Alexa

Alexa
#Percaya Pada Diri Sendiri



"Ayah! bangunlah!!!"


Kawanan lalat yang cukup besar jumlahnya itu mengerubungi bangsa serigala dan menyengat mereka seperti halnya para lebah yang menyengat manusia dengan brutal.


Shaga terlihat menatapi kesedihan yang dialami oleh sang ayah di bawah sana, terkerubung dengan lalat yang jumlahnya tidak dapat terhitung itu, namun apalah daya, dia tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan sang ayah.


Dia lekas memejamkan kedua matanya, menutup kedua matanya dengan erat dan kemudian memohon agar sang ayah diselamatkan dari tragedi mengerikan itu.


*Aku harap ayah selamat*.



Trang!


Suara pedang milik Alexa yang menangkis serangan dari Valheins terdengar sampai masuk ke dalam kedua telinganya, membuag dia yang seharusnya masih fokus untuk melanjutkan permintaannya akhirnya harus bergeming.


Dia lekas membuka kedua matanya, kawanan lalat-lalat itu terbang di atas langit jingga membuat cahaya matahari yang dipancarkan oleh Phoenix milik Alexa pun padam oleh kumpulan mereka yang sangat banyak.


Dia berbalik dan menatap ke arah Alexa. Dia melihat gadis itu tengah bertempur dengan sekuat tenaga melawan kakek tua yang sangat jahat itu.


*Kau sedang berjuang, apa aku akan merepotkan kamu lagi untuk yang ke sekian kalinya*?


Gumam benak Shaga dengan lirih, begitu malu dan merasa tidak pantas karena dia hanya bisa berdiri dan menjadi pengecut kelas dunia saat dihadapkan dengan situasi semacam ini.


Dia memang mencoba untuk berani, hanya saja, dia tak cukup kekuatan untuk melawan dan menghadapi musuh sebesar Valheins seperti yang Alexa lakukan.


Agaknya dia memang bukan pria yang berguna.


Tidak Shaga!


Arkh!


Mendadak sebuah suara masuk ke dalam telinganya, entahlah, seperti juga masuk ke dalam hati kecilnya, tidak, suara itu terdengar di dalam dirinya.


Suara yang tidak asing, seperti suara Alexa, dan suara itu, dia yakin menang suara Alexa.


Dia menatap ke arah Alexa, gadis itu rupanya masih asik dan sibuk bertempur dengan Valheins, mengincar kepala dan mahkota yang dikenakan oleh Valheins dan hampir merebutnya.


Tapi mengapa tadi dia mendengar suara Alexa uang berbicara? apa dia hanya sedang kelelahan, sampai-sampai dia mendengar suara seseorang yang tengah bertempur seperti itu?


Lagipula mana mungkin Alexa peduli pada dirinya lebih dari rasa peduli pada peperangannya dengan Valheins.


Ya, kau mendengar hatiku bicara, Shaga! jika kau mendengar kata hatiku, maka yakinlah, kau bisa dengan caramu sendiri!


Dan lagi, suara itu terdengar lagi, bercampur dan berperang dengan suara lalat-lalat yang semakin berisik terbang di langit.


Namun seperti ada sesuatu yang aneh dari suara itu. Entah seperti apa, tapi sepertinya suara itu memiliki tempat tersendiri yang entah dimana itu tempatnya, Shaga pun tak tahu.


Hanya saja, suara itu macam di telinga, namun terasa berada di hati, dan terngiang-ngiang di dalam otaknya.


Shaga! bangun dari lamunan kamu! bangun!!


Shaga terbangun, dia melirik ke arah Alexa, gadis itu terlihat menahan serangan dari Valheins dengan pedang miliknya, sembari melirikkan matanya ke arah Shaga.


Dia kemudian terpesona, dengan kecantikan yang memancar manakala gadis itu tengah asik dengan perlawanannya pada Valheins.


Lama dia memandangi wajah manis itu, Alexa tersenyum lebar ke arahnya, membuat dia tertegun hebat.


Aku tahu kamu bisa! lakukan apa yang kau pikirkan tentang itu!


"A?"


Sejenak Shaga tertegun, sampai akhirnya pria muda itu menyadari, ucapan Alexa memang benar.


