
Kedua makhluk itu terlihat mulai bergerak lari meninggalkan alam vampir yang sudah hancur lebur bahkan sudah tenggelam ke dalam perut bumi.
Mereka meninggalkan tempat itu bersamaan dengan tubuh Valheins yang juga terkubur dengan istana miliknya.
Istana yang dibangun di tanah vampir, tapi pemukiman vampir yang menjorok menguasai separuh tanah serigala.
Ya, pada mulanya kedua ras ini memang hidup bertetangga dengan kerukunan dan kedamaian, sampai akhirnya tragedi besar terjadi, dan setelah itu, suasana persaudaraan di lingkungan mereka mulai terpecah.
Sepeninggal Sean dan Riyana, negeri mulai dilanda kehancuran.
Sean yang rupanya dikurung di dalam penjara, Riyana yang menjadi gila dalam kekangan Arsello, dan Alexa bersama satu keluarga Tuan Wilmer yang tersesat ke dalam dunia manusia.
Semua itu akhirnya berlalu, semuanya berakhir, bersamaan dengan kematian Valheins dan beberapa tokoh penting yang tumbang dalam peperangan ini.
Kedua jiwa Sean dan Ryana telah bersatu di dalam tubuh Alexa, anaknya yang dahulu diselamatkan oleh Wilmer, namun karena perjuangan menyelamatkan Alexa itulah dia akhirnya harus menelan pil pahit, dengan berubah menjadi sosok monster yang selama puluhan tahun lamanya menghancurkan dirinya, keluarganya, dan semua korban tewas yang genap mencapai seratus perawan.
Semua itu bukan tanpa alasan. Karena sesungguhnya tidak akan ada yang namanya kebahagiaan sebelum merasakan kesulitan, tidak akan ada pelangi jika tidak hujan, dan tidak akan ada cahaya matahari sebelum melalui malam yang kelam.
Kini semuanya telah berlalu, hanya tinggal satu jengkal lagi mereka semua menemui kemerdekaan, kebahagiaan yang sesungguhnya, dan mereka semua, hampir menjumpai garis akhirnya.
Semuanya tampak tergesa-gesa dalam pelarian mereka. Meski sebelumnya mereka semua bahkan hampir dibuat mati oleh kawanan lalat-lalat pembuat rusuh itu, tapi ternyata sekarang mereka bahkan bisa kembali lagi bangkit dan hampir menggapai pemukiman warga serigala.
"Bertahanlah Alexa!"
Sementara terlihat di bagian paling belakangan Shaga yang terlihat menbawa lari Alexa di atas punggungnya, dengan laju yang tak terlalu cepat seperti kawan-kawan yang lainnya.
Maklum saja, ia membawa beban di punggungnya, bukan karena berat, tapi dia khawatir saja larinya yang laju akan membuat gadis ini bertambah masalah.
Dia tetap saja berlari meski tak sekencang yang lainnya. Namun dia tak begitu risau akan ada bahaya di belakangnya, karena sejauh ini, bahaya yang mereka hadapi hanyalah Valheins, sementara pria tua itu sekarang telah mati, bersamaan dengan kekuasaannya yang juga telah berkahir dengan cara yang cukup tragis.
"Ayo cepatlah! kita hampir sampai!!"
Teriak Tuan Wilmer berteriak dengan kencang memimpin barisan paling depan.
Yang ada di belakang. Tuan Wilmer hanya mengikuti arahan dari sang pemimpin saja. Mereka terus berlari kencang mencoba menggapai pemukiman serigala dengan segala kekuatan dan kecepatan kaki mereka.
Di sisi lain, tampak pemukiman serigala sudah terlihat porak poranda, kacau balau dan tampak tidak karuan kondisinya.
"Aaaaaa!!"
"Lari!! selamatkan diri!!"
Semua orang berteriak, kebanyakan kaum wanita yang berteriak sembari menyelamatkan anak-anak mereka, bahkan ada pula laki-laki yang juga berkeliaran berlari kesana dan kemari untuk sekedar menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Semua orang terlihat kisruh mencari tempat yang aman untuk mereka bersembunyi.
