Alexa

Alexa
#Bertemu Satu Keluarga Utuh



Datanglah dua orang masuk ke dalam ruangan tempat di mana Riyana dan Sean tengah bertempur. Dia terlihat berdiri dengan gagah dan berani menghadapi tiga orang di depan singgasana.


Meski dia masih dalam posisi berdiri, tapi tatapan matanya sudah sangat menusuk dan amatlah menakutkan. Dia terlihat begitu sangar di depan mereka bertiga, agaknya dia juga menjadikan nyali ketiga orang di depannya semakin menciut.


"Wow! Ikan sudah memakan umpan!" Umpat Valheins dengan dalam, namun terlihat tatapan matanya menjadi sangat senang sesaat, "selamat datang di istanaku, wahai cucu kesayanganku." Ucap Valheins menyambut kedatangan Alexa dengan senyuman mautnya.


Mendengar kata-kata Valheins barusan membuat Sean seketika menoleh ke arah Alexa, dan menatap mata Alexa dengan rasa terkejut.


"Cucu?" Gumam Sean lirih.


Dadanya bergemuruh, apalagi saat dia melihat sosok gadis di depan pintu, dengan wajah yang sama persis dengan istrinya, Riyana.


Ia jadi tertegun memandangi Alexa. Pertempuran pun sejenak harus berhenti. Tak hanya Sean yang merasa terkejut dengan kehadiran Alexa, agaknya Riyana pun merasa demikian, meski dirinya saat itu masih dalam pengaruh sihir Valheins.


*A? Cucu? Dia? Dia kah anakku? Anak Perempuanku*?


Benak Riyana bertanya-tanya, menebak pada sosok gadis di depan matanya, yang memiliki wajah yang sama persis dengannya, hanya berbeda dari usianya saja.


*Dia? Anakku*?


*Anakku*?


*Kau datang*..


*Benar sekali*..


*Kau datang*!!


*Anakku! Dengarkan ibu, anakku*!


*Ini ibumu, peluk aku, selamatkan aku, anakku*!


Teriak Riyana dalam benaknya, meski raganya dan mulutnya hanya membisu bagaikan patung manekin yang tidak bisa bergerak.


Sejenak Alexa menatap mata lembut dan kosong itu. Bukan mata Sean yang dia tatap, tapi mata wanita itu, mata wanita yang masih saja mati di tempat berdirinya.


"Ibu?"


Panggil Alexa dengan lirih, dia bahkan bisa mendengar benak Riyana yang tidak bisa didengar oleh siapapun.


Alexa tampak mendekat dengan langkah kaki yang ragu. Dia mendekat ke arah Sean, tapi tatapan matanya tak pernah beralih dari wajah cantik milik Riyana yang sudah hampir menua dan tampak dalam.


Ia menoleh ke arah Sean, sesaat setelah dia sampai di hadapan Sean. Dia tatap wajah pria tua yang kini telah berubah menjadi sosok monster ganas, tak ubahnya seperti Tuan Wilmer, dan juga Shaga.


Namun dia tak melihat keganasan itu pada wajah monster Sean. Dia malah melihat kesedihan dan rasa hancur yang begitu dalam pada sorot mata Sean. Entah hancur karena apa, yang pasti dia melihat rasa bersalah itu semakin mendalam saat mata Sean semakin menatap kedua matanya.


"Ayah.." panggil Alexa dengan lirih..


Namun gadis itu hanya bisa melihat sang ayah yang memaku di tempatnya. Dia tidak melihat sang ayah punya niatan untuk memeluknya, atau mungkin sekedar meneteskan air mata haru untuk menyambut kedatangannya.


Mungkin pria itu masih tidak percaya dengan kehadiran Alexa di hadapannya, meski bukan baru sekali ini mereka berjumpa. Namun pertemuan ini masih terasa sangatlah mengejutkan bagi Sean, dan hal itu menjadikan Sean hanya bisa terdiam dan tertegun melihat putrinya sendiri.


Tidak mendengar sahutan dari sang ayah, Alexa pun hanya bisa beralih kembali pada satu wajah yang sejak tadi benar-benar membuat dirinya serasa ingin menangis.