Ia tidak akan pernah menjadi berani jika dia sendiri belum bisa yakin dengan kata hatinya sendiri.


Dia tidak akan pernah menjadi pria berani, jika dia belum percaya pada kemampuan diri sendiri.


Dan dia tidak akan pernah berubah menjadi sosok yang kuat, kalau dia sendiri meragukan kemampuan yang dia miliki.


Hem! kau benar! aku harus percaya pada diriku sendiri, bukan membandingkan diri sendiri dengan orang lain!


Ia menajamkan pandangan matanya, menjadi semakin tajam dan ganas manakala mendapat sebuah bisikan dari Alexa, yang sungguh sangat merubah pandangan hatinya.


Matanya mengkilat dengan dingin dan begitu tajam, dia kemudian menatap dengan dalam kumpulan serigala yang tengah diserang oleh lalat-lalat itu.


Ia melihat ke sekeliling, melihat bebatuan di atas tebing yang masih saja berjatuhan meski tanah sudah tidak terlihat bergetar di bawah sana.


Dia mengambil dua buah batu yang permukaannya halus, dan kemudian menggenggam kedua batu itu pada kedua tangannya.


Setahu aku serangga takut pada api, mungkin saja aku bisa melenyapkan mereka.


Dia mengambil nafas yang panjang, lalu dengan sangat yakin mulai melompat dari atas tebing, meluncur dengan kecepatan yang cukup tinggi, dan kemudian menggosokkan dua batu yang dia pegang hingga menyalakan kobaran api yang dalam waktu seketika telah membakar sedikit dari gerombolan lalat-lalat itu.


Blam!


Kedua kakinya telah berhasil menapaki tanah yang agak basah, memang masih sedikit basah, karena memang hujan pun masih belum reda.


Dia menatap ke sekeliling, berusaha untuk mencari dimana keberadaan sang ayah dan kelompoknya di tengah-tengah kumpulan lalat itu.


Ia menemukan satu kehidupan, entah itu ayahnya atau bukan, tapi dia sangat senang akhirnya bisa menemukan mereka yang selamat.


Dia mulai berlari mendekat ke arah seseorang yang tergeletak lemah di atas tanah, dan kemudian memapahnya untuk berdiri.


"Kemari! aku bantu bangun!" ucap Shaga sembari mengangkat tubuh pria itu.


Pria yang lemah itu terlihat mengangguk, mengulurkan tangannya dan kemudian bangkit atas bantuan Shaga.


Shaga memapah pria asing dari kelompoknya itu ke sebuah tempat yang mirip seperti gua di bawah tebing.


Dia mendudukkan pria lemah itu di dalam gua, dan kemudian memeriksa apa pria itu baik-baik saja atau tidak.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Shaga pada pria tersebut.


Pria itu hanya mengangguk dan menjawab dengan singkat, "ya, aku baik, terima kasih."


Shaga mengangguk saja. Dia kemudian terlihat melihat keadaan di luar gua. Keadaan ini masih sangat sulit untuk dia atasi. Rombongan lalat-lalat itu terlalu banyak untuk dia hadapi, pun terlalu sulit untuk dia atasi seorang diri.


Namun dia tak mau kehabisan akal. Dipikir olehnya sejenak apa yang kiranya bisa dia lakukan untuk mengatasi kawanan lalat-lalat itu.


Seperti yang aku bilang, serangga pasti takut api.


Dia kemudian menatap ke arah pria lemah yang tengah terduduk bersandar bebatuan di gua itu.


"Pak, maaf kalau aku mengganggu kamu, tapi apa kau bisa membantu aku?" tanya Shaga pada pria tersebut.


"Apa yang bisa aku bantu?" tanya pria itu pada Shaga.


Shaga lekas menatapi di luar gua yang terdapat banyak kayu bakar dan kemudian membawa dan mengumpulkan kayu-kayu itu menjadi satu tumpukkan yang tinggi.


Dia kemudian menoleh ke arah pria yang tadi dia tolong, dan kemudian meminta pria itu melakukan sesuatu untuknya.


"Tolong buat api yang besar, boleh juga untuk beberapa tempat, kau bisa melakukannya?" tanya Shaga penuh dengan pengharapan.