Namun kemana saja mereka bersembunyi, tetap saja banyak lalat yang memasukinya dan bahkan menguasai tempat itu. Dan akhirnya korban-korban pun mulai berjatuhan
Tak hanya mendapat sengatan dari lalat-lalat yang hampir mirip dengan lebah itu, tapi juga karena lari mereka yang bertubrukan satu sama lain,lari mereka yang cukuplah untuk memenangkan lomba lari sejauh lima ratus kilometer.
Ada yang terjatuh ke dalam sumur, ada yang terjebak di tengah-tengah kerumunan lalat dan tidak bisa dengan mudahnya berjalan keluar dari sana, ada pula yang tergelatak dan menjadi injak-injakan teman-temannya.
Situasi benar-benar kacau balau dan tak terkendali. Semuanya semakin rumit saja, apalagi saat itu tidak ada yang tahu kalau serangga-serangga itu takut pada api.
Jadi di antara mereka tidak ada yang menyalakan api sama sekali.
Mereka semua tampak berlari pontang-panting membawa anak-anak mereka, ada pula yang membawa senjata di tangan untuk menyerang para lalat-lalat itu.
Lalat-lalat yang bahkan Valheins sendiri menyebutnya dengan sebutan anak.
Sekarang semua pasukan Wilmer uang tersisa telah tiba di pemukiman bangsa Serigala..
Mereka terhenti bahkan sesaat setelah mereka berada ujung tebing. Mereka menatapi keadaan di bawah sana yang sudah sangat kacau dibuat para kawanan lalat-lalat itu.
Mereka semua hanya menatapi keadaan di sana, dan berpikir sudah tidak ada lagi yang selamat. Ibarat kata, mereka hanya melihat di luarnya saja, bahkan mereka tidak memastikan apa di sana masih ada yang selamat atau tidak.
"Tuan! sepertinya mereka semua sudah mati." Ucap salah satu anggota serigala dalam pimpinan Wilmer.
Namun Tuan Wilmer tampak menatap ke bawah sana dengan tajam, dan mencoba mencari kehidupan di tengah-tengah kerumunan para lalat-lalat hitam.
Dia menatapi dengan seksama, meski terasa begitu sulit, ibarat kata mencoba mencari jarum dalam tumpukan jerami. Rasanya memang sedikit menyulitkan.
Namun sekilas dia melihat seorang anak yang berdiri sembari menangis keras di tengah-tengah kerumunan itu. Entah kemana orang tuanya, namun karena tangisan anak perempuan itulah yang membuat Wilmer yang semula pasrah dengan apa yang terjadi akhirnya mulai kembali bangkit dan percaya kalau keajaiban itu nyata adanya.
"Tuan, lebih baik kita selamatkan diri kita, jika tidak, kita semua malah tidak akan menyisakan generasi selanjutnya." Ucap salah seorang pria di belakang Wilmer, agaknya dia salah seorang pria yang terlalu peduli pada nasib masa depan kelompok.
Atau mungkin dia hanya berpikir dia tak mau seumur hidup dibebani oleh sebuah keluarga.
"Tapi kamu salah! jika kau mau mempertahankan suku kita, seharusnya kita punya betina yang sanggup untuk melahirkan anak-anak kita," ucap salah satu temannya lagi di samping serigala itu.
"Tapi kita sudah tidak punya kesempatan lagi, kawanan lalat-lalat itu sangat banyak, apa kamu tidak berpikir kita baru saja mati karena lalat-lalat itu?"
"Tapi anak dan istriku ada di bawah sana, bagaimana kalau kita tidak datang? apa yang akan terjadi pada mereka?" tanya salah seorang lagi, dia pria yang sejak semula sangat antusias untuk peperangan akhir ini.
"Tolong aku!!! tolong!! ayah!!? ibu???!"
Mendadak terdengar teriakan keras dari arah bawah sana, menunjukkan pada Wilmer tersayat masih ada kehidupan yang tersisa di bawah sana, meski hanya sekedar anak perempuan kecil yang tengah meringkuk.
