Alexa

Alexa
#Mengapa Dia Memanggilku Riyana?



Krrrrrttt


Arsello ambruk saat sesuatu terasa menghantam tubuhnya dengan sangat keras, hingga membuat tubuhnya menjadi limbung dan tidak mampu bangkit kembali.


Alexa dengan sigap menghalangi sesuatu yang bersembunyi di balik kegelapan. Dia memawaskan pandangan matanya, sembari memasang kuda-kuda dengan kokoh berpikir siapa tahu dia akan menghadapi serangan yang sama seperti Arsello.


Hosh!


Hosh!


Hosh!


Suara nafasnya terdengar teratur, namun agak terdengar lebih keras dibanding biasanya. Dia hanya bisa menatap ke arah depan sambil mengawasi siapa tahu ada pergerakan mendadak dari balik kegelapan itu.


"Tidak, Alexa! Kau harus mundur!" Ucap Arsello sembari mencoba untuk berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.


Alexa tidak bergeming, hanya terus menatap ke arah depan sembari menunggu kejutan yang akan datang menghampirinya.


Sementara itu, Arsello tampak menatap ke sekelilingnya, dan mendapati sebuah keganjilan. Tidak ada vampir yang semula ditahan dan dibiarkan mati, entah mengapa, entah bagaimana, padahal pintu sel masih terkunci dan masih berdiri dengan tegak.


Agaknya, sesuatu yang sangat besar itulah yang menyebabkan mereka menghilang. Tapi bagaimana caranya?


"Benar sekali, inilah yang akan terjadi!" Ucap Arsello bergumam dengan lirih.


"Apa yang kau maksud akan terjadi? Kau tahu sesuatu?" Tanya Alexa masih terus menatap ke dalam kegelapan.


"Dalam tahanan ini pasti seekor serigala, karena para vampir, seharusnya tidak terinfeksi oleh virus ini," jawab Arsello semakin membuat otak Alexa berputar-putar.


"Virus? jadi dunia ini juga mengenal yang namanya virus? kenapa aku begitu bodoh sampai mengira virus hanya terkenal di dunia manusia saja?" namun gadis itu malah asik dengan lamunannya sendiri sambil bersiap menatap apapun di depan sana.


Rrrrrrrrrrtttt


Namun suara menyeramkan itu terdengar dari dalam kegelapan, membuat Alexa harus semakin was-was, agaknya makhluk yang ada di dalam kegelapan itu mulai jenuh dengan situasi yang tenang dan damai.


Dan suara itu telah berhasil membuat Alexa semakin memawaskan diri. Dia kemudian menatap semakin gahar ke depan, dan bersiap untuk segala hal yang akan terjadi.


Ia dan Arsello kini bersama-sama, menghadang apapun itu di dalam sana dengan gagah dan juga penuh keberanian. Namun tiba-tiba sesuatu mendadak terjadi.


Angin mulai menarik kencang dua tubuh itu, tidak, sepertinya ini adalah nafas, nafas yang sangat bau dan menusuk.


Alexa mulai menyadari akan suatu hal. Tubuhnya dan tubuh Arsello sama-sama mengikis dan terbang terbawa nafas itu, agaknya ini suatu hal yang buruk.


"Tepat, tepat sekali, ini memang akan terjadi." Ucap Arsello pada Alexa.


"Apa yang sedang kau katakan? Jelaskan padaku sekarang!" Ucap Alexa, dia benar-benar dibuat marah oleh pria di sampingnya.


Sementara tubuh mereka sudah semakin mengikis dan sedikit demi sedikit daging mereka dihisap oleh monster yang masih berada dalam kegelapan itu.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya! Kita harus segera lari!"


"Apa?"


Hap!


Tanpa aba-aba, juga tanpa isyarat, Arsello dengan cepat menggapai tangan mungil Alexa, dan kemudian menyerang arah angin untuk bisa pergi dari sana.


Namun..


Groarrrrrrr!!


Sang monster dari dalam kegelapan itu marah besar. Dan hal itu membuat mereka berdua terpental jauh dari tempat sebelumnya.


"Aaaaa!!!!"


Blam!


Bom!!


Keduanya tergelatak di atas tanah, dengan sangat lemah, dan menjadi teramat lemah. Namun mereka tak mau diam saja. Mereka bergeming, dan mencoba untuk bangkit kembali.


Mereka merangkak bangun, dan kemudian mendapati bangunnya sosok yang sangat besar di depan mereka, bahkan sosok itu mampu membobol dinding batu yang kokoh dan juga berdiri dengan sangat kuat.