Sejenak pria di depan Shaga itu diam, mungkin tidak berpikir mau menerima atau menolaknya, tapi berpikir bagaimana dia bisa mengumpulkan banyak kayu bakar hanya dengan waktu yang singkat.


"Baiklah, serahkan saja padaku!" jawab pria itu dengan sangat yakin.


Shaga senang mendengarnya, meski dia tidak menyimpulkan sebersit senyuman singkat sekalipun di bibirnya untuk pria yang telah bersedia menolong nya itu, tapi dia begitu senang ada sosok yang mau berjuang menolong keadaan seperti ini.


"Baiklah, semoga berhasil!"


Ucap Shaga sesaat sebelum akhirnya dia terlihat membalikkan badannya berubah menjadi serigala yang gahar dan sangat berani, dan kemudian berlari masuk ke dalam serangan lalat-lalat itu.


Di dalam gua, pria itu terlihat mulai mencari apa yang akan dia gunakan untuk menciptakan api, mengumpulkan kayu-kayu sama seperti yang dilakukan oleh Shaga beberapa saat yang lalu.


Dia kemudian mengambil dua buah batu yang ada di dalam gua tersebut, dan akhirnya menyalakan api yang sangat besar di dua tumpukkan kayu-kayu itu.


Blus!!!


Brrrrrrtttt


Seketika api menyala-nyala dan berkobar dengan begitu ganasnya melahap tumpukkan kayu-kayu itu dengan sangat lahap.


"Heng! sudah cukup penindasan ini! lihat saja, apa yang akan kami lakukan padamu, Valheins!"


Ia pun tampak berdiri dengan gagah di depan api unggun yang dia buat barusan, menatapi kumpulan lalat-lalat yang bergerak menjauh dari api itu, dan pergi dari sana dengan bergegas.


Melihat rencananya dan Shaga berhasil, dia pun jadi semakin bersemangat. Dia mencari lagi kayu-kayu kering yang lain dari beberapa tempat, dan dia tumpuk lagi dan dia juga melakukannya di beberapa tempat yang lain.


Api dinyalakan lagi, dengan sangat membara, akhirnya dia berhasil menaklukkan lalat-lalat itu dengan api yang dia buat.


Sementara Shaga terlihat terus berjalan menuju ke tengah pusaran lalat-lalat itu. Dia akhirnya berubah kembali menjadi manusia biasa, karena begitu tidak mungkin dia bisa menyerang kawanan itu meski menggunakan wujudnya sebagai serigala.


Shaga masih asik mencari dimana keberadaan korban yang lainnya. Dia terus menembus masuk ke dalam serangan lalat-lalat itu dengan sangat kesulitan, dan dengan penuh perjuangan.


Ia membuka kedua matanya sedikit, dan melihat ke sekelilingnya. Ternyata sang ayah tengah terbujur tak berdaya tergeletak di atas tanah dan dikerubungi oleh ribuan lalat-lalat yang berterbangan di atasnya.


"Ayah!!" dia berbicara begitu lirih, memang agaknya suara dia begitu tenggelam oleh suara ribut kawanan lalat-lalat itu.


Dia segera berlari meski sulit sekali menyerang kawanan lalat-lalat itu. Namun sekuat tenaga dan sebisanya dia mencoba untuk mendekati sang ayah.


Kedua kakinya terus saja melangkah meski terasa bagai berada dalam pusaran angin ****** beliung yang berputar menyerang apapun yang dilaluinya.


Namun saat dia berada dalam kesulitan mendadak sebuah api menyala di depannya. Dia tertegun sesaat, sampai akhirnya dia menoleh ke arah kanan, dan melihat ada pria yang berdiri di sebelah api unggun.


"Ambil obor itu!!" teriak pria itu pada Shaga.


Dia kemudian tersenyum sekilas, menyadari kalau pria itu yang telah melempar obor ke depannya, berniat untuk memberi bala bantuan padanya.


Dengan segera dia melangkahkan kedua kakinya mendekat ke arah obor yang dilempar oleh pria itu di depannya, dan kemudian meraihnya dengan tangan kanannya dengan segera.


