Alexa

Alexa
#Selamat Datang Jiwa Baru



Di sisi yang lain, tampak Valheins yang tengah berusaha melepaskan diri dari beberapa batu yang menghujam tubuhnya tiada ampun.


Sekuat tenaga dia mencoba untuk menyelamatkan dirinya, sekalipun dia tidak akan pernah mati hanya karena tusukan bebatuan runcing yang menembus tubuhnya itu, tapi dia sama sekali tidak bisa bergerak apalagi sampai melawan Alexa.


"Cucu sialan!"


Rrrrrrrrrrtttt


Terdengar suara dia mengerang, masih mencoba untuk melepaskan dirinya di sana. Namun agaknya hal itu disadari oleh Arsello dan Shaga.


Kedua pria itu menghadap ke arahnya, lalu dengan sigap memasang kuda-kuda untuk bersiap menghadapi apapun serangan yang akan dilakukan oleh Valheins nantinya.


"Aku akan membunuh kalian semua!!"


Hiyaaaaaaa!!!


Kretak!


Bom!


Bom!


Mendadak batu-batu yang semula menahan tubuh Valheins hancur secara tiba-tiba, bersamaan dengan tubuh Valheins yang kemudian terlihat bangkit dan berdiri kembali dengan tegak.


Ha.. ha.. ha..


Tawanya kembali sangat lepas. Satu sisa batu yang masih tertinggal dan menancap di tubuhnya dia tarik sampai lepas. Huhh! mungkin ini salah satu pemandangan mengerikan pun juga favorit.


"Hahh! lelah sekali terus melakukan drama seperti ini, aku tidak suka melaluinya seperti dua puluh tahun terkahir, penuh kebohongan dan sandiwara." Ucap Valheins sembari melangkahkan kedua kakinya tampak mendekat dengan perlahan menuju ke arah Shaga dan Arsello berdiri.


Kedua pria yang bersiap untuk melawannya tampak tidak bergeming satu inci pun dari tempat mereka berdiri.


Sekarang terlihat kondisi dan situasi di atas tebing mulai sangat mencekam, seperti hujan badai yang kemudian dihiasi dengan sambaran petir yang menggelegar.


"Lihatlah kalian berdua! seperti kutu kecil yang tidak pantas untuk hidup! mendekat saja kemari, akan aku bantu mengantar kalian ke neraka!"


Ha.. ha.. ha..


Dia kembali tertawa, seolah merasa dirinya akan menang, apalagi saat dia mengatakan kalau kedua manusia di hadapannya itu tidak lebih seperti kutu yang takdirnya hanya untuk dibunuh dan kemudian diacuhkan begitu saja.


Seakan dialah pria yang paling berkuasa di sini, seakan dialah penakluk dunia yang akan menguasai tiga alam dengan kekuatan abadinya itu.


Padahal tak tahu juga, apa mungkin benar suatu saat dia yang akan menjadi penguasa tiga alam, atau mungkin, dia hanyalah segelintir pejuang gagal yang kemudian harus mengukir namanya pada batu nisan.


Tidak ada yang tahu secara pasti.


Ia pun semakin dekat dengan posisi Arsello dan Shaga berdiri dengan gagah beraninya. Dia mengeluarkan pedang kebanggaan miliknya lagi, hingga terlihat dari sana mulai keluar api yang berkobar dengan sangat membara.


Brrrrtttt


Suara api yang berkobar memenuhi sisi pedang yang tajam milik Valheins. Sekarang pria tersebut tampak lebih gahar dengan dua pedang yang berada di tangannya.


"Sekarang lihat siapa yang pantas untuk menang!"


Ucap Valheins tampak dengan jelas menantang Arsello dan Shaga di depan sana.


"Kau hanya kakek tua yang sudah waktunya untuk mati!" ucap Arsello sembari melarak pedangnya dari dalam sarungnya, dan kemudian menunjukkan kilatan pedangnya yang sangat gagah dan juga pantas untuk dia banggakan.


Sementara itu, terlihat dengan jelas Shaga yang mulai kembali berubah menjadi sosok serigala yang bergigi tajam dan runcing.


Dia yang semula menjadi kuat karena pengaruh virus, dan kemudian harus kembali lemah menjadi pria biasa lagi dengan seribu kekurangan yang dia miliki, dan sekarang, dia terlihat lebih menawan dan lebih baik dari sebelumnya.