Brak!!


"Oh, no!" Gumam Alexa sedikit merasa cemas.


Sosok itu mulai bergerak keluar dari sarang persembunyiannya, dan kemudian menampilkan wujud aslinya langsung di hadapan Alexa dan Arsello.


Wujud yang sangat besar dengan bulu-bulu yang lebat pada bagian punggungnya. Perutnya yang berbentuk tak jauh berbeda dengan monster yang diperkirakan adalah Shaga di luar sana, dan sekarang, misteri ini semakin menjadi teka-teki hebat bagi siapapun.


Gigi-gigi taring di dalam mulutnya terlihat sangat ganas, dan bahkan kuku-kuku pada jari-jarinya pun terlihat begitu mengerikan.


Groarrrrrrr!!!


Monster ini jauh lebih mengerikan dibanding dengan bentuk baru Shaga yang terlihat jauh lebih kuat dan tangguh.


Tak jauh berbeda dengan Alexa, Arsello pun tampaknya merasa cemas karenanya. Dan itu terjadi begitu saja, memang saat dihadapkan oleh situasi semacam ini, berhadapan dengan sosok monster buas yang mengerikan, bukankah siapapun akan merasa gugup dan takut?


Kedua orang itu mulai bergerak secara perlahan, mundur dan kemudian melarikan diri menjauh dari monster besar itu.


Tapi sayang seribu sayang. Monster itu melihat mereka berdua kabur. Monster yang kini hanya berselimut amarah dan kegelapan itu mulai memawaskan kedua matanya, dan kemudian berlari mengejar Alexa dan Arsello sampai keluar dari rumah tahanan kerajaan Valheins.


Tak tak tak tak tak!


Hosh Hosh Hosh Hosh!


Nafas mereka semakin terdengar memburu, bersahutan dan terdengar bertanding satu sama lainnya. Keduanya terus bergerak menjauhkan monster itu dari kawasan padat penduduk.


"Seharusnya kau memberi penjelasan untuk hal ini, mengapa kau hanya diam?" Tanya Alexa sembari terus mencoba melangkah lebih jauh dari monster tersebut.


"Maaf, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, bukankah seharusnya kita lari saja dan menyelamatkan diri?" Tanya Arsello.


"Tidak! Kita harus melawannya!"


Krrrrrtttt!!


Alexa mengerem kakinya, dan kemudian berbalik menatap ke arah monster besar dan tinggi itu. Dia menutup cindung di kepalanya, dan kemudian menggunakan kekuatannya untuk melawan monster besar itu.


"Aku tidak suka berlari menjauh!"


Hiyaaaaa!!


Dia terbang begitu tinggi, lalu dia mulai menyeluncurkan satu kakinya, dia arahkan tendangan maut khas andalannya menuju ke arah wajah monster di depan sana.


Blam!!!


Wajah monster itu berpaling, akibat tendangan yang diseluncurkan oleh Alexa yang tepat sekali mengenai area wajahnya. Dan sekarang, dia terlihat ambruk di atas tanah.


Peperangan kembali terjadi, Arsello dengan sigap membantu gadis yang semula menjadi musuhnya, juga menjadi target utamanya untuk menjadi penguasa di negeri merah ini.


Dia membantu gadis itu dengan kekuatannya pula, berlari memutar dengan sangat cepat, hingga menciptakan debu-debu yang berterbangan mengganggu pemandangan monster yang tingginya hampir empat meter tersebut.


Dia bahkan tidak menyangka kalau dia akan berada satu tim dengan gadis yang menjadi incarannya itu, entah mengapa sekarang menjadi terdengar lucu.


"Lihat aksiku ini!!"


Swosh!!


Angin bertiup kencang membuat topan yang memutari monster tersebut, dan kemudian, Alexa dengan sigap menyemburkan api dari sela-sela jarinya.


Swosh!!


Groarrrrrrr


Angin yang bertiup memutar sang monster ditambah lagi dengan api yang juga tak kalah gaharnya, akhirnya mulai mengepung monster itu, hingga membuat sang monster gelagapan tidak bisa berkutik.


Roarrrr!!!


Monster itu terjatuh, dengan tubuh yang terbakar habis dilahap oleh api, dan sekarang, kemenangan kembali berpihak pada Alexa dan Arsello.


Keduanya nampak mendekat ke arah monster yang kini sudah diselimuti oleh api, dan kemudian melihatnya dengan seksama.