Dia tatapi wajah itu, wajah yang kosong dan dipenuhi oleh goresan luka, perlakuan yang hina, dan menjatuhkan, rasa sakit yang telah dia alami bertahun-tahun, membekas saja rasa sakit itu sampai pada saat ini.


Luka yang digoreskan oleh seorang pria yang tidak akan pernah menyesali perbuatannya di masa lalu, mungkinkah pria itu masih bisa Alexa maafkan?


Di peluklah sang ibunda yang masih kaku dalam jeratan sihir Valheins.


Hap!


"Ibu.."


Pecah sudah air mata Alexa dalam mendekap tubuh ibunya. Ia tak bisa menahan rasa sedihnya, apalagi saat bayangan masa lalu yang dialami oleh ibunya selama lebih dari dua puluh tahun terakhir, dia menjadi sangat sedih.


*Anakku, kau mengerti apa kataku? Anakku, aku tahu kau akan datang, anakku, peluklah aku, ibu merindukan kamu*..


Benak Riyana berkata-kata, menangis pula dengan sangat hancur sama halnya seperti yang terjadi pada Alexa, hingga air mata ketulusannya pun jatuh menetes dari pelupuk matanya, meski dia masih berada dalam keadaan mematung.


"Ibu, aku sudah memelukmu.." jawab Alexa, "aku sudah memeluk tubuhmu, maafkan aku yang datang terlambat."


Semuanya tampak diam. Bahkan Shaga dan Valheins sekalipun. Agaknya pria sekejam Valheins pun tidak akan mengganggu suasana temu haru keluarga ini.


Dia tampak terdiam di tempatnya, di depan kursi kebesarannya, dengan wajah yang datar tanpa ekspresi sedikitpun.


Sementara Sean hanya bisa menatap sosok gadis muda yang tangguh dan pemberani itu memeluk Riyana dengan penuh kehangatan, ketulusan, dan juga kerinduan. Seperti sudah pernah berjumpa sebelumnya, pertemuan Alexa dengan sang ibunda telah menyalurkan pelampiasan kerinduan yang teramat dalam.


Alexa tidak lagi merasa ragu. Memang inilah sosok ibunya, dia melihat gambaran masa lalu saat wanita ini masih dalam masa jatuh cinta pada Sean, menikah, lalu melahirkan dirinya, tangisan masa kecilnya, lalu saat peperangan itu terjadi, diseretnya Riyana oleh Arsello, dihancurkan saja tubuh ibundanya oleh pria itu, selama bertahun-tahun, harus membunuh bayi-bayi tak berdosa hasil perlakuan buruk Arsello pada sang ibu, semua gambaran masa lalu tentang ibu kandungnya itu mendadak terlintas di depan kedua matanya, memunculkan sebuah rasa sakit yang agaknya makin lama akan berubah menjadi dendam yang tidak akan semudah itu dipadamkan.


*Anakku, kau datang padaku, kau datang untuk menghentikan nasib buruk kami semua, kaulah penyelamat kami*..


Benak Riyana berkata-kata lagi, merasa senang melihat kedatangan putrinya, meski raganya tidak bisa membalas pelukan tangan Alexa.


Namun tatapan mata picik mendadak tersirat pada mata Valheins. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kali ini.


Tersenyum dengan licik bibirnya, menyiratkan sebuah ide cemerlang yang menurutnya akan sangat membantunya. Dia tatapi tangan Riyana yang memegang pedang itu, lalu mulailah dia kendalikan dengan otaknya sendiri.


*Oh tidak.. tidak, jangan lakukan ini, aku mohon*..


Benak Riyana berkata-kata, merasa ada sesuatu yang aneh, yang memaksa dirinya untuk bergerak.


Alexa bergeming, mengetahui satu hal aneh yang menimpa ibunya. Dia lantas melepas pelukan tangannya, dan menatap keanehan tersebut.


"Dasar banci!"


Blam!


Menghentakkan satu kakinya di atas lantai.


Kretak!


Seketika lantai tempat mereka berpijak mulai retak.


*Anakku, aku tidak bisa menahannya.. menjauhlah dariku!! Pergilah*!


"Ibu?!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...