Mendengar semua yang menjadi tekanan bagi beberapa orang, dia akhirnya mulai mengambil inisiatif. Dia terlihat memicingkan kedua matanya dengan sangat berani, dan kemudian akhirnya mulai mencoba untuk meyakinkan kelompoknya bahwa mereka selalu bisa mengalahkan kekacauan ini.
"Hidup kita hanya akan tenang kalau semuanya benar-benar sudah berkahir, setelah ini, jamin saja kehidupan kalian masing-masing setelah semuanya benar-benar berakhir!"
Semua serigala saling bertatapan satu sama lainnnya, mencoba meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Wilmer.
Kata-kata yang semuanya terasa memiliki makna, makna yang tidak bisa dijelaskan panjang lebar dengan kalimat, namun bisa menggerakkan hati mereka dengan begitu mudahnya.
Semuanya tampak yakin, menatap kembali ke arah lautan lalat di bawah sana, dan kemudian, jiwa pendekar sejati mereka terasa mulai memberontak.
Mereka yakin, mereka adalah manusia terkahir yang harus menyelamatkan peradaban di bumi.
"Demi tanah milik Sean dan Riyana!!"
Teriak Wilmer sambil mengangkat kedua kaki depannya, dan kemudian berlari ke depan.
Di belakang Wilmer semuanya masih tertegun hebat. Mereka melihat keberanian dari sosok Wilmer di masa lalu yang memang tidak pernah berubah.
Mereka saling menatap kembali, dan kemudian saling meyakinkan satu sama lain.
Satu pemuda yang semula berdiri dengan keempat kakinya di belakang Wilmer, akhirnya mulai menatap ke bawah sana, dan mulai mencoba untuk meyakinkan dirinya.
"Demi menikah! demi memiliki istri!!!"
Dia juga terlihat menyusul ke depan, menyusul langkah kaki Wilmer yang sudah berlari jauh dari dirinya, menembus kawanan lalat-lalat itu dengan sangat sigap.
Sementara di belakang tinggal beberapa serigala saja yang berdiri dengan keraguan mereka. Dua serigala telah berhasil maju ke depan, sementara mereka malah masih dibuat bingung dengan diri mereka selanjutnya.
"Mereka hanya lalat, kan? kenapa aku harus takut?" meneguk ludah dan memperlihatkan wajah anjing yang ketakutan.
"Iya, kita tidak boleh takut pada lalat, kita kan anjing!"
Dorong!
"Huaaaaaa!!!!"
Yang didorong oleh kawannya terlihat menggelinding dari puncak tebing dan akhirnya dia malah sampai lebih dulu dari Wilmer dan pria muda dalam bentuk serigala di belakang Wilmer tadi.
"Demi anak dan istriku.."
Kretak!
Kretak!
Kretak!!
Selanjutnya tidak ada lagi yang namanya keraguan. Mereka semua tampak membuntuti kawanan mereka yang sudah meluncur lebih dahulu ke depan, dan kemudian mulai berusaha untuk menyelamatkan sisa-sisa kelompok mereka yang masih hidup.
Banyak wanita yang tewas bersimbah darah, ada pula anak-anak yang lepas dari jangkauan ibunya, dan banyak pula pria yang tidak bisa sekedar menyelamatkan diri.
Serangan lalat-lalat hitam itu tak ubahnya seperti serangan ****** beliung yang berputar menyentuh tanah dan melahap apa saja yang dilaluinya.
Semuanya memang terlihat sangat mengerikan, tapi yang lebih mengerikan dari itu adalah, saat tidak ada lagi yang namanya saudara, anak, cucu, bahkan sahabat dekat.
Saat seperti Valheins, yang mati tapi sudah tidak ada lagi yang peduli, bahkan sudah ditakdirkan harus mati dengan tragis oleh cucunya sendiri.
Sejauh ini, kehidupan bangsa serigala sejujurnya cukup baik, meski slalu diserang oleh kelompok vampir, tapi mereka selalu bersama-sama menghadapi masalah yang mereka lalui selama dua puluh tahun terkahir.
Dan sekarang, di tengah-tengah serangan lalat-lalat itu, tampak kelompok Wilmer yang menyelamatkan satu demi satu nyawa yang tersisa, membawa mereka menuju ke tempat yang jauh lebih aman, dan meyakinkan mereka kalau semuanya pasti akan baik-baik saja.
