
~Happy Reading~
“Xa…” ucap Devan lebih keras membuat Joe dan yang lainnya melihat ke arah Alexa yang masih belum terbangun.
Devan meraba kening Alexa dan terasa sangat panas
“Xa, please Xa…” Devan buru-buru melepaskan sabuk pengamannya dan berlari keluar lalu memutar untuk membuka pintu di sisi Alexa, dengan cepat dia melepaskan sabuk pengaman Alexa dan menggendongnya keluar.
Perlakuan Devan tak lepas dari pandangan Joe dan yang lainnya, sontak saja mereka buru-buru keluar saat melihat Devan terburu-buru membawa Alexa ke dalam rumah. Sepertinya ada yang tidak beres, pikir mereka.
“Exa kenapa Van?” tanya Joe panik melihat Alexa dibaringkan di ranjang dalam keadaan pucat.
Devan tak menjawab namun dia segera meraih intercom yang berada di samping ranjang dan berbicara dengan seseorang. Joe mendekat di sisi sang adik, semua orang terlihat panik melihat kondisi Alexa, tak ada yang berani bersuara, begitupun Rayhan yang sepertinya mengetahui keadaan Alexa. Ia pernah melihat Alexa dalam kondisi seperti ini.
Tak lama setelahnya seseorang masuk kedalam ruangan dan segera mengecek kondisi Alexa, Joe yang semula menggenggam tangan sang adik pun berdiri dan memberikan ruang kepada orang yang baru saja masuk untuk memeriksa Alexa.
“Bisakah kalian semua keluar dulu?”
“oke, Kay, tolong lakukan yang terbaik untuknya” jawab Devan kemudian memberikan arahan kepada Joe dan yang lainnya untuk keluar.
Devan pun mengajak mereka semua ke ruang makan, karena memang waktu sudah pagi dan matahari telah menampakkan sinarnya.
Saat mereka duduk di dapur terlihat dua orang wanita tengah sibuk menyiapkan berbagai menu makanan, dan sebagian telah tertata di atas meja.
“om, tante, semuanya, silakan duduk, dan menikmati sarapan yang telah disiapkan”
Semuanya tampak terdiam, melihat ke arah Devan.
“Kak, duduk lah, aku akan jelaskan sesuatu” ucap Devan akhirnya,
Mereka semua duduk melingkar mengelilingi meja makan, dan setelah semua makanan tertata di meja makan, dua orang yang menyiapkan tadi pamit undur diri.
“Kak, tenanglah, Alexa sudah di tangani Kayla, dia adalah dokter di sini.” ucap Devan yang masih melihat raut khawatir sang kakak,
Joe menghela nafas lega setelah mengetahui Alexa di tangani orang yang tepat.
“Dia sudah pernah menangani Alexa kak”
Ucapan Devan barusan membuat Joe melototkan matanya ke arah Devan “apa maksudnya?”
“ya, aku ingat kak, Dokter itu pernah ke rumah waktu Exa sakit” ucap Rayhan menimpali setelah mendengar ucapan Devan, karena sedari tadi merasa familiar dengan seseorang yang menangani Alexa. Rayhan merasa pernah bertemu dengannya.
Joe beralih menatap sang sepupu dengan mengeryitkan dahinya, bersaman dengan om Ardian dan tante Rasty yang menunjukkan reaksi sama, tak mengerti.
“Exa pernah sakit waktu awal kuliah, kondisinya hampir sama seperti ini, dan dokter itu yang menanganinya” ucap Rayhan setelah mengerti arti tatapan semua orang yang tertuju padanya
“awal kuliah? kok mama ga tau?” tante Rasty merasa tak mengenal dokter itu dan tak mengingat kalau Alexa pernah sakit hingga tak sadarkan diri.
“waktu itu mama sama papa sedang ke Ausi. Alexa habis jatuh katanya, dan malamnya dia demam hingga tak sadarkan diri, tapi sebelum Ray hubungi dokter, dokter yang periksa Alexa tadi sudah masuk ke dalam rumah di antar bibi.”
“iya nyonya, bibi ingat waktu itu bilangnya dokter itu di telpon mbak Exa dan katanya diminta langsung ke kamar mbak Exa” ucap bibi memperkuat ucapan Rayhan.