"Aku tidak pernah tahu di dalam tahanan ada sosok serigala." Ucap Arsello merasa dirinya menjadi paling bodoh di sini.


"Seharusnya aku sadar kalau kalian telah berkhianat terhadap kerukunan dua ras," jawab Alexa dengan kecewa, "ngomong-ngomong, siapa yang bermutasi ini? Kenapa kamu sendiri bahkan tidak mengetahui ada dirinya di dalam sel? Seharusnya Tuan Valheins memberitahu kamu sesuatu mengenai serigala ini, bukan?" Tanya Alexa, sembari menatap lagi dengan seksama wajah serigala itu.


Dan kini dia terkejut, manakala mendapati satu tetesan air mata mulai keluar dari mata monster itu, dan kemudian dia dengan lemah menatapi ke arah mata Alexa.


"Riyana, kaukah itu?"


"A?"



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Dan sekarang mereka sangat senang. Mereka akhirnya pulang dengan kegembiraan, dan karena Shaga yang telah berubah menjadi sosok yang kuat itu, pada akhirnya berhasil menjadi pejuang akhir yang memenangkan pertempuran, untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun berlalu.


Semua orang bersorak dengan bangga, mereka bahkan mengarak Shaga sampai tiba ke rumah mereka dengan sangat gembira.


"Shaga!"


"Shaga!"


"Shaga!"


Semuanya bersorak dengan gembira, tanpa menyadari masih ada Alexa yang tidak berbahagia karena hal itu. Dia berjalan paling depan memimpin pulangnya pasukan yang semula berniat membebaskan dirinya dari persembahan, namun sekarang malah pulang dengan kemenangan.


Namun dia tak memikirkan tujuan dan kemenangan yang didapatkan oleh bangsa serigala. Yang masih dia pikirkan sampai sekarang adalah, monster itu.


Dia tetap berjalan sampai akhirnya tibalah mereka di pemukiman mereka. Mereka kemudian mulai saling berpencar, kembali pada gubuk masing-masing, dan kemudian beraktivitas seperti biasa.


Dia terduduk di depan rumah Collab dan kemudian merenung saja di sana. sementara terlihat dengan jelas Shaga yang hanya sesekali melirik dirinya, itu pun dengan sangat dingin.


Agaknya dia marah akan suatu hal, mungkinkah karena dia melihat momen kebersamaan Alexa dengan Arsello siang tadi? Entahlah!


Dia hanya bersikap acuh pada Alexa, sama seperti Alexa yang juga tidak terlalu peduli akan keberadaannya, dan sekarang, hanya Paman Collab yang akhirnya datang menghampiri Alexa yang masih berdiam diri di depan rumah Tuan Collab.


Tak!


Pria itu terduduk di samping Alexa, dan meletakkan pedang miliknya beserta sarungnya di atas batu.


"Kau tidak mau mengucapkan selamat untuk Shaga?" Tanya Collab dengan lembut pada keponakannya, tidak ada senyum di bibirnya, hanya sekilas terlihat tatapan hangatnya dia tujukan pada Alexa.


"Dia memang hebat, aku akui itu." Jawab Alexa dengan singkat.


Mendengar jawaban dari Alexa, Collab lantas mengangguk saja, dia senang mendengar jawaban dari Alexa barusan, entah karena apa.


Namun Alexa masih saja berdiam dengan tatapan kosong menuju ke arah tanah yang dia pijaki. Agaknya dia tengah memikirkan tentang suatu hal. Apa mungkin ia masih memikirkan tentang monster yang memanggilnya dengan sebutan Riyana itu?


"Paman," panggil Alexa pada Tuan Collab.


"Ya?"


"Apa kau tahu bagaimana ayah meninggal?"



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



"Seharusnya hujan tidak bisa masuk ke dalam sel, dan membangunkan virus-virus itu, lalu jika begitu, pasti ada seseorang yang sengaja membocorkan ruangan itu, dan membuat virus-virus itu bereaksi!"


Tak tak tak tak tak!


Dia mulai berjalan mendekat ke arah meja di dalam kamarnya, dan kemudian mulai membuka buku catatan para tahanan.


Ia berusaha dengan keras mencari sesuatu yang bisa dia jadikan petunjuk tentang tahanan itu, tapi di sini benar-benar nihil, dia tidak mendapati apapun di sana, bahkan identitas dari serigala itu pun tidak.


"Fuhhhh! mungkinkah selama ini Tuan Valheins mengetahuinya?"


"Siapa dia sebenarnya?"



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*