Setelah dia berhasil menggapai obor itu, dia segera mengangkatnya tinggi-tinggi, mencoba mengusir kawanan serangga itu dengan obor yang ada di tangannya.


Dengan segera kawanan lalat-lalat itu terlihat menyingkir. Melihat bara api yang menyala dari obor yang dibawa oleh Shaga tentu saja mereka merasa ketakutan.


Segera Shaga bergegas maju ke depan, mencoba menggapai sang ayah yang sudah lebih dekat jaraknya dari dia.


Kesempatan sempit seperti itu akhirnya dia gunakan untuk segera menyelamatkan anggota serigala yang tersisa di sana, termasuk juga sang ayah.


"Ayah, bangunlah!"


Ia menggapai tubuh ayahnya yang rupanya masih bernafas. Segera dia mengangkat tubuh itu dan kemudian memapah ayahnya menuju ke tempat yang terdapat banyak api ciptaan pria sebelumnya.


Dia membaringkan tubuh ayahnya pada bebatuan di dalam gua. Dia melihat kondisi ayahnya yang sangat lemah dan hampir mati.


Ya, dia memang tahu itu, karena dia melihat kondisi sang ayah yang sudah sangat lemah seperti itu, agaknya nyawa ayahnya jika selamat adalah sebuah keberuntungan.


Namun dia tak putus asa. Dia panggil ayahnya berulang kali sampai sang ayah terbangun dari pingsannya.


"Ayah, ayah bangunlah."


Pria yang sebelumnya terlihat mengambil obor yang semula di pegang oleh Shaga dan kemudian membawanya menuju ke tengah lautan lalat.


Dia berpikir dia bisa membantu satu hal yang akan menjadi berkesan seumur hidupnya, menyelamatkan anggota kelompok yang tersisa.


Namun Shaga menyadari akan niat kepergiannya itu. Dia tampak menoleh ke arah pria yang sudah bersiap dengan obor di tangannya itu, dan kemudian menghentikan langkah kaki pria itu.


"Kau mau kemana?" tanya Shaga mendadak berdiri di belakang pria itu.


Lekas pria itu menoleh mendapat panggilan dari Shaga dan kemudian menjawab pertanyaan dari Shaga.


"Aku bukan pejuang terkenal seperti kamu dan ayah kamu, tapi aku bisa diandalkan, kau urus saja ayah kamu itu, sisa pasukan kita, biar aku yang menyelematkan mereka." Ucap pria itu dengan gagah berani.


Shaga akhirnya hanya bisa mengangguk saja. Dia biarkan pria itu masuk ke dalam kawanan lalat hanya berbekal pada obor yang ada di tangannya.


Mereka memang masih terjebak di tengah-tengah kumpulan lalat-lalat itu, karena pria tadi hanya menyalakan api unggun di sekitar gua saja.


Melihat kegagahan pria itu, Shaga akhirnya merasa lega, masih ada pula di antara mereka yang bisa dia andalkan.


Dia mulai berbalik menghadap ke arah sang ayah, dan kemudian kembali terduduk di depannya.


Dia melihat sang ayah yang terlihat mulai membuka kedua matanya dan menatap dirinya dengan lemah. Sangat lemah.


"Ayah?"


Wilmer mencoba bangun dari baringnya, namun Shaga menghentikan itu. Dia tidak boleh membiarkan ayahnya terluka kembali.


"Shaga.." ucap sang ayah sangat lemah.


"Jangan bangun dulu, kau masih lemah."


Shaga membaringkan kembali sang ayah di atas bebatuan dan kemudian menggenggam tangan ayahnya yang sudah layu.


Tak terasa air mata menitih jatuh dari kedua matanya. Dia tak sanggup melihat sang ayah yang tengah berada dalam situasi semacam ini. Apa ini termasuk takdir yang adil?


Apa ini termasuk pengabulan doa yang dulu sempat dia ucapkan pada saat ibunya meninggal?


Tidak akan membiarkan siapapun yang menyakiti sang ibunda hidup tenang, termasuk juga ayahnya.


Dia tertegun sesaat. Mungkin ini memang kesalahan dia di masa lalu. Tidak seharusnya dia menaruh dendam pada sang ayah karena sering menyakiti ibunya.