“lalu bagaimana kau mengetahuinya Van? ada yang kamu sembunyikan dari kakak?” ucap Joe penuh dengan penekanan
“itu…” baru saja Devan akan menjawab, sesorang yang mereka bicarakan tengah memanggilnya
“Van, Exa sudah sadar, dan dia mencarimu”
Devan menatap kearah Joe dan Kayla secara bergantian dan setalahnya mengangguk “aku akan jelaskan setelah ini, kakak dan yang lainnya makanlah terlebih dulu”
Devan pun bangkit dari duduknya dan mengikuti Kayla yang telah berjalan terlebih dulu ke kamar Alexa.
“Xa… bagaimana keadaan mu?”
“sudah lebih baik” ucap Alexa pelan
“Exa harus bedrest kali ini Van, bekas luka tembaknya kembali meradang, apa kau tadi ikut menyerang mereka Xa?” tanya Kayla sembari melihat selang infus yang telah terpasang di lengan Alexa.
“tidak kak, hanya saja mungkin karena aku tadi bergerak terlalu banyak makanya seperti ini”
“hmm, baiklah, untuk sementara memang kamu harus bedrest, keputusan yang tepat Devan membawamu kemari, aku rasa kau sudah menahannya dari tadi hingga kau tak sadarkan diri”
Alexa hanya tersenyum membenarkan ucapan dokter yang menanganinya kali ini.
“terimakasih Kay, aku pastikan Exa akan bedrest kali ini” ucap Devan sembari menatap sendu ke arah Alexa yang masih terlihat pucat.
“oke, aku akan kembali ke belakang, dan aku akan ke sini 3 jam lagi untuk mengecek infusmu”
“baik kak, terimakasih” ucap Alexa pelan
Setelah Kayla berlalu dari kamarnya Alexa menatap Devan dengan penuh pertanyaan,
“kakak sudah jelaskan kepada kak Joe dan yang laiinnya?”
Devan menggeleng pelan, “hampir saja kakak tadi cerita, namun Kayla keburu panggil kakak”
“sepertinya setelah ini berakhir aku akan berhenti kak, tujuanku bergabung karena ingin menemukan kak Joe, dan sekarang kak Joe sudah kembali”
“yach.. aku akan dukung keputusan mu, mungkin memang lebih baik seperti itu” Devan menggenggam telapak tangan Alexa yang terbebas dari selang infus.
“Terimakasih kak, kakak selalalu ada untuk membantuku”
“hei… tentu saja itu sudah menjadi kewajibanku, kalau saja dari awal kita tidak bersandiwara mungkin kakak bisa lebih leluasa untuk melindungimu Xa…” Devan menghela nafas,
Huffff
“maafkan kakak…” ucapnya penuh sesal
Alexa menatap wajah pria yang duduk di sampingnya sambil tersenyum, merasa bersyukur karena berada di sisi orang yang begitu perhatian dan selalu melindunginya.
“kakak tidak salah, jangan minta maaf, sedari awal aku yang meminta hal ini”
“kalau begitu mari resmikan hubungan kita,… mau ya…? hmmm?”
Devan kembali melancarkan aksinya, memanfaatkan kesempatan yang ada, sudah cukup dirinya menahan diri, melihat kondisi saat ini, akan lebih baik kalau Alexa selalu berada di sisinya, begitu pikirnya,
“kak….” Alexa merengek pelan, bermaksud menolak ajakan Devan
“kakak mohon Xa…”
Rasanya Alexa tak tega melihat wajah penuh permohonan dari orang yang ia sayangi, sungguh tatapan matanya sangat meneduhkan dan sikapnya yang begitu penyayang membuatnya luluh, setelah terdiam sembari menatap lembut sang kekasih, Alexa menghela nafas perlahan…
“tapi tidak untuk waktu dekat kak..”
“kapan? Kakak akan berusaha menunggu, tapi jangan terlalu lama…” ucap Devan sedikit senang karena menangkap tanda yang di maksud Alexa, sepertinya penantiannya tak kan sia-sia,
“setelah Exa wisuda ya..” ucap Alexa pelan,
“Xa…”
Tbc