Alexa

Alexa
#Di Tengah-tengah Lautan Awan



Di sisi hutan yang lain, tepatnya di tengah-tengah hutan belantara yang cukup gelap dan juga menyeramkan..


Seseorang tengah terduduk di atas tebing nan tinggi, menatap lautan awan gelap yang menghiasi sekelilingnya. Duduknya dihiasi lamunan panjang, dengan kedua tangan yang tidak bergerak, juga dengan kedua kaki yang bertumpu pada bebatuan terjal.


Binatang-binatang liar menjauhinya, tidak mau mendekat ke arahnya, dan kemudian berlari sejauh yang mereka bisa, takut saja kalau-kalau mereka akan jadi santapan makan siang sang monster.


Namun monster itu hanya terdiam membisu. Dia bahkan tidak sedang berpikir untuk mencari mangsa, dia hanya sekedar merenungkan dirinya, dan berpikir bagaimana semua ini bisa terjadi.


Kekuatan ini, kekuasaan, dan juga semua hal istimewa yang dia miliki sekarang, mengapa Alexa begitu menentangnya?


Mengapa gadis itu malah menginginkan dirinya kembali seperti semula, Shaga yang pengecut, Shaga yang tidak bisa melawan musuh dengan gagah berani, Shaga yang hanga mengandalkan orang lain.


Dia tidak habis pikir, begitu rendahnya dirinya di masa lalu, tapi saat dia sudah menemukan apa yang saat ini dia inginkan, semua orang malah tidak menyetujuinya.


Termasuk pula ayah.


Dia ditentang mentah-mentah oleh ayahnya dan juga Alexa. Dia ditolak oleh mereka berdua, dengan alasan virus!


Virus apa?


Apa yang mereka maksud adalah kekuatan besar dalam tubuhnya itu? Jika memang iya, lalu mengapa harus dipermasalahkan?


Bukankah tak apa terkena virus, jika semuanya bisa merubah dirinya menjadi sosok seperti ini, seperti yang dia inginkan sejak dahulu?


Lalu apa masalahnya?


Pikirnya meronta-ronta, menebak-nebak apakah kiranya yang membuat semua orang menentang dirinya mendapat semua anugerah itu. Ia tidak habis pikir semua orang malah meminta dirinya untuk melepaskan semua yang kini dia miliki, juga dia nikmati.


Memangnya apa yang salah dari semua ini?


"Kau menjadi orang lain."


Mendadak seseorang mengucapkan satu kalimat dari arah belakangnya, membuat dirinya tertegun, dan tidak bisa berkata-kata lagi.


Ia terkejut, suara itu adalah suara yang sangat familiar pada kedua telinganya, tapi suara itu juga, sangat berkesan untuknya.


Suara itu terdengar dari arah belakangnya, menjawab perkataan batinnya barusan, hingga membuat dia terkejut.


Ia pun menoleh dan melihat ke arah seseorang yang kini tengah berdiri di belakangnya, menatapnya dengan penuh rasa cemas dan juga kekhawatiran.


Bangkitlah dia dari duduknya, berhadpaanlah dia dengan orang tersebut, lalu sekarang keduanya semakin mendekat.


"Alexa?" Gumam Shaga dengan lirih, seakan tak percaya gadis ini berhasil menyusulnya kemari.


Dia telah mengasingkan diri ke dalam hutan, dua hari dia berjalan untuk sampai di tempat ini, dan baginya sekarang dia sudah berada cukup jauh dari mereka semua. Lantas kenapa Alexa dengan mudahnya menyusulnya kemari?


Alexa tidak menatap ke arah Shaga sama sekali. Dia hanya terlihat menunduk dan tidak memperlihatkan wajahnya di balik cindungnya.


"Kenapa kamu datang?" Tanya Shaga pada gadis tersebut.


"Kau datang untukku?" Tanya Shaga lagi, agaknya dia benar-benar berharap seseorang akan menaruh perhatian untuknya.


"Shaga, pulanglah!" Ucap Alexa dengan dalam.


Dan jawaban itu membuat Shaga sedikit merasa kecewa. Dia pikir akan ada kalimat istimewa yang akan dilontarkan oleh Alexa padanya, tapi mengapa, dia tidak pernah mendengar kalimat itu keluar?