Tanpa dia tahu ternyata sifat ganas dari ayahnya itu tercipta karena monster yang disebabkan oleh virus yang selama ini menjadi senjata ampuh tuan Valheins untuk membuat kelompoknya berperang dengan ganas.


Dia menangis sembari mengecup punggung tangan ayahnya. Bagaimanapun dia membenci sang ayah, bagaimanapun dia pernah berkata pada sang ayah tentang kekesalan yang dia alami, tapi dia tetap saja seorang anak yang mencintai ayahnya.


Tidak akan ada yang bisa mengalihkan rasa cinta itu, apapun itu, siapapun itu.


"Nak, ayah minta maaf, karena telah menyakiti ibu kamu," ucap Tuan Wilmer sembari mengusap wajah putranya.


Suaranya begitu lirih. Dia memang sudah semakin lemah. Entah bagaimana dia akan sembuh jika kondisinya seperti itu lemahnya.


"Ayah tahu kau sempat membenci ayah, ayah memang bersalah, mengapa bisa melukai ibu kamu, tapi jujur saja anakku, mana mungkin aku berniat untuk membunuh istri ayah sendiri, semua itu terjadi tanpa kesadaran ayah," ucap Tuan Wilmer lagi, nadanya masih sangat rendah dan sangat lemah.


Mendengar perkataan dari ayahnya, Shaga hanya terlihat terus menggelengkan kepalanya sambil terus menangis bersedih.


"Nak," terlihat tangan Wilmer masih asik meraba putranya yang ternyata sudah tumbuh dewasa.


Sayang sekali dia tidak pernah berada dalam masa perkembangan putranya itu. Sayang sekali dia malah menjadi monster ganas yang akhirnya melenyapkan hidupnya sedikit demi sedikit.


"Kau adalah matahariku, penyemangat hidupku, dan segalanya bagiku, maaf telah banyak membuat kesalahan.."


Secara tiba-tiba Wilmer terlihat memejamkan kedua matanya, hingga membuat membuat Shaga merasa cemas dengan keadaan tersebut.


"Ayah? ayah!!?"


Dia yang cemas pun terus memaksa ayahnya untuk bangun. Tapi dia tidak mendapati sang ayah yang bangun meski dia sudah memanggilnya berulang-ulang kali.


"Ayah, ayah bangunlah! ayah cepat bangun! ayah aku mohon jangan mati!!" Ucapnya dengan sangat cemas. Air matanya bahkan sudah hampir terkuras habis akibat tangisannya yang sangat menderu hebat.


Tentu saja dia sedih karena dia akan menjadi yatim piatu kalau sang ayah meninggal.


"Ck!"


Mendadak suara decakan terdengar dari mulut Wilmer. Dan hal itu membuat dhaga lantas tertegun hebat.


Dia yang semula menangis pun tampak berhenti dari tangisnya, dan kembali menatapi wajah sang ayah yang masih terlelap memejamkan kedua matanya.


"Siapa juga yang mati, ayah ini mau tidur, berperang melawan anggota vampir jelas membuat ayah stres dan kelelahan, pergi saja kau sana! selamatkan yang tersisa, ayah mau beristirahat disini sejenak!". Ucapan Tuan Wilmer masih sambil memejamkan kedua matanya.


Mendengar perkataan Wilmer barusan, Shaga hanya bisa berekspresi bingung saja. Dia pikir sang ayah sudah mati. Tapi ternyata pria ini berumur panjang saja.


Namun dia merasa lega. Setalah dia mendapati sang ayah yang akhirnya masih belum mati, dia pun mengulas senyum singkatnya dan berlalu pergi meninggalkan sang ayah.


Bagaimanapun aku membenci ayah, tapi ayah tetap ayahku, mana mungkin aku tidak memaafkan kamu!


Swosh!!


Dia kemudian berlanjut menyelamatkan orang-orang yang tersisa, membantu pria yang sebelumnya melawan kawanan lalat-lalat yang mengerubungi mereka, dan menyalakan api yang cukup besar di segala tempat.


Alexa, aku sudah membuktikan diriku, aku memang hebat!


Aku tahu itu!


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...