"Tenanglah, Nak, aku akan mencari ibumu, tapi maaf, aku harus mengatakannya lebih dulu, jika aku tidak menemukan ibumu..."
Hap!
Tangan anak laki-laki itu menyentuh tangan kanan pria muda yang menyelamatkan dirinya.
Sejenak pria itu akhirnya diam tak bisa berbicara, dia tak bisa melakukan apapun, apalagi tatapan anak itu padanya, jelas sangat menyedihkan.
Air mata yang sengaja di tahan supaya tidak jatuh menggenang di pipi, dia terlihat begitu terpukul dengan keadaan yang baru saja dia alami, tapi sebisa mungkin, dia tidak boleh lagi menangis. Saat ini, tidak ada lagi pundak dan pelukan yang bisa menopang kesedihan yang dia alami.
Sang pemuda mengetahui apa yang mungkin saja telah terjadi pada anak itu. Dia kemudian terlihat membalas sentuhan anak itik di punggung tangannya, dan kemudian melepasnya dengan perlahan.
"Kamu akan jadi pejuang hebat di masa depan! jangan lemah, menangis bukan ciri khas seorang pejuang, kuatlah kamu di sini, jaga mereka semua!" melihat ke sekeliling, tidak menemukan satu orang pun yang lebih kuat dari anak berusia sembilan tahunan ini.
"Kau bisa melakukannya!!?" tanya pemuda yang masih belum diketahui siapa namanya itu.
Namun dia begitu aktif dalam melakukan pertarungan, dia juga termasuk salah satu anggota serigala yang terus ikut maju ke depan berdiri di belakang Wilmer tanpa rasa takut di dalam hatinya.
Anak kecil itu terlihat menganggukkan kepalanya dengan perlahan, sambil terus menatap ke arah pria itu.
Pria di depannya terlihat tersenyum dengan sangat tulus sambil mengusap kepala anak kecil yang dia tolong beberapa saat yang lalu.
"Baguslah, aku berikan sesuatu padamu," pria itu mengambil dia batu yang dia sematkan di bagian bajunya.
Anak itu kebingungan melihat dua batu yang diberikan oleh pria itu kepadanya. Dia memang tidak menanyakan apapun, namun ekspresi wajahnya benar-benar memperlihatkan kebingungannya.
Pria itu tahu anak ini sedang merasa kebingungan. Dia akhirnya mengambil beberapa kayu yang semula adalah satu rumah utuh. Kayu-kayu itu hancur bersamaan dengan kacau balau lainnya yang disebabkan oleh lalat-lalat itu.
"Nak, saat mereka masuk satu, kamu bisa menggesek kedua batu itu, dan mereka pasti akan merasa ketakutan," pria itu terlihat tersenyum menatapi sang anak yang terlihat mendengarkan setiap perkataannya dengan seksama.
"Kau mengerti?" tanya pria itu pada sang anak, yang kemudian terlihat di balas dengan menggunakan anggukan kepala oleh anak kecil itu.
Pria itu pun kembali tersenyum manis.
"Bagus, tapi jika mereka masuk ke dalam rumah dengan jumlah yang sangat besar, maka kau harus membakar kayu-kayu ini dengan menggunakan api yang dihasilkan oleh dua batu ini, kau paham apa maksud ucapanku?" tanya pria itu lagi pada anak di depannya.
Anak itu hanya terlihat menganggukkan kepalanya tanda dia telah mengerti. Mungkin.
"Bagus, kakak serahkan padamu, kau bisa melakukannya dengan baik, aku yakin itu," ucap pria muda itu lagi, imbuhan untuk menyemangati anak laki-laki itu.
"Baiklah, Nak, aku akan pergi lagi menyelamatkan yang lainnya, kau berusaha untuk kami semua juga, kau mengerti?" tanya pria itu lagi pada anak di depannya, seakan dia sebenarnya tidak mempercayai anak kecil ini, namun mau bagaimana lagi, hanya anak ini yang bisa dia andalkan.