Dia tampak bisa mengalahkan rasa takutnya. Dia juga terlihat kuat dan pemberani. Sejauh ini perubahan yang terjadi pada dirinya memang sangat baik.


Agaknya kehadiran Alexa juga menjadi salah satu alasannya membuktikan dirinya.


Ia terlihat mengibaskan bulu-bulu yang memenuhi kepalanya, hingga terlihat kedua matanya yang mulai berubah tajam ditambah kilatan sinis yang sangat menawan.


"Kami bukan kutu!"


Swoshhh!!


Blam!


Dan setelah itu, terdengar suara keributan dari atas tebing yang curam. Tampak ketiga pria itu mulai berperang dengan kekuatan masing-masing. Dua lawan satu, yang belum tentu juga akan dimenangkan oleh pihak Arsello, atau mungkin bisa saja Valheins yang akan kalah.


Tidak ada yang tahu, semuanya masih terlihat tabu. Mereka tampak seri dengan kekuatan yang mereka miliki. Agaknya pertandingan ini akan berakhir dengan cukup seru.


Sementara di bawah sana, Alexa masih terdiam di tempat dia berdiri. Ditemani oleh Tuan Wilmer di sampingnya, pasukannya hampir tumbang karena Wilmer menghentikan serangannya.


Dia tampak mengusap air matanya. Air hujan mulai mengguyur, membuat pertempuran dan peperangan antara dua kubu itu menjadi lebih asik.


"Tuan Wilmer, ada satu hal yang sampai sekarang masih belum aku mengerti." Ucap Alexa pada Wilmer.


Sementara Wilmer hanya bisa melirik kesana dan kemari, agaknya dia juga merasa cemas karena pasukannya hampir dikalahkan oleh kelompok vampir.


"Ada apa?" tanya Tuan Wilmer secara singkat saja..


"Saat itu, aku pergi ke puncak tebing, aku bertemu dengan sosok ayahku, yang aku pikir karena saat itu kalian bilang dia mungkin sudah meninggal, jadi aku pikir dia arwah ayahku, tapi kenapa ternyata ayah aku masih hidup?" tanya Alexa menanggung kebingungan yang teramat sangat.


Mendengar perkataan dari Alexa barusan, Wilmer mendadak jadi ikutan bingung. Dia tampak bingung apa yang harus dia jawab pada saat itu, tentu saja dia juga sebenarnya tidak mengetahui apapun.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi mungkin, kita tidak punya waktu untuk menanyakan hal itu," ucap Tuan Wilmer pasrah.


Roammmm!!


Plak!


Bukk!


Dan akhirnya dia pun mengacuhkan Alexa, beralih pada peperangan yang dia tinggal sejenak barusan.


Dia tampak kembali disibukkan dengan peperangan antara dua kubu yang sama rata kekuatannya itu.


Merasa diacuhkan oleh Wilmer, Alexa pun tidak mau lagi menyibukkan Wilmer dengan semua pertanyaan dalam benaknya.


Dia pun tampak mulai mencoba untuk mengalihkan pemikirannya. Ia kembali mencoba fokus pada pertarungan besar-besaran itu, dan pada akhirnya, dia kembali bangkit, bangun dengan satu raga yang berisi tiga jiwa sekaligus.


Swosh!


Dia mengenakan cindungnya lagi, tatapan matanya yang semula sangat dalam dan dipenuhi dengan kesedihan, kini perlahan-lahan mulai beralih pada pandangan mata yang sangat tajam.


Selintas cahaya menyambar tubuhnya, lalu kemudian melekat pada pergelangan tangan kirinya, dan kemudian sekujur tubuhnya memancarkan cahaya keemasan, yang melambangkan sebuah keberanian, kekuatan, dan juga kehebatan.


"Selamat datang dunia baru, selamat datang jiwa baru."


Ia membersitkan senyuman miringnya, lalu kemudian menatap ke arah ujung tebing yang curam.


Musuh sebenarnya dirinya ada di atas sana, kakek tua yang kebetulan juga menjadi ancaman terbesar bagi kerajaannya.


"Valheins, akan aku tunjukkan bagaimana caranya berbakti!"


Swosh!


Dia terbang menuju ke atas langit, dan menemui musuhnya yang sesungguhnya.


Ya!


Selamat datang Alexa yang baru.


Selamat datang jiwa baru, dan selamat datang kekuatan yang baru.


Semoga kau berhasil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...