Apa Alexa benar-benar tidak mengerti apapun? Atau dia hanya sedang berpura-pura untuk tidak mengerti?


Dia bergerak maju ke arah Alexa, lalu menggenggam dua lengan Alexa dengan separuh kekuatannya.


Hap!


"Ugh."


Terdengar suara Alexa memekik, mungkin separuh kekuatan Shaga jauh lebih besar dibanding yang dia duga. Entah mengapa laki-laki ini jauh lebih keras dibanding sebelumnya.


Karena itulah dia merindukan sosok Shaga yang dulu, yang selalu lemah lembut dan penuh canda tawa. Entah mengapa semua itu sekarang menghilang.


"Kenapa kamu mau aku pulang? Kau ingin membicarakan tentang virus itu lagi? Kenapa kau menginginkan virus ini untuk aku hilangkan dari tubuhku? Apa kau iri padaku?" Tanya Shaga langsung seperti burung beo.


"Jangan bodoh Shaga!" Ucap Alexa dengan menghempaskan kedua kekangan tangan Shaga, "lihatlah dirimu! Siapa kiranya yang ada di depanku saat ini? Yang aku kenal, Shaga adalah pria yang lembut dan juga sangat penyabar, tapi yang ada di depanku pada saat ini adalah, bukan dirimu.."


Ucap Alexa membuat Shaga sedikit merasa tersentuh.


"Mengapa kamu memilih berubah, kalau kami semua menyukai kamu yang seperti dulu? Mengapa kamu tidak mencintai dirimu sendiri, kalau kami semua mencintai kamu apa adanya?" Tanya Alexa dengan sangat menyentuh.


Gadis itu mendekat ke arah Shaga, dan kemudian menggapai dua tangan laki-laki itu menggunakan perasaannya sendiri.


Shaga tidak melawan, juga tidak berkata-kata. Dia terus menurut pada apa yang dilakukan oleh Alexa padanya. Entahlah, kebencian dan kemarahan ini, mengapa bisa dengan mudahnya luluh saat berhadapan dengan Alexa.


"Shaga, kami semua menyukai apa adanya dirimu." Ucap Alexa, agaknya dia belum selesai berbicara, tapi Shaga malah lebih dulu melepas genggaman tangan Alexa.


Pria itu memalingkan wajahnya, dan tidak mau menatap ke arah Alexa. Entah apa yang dia pikirkan pada saat itu, tapi yang jelas dia sangat ingin menjauhi Alexa.


"Kenapa kau menjauh?" Tanya Alexa dengan nada penuh luka.


"Kau dan Arsello, aku melihatnya.."


"Melihat apa? Kami dekat? Jika berciuman, aku berani jamin kau tidak akan pernah melihatnya, karena dia dan aku tidak pernah seperti itu."


"Tapi kalian berdua sangat dekat, aku merasa.."


Hap!


Dengan cepat Alexa menggapai tangan kekar Shaga lagi, dan kemudian meraba wajahnya yang sekarang sudah mulai melunak.


"Dia pamanku, dari kubu musuhku, menurut kamu mana mungkin aku akan memperlakukannya lebih baik darimu?"


Mendengar kata-kata Alexa barusan, Shaga lantas menatap ke arah mata Alexa. Pria itu menatap kedua netra Alexa yang berwarna sedikit keemasan. Memang apa hari-hari biasa mata gadis itu akan berwarna emas, berbeda jika dia sedang marah, makanya warna matanya akan lebih dominan kepada warna merah.


Shaga menatap kedua mata milik Alexa dengan sangat dalam, dia menemukan secercah cahaya bersinar dan berkilauan di dalam sorot mata itu. Dan entah bagaimana, dia bisa merasakan sebuah ketenangan saat cahaya mata itu bersinar menyorot ke arahnya.


Dia lekas meraba wajah Alexa, mengusap pipinya yang lembut seperti ceri, menyatukan dahinya dengan dahi Alexa, dan bersatulah mereka di sana dengan sangat hangat.


"Aku minta maaf.."


Alexa tidak menolak, bahkan juga tidak bergeming dari tempatnya. Tempat Shaga berdiri sudah makin dekat dengannya, tapi dia tidak mundur sama sekali. Ia justru melangkah semakin mendekat, dan sekarang tubuh mereka pun ada akhirnya beradu menjadi satu.


"Aku jatuh cinta padamu, Alexa.."


Sebuah kenangan manis terukir dengan indahnya di atas tebing yang curam, dengan panorama lautan kabut yang menghias di sekitar mereka, bahkan cahaya matahari pun tidak bisa menembus kegelapan yang diakibatkan oleh lautan awan itu.


Di atas tebing yang indah itu, keduanya saling mengecup mesra, saling menyentuh dengan hangat, juga saling, merasa jatuh cinta.


Perlahan-lahan cahaya matahari mulai menyelip di antara awan-awan gelap yang berjejer mengelilingi mereka. Cahaya matahari nan hangat itu menyentuh keduanya, dan kemudian, sebuah keajaiban terjadi.


Alexa terus mendekap Shaga dalam pelukannya yang hangat, meski pada saat itu, dia menyadari akan hal ganjil tersebut.


Cahaya matahari itu perlahan-lahan mulai menepis sesuatu yang menguasai tubuh Shaga. Cahaya matahari itu menembus pori-pori tubuh Shaga, dan kemudian terasa mengambil sesuatu yang ada dalam tubuh Shaga.


Ia terdiam, juga tidak sanggup berbicara. Pada bagian bawah matanya, terlihat dengan jelas menyilaukan sebuah cahaya keemasan, yang kemudian bergerak mengelilingi mereka berdua dalam pelukan dan kecupan yang sangat hangat itu, berbaur dengan cahaya matahari yang semakin menusuk pori-pori tubuh Shaga.


Hingga akhirnya, keduanya mulai merasakan sesuatu yang sangat berbeda, sesuatu yang sangat jauh berbeda dari beberapa saat yang lalu, saat mereka baru dipertemukan dan masih dalam keadaan dingin seperti es.


*Aku baru tahu, mungkinkah hal ini yang dimaksud dalam dongeng itu*?


*Mana mungkin putri yang sengaja disembunyikan malah dibiarkan tersentuh di dalam danau? Kecuali, putri itu hanya akan menyembuhkan orang-orang yang tepat*!



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Brak!


Brak!


Brak!


Suara sesuatu yang mengalami keributan. Suara yang sangat menakutkan dengan kegelapan, meski senja sudah berada di ufuk barat dengan Kilauan cahaya jingganya.


Suara itu terdengar seperti seseorang yang tengah mengamuk dan membanting barang-barang di dalam ruangan, sampai pada akhirnya..


Brak!!


Penjara di ruang bawah tanah gubuk Arsello pada akhirnya telah dihancurkan. Muncullah satu sosok yang sangat besar dan juga menakutkan dari dalam kegelapan itu.


Sang monster telah bergerak keluar, dengan kilatan penuh amarah, juga dengan sesuatu yang lebih besar dari itu, balas dendam!


"Valheins, aku akan membalasnya!!"



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Keduanya kini telah terlihat kembali. Keduanya berjalan dan terus bersama sampai pada sebuah padang rumput yang luas dan juga berhawa dingin saat petang, keduanya dikejutkan dengan kehadiran seseorang di sekitar mereka, terutama Shaga.


"Wow, ada yang sudah berbaikan di sini?" Tanya seseorang yang berdiri di sebelah kanan Alexa, membuat Alexa menoleh dan merasa sedikit terkejut memang..


Alexa tidak menyahut ucapan Arsello. Dia hanya kembali bersikap biasa saja setelah menyadari pria itu rupanya adalah Arsello.


Dan kini terlihat Arsello yang mulai mendekat ke arah Alexa pun juga Shaga dengan wajahnya yang tenang.


"Aku lihat kau sudah berbeda, kau menyembuhkan pria ini Alexa? Kau membawa dia ke danau yang diceritakan oleh paman kamu itu?" Tanya Arsello pada Alexa.


"Ada satu hal yang tidak bisa kau mengerti." Gadis itu menjawab sembari meninggalkan tempat berdirinya, meninggalkan dua sosok pria di belakang sana, lalu terduduk saja dia di sebuah batu.


Kedua pria di sisi yang lain tampak saling memandang dengan tatapan aneh mereka. Agaknya kedua pria itu tidak mudah untuk disatukan menjadi sebuah tim yang hebat.


Mereka kemudian mendekat ke arah Alexa, menyusul gadis itu terduduk di atas bebatuan yang sama, batu yang menggelepar dengan ukuran besar yang bisa muat untuk mereka bertiga duduk.


"Aku baru tahu dongeng itu benar-benar ada, aku membuktikannya sendiri, hanya saja, ada bagian lain yang tidak pernah diceritakan oleh pamanku, atau mungkin, memang ayahku tidak pernah menceritakannya."


Dua pria di sebelahnya hanya terdiam membisu dengan penuh tanda tanya dalam benak mereka berdua. Satunya tidak mengerti dongeng apa yang dimaksud oleh Alexa barusan, satunya lagi tidak tahu apa yang kiranya tidak diceritakan oleh Paman Collab pada Alexa.


"Aku pikir danau itu itu adalah air, tapi ternyata lautan awan yang mengelilinginya." Ucap Alexa sebagai awal pembukaan penjelasannya.


"Aku merasa lucu jika seorang putri yang sengaja disembunyikan supaya tidak tersentuh manusia, tapi saat seseorang itu berada di tengah danau, dia bisa menyembuhkannya, apa menurut kalian putri itu tidak akan tersentuh?" tanya Alexa, "jawabannya, putri itu akan menyembuhkan seseorang yang tepat."


Gadis itu tersenyum, dia sangat puas mendapat jawabannya sendiri, meski sebenarnya, jawabannya itu bukannya membuat tanda tanya pada kedua pria itu menepis, tapi malah membuat keduanya harus berpikir lebih rumit.


"Sejujurnya aku tidak paham apa maksud perkataan kamu, tapi bisakah kau mendengarkan aku sekarang? ada satu hal yang harus aku ceritakan padamu." Ucap Arsello mulai berkata dengan lebih serius.


Alexa menoleh ke arah Arsello, dan kemudian menatap kedua mata paman mudanya itu.


"Alexa sesuatu terjadi pada ibumu.." ucap Arsello dengan setengah keraguan.


Dan ucapannya barusan berhasil membuat pandangan mata Alexa menajam dengan sangat sempurna. Kedua mata Alexa membulat, disertai dengan keterkejutan hebat pula di sana.


Ia memang bisa menebak pemikiran seseorang, tapi kali ini, dia benar-benar terkejut saat Arsello mengatakannya, mungkin sebelumnya dia tidak bisa melihat apa yang tengah dipikirkan oleh Arsello, karena itulah dia merasa sangat terkejut.


"Alexa, aku berpikir ingin mempertemukan kamu dengan ibumu, mungkin dengan itu kamu bisa menjelaskan sesuatu yang aku ingin kamu menjelaskannya padaku hari itu, tapi, ternyata seseorang membuntuti aku, dan sekarang, ibu kamu ada di istana Valheins." Ucap Arsello seakan membuat wajah Alexa yang semula berbinar menjadi berubah gelap seperti kelabut di malam hari.


Shaga terlihat marah. Dia bangkit dari duduknya dan kemudian lekas mendekati Arsello.


Ia meraih kerah baju Arsello dengan satu tangannya, lalu kemudian berusaha untuk memukul pria itu.


"Dasar ceroboh!!"


Bukkk!


Pukulan keras menimpa wajah Arsello dari tangan Shaga, meskipun saat ini dia sudah tidak lagi terikat pada virus berbahaya itu. Tapi dia dengan mudahnya melawan Arsello yang terkenal kuat dan juga tangguh di dalam kubu vampir.


Entah karena Arsello yang memilih untuk diam dan tidak mau melawan pukulan dari Shaga, atau memang kekuatan Shaga yang sebenarnya jauh lebih hebat dari yang selama ini dia pikirkan, namun pertengkaran itu sepenuhnya dikuasai oleh Shaga.


Ambruklah tubuh Arsello di atas tanah, dan sekarang Shaga dengan gagahnya bertumpu di atas tubuh Arsello, setidaknya dia juga bisa membalas dendam pada Arsello karena sudah mendekati gadis miliknya itu.


"Lihatlah dirimu tikus kecil? sangat memuakkan!"


Bukk!


*Jika begitu, mungkinkah ibuku terkena sihir dari seorang Valheins*?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...