Anak itu lagi dan lagi hanya mengangguk saja. Entah kenapa memang, padahal sebelumnya anak ini terdengar menangis, seharusnya dia tidak bisu bukan?
Melihat semuanya sudah beres, pria itu pun akhirnya kembali masuk ke dalam kawanan lalat-lalat itu, sembari membawa kayu-kayu yang berjumlah banyak, lumayan banyak.
Brak!
Dia terlihat meletakkan kayu-kayu itu di tengah-tengah kerumunan lalat-lalat di sana seorang diri, sampai akhirnya, dia melihat ada satu orang yang datang di sampingnya, membawa pula setumpukkan kayu-kayu kering dan meletakkannya di tempat dimana dia juga meletakkan kayu-kayu itu
Ia menoleh ke arah pria itu, pria yang sebelumnya juga melakukan hal yang sama, memunguti kayu-kayu kering dan kemudian dia bakar dengan sangat berani di tengah-tengah kerumunan lalat-lalat
"Terima kasih," ucap pria itu pada pria di sebelahnya.
"Aku hanya takut kau tidak bisa menikah." Jawab pria yang lainnya meledek.
Namun candaan mereka tak terlalu lama, karena berada dalam pusaran angin yang tercipta dari kerumunan lalat itu memang terasa sangat menyukitkan.
Kedua orang itu pun lantas mendekat ke arah kayu-kayu yang mereka tumpuk, dan kemudian mulai menyalakan api dengan dua batu lainnya yang pria muda itu simpan di dalam bajunya.
Dia sangat kesulitan menyalakan api itu, karena keadaan angin yang sangat kencang menerjang, hingga membuat api berulang-ulang kali harus padam.
"Aku kesulitan menyalakan api!" teriak pria muda itu kepada pria yang lainnya di sampingnya.
"Kemarilah! aku yang ahli melakukannya!!" teriak pria di sampingnya menyahut.
Mereka berdua pun bergotong royong untuk menyalakan api di tengah-tengah pusaran lalat-lalat hitam dan besar itu.
Sementara di sisi lain, tampak Wilmer yang terus berjalan melawan pusaran angin yang cukup kencang itu, hanya Karena dia mendengar suara anak perempuan yang masih saja menangis meminta pertolongan.
"Tolong aku!! hu.. hu.. hu... ayah!! ibu!!! tolong aku!!!!"
Teriak anak itu begitu terdengar menyayat di hati siapapun yang mendengarnya, namun sayang sekali, keberadaan anak itu sekarang masih belum diketahui sama sekali oleh Wilmer.
"Hei, Nak!!!" teriak Wilmer mencoba berteriak, siapa tahu teriakannya di respon dan mendapat sahutan dari anak kecil itu.
Namun sekeras apapun dia berteriak, tetap saja anak itu tidak menyahut teriakan darinya itu.
Akhirnya dia tidak punya cara lain lagi. Dia hanya bisa memilih untuk terus berjalan masuk lebih dalam lagi, dan mencari anak itu dengan sekuat dan semampu yang dia bisa.
"Ayah, ibu!! tolong Nala!! ayah, ibu!! Nala takut!!!"
Teriakan anak itu semakin samar terdengar, tenggelam dalam lautan lalat-lalat yang sangat banyak, dan akhirnya hampir tidak terdengar lagi.
"Hei, Nak! tolong teriak lagi!! aku akan menemukan kamu jika kamu berteriak!!!"
"Nak???"
Dia benar-benar tidak mendengar sahutan apapun dari anak itu, dan hal itu membuat dia cemas setengah mati.
Jangan-jangan terjadi sesuatu pada anak kecil itu.
"Apa dia tidak teriak lagi?"
Pria itu mengawaskan telinganya dengan seksama, mencoba untuk menangkap suara anak kecil itu lagi.
Tapi semuanya nihil, sejauh beberapa detik terakhir ini, yang dia dengar hanya suara deruan lalat-lalat di sekelilingnya, atau memang, anak itu telah mati.
Mendadak dia berubah menjadi cemas.
"Tidak! dia tidak boleh mati!"
"Hei, Nak!!! berteriak lah!!! aku mohon beri aku suara kamu!!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...