliaran dengan asiknya.


Namun keadaan yang sedikit lebih baik itu tidak mau disia-siakan oleh Wilmer. Pria itu lekas membawa minyak di wadah yang satunya lagi, dibuntuti oleh pria muda yang ada di sampingnya, dan kemudian mereka kembali melakukan aksi yang kedua.


Di tengah-tengah kericuhan para lalat-lalat itu, kedua orang itu terlihat menumpuk banyak tumpukkan kayu-kayu bekas bangunan rumah, dan mereka sirami pula dengan minyak tanah.


"Ayo Nak, kita tak punya banyak waktu."


Ucap Wilmer pada pria muda di sebelahnya.


Pria itu lekas mengambil batu miliknya lagi, dan kembali menyalakan api dari sana.


Blus!!


Api pun menyala dan berkobar begitu ganasnya melahap tumpukkan kayu-kayu itu.


Ha.. ha.. ha...


Tawa puas terluaht di wajah Wilmer, manakala dia mendapati para lalat-lalat itu terbang menjauh, bahkan banyak pula yang mati terbakar api yang sangat panas itu.


"Akhirnya kita berhasil, Nak!" ucap Wilmer pada pria muda di sebelahnya.


Pria muda itu tampak tertawa riang sama seperti yang Wilmer lakukan.


Dia tampak saling memeluk puas bersama dengan Wilmer, dan kembali menatapi perginya lalat-lalat menjauh, dengan jumlah yang bahkan tidak lagi sama, mungkin hanya tersisa satu ribuan saja.


"Baiklah, kita sudah berhasil sekarang," ucap Wilmer pada pria itu.


Dia juga tak lupa menyunggingkan senyuman di bibirnya, "semua ini tidak akan berhasil tanpa kau!" ucap Tuan Wilmer pada pria muda di depannya.


Pria itu hanya terlihat menatap kedua mata Wilmer dengan rasa senang. Dia tak pernah menatap orang lain sampai seperti itu, agaknya Wilmer benar-benar kagum pada dirinya.


"Aku juga berhutang budi padamu," jawab pria muda itu.


Sejenak kedua orang itu terlihat terdiam saling menatap, sampai akhirnya Wilmer yang lebih dulu mengambil inisiatif untuk memeluk pria tersebut.


Hap!


Puk!


Puk!


"Aku bangga padamu, nak, aku bangga pada dirimu dan keberanian kamu!"


Ucap Wilmer pada pria tersebut.


"Tapi bagaimana dengan lalat-lalat itu? apa mereka akan kembali ke tempat asalnya, atau mereka akan bertransmigrasi ke tempat lain?"


Tanya Wilmer sembari menatap ke arah langit, dan kemudian mendapati lalat-lalat itu yang masih terbang bergerombol menjauh dari pemukiman.


Apapun yang terjadi, seorang semuanya sudah berkahir, semuanya sudah berubah menjadi lebih baik lagi, dan ke depannya, mereka yang tersisa lah yang